LOGIN"Araphael."
"Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersayap itu perlahan melonggarkan pelukannya. "Apa Tuan baik-baik saja?" Ara kembali tersenyum. Akhirnya Anthony mau menatapnya, meski iris sebiru samudera itu masih tampak kosong. Jadi,Pemandangan yang sama kembali kulihat saat ingatan masa lalu itu berhenti bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka. Aku berdiri di sana, memandang Tuan Wallenstein dan Ara yang berada di dalam gendongannya. Manusia itu terlelap. Wajar. Dia baru saja berhadapan dengan Tuan Wallenstein yang kehilangan kendali. Meski Ara berhasil menyadarkannya, warna biru samudera itu masih belum hilang dari mata sang iblis. Namun, kali ini berbeda. Tak ada lagi kesedihan di sana. Yang tersisa hanya penyesalan hingga alisku mengernyit tidak nyaman. Tanpa banyak bicara, aku menyerahkan selimut yang kubawa yang langsung diterima Tuan Wallenstein. Dia membungkus tubuh Ara dengan hati-hati, setelah itu berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa, membiarkan Ara tertidur dalam pangkuan serta dekapannya. Aku memandang mereka diam-diam. Dan entah mengapa, pemandangan itu mengingatkanku pada Joel dan Mariel. Meski sofa ini sudah berkali
"Ah, apa kau gadis yang dimaksud Ilayda?" Aku menatap pria tua di hadapanku dengan bingung. Dari dalam rumah, samar-samar terdengar suara seseorang bertanya siapa gerangan yang bertamu di malam selarut ini. Tak lama kemudian, seorang wanita muncul di belakang pria tua itu. Mungkin, dia adalah istrinya. "Berpakaian aneh, wajah cantik, kulit seputih susu, dan rambut panjang keemasan ...." Wanita itu menatapku lama, lalu menoleh pada pria di sampingnya. "Sayang, benar dia gadis yang dimaksud Ilayd.Eum ... siapa namanya, ya? Apa kau sempat bertanya?" Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Namun, saat mereka menatapku bersamaan, lalu berseru bahwa aku tampak memukau seperti bunga dengan wajah berbinar, aku tersadar bahwa aku sedang tersenyum. Aku menemukan keluargaku. "Benar! Lily!" Pria tua itu bertepuk tangan. "Aku baru ingat! Hahaha!" Suara tawanya menggema. Dan entah kenapa, hatiku
"Apa yang dilakukan banshee di tempat seperti ini? Kau terlihat merana, anakku yang manis." Mata merahku mengerjap pelan, air mata masih mengalir di pipi. Sejujurnya, aku tidak bisa menghentikannya. Mungkin ini adalah balasan bagiku karena sudah menyebabkan beberapa keluarga lenyap. Kesedihan itu terus menggerogoti diriku. Dan aku pantas menerimanya. "Di mana rumahmu?" Suaranya mengalun lembut. Begitu lembut hingga hatiku terenyuh. Lalu telapak tangan halus itu mendarat di pipiku. Hangat. Menyejukkan. Dan perlahan, kesedihan di dalam diriku mulai berkurang. Aku tak yakin dengan apa yang kulihat, tapi Spirit kecil berjirah batu itu tampak kesal saat aku memeluk sosok cantik di hadapanku. "A-aku ...." Suaraku bergetar. Tubuhku terasa ringan saat sejumlah air keluar dari tubuhku dan melayang di udara. Kalau tidak salah hitung, sudah lebih dari lima puluh tahun aku tidak berbicara. Bukan
Aku menatap bulan melalui jendela. Sesekali pandanganku beralih pada bangunan kecil di dekat rumah, lalu kembali menatap langit yang jauh di sana. Malam ini bulan terlihat lebih terang dari biasanya. Aku tidak tahu apakah itu pertanda baik atau bukan. Terlebih, aura negatif mengelilingi tempat ini. Aku berharap Ara dapat membawa kembali Tuan Wallenstein. Aku berharap mereka baik-baik saja. Aku cemas, sungguh. Aku tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Ara. Aku tidak memiliki cukup kekuatan. Makhluk petaka sepertiku memang tidak berguna. Ah, petaka. Seketika aku teringat masa lalu. Kedua sudut bibirku terangkat getir. Kala itu, aroma tanah basah memenuhi penciumanku. Entah sudah berapa lama hujan turun membasahi bumi hingga genangan air terbentuk di mana-mana. Lolongan anjing, atau mungkin serigala dari dalam hutan membuat malam itu terasa lebih menyeramkan dari biasanya. Padahal sebenarnya, akulah y
"Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersayap itu perlahan melonggarkan pelukannya. "Apa Tuan baik-baik saja?" Ara kembali tersenyum. Akhirnya Anthony mau menatapnya, meski iris sebiru samudera itu masih tampak kosong. Jadi, kegelisahan yang Ara rasakan berasal dari pria ini? Apa yang membuatnya segelisah itu? Tangan Ara yang mengusap rahang Anthony belum berhenti ketika dia kembali berkata, "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Tuan?" "Banyak." Ara berniat melepaskan diri dan berbalik menghadap Anthony. Namun, pria itu kembali mendekapnya erat. Ara terdiam beberapa saat dengan dahi mengernyit sebab merasa sesak dan panas secara bersamaan, kulitnya terasa seperti terbak
Angin pagi menjelang siang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sekitar bangunan kecil itu. Suasana mendadak terasa sunyi. Terlalu sunyi hingga Anthony dapat mendengar suara napasnya sendiri yang masih belum stabil. "Sebagai seorang raja sekaligus ayah, aku hanya ingin mengingatkan." Noah menatap lurus ke depan. "Apa pun yang kau lakukan nanti akan menjadi sebuah malapetaka. Meski begitu, kau tetap ingin melakukannya?" Kalimat itu terdengar ringan. Namun, entah mengapa terasa jauh lebih berat dibanding ancaman. Anthony terdiam. Kedua matanya menatap kosong ke depan, tetapi isi kepalanya kacau. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat hingga sulit baginya mencerna semuanya. Pada akhirnya, Anthony menatap ayahnya, satu sudut bibirnya terangkat. "Tujuh ratus tahun aku menunggu. Tidak ada alasan bagiku untuk melangkah mundur. Nestapa, malapetaka, bahkan jika kiamat mendekat sekalipun, aku akan tetap melakukan apa yang menurutk







