Masuk"Dengarkan aku dulu—" "Kubilang lepaskan! Tidak ada yang ingin aku dengar darimu, semuanya sudah jelas!" Ara berteriak. Refleks dia menepis tangan Anthony yang hendak meraih tangannya, lalu membingkas turun dari pangkuan pria itu. Kini dia berdiri di hadapan sosok yang menjadi tuannya tanpa berniat menatapnya. "Ara, kumohon ...." Ara menggeleng. Dia menghindari tangan Anthony yang kembali mencoba meraih jemarinya. Butuh beberapa saat bagi Ara untuk mengatur napasnya yang kacau. Namun, ketika akhirnya dia mendongak, Anthony langsung berdiri. Raut wajah pria itu berubah drastis. "Ara ...." Anthony mencekal pergelangan tangan kirinya. "Hidungmu berdarah." Ara mengangkat tangan untuk menyentuh bawah hidungnya. Cairan merah pekat menempel di jemarinya, tetapi gadis itu justru tersenyum tipis. Miris. "Biarkan saja," ujar Ara. Dia lalu meraih tanga
"Tolong hentikan aku, dan mari kita bersatu." Perlahan, Ara membuka kedua matanya. Napasnya terasa berat. Pandangan gadis itu tampak kosong beberapa saat sebelum akhirnya dia mengusap sudut matanya yang basah. Apa yang baru saja dia alami? Mimpi? Namun, mengapa semuanya terasa begitu nyata? Perasaan dingin di tempat asing itu masih terasa jelas di kulitnya. Begitu pula sosok wanita bermandikan cahaya dengan pakaian berlumuran darah. Dan suara itu— 'Tolong hentikan aku ....' Ara mengembuskan napas pelan, lalu tanpa sadar menggulirkan pandangan ke bawah. Seketika tubuhnya menegang ketika melihat lengan kokoh melingkari tubuhnya erat. Ara mengerjapkan mata beberapa kali untuk memfokuskan penglihatan, kemudian perlahan mendongak. Dan tepat saat itu, dia mendapati Anthony tengah menatapnya. Ara langsung menundukkan kepala. Baru sekarang dirinya menyadari posisi mereka, dia berada di atas pangkuan sa
Sejauh mata memandang, Ara hanya melihat warna putih. Kosong, sunyi dan tak berujung. Kedua mata beriris dark brown itu bergerak gelisah, menatap ke segala arah dengan napas yang perlahan memburu. Tak ada apa pun di sana selain hamparan putih yang terasa luas tak terhingga, seolah tempat itu tidak memiliki batas maupun ujung. Dia lalu mulai melangkah, berusaha mencari jalan keluar. Namun, sejauh apa pun dirinya berjalan, pemandangan di sekelilingnya tetap sama. Tidak ada pintu, tidak ada bayangan, bahkan tidak ada suara selain deru napasnya sendiri. Perasaan asing mulai merayapi dadanya. Rasanya sesak. Tempat ini membuat Ara merasa kesepian. "Ara ...." Tubuh Ara sontak menegang. Suara itu terdengar lembut, nyaris seperti bisikan, tetapi cukup jelas untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ara segera menoleh. Tak jauh darinya berdiri seorang wanita, mungkin hanya berjarak tiga atau empat langkah. Kedua alis Ara menger
Pemandangan yang sama kembali kulihat saat ingatan masa lalu itu berhenti bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka. Aku berdiri di sana, memandang Tuan Wallenstein dan Ara yang berada di dalam gendongannya. Manusia itu terlelap. Wajar. Dia baru saja berhadapan dengan Tuan Wallenstein yang kehilangan kendali. Meski Ara berhasil menyadarkannya, warna biru samudera itu masih belum hilang dari mata sang iblis. Namun, kali ini berbeda. Tak ada lagi kesedihan di sana. Yang tersisa hanya penyesalan hingga alisku mengernyit tidak nyaman. Tanpa banyak bicara, aku menyerahkan selimut yang kubawa yang langsung diterima Tuan Wallenstein. Dia membungkus tubuh Ara dengan hati-hati, setelah itu berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa, membiarkan Ara tertidur dalam pangkuan serta dekapannya. Aku memandang mereka diam-diam. Dan entah mengapa, pemandangan itu mengingatkanku pada Joel dan Mariel. Meski sofa ini sudah berkali
"Ah, apa kau gadis yang dimaksud Ilayda?" Aku menatap pria tua di hadapanku dengan bingung. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara seseorang bertanya siapa gerangan yang bertamu di malam selarut ini. Tak lama kemudian, seorang wanita muncul di belakang pria tua itu. Mungkin, dia adalah istrinya. "Berpakaian aneh, wajah cantik, kulit seputih susu, dan rambut panjang keemasan ...." Wanita itu menatapku lama, lalu menoleh pada pria di sampingnya. "Sayang, benar dia gadis yang dimaksud Ilayd.Eum ... siapa namanya, ya? Apa kau sempat bertanya?" Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, saat mereka menatapku bersamaan, lalu berseru bahwa aku tampak memukau seperti bunga dengan wajah berbinar, aku tersadar bahwa aku sedang tersenyum. Aku menemukan keluargaku. "Benar! Lily!" Pria tua itu bertepuk tangan. "Aku baru ingat! Hahaha!" Suara tawanya menggema. Dan entah kenapa, hatiku
"Apa yang dilakukan banshee di tempat seperti ini? Kau terlihat merana, anakku yang manis." Mata merahku mengerjap pelan, air mata masih mengalir di pipi. Sejujurnya, aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin ini adalah balasan bagiku karena sudah menyebabkan beberapa keluarga lenyap. Kesedihan itu terus menggerogoti diriku. Dan aku pantas menerimanya. "Di mana rumahmu?" Suaranya mengalun lembut. Begitu lembut hingga hatiku terenyuh. Lalu telapak tangan halus itu mendarat di pipiku. Hangat. Menyejukkan. Dan perlahan, kesedihan di dalam diriku mulai berkurang. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, tapi Spirit kecil berjirah batu itu tampak kesal saat aku memeluk sosok cantik di hadapanku. "A-aku ...." Suaraku bergetar. Tubuhku terasa ringan saat sejumlah air keluar dari tubuhku dan melayang di udara. Kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari lima puluh tahun aku tidak berbicara. Bukan







