ログインDi lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.
Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian kasur. Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Dia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah. Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak dia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda. Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya. Ara menatap lemari itu sejenak. "Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tidak pasti. Mungkin Anthony memang membeli semua itu untuknya, dan kebetulan ukurannya sesuai. Ara lalu membaringkan diri di kasur, menghadap pintu masuk. Begitu kepalanya menyentuh bantal, dia hampir tidak percaya dengan kelembutannya. Rasanya seperti tenggelam di lautan busa. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi bagi Ara yang terbiasa tidur dengan bantal keras layaknya batu, kenyamanan ini terasa seperti mimpi. Kelopak matanya perlahan menutup, Ara mencoba tenggelam dalam kenyamanan ini. Ketika dia mulai kehilangan kesadarannya, angin lembut terasa membelai wajahnya. Ada aroma rumput segar yang menenangkan. Dan saat kesadarannya benar-benar tenggelam, Ara menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Dia berada di padang rumput luas. Berbaring di atas hamparan hijau dengan mata terpejam, sayup-sayup dia mendengar suara memanggil namanya. Kian dekat kian terdengar jelas. .“Ara…” Suara itu terdengar lembut, terlalu lembut hingga hati Ara menekuk pilu. Tersirat sebuah penyesalan dalam suaranya. Ara ingin membuka mata, kemudian mencari siapa pemilik suara itu. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa berbaring, membiarkan angin membelainya dan membuatnya semakin jatuh dalam tidur. Lalu tiba-tiba, udara hangat yang barusan dia rasakan berubah menjadi dingin menusuk, sontak membuat Ara membuka mata dan mendapati pemandangan asing. Gelap. Tanah di bawah tubuhnya jelas bukan kasur empuk, melainkan rumput yang lembap. Apa tadi dirinya bermimpi? Atau saat ini dia masih dalam mimpi? Ara segera bangun dari baringnya, menimbulkan gesekan rumput di bawahnya. Dia menoleh ke segala arah dengan bingung. Pepohonan tinggi mengelilinginya, sementara cahaya rembulan menyusup melalui celah-celah daun. Ini … hutan? Jika bukan karena cahaya bulan, Ara bahkan tidak yakin dia bisa melihat apa pun. “Hai .…” Ara terlonjak kaget. Suara dari mana itu? Mengapa dekat sekali? Hantu? Jantungnya berdebar keras. Apa dia masih bermimpi? Namun, pikirannya langsung terhenti ketika sesosok makhluk kecil bersayap terbang mendekat. “Kau … peri yang tadi?” “Selamat datang di hutan kami,” kata makhluk itu ceria. “Apa kau ingin berjalan-jalan?” Ara mengerutkan dahinya. “Tapi—” “Kau mau, kan?!” Makhluk kecil itu terbang mendekat dan menarik-narik jari telunjuk Ara. Senyumannya lebar dan penuh semangat. “Pemandangan malam di sini sangat indah. Lagipula, berjalan-jalan akan membuatmu lelah. Kau pasti bisa tidur nyenyak setelahnya.” Peri itu, Eariel mengedipkan mata. “Ah, Jattandier juga ada di sana. Dia sedang menunggumu.” Nama itu membuat Ara terdiam. Dia teringat perkataan makhluk ini sebelumnya—tentang seseorang bernama Jattandier yang menandainya sebagai pengantin. Dan entah mengapa, wajah Anthony langsung muncul di pikirannya. Apa … Jattandier itu Anthony? Mungkinkah Jattandier adalah nama lain, atau mungkin nama asli Anthony sebelum pria itu menanggalkan sayapnya? Ara menghela napas pelan, sejenak dia memejamkan mata. Dibeli oleh iblis saja sudah cukup sulit dipercaya. Apalagi jika dia benar-benar harus menjadi pengantinnya. Tak mau larut dalam pikiran, Ara segera berdiri dan menepuk-nepuk rumput di pakaiannya. Hawa dingin yang menusuk serta cubitan di pipinya meyakinkan satu hal, ini bukan mimpi. Entah bagaimana caranya dia bisa berpindah tempat, Ara yakin dia tidak memiliki kebiasaan tidur berjalan. Apa mungkin makhluk kecil ini menggotongnya kemari? “Ayo, ikuti aku!” seru makhluk kecil itu. Ara mengepalkan tangannya. Jika Anthony benar-benar ada di sana, maka dia harus memastikan semuanya sendiri. Dia tidak boleh membuat tuannya menunggu. *** Beberapa puluh langkah kemudian, Ara semakin dalam memasuki hutan. Pepohonan tinggi menjulang di sekelilingnya. Dia sempat