Home / Fantasi / Pelindung Terakhir / 7 - Peri Misterius

Share

7 - Peri Misterius

Author: Shiooki
last update Last Updated: 2026-03-11 01:25:17

Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.

Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.

Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.

Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.

Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.

Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.

Ara menatap lemari itu sejenak.

"Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak pasti. Mungkin Anthony memang membeli semua itu untuknya, dan kebetulan ukurannya sesuai.

Ara lalu membaringkan diri di kasur, menghadap pintu masuk. Begitu kepalanya menyentuh bantal, ia hampir tidak percaya dengan kelembutannya. Rasanya seperti tenggelam di lautan busa. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi bagi Ara yang terbiasa tidur dengan bantal keras layaknya batu, kenyamanan ini terasa seperti mimpi.

Kelopak matanya perlahan menutup, Ara mencoba tenggelam dalam kenyamanan ini. Ketika ia mulai kehilangan kesadarannya, angin lembut terasa membelai wajahnya. Ada aroma rumput segar yang menenangkan. Dan saat kesadarannya benar-benar tenggelam, Ara menyadari bahwa ia sedang bermimpi.

Ia berada di padang rumput luas. Berbaring di atas hamparan hijau dengan mata terpejam, sayup-sayup ia mendengar suara memanggil namanya. Kian dekat kian terdengar jelas.

“Ara…”

Suara itu terdengar lembut, terlalu lembut hingga hati Ara menekuk pilu. Tersirat sebuah penyesalan dalam suaranya.

Ara ingin membuka mata, kemudian mencari siapa pemilik suara itu. Namun, tubuhnya tidak bergerak. Ia hanya bisa berbaring, membiarkan angin membelainya dan membuatnya semakin jatuh dalam tidur.

Lalu tiba-tiba, udara hangat yang barusan ia rasakan berubah menjadi dingin menusuk, sontak membuat Ara membuka mata dan mendapati pemandangan asing.

Gelap.

Tanah di bawah tubuhnya jelas bukan kasur empuk, melainkan rumput yang lembap.

Apa tadi dirinya bermimpi? Atau saat ini ia masih dalam mimpi?

Ara segera bangun dari baringnya, menimbulkan gesekan rumput di bawahnya. Ia menoleh ke segala arah dengan bingung. Pepohonan tinggi mengelilinginya, sementara cahaya rembulan menyusup melalui celah-celah daun.

Ini … hutan?

Jika bukan karena cahaya bulan, Ara bahkan tidak yakin ia bisa melihat apa pun.

“Hai .…”

Ara terlonjak kaget.

Suara dari mana itu? Mengapa dekat sekali?

Hantu?

Jantungnya berdebar keras. Apa dia masih bermimpi?

Namun, pikirannya langsung terhenti ketika sesosok makhluk kecil bersayap terbang mendekat.

“Kau … peri yang tadi?”

“Selamat datang di hutan kami,” kata makhluk itu ceria. “Apa kau ingin berjalan-jalan?”

Ara mengerutkan dahinya. “Tapi—”

“Kau mau, kan?!” Makhluk kecil itu terbang mendekat dan menarik-narik jari telunjuk Ara. Senyumannya lebar dan penuh semangat. “Pemandangan malam di sini sangat indah. Lagipula, berjalan-jalan akan membuatmu lelah. Kau pasti bisa tidur nyenyak setelahnya.”

Peri itu, Eariel mengedipkan mata. “Ah, Jattandier juga ada di sana. Dia sedang menunggumu.”

Nama itu membuat Ara terdiam. Ia teringat perkataan makhluk ini sebelumnya—tentang seseorang bernama Jattandier yang menandainya sebagai pengantin. Dan entah mengapa, wajah Anthony langsung muncul di pikirannya.

Apa … Jattandier itu Anthony?

Mungkinkah Jattandier adalah nama lain, atau mungkin nama asli Anthony sebelum pria itu menanggalkan sayapnya?

Ara menghela napas pelan, sejenak ia memejamkan mata. Dibeli oleh iblis saja sudah cukup sulit dipercaya. Apalagi jika ia benar-benar harus menjadi pengantinnya.

Tak mau larut dalam pikiran, Ara segera berdiri dan menepuk-nepuk rumput di pakaiannya. Hawa dingin yang menusuk serta cubitan di pipinya meyakinkan satu hal, ini bukan mimpi.

Entah bagaimana caranya ia bisa berpindah tempat, Ara yakin ia tidak memiliki kebiasaan tidur berjalan. Apa mungkin makhluk kecil ini menggotongnya kemari?

“Ayo, ikuti aku!” seru makhluk kecil itu.

