Home / Fantasi / Iblis Yang Mencintaiku / 88 - Dirinya Yang Lain Datang

Share

88 - Dirinya Yang Lain Datang

Author: Shiooki
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-19 19:01:24

"Araphael."

"Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersayap itu perlahan melonggarkan pelukannya. "Apa Tuan baik-baik saja?"

Ara kembali tersenyum. Akhirnya Anthony mau menatapnya, meski iris sebiru samudera itu masih tampak kosong.

Jadi,
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Iblis Yang Mencintaiku    229 - Sumpah di Bawah Kembang Api 

    Pada akhirnya, seluruh hidangan yang disajikan habis tak bersisa, termasuk hidangan penutup berupa mango cheesecake dengan yuzu sorbet, serta mille-feuille yang dihiasi anggur dan rasberi segar.Anthony memperhatikan Ara sejak suapan pertama hingga terakhir, gadis itu makan dengan lahap dan tidak sekali pun menunjukkan tanda-tanda mual.Makan malam mereka berakhir di bar lantai lima puluh dua. Lagi-lagi, tak ada tamu lain selain mereka. Suasana tenang itu seolah menjadi hadiah terakhir bagi dua insan yang sedang menikmati penghujung tahun.Dari balik dinding kaca, London bermandikan cahaya. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Anthony sesekali menyesap cocktail-nya, sementara Ara menikmati secangkir minuman hangat sambil terus memandangi pemandangan di luar.Udara musim dingin terasa begitu dingin. Namun, jemari mereka yang terus bertaut membuat Ara sama sekali tidak merasakannya.Tak lama kemudian, mereka men

  • Iblis Yang Mencintaiku    228 - Selama Kau Masih Tersenyum 

    "Kau baik-baik saja?" Anthony segera bangkit dari kursinya, lalu berlutut di sisi Ara. Tangannya mengusap perlahan punggung gadis itu, berusaha meredakan rasa mual yang datang tiba-tiba.Wajahnyadipenuhikekhawatiran.SudahlebihdarisemingguAratidakmengalamimorningsickness.Anthonysempatberpikirkondisikehamilangadisitumulaistabil.Namun,melihatAramenutupmulutsepertiini,seluruhketenanganyangberusahadiabangunseketikaruntuh.Aramenganggukpelan.Rasabersalahjustrumemenuhidadanya.DiatidakinginmerusakmalamyangtelahdipersiapkanAnthonydengansepenuhhati."Hanyamualsedikit,"ucapnyasambiltersenyumtipis. 

  • Iblis Yang Mencintaiku    227 - Makan Malam yang Kacau

    'Kalau aku yang lebih dulu pergi, siapa yang akan membangunkanmu kembali ketika kau hancur, Ara?'"Hm? Kau mengatakan sesuatu?" tanya Anthony, memilih mengabaikan pikirannya sendiri.Ara tersentak pelan. Dia menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak."Dia mendongak hanya untuk mendapati tuan Wallenstein yang sedang menundukkan kepala, menatapnya penuh kasih. Tanpa disadari, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman indah yang memancing Anthony untuk mendaratkan kecupan lembut di atasnya. Walau dia bertanya seperti itu, Ara tahu bahwa sang tuan mendengarnya."Masih ada waktu dua puluh menit lagi, apa kau masih ingin di sini?"Ara mengangguk. Entah sudah berapa kali Ara memandangi wajah pria itu, tetapi rasanya dia tidak akan pernah bosan. Pria ini tidak pernah gagal membuat Ara jatuh cinta, dia benar-benar mencintainya, bahkan lebih besar dari yang dia kira. Setiap kali menatap Anthony, hatinya selalu dipenuhi berbagai macam pe

  • Iblis Yang Mencintaiku    226 - Pantulan di Sungai Thames

    Setelah berkendara hampir setengah jam, menikmati hamparan salju yang menyelimuti London, gemerlap lampu Natal yang menghiasi setiap sudut jalan, serta tawa hangat para penduduk lokal dan wisatawan yang larut dalam semangat pergantian tahun, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.Sebenarnya ada jalur yang lebih singkat, hanya sekitar lima belas menit. Namun, Anthony sengaja memilih jalan memutar. "Supaya perjalanan kita tidak membosankan. Sekalian menikmati pemandangan," begitu katanya.Bagi Ara, alasan itu sama sekali tidak penting. Lima belas menit ataupun tiga puluh menit, semuanya terasa sama selama Anthony berada di sampingnya.Sejak meninggalkan Stasiun Paddington, pria itu tidak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangan mereka. Sesekali Anthony mengangkat tangan Ara untuk dikecup lembut, lalu melontarkan kalimat-kalimat sederhana yang selalu berhasil membuat pipi gadis itu memerah.Berkat semua itu, perjalanan mereka terasa begitu singkat. Traum

