แชร์

169 - Hasrat yang Tertahan 

ผู้เขียน: Shiooki
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-20 19:00:52

"Araphael, kau tahu apa yang kupikirkan?" bisik Juslandier, suaranya serak, berusaha menahan diri. "Rasanya aku ingin memenuhimu, dan membuatmu memanggil namaku disela desahanmu."

Mendengar hal itu, pipi Araphael seketika memerah.

Juslandier meraup wajahnya dengan sebelah tangan saat melihat ekspresi tersebut. Dia terdiam cukup lama sambil memandangi ciptaan yang begitu indah di bawahnya, sebelum akhirnya dia menegapkan punggung dan bertumpu dengan kedua lutut, lalu menanggalkan

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Iblis Yang Mencintaiku    170 - Simbol yang Tak Dikenal

    "Jangan pejamkan matamu," bisik Juslandier tepat di depan bibir Araphael. Dia mengecup bibir yang sedikit bengkak itu dengan lembut. "Kau harus menyaksikan saat aku memasukimu. Ini bukti bahwa kau dan aku telah bersatu, bukti bahwa kau tidak jatuh sendirian. Karena aku juga mencin—"Dengan wajah memerah, Araphael buru-buru meraih wajah Juslandier dan membungkam ucapannya dengan ciuman. Sang putra mahkota Abyss sempat terkejut, tetapi segera tersenyum tipis sebelum membalas ciuman itu. Dia menarik kedua lengan Araphael untuk melingkar di lehernya. Satu tangannya merapatkan tubuh sang malaikat, sementara tangan lainnya mengarahkan kejantanan yang telah mengeras menuju pintu intimasi Araphael."Nghhn ... Juslandier."Araphael memutus ciuman mereka. Matanya menyaksikan bagaimana kepala kejantanan berukuran besar itu perlahan membelah pintu intimasinya. Jemarinya mencengkeram lengan sang iblis kuat-kuat hingga kuku-kukunya menancap.Di atasnya, Juslandier teru

  • Iblis Yang Mencintaiku    169 - Hasrat yang Tertahan 

    "Araphael, kau tahu apa yang kupikirkan?" bisik Juslandier, suaranya serak, berusaha menahan diri. "Rasanya aku ingin memenuhimu, dan membuatmu memanggil namaku disela desahanmu."Mendengar hal itu, pipi Araphael seketika memerah.Juslandier meraup wajahnya dengan sebelah tangan saat melihat ekspresi tersebut. Dia terdiam cukup lama sambil memandangi ciptaan yang begitu indah di bawahnya, sebelum akhirnya dia menegapkan punggung dan bertumpu dengan kedua lutut, lalu menanggalkan jubah putra mahkotanya tanpa mengalihkan pandangan dari sosok yang berhasil mendobrak hatinya.Dengan santai, Juslandier menggunakan kain mewah tersebut untuk alas Araphael berbaring; tak ingin membiarkan tubuh sang pujaan hati kotor oleh tanah.Setelahnya, Juslandier kembali memagut bibir Araphael teramat lembut, menyingkirkan jubah yang dikenakan sang malaikat, juga pakaiannya yang langsung mempertontonkan bagaimana indahnya tubuh itu.Jakunnya naik-turun saat Juslandier

  • Iblis Yang Mencintaiku    168 - Aku Menyukaimu, Jadi Jangan Pergi

    "Ya." Juslandier tertawa lirih. Dia menempelkan dahinya ke kepala Araphael sementara ibu jarinya mengusap lembut pipi sang malaikat ketika melanjutkan, "Dan si bodoh ini menyukaimu."Araphael kembali menangis. Maka Juslandier membungkam isakan itu dengan ciuman. Bibirnya bergerak memungut bibir lembap milik Araphael, mengulumnya sebentar, kemudian menelusukkan lidahnya ke mulut malaikat yang dicintainya.Selagi memberikan ciuman lembut nan hangat tersebut, tangan kanan Juslandier menyasar leher Araphael, kemudian bergerak menuju belakang lehernya, mengusap-usap bagian tersebut hingga membuat si malaikat melenguh tertahan.Merasa ciuman yang diberikannya berlebihan, Juslandier segera menyudahinya setelah meninggalkan kecupan singkat di benda yang baru saja dia kulum. Kedua bola matanya tergelincir ke bibir Araphael yang sedikit terbuka, kemudian kembali bergulir menatap matanya yang berkaca-kaca.Wajah Araphael memerah, deru napasnya sedikit tak bera

