Compartir

15 - Gelisah

Autor: Shiooki
last update Fecha de publicación: 2026-03-19 16:02:52
Di sebuah pemakaman gereja, seekor anjing hitam berdiri diam di depan makam dengan batu nisan bertuliskan Sam. Cahaya mentari jatuh tepat di tubuhnya, membuat bulu hitam legam itu berkilau seperti pecahan intan.

Dia adalah Vance. Matanya yang merah menatap batu nisan itu seolah dia benar-benar sedang berziarah, layaknya manusia yang kehilangan seseorang.

Ukuran tubuhnya kini jauh lebih kecil dibanding saat dia berada dalam wujud roh sepenuhnya—hanya setinggi pinggang orang dewasa. Namun, matan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sang Pelindung Terakhir    89 - Masa Lalu Lily

    Aku menatap bulan melalui jendela. Sesekali pandanganku beralih pada bangunan kecil di dekat rumah, lalu kembali menatap langit yang jauh di sana. Malam ini bulan terlihat lebih terang dari biasanya. Aku tidak tahu apakah itu pertanda baik atau bukan. Terlebih, aura negatif mengelilingi tempat ini. Aku berharap Ara dapat membawa kembali Tuan Wallenstein. Aku berharap mereka baik-baik saja. Aku cemas, sungguh. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Ara. Aku tidak memiliki cukup kekuatan. Makhluk petaka sepertiku memang tidak berguna. Ah, petaka. Seketika aku teringat masa lalu. Kedua sudut bibirku terangkat getir. Kala itu, aroma tanah basah memenuhi penciumanku. Entah sudah berapa lama hujan turun membasahi bumi hingga genangan air terbentuk di mana-mana. Lolongan anjing, atau mungkin serigala dari dalam hutan membuat malam itu terasa lebih menyeramkan dari biasanya. Padahal sebenarnya, akulah y

  • Sang Pelindung Terakhir    88 - Dirinya Yang Lain Datang

    "Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersayap itu perlahan melonggarkan pelukannya. "Apa Tuan baik-baik saja?" Ara kembali tersenyum. Akhirnya Anthony mau menatapnya, meski iris sebiru samudera itu masih tampak kosong. Jadi, kegelisahan yang Ara rasakan berasal dari pria ini? Apa yang membuatnya segelisah itu? Tangan Ara yang mengusap rahang Anthony belum berhenti ketika dia kembali berkata, "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Tuan?" "Banyak." Ara berniat melepaskan diri dan berbalik menghadap Anthony. Namun, pria itu kembali mendekapnya erat. Ara terdiam beberapa saat dengan dahi mengernyit sebab merasa sesak dan panas secara bersamaan, kulitnya terasa seperti terbak

  • Sang Pelindung Terakhir    87 - Nama Wanita Lain Yang Keluar Dari Bibirnya

    Angin pagi menjelang siang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar bangunan kecil itu. Suasana mendadak terasa sunyi. Terlalu sunyi hingga Anthony dapat mendengar suara napasnya sendiri yang masih belum stabil. "Sebagai seorang raja sekaligus ayah, aku hanya ingin mengingatkan." Noah menatap lurus ke depan. "Apa pun yang kau lakukan nanti akan menjadi sebuah malapetaka. Meski begitu, kau tetap ingin melakukannya?" Kalimat itu terdengar ringan. Namun, entah mengapa terasa jauh lebih berat dibanding ancaman. Anthony terdiam. Kedua matanya menatap kosong ke depan, tetapi isi kepalanya kacau. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat hingga sulit baginya mencerna semuanya. Pada akhirnya, Anthony menatap ayahnya, satu sudut bibirnya terangkat. "Tujuh ratus tahun aku menunggu. Tidak ada alasan bagiku untuk melangkah mundur. Nestapa, malapetaka, bahkan jika kiamat mendekat sekalipun, aku akan tetap melakukan apa yang menurutk

  • Sang Pelindung Terakhir    86 - Perbincangan Mendalam

    "Kau ... dan ibuku ...." Mengapa ayah membunuh ibu? Anthony tidak tahu. Lebih tepatnya, dia tidak pernah ingin tahu. Sejak mengetahui kebenaran itu, dia terlanjur marah. Terlanjur dipenuhi kebencian. Mencari alasan di baliknya bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya. Mendadak perut Anthony terasa diaduk hebat. Pusing. Sesak. Sementara di hadapannya, Noah memandang putranya dalam diam. "Karena kau dan aku sama," ucap Noah tenang. "Persis seperti yang pernah kau katakan hari itu." Anthony mendorong bahu ayahnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak beraturan. Tatapan tajam itu menyorot Noah penuh kegusaran. Kepalanya terlalu penuh, dia tidak bisa berpikir jernih. "Saat itu kau menyuruhku menatap mataku dan melihat apa yang ada di dalamnya." Noah menyisir rambut Anthony perlahan, senyum tipis terukir di wajahnya. "Sesaat aku goyah. Kupikir aku telah menyembunyikan semuanya. Kupikir segala h

  • Sang Pelindung Terakhir    85 - Fakta Yang Mengejutkan

    'Noah Lee, dia Baginda Raja.' Netra beriris mightblack itu kini berubah menjadi birunya samudera, tampak keruh saat Anthony menatap Noah Lee yang ternyata adalah Baginda Raja, penguasa Abyss dan seluruh isinya. Ayahnya sendiri. Padahal darah iblis paling dihormati dunia bawah mengalir di tubuhnya, tetapi Anthony sama sekali tidak mampu menyadari penyamaran yang dilakukan ayahnya. Terlebih, pria itu telah berada di dekatnya selama sepuluh tahun. Benar-benar kemampuan yang mengerikan. "Kali ini, apa yang kau inginkan dariku?" geram Anthony, sopan santunnya lenyap tanpa sisa. "Kenapa kau sampai repot-repot bersandiwara seperti ini?" Noah Lee justru tersenyum tipis. "Jangan terlalu tegang, Wallenstein. Anggap saja aku Noah Lee seperti yang selalu kau lakukan." Anthony mengertakkan gigi. Dia memaksa dirinya mengatur napas, mencoba menenangkan gejolak yang meremas dadanya. Namun, semakin dia berusaha tenang, semakin ses

  • Sang Pelindung Terakhir    84 - Kebenaran Di Balik Kesunyian

    "Tunggu apa lagi? Lepaskan pakaianmu," ujar Anthony, bibirnya menggariskan senyuman tipis. "Bukankah tadi kau sendiri yang mengajakku mandi bersama?" Apa Ara masih bisa menarik ucapannya? Kalau dipikir-pikir lagi, ini benar-benar memalukan. Apa yang merasukinya sampai berani mengajak tuan Wallenstein mandi bersama? Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ara tidak mungkin menarik kata-katanya sekarang. Dengan gugup, dia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu. Akan tetapi, gerakannya mendadak berhenti ketika suara ritsleting terdengar dari arah sang tuan. Perlahan, dia melirik ke arah Anthony, dan saat itu juga wajahnya diserbu panas luar biasa. Ya, Tuhan .... Ara merasa dirinya berubah menjadi orang mesum karena terus membayangkan benda besar itu kembali memasuki dirinya, bergerak di dalam sana, lalu membuatnya mendesah tak berdaya seperti semalam. Dasar bodoh! Enyah kau, pikiran kotor! "Ara, ada yang sa

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status