  • Iblis Yang Mencintaiku    225 - Tempat Paling Aman

    Decak kagum nyaris lolos dari bibir Ara ketika sebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di hadapannya.Cahaya matahari sore memantul di permukaan bodinya yang elegan, membuat kendaraan itu tampak begitu mencolok di tengah jalanan London yang dipenuhi salju. Tak sedikit pejalan kaki yang melirik ke arahnya. Namun, yang jauh lebih mencuri perhatian adalah pria yang baru saja keluar dari balik kemudi.Anthony J. Wallenstein.Dengan mantel hitam panjang yang membungkus tubuh tegapnya, pria itu melangkah tenang menuju Ara. Rambut hitamnya bergerak pelan diterpa angin musim dingin, sementara sorot mata hitam dengan semburat biru samudera itu tetap tertuju hanya pada satu orang.Beberapa waktu sebelumnya, mereka baru tiba di Stasiun Paddington setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam. Ini bukan pertama kalinya Ara menginjakkan kaki di London. Meski belum benar-benar akrab, kota metropolitan itu tidak lagi terasa asing baginya.Apalagi menjelang

  • Iblis Yang Mencintaiku    224 - Godaan di Dalam Kereta (3)

    "Kau melakukannya lagi, Ara." Anthony berbisik pelan, suaranya rendah dan dipenuhi godaan. "Sepertinya kau memang berniat menggodaku dengan ekspresi seperti itu. Menurutmu, apa yang akan aku lakukan selanjutnya?"Ara menahan napas. Ucapan itu saja sudah cukup membuat wajahnya memanas. Tangannya spontan menutupi wajah, berusaha menyembunyikan pipi yang pasti telah semerah tomat matang.Selanjutnya ....Apa yang akan dilakukan Anthony?Ara bukan lagi gadis polos yang tidak mengerti apa pun. Dia memahami betul arti tatapan pria di hadapannya, juga menyadari bahwa apa yang baru saja terjadi hanyalah permulaan. Apalagi tangan tuannya sudah berada di area intimnya. Jantungnya berdetak semakin kacau merasakan kehangatan dari tangan tersebut.Tidak boleh.Kalau Anthony melihat wajahnya sekarang, pria itu pasti akan menyalahgunakannya sebagai bentuk godaan untuknya.Padahal, kan, Ara merasa malu luar biasa. Tetapi Tuan tampan dan perkasa milik

  • Iblis Yang Mencintaiku    66 - Kepergian Vance

    “Sepertinya ada yang memanggilku.” “Istriku, Ilayda. Kenapa kau kemari? Aku sudah menyuruhmu untuk menunggu.” Sosok itu turun dari bagal putih dengan anggun. Gaun hitam malam yang membalut tubuhnya menyapu tanah, memperlihatkan bahu hingga belahan dada. Rambut legamn

  • Iblis Yang Mencintaiku    119 - Jika Itu Benar Untukku

    “Perutku rasanya aneh,” gumam Ara seraya menyentuh perutnya, sesekali meremasnya kecil.Anthony mengernyit heran. Dia menggenggam tangan Ara lalu menyingkirkannya perlahan sebelum telapak tangannya sendiri berpindah menyentuh perut gadis itu. Lembut dan penuh kehati-hatian.

  • Iblis Yang Mencintaiku    86 - Perbincangan Mendalam

    "Kau ... dan ibuku ...." Mengapa ayah membunuh ibu? Anthony tidak tahu. Lebih tepatnya, dia tidak pernah ingin tahu. Sejak mengetahui kebenaran itu, dia terlanjur marah. Terlanjur dipenuhi kebencian. Mencari alasan di baliknya bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya.

  • Iblis Yang Mencintaiku    79 - Rencana Kejam

    Pada akhirnya, malam panjang itu berhenti ketika tubuh Ara benar-benar menyerah pada kelelahan. Sesaat setelah Anthony memeluknya erat dalam dekapan hangat, kesadaran gadis itu perlahan tenggelam bersama napasnya yang mulai teratur. Anthony masih terdiam cukup lama di atas ranjang, menatap wajah A

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status