  • Iblis Yang Mencintaiku    167 - Si bodoh yang Menyukaimu 

    "Kau sudah mendengarnya dengan jelas, Juslandier! Aku tidak bisa menemuimu lagi! Aku tidak akan pernah menemuimu lagi."Juslandier tersentak.Selama dia mengenal Araphael, malaikat itu tidak pernah meninggikan suara. Bahkan ketika marah atau kesal, Araphael selalu berbicara dengan lembut. Oleh karena itu, mendengar nada tinggi yang keluar dari bibirnya terasa seperti tamparan keras yang menghantam tepat di dada.Tanpa sadar, genggamannya pada pergelangan tangan Araphael terlepas. Dia mundur selangkah, lalu satu langkah lagi. Sepasang mata biru samudera itu hanya mampu menatap sosok yang masih berlutut di atas rerumputan, bahunya bergetar hebat oleh tangis.Kepalanya kosong, mendadak Juslandier merasa dirinya begitu hampa. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang mampu dia rasakan hanyalah sesuatu yang mengganjal di dadanya, menyesakkan hingga sulit bernapas.Pada akhirnya, Juslandier berbalik, melangkah pergi. S

  • Iblis Yang Mencintaiku    166 - Aku Tidak Bisa Menemuimu Lagi

    Juslandier sama sekali tidak berniat naik ke permukaan dan pergi ke tempat yang biasa digunakan sebagai lokasi pertemuannya dengan Araphael. Lagi pula, matahari akan terbenam dalam hitungan menit. Itu berarti waktunya bertugas telah tiba.Terlebih lagi, seminggu yang lalu Araphael sudah mengatakan bahwa untuk sementara waktu mereka tidak bisa bertemu karena dirinya harus menyelesaikan sesuatu di kediamannya. Itulah alasan mengapa Juslandier memilih bermalas-malasan di paviliun pribadinya dibanding membuang waktu pergi ke permukaan.Namun, pikirannya sendiri berkhianat. Alih-alih muncul di wilayah Kroasia untuk memulai tugas malamnya, tubuh Juslandier justru berpindah ke tempat yang sangat dikenalnya. Dari sini, dia bisa melihat hamparan rumput, lautan bunga, juga pohon rindang yang selalu menaungi dirinya dan Araphael dari teriknya matahari.Bias jingga senja menyelimuti seluruh bukit, membuat bunga-bunga yang bergoyang tertiup angin terlihat seperti lautan cahaya keemasan.Juslandier

  • Iblis Yang Mencintaiku    165 - Bayangan di Balik Senyuman

    "Kalian bertengkar?"Tentu saja pertanyaan itu langsung mengundang decakan kesal dari Juslandier. Matanya terbuka, lalu bergulir tajam pada Mikhail.Atas dasar apa Mikhail bisa menyimpulkan hal seperti itu?Bertengkar?Kalau yang dimaksud bertengkar adalah lidah yang saling beradu, saling tarik-menarik, lalu berakhir dengan gigitan dan kecupan sebelum berpisah, mungkin Juslandier akan mengiyakannya. Namun, tentu saja dia tidak mungkin mengatakan hal itu."Omong kosong apa yang kau bicarakan?" ketusnya.Mikhail mengangkat kedua bahu. "Aku hanya bertanya. Apa itu salah?""Sialan, pertanyaanmu yang salah.""Ya sudah. Tidak perlu membentak seperti itu, dong.""Aku tidak membentak!""Nah! Kau baru saja melakukannya.""Ugh ...." Juslandier yang semula berbaring segera duduk sambil memijat pelipisnya. Pada saat-saat seperti ini, dia benar-benar memahami mengapa sebagian iblis memilih menyelesaikan masalah dengan kekerasan.Jika saja Mikhail bukan putra dari kakak ibu asuhnya, Juslandier suda

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status