แชร์

14 - Ikatan Baru

ผู้เขียน: Shiooki
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-18 22:49:06
"Anthony!"

Anthony, katanya.

Ara memanggil namanya tanpa embel-embel Tuan. Saat itu juga, Anthony berhenti. Geramannya lenyap, tertelan oleh degup jantung Jung Ara yang berdetak begitu keras dan cepat di telinganya.

Di depan sana, Mikhail memasang wajah kosong ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Tangan itu perlahan merambat ke lehernya, lalu mencekiknya kuat. Tubuh Mikhail terangkat dari tanah. Dia menggantung di udara ketika sosok berjubah hitam milik Putra Mahkota Abyss dengan mudah m
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Iblis Yang Mencintaiku    116 - Selamat Tinggal, Juslandier

    Waktu seketika berhenti ketika Anthony dan Ara yang tak sadarkan diri di dalam gendongannya melangkah keluar dari portal. Dia bisa merasakan angin malam yang berembus perlahan, tetapi udara di sekitar mereka mendadak berubah asing.Anthony langsung menoleh ke arah Vance yang membeku sebelum menggulirkan pandangan, dan kedua matanya langsung menangkap dua sosok yang berdiri beberapa meter di hadapan mereka.Mereka Sephael dan Jivael. Sepasang sayap besar membentang anggun di balik punggung kedua malaikat itu, diselimuti oleh kepingan salju berkilauan yang berguguran perlahan. Setiap langkah mereka meninggalkan jejak cahaya, sementara aroma mawar musim dingin memenuhi udara sekitar, dan tercium makin jelas saat mereka melangkah mendekat.Lembut dan menenangkan, tetapi entah mengapa terasa begitu menyakitkan di dada Anthony.“Hara ....” Suara Sephael terdengar begitu lirih, penuh kerinduan. Perlahan dia mengangkat tangan kanannya, dan

  • Iblis Yang Mencintaiku    115 - Tanda Kepemilikan

    Anthony menyeringai kecil, sorot matanya perlahan berubah tajam. “Menyingkirkan sesuatu yang tidak perlu, dan mengambil kembali milikku yang telah dirampas oleh tikus.”“Kau—!”Jattandier menggertak marah. Api nyaris melesat dari telapak tangannya jika saja sang Raja Abyss tidak langsung mencekal pergelangan putra sulungnya.“Jattandier,” tegur sang Raja dingin. “Kau baru saja membuat kekacauan besar, kalau kau lupa.” Tatapan semerah darah itu menyorot tajam pada putra sulungnya. “Berhenti menggertak, atau hukumanmu akan bertambah.”Rahang Jattandier mengeras.Sementara Anthony justru menyeringai puas melihat ketidakberdayaan kakaknya. Tatapan iblis tak bersayap itu lalu beralih pada penguasa Abyss yang berdiri menjulang di hadapannya, mencoba untuk menerka apa yang tengah sosok paling kuat di antara para iblis itu pikirkan.“Apa hanya itu keinginanmu?” tanya sang

  • Iblis Yang Mencintaiku    114 - Selamat Datang, Jung Ara

    “Aku akan tinggal di sini. Aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.”“Apa itu keinginanmu yang sesungguhnya?”Ara langsung mendongak. Pupilnya bergetar hebat saat mendengar pertanyaan tersebut. Dan seketika, bayangan sosok berjubah hitam bertudung kembali muncul di kepalanya hingga membuat tubuh Ara menegang, tangannya mengepal kuat.“Aku tidak boleh menginginkan apa pun,” gumamnya pelan sambil menggeleng. “Berharap pun tidak boleh.”Anthony mengernyit. “Kenapa?”“Karena aku memang dilahirkan seperti itu!” Suara Ara meninggi tiba-tiba. Air mata kembali jatuh di pipinya. “Apa Tuan tidak melihat keadaanku sekarang?!” lanjutnya dengan napas gemetar. “Semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa pergi bersamamu.”Helaan napas kasar lolos dari bibir Anthony. Perlahan, pria itu meraih wajah Ara dengan sebelah tangan lalu memberikan usapan kecil di pipi