Ara mengepalkan tangannya. Jika Anthony benar-benar ada di sana, maka ia harus memastikan semuanya sendiri. Ia tidak boleh membuat tuannya menunggu.

***

Beberapa puluh langkah kemudian, Ara semakin dalam memasuki hutan. Pepohonan tinggi menjulang di sekelilingnya. Ia sempat menoleh ke belakang, mencoba mengingat jalan yang telah dilewati, tetapi semuanya terlihat sama.

Untungnya cahaya bulan cukup terang. Selain itu, jejak cahaya yang ditinggalkan makhluk kecil di udara juga menerangi jalan.

Bukan hanya itu. Daun-daun di sekitar mereka berkilauan seperti ditaburi serbuk glitter dengan warna yang berbeda-beda. Dari kejauhan terdengar suara tawa samar.

“Apa ini?” tanya Ara. “Kenapa di sini begitu terang?”

Makhluk kecil itu berputar di udara sebelum menghadapnya.

“Itu jejak kami saat terbang. Kau bisa melihatnya, ya?”

Ara menggenggam ujung gaun tidurnya, lalu merapatkan sweater yang dipakainya. Udara malam terasa dingin.

Ucapan makhluk itu kembali mengingatkannya bahwa dirinya memang berbeda. Manusia biasa tidak bisa melihat cahaya seperti ini.

“Indah sekali,” gumamnya.

Makhluk kecil itu tertawa riang mendengar perkataan Ara.

“Apa kalian tinggal di sini?” tanya Ara.

“Eum ... tidak juga. Rumah kami berada jauh dari sini, sangat jauh hingga kau tidak bisa menemukannya. Hutan adalah tempat bermain kami.” Eariel tersenyum lebar, ia mengayunkan kedua kakinya seperti sedang berjalan di udara, kemudian menatap Ara dengan penasaran. “Kalau denganmu? Di mana rumahmu? Rumah tadi bukan tempat tinggal aslimu, 'kan?”

Ara terdiam sejenak.

“Tidak ada. Aku tidak punya rumah,” jawabnya pelan. “Aku diasuh oleh seseorang yang mengaku kerabat ibuku. Dan sekarang , aku dibawa ke sini olehnya. Dia bilang aku boleh menganggap tempat itu sebagai rumahku juga.”

Makhluk kecil itu menatapnya. “Mereka baik padamu?”

Ara berhenti berjalan, ia tahu 'mereka' yang Eariel maksud. Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang tidak mencapai matanya. “Aku tidak akan berada di sini jika mereka baik kepadaku.”

Cahaya di sekitar mereka perlahan meredup.

"Orang baik selalu pergi lebih cepat meninggalkanku," monolognya dalam hati, bibirnya masih menyunggingkan senyum getir. Sementara makhluk kecil itu hanya mendengung tak jelas seraya tersenyum simpul.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, semakin sedikit cahaya yang tersisa. Suara tawa peri dan binatang malam pun menghilang.

Hutan menjadi sangat sunyi.

Terlalu sunyi.

Ara mulai merasa tidak nyaman. Ia tiba-tiba teringat perkataan Anthony.

'Jangan terlalu memedulikan mereka.'

“Sepertinya kita sudah berjalan cukup jauh,” kata Ara sambil menoleh ke belakang.

“Tenang saja,” jawab makhluk kecil itu. “Kita harus berjalan lebih jauh lagi untuk bertemu Jattandier.”

Ia kembali meraih jari Ara. “Lagipula … kau tidak perlu kembali.”

Ara langsung menoleh pada Eariel.

Senyum makhluk kecil itu berubah aneh.

Matanya memancarkan cahaya kemerahan.

Dan Jung Ara tahu, keputusan yang ia ambil untuk mengikuti peri ini adalah sebuah kesalahan.

[]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelindung Terakhir    7 - Peri Misterius

    Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.Ara menatap lemari itu sejenak."Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang

  • Pelindung Terakhir    6 - Daging dan Peringatan

    Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.Sejak pertama kali memasuki rumah ini, ia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Ia benar-benar disambut baik di sini.“Kau belum makan apa-a

  • Pelindung Terakhir    5 - Rumah Baru?

    Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika ia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kantong celana.“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika ia masih bayi dan dimandikan oleh

  • Pelindung Terakhir    4 - Telapak Tangan Besar Itu ....

    Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihat

  • Pelindung Terakhir    3 - Sebuah Harapan?

    Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.Ya, tidak mungkin terjadi.Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya."Hei, bangun ...."Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini?“Bangunlah.”Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.Ara menge

  • Pelindung Terakhir    2 - Namanya adalah Wallenstein

    Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka.Pengantin?Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya.Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu.“Jadi, kau bisa melihatnya, ya?”Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang.Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus.Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status