  • Iblis Yang Mencintaiku    113 - Aku Datang Untuk Menjemputmu

    “Ara ... Jung Ara ....”Suara itu terdengar begitu lembut. Begitu lirih hingga membuat dada Araphael terasa nyeri. Tanpa sadar, malaikat cacat itu menyentuh dada kirinya sendiri saat mendengar Juslandier memanggil nama manusia yang kini berada di dalam pelukannya.“Aku di sini,” bisik Juslandier lagi. “Aku sudah di sini.”Perlahan pria itu membuka mata sebelum menoleh ke arah Araphael, tatapan mereka pun bertemu. Dan untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Lalu, Juslandier mengulurkan tangan padanya. Di tempatnya, Araphael terdiam cukup lama. Netra kuning terang itu memandang tangan yang terulur di hadapannya, lalu bergantian menatap wajah pria yang selama ratusan tahun memenuhi hatinya. Hingga pada akhirnya, Araphael menyambut uluran tangan itu, dan melangkah mendekat.“Maaf,” gumam Juslandier serak, dia mengecup punggung tangan Araphael lembut. “Aku datang terlambat.”Araphael langsung menggeleng.“Tidak,” balasnya lembut. “Kau datang di waktu yang tepat.” Lalu dia tersenyum tipis, y

  • Iblis Yang Mencintaiku    112 - Jika Ini Takdirku

    “Bagaimana dengan Juslandier?”Napas Ara tercekat saat mendengar nama asli pria yang dicintainya, dan hatinya mencelos. Ara ingin menangis kencang dalam kehancuran hatinya sendiri. Bohong jika Ara tidak membayangkan wajah Anthony. Tatapan hangatnya. Cara pria itu memandang dirinya seolah Ara adalah sesuatu yang harus dilindungi. Tetapi semua itu kini terasa seperti ilusi.Kabut pesimisme memenuhi kepalanya. Rasa sakit, kemarahan, dan kekecewaan yang menumpuk terlalu lama telah menghancurkan pertahanannya sedikit demi sedikit.“Tatap mataku. Aku sedang berbicara padamu, Jung Ara.”Ara langsung memejamkan mata rapat-rapat saat Araphael membingkai wajahnya dengan kedua tangan. Dia tidak ingin melihat apa pun lagi, dia tidak ingin berharap lagi. Bahkan diam-diam Ara berharap kristal hitam yang telah menyelimuti setengah tubuhnya segera menelan dirinya seluruhnya.“Kumohon, Ara.”Suara itu terdengar begitu lembut. Begitu penuh permohonan. Dan entah mengapa, hati Ara terasa terenyuh mende

  • Iblis Yang Mencintaiku    111 - Keputusasaan yang Menelan

    'Di mana aku?'Kedua mata beriris dark brown itu mengerjap pelan penuh kebingungan.Yang terlihat di hadapannya hanyalah riak gelembung air dan dinding kaca transparan yang dingin. Kedua tangannya yang kecil menempel di permukaan kaca tersebut, meninggalkan jejak samar.'Siapa aku?'Tak lama kemudian, sesosok berjubah hitam muncul dari balik kegelapan..Wajahnya tertutup tudung hingga hingga dia tak bisa melihat wajahnya. Meski begitu, sosok apa pun yang berdiri di hadapannya pasti datang untuk melihatnya.“Kau adalah boneka. Hanya boneka yang digunakan sebagai alat.”Kalimat pertama yang meluncur dari mulut sosok berjubah hitam itu menggema di sekeliling ruang sempit tempatnya terkurung. Kalimat itu terasa asing, tetapi juga menyakitkan.“Sebuah wadah tidak membutuhkan kehendak,” lanjut sosok berjubah hitam tersebut. “Jangan memikirkan apa pun. Jangan menginginkan atau mengharapkan sesuatu. Itu sudah menjadi takdirmu sejak kau dilahirkan.”Bibir kecil gadis di dalam tabung bergerak pel

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status