menoleh ke belakang, mencoba mengingat jalan yang telah dilewati, tetapi semuanya terlihat sama. Untungnya cahaya bulan cukup terang. Selain itu, jejak cahaya yang ditinggalkan makhluk kecil di udara juga menerangi jalan. Bukan hanya itu. Daun-daun di sekitar mereka berkilauan seperti ditaburi serbuk glitter dengan warna yang berbeda-beda. Dari kejauhan terdengar suara tawa samar. “Apa ini?” tanya Ara. “Kenapa di sini begitu terang?” Makhluk kecil itu berputar di udara sebelum menghadapnya. “Itu jejak kami saat terbang. Kau bisa melihatnya, ya?” Ara menggenggam ujung gaun tidurnya, lalu merapatkan sweater yang dipakainya. Udara malam terasa dingin. Ucapan makhluk itu kembali mengingatkannya bahwa dirinya memang berbeda. Manusia biasa tidak bisa melihat cahaya seperti ini. “Indah sekali,” gumamnya. Makhluk kecil itu tertawa riang mendengar perkataan Ara. “Apa kalian tinggal di sini?” tanya Ara. “Eum ... tidak juga. Rumah kami berada jauh dari sini, sangat jauh hingga kau tidak bisa menemukannya. Hutan adalah tempat bermain kami.” Eariel tersenyum lebar, dia mengayunkan kedua kakinya seperti sedang berjalan di udara, kemudian menatap Ara dengan penasaran. “Kalau denganmu? Di mana rumahmu? Rumah tadi bukan tempat tinggal aslimu, 'kan?” Ara terdiam sejenak. “Tidak ada. Aku tidak punya rumah,” jawabnya pelan. “Aku diasuh oleh seseorang yang mengaku kerabat ibuku. Dan sekarang , aku dibawa ke sini olehnya. Dia bilang aku boleh menganggap tempat itu sebagai rumahku juga.” Makhluk kecil itu menatapnya. “Mereka baik padamu?” Ara berhenti berjalan, dia tahu 'mereka' yang Eariel maksud. Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang tidak mencapai matanya. “Aku tidak akan berada di sini jika mereka baik kepadaku.” Cahaya di sekitar mereka perlahan meredup. "Orang baik selalu pergi lebih cepat meninggalkanku," monolognya dalam hati, bibirnya masih menyunggingkan senyum getir. Sementara makhluk kecil itu hanya mendengung tak jelas seraya tersenyum simpul. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, semakin sedikit cahaya yang tersisa. Suara tawa peri dan binatang malam pun menghilang. Hutan menjadi sangat sunyi. Ara mulai merasa tidak nyaman. Dia tiba-tiba teringat perkataan Anthony. 'Jangan terlalu memedulikan mereka.' “Sepertinya kita sudah berjalan cukup jauh,” kata Ara sambil menoleh ke belakang. “Tenang saja,” jawab makhluk kecil itu. “Kita harus berjalan lebih jauh lagi untuk bertemu Jattandier.” Ida kembali meraih jari Ara. “Lagipula … kau tidak perlu kembali.” Ara langsung menoleh pada Eariel. Senyum makhluk kecil itu berubah aneh. Matanya memancarkan cahaya kemerahan. Dan Jung Ara tahu, keputusan yang dia ambil untuk mengikuti peri ini adalah sebuah kesalahan. []"Lalu, bagaimana denganmu? Kau juga tidak setara dengannya, bukan?""Benar. Untuk itu, apa pun akan kulakukan, agar kami berdiri di tempat yang setara," ujar Anthony tenang, tetapi sorot matanya terlihat tajam.“Kau begitu misterius, Juslandier. Dan lagi, aku belum pernah melihat iblis seputus asa ini seperti dirimu.”Alis Anthony langsung menukik tajam. Dia tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut Vance.Apa keputusasaan itu terlihat sejauh ini? Padahal dia selalu menyembunyikannya.Sejak kehilangan orang terkasih, Anthony memang hidup dalam bayang-bayang putus asa. Kecemasan menggerogoti tiap detik yang dia jalani selama ratusan tahun. Namun, dia tidak pernah membiarkannya mengambil alih, sebab itu akan membuatnya lemah.Dia terus berdiri. Berjuang sendirian demi mengangkat kutukan yang diberikan pada kekasihnya. Anthony melakukannya tanpa mengeluh sedikit pun.“Bagaimana kalau begini …,” ujar Vance tiba-tiba. Sat
"Mengapa Ara tidak pulang bersamamu?"Kalimat itu menjadi hal pertama yang Vance lontarkan saat melihat Anthony melewati pagar halaman. Beberapa saat lalu, dia sempat melihat sang tuan rumah pergi terburu-buru. Vance mengira pria itu akan menjemput Ara. Namun, Anthony kembali sendirian.Tanpa menunggu lebih lama, Vance berubah ke wujud manusianya dan menghadang langkah iblis tak bersayap yang hendak masuk ke dalam rumah."Ada perasaan gelisah dan takut yang kurasakan. Dan aku yakin … itu bukan perasaanku." Vance menatapnya lekat. Jika saja yang berdiri di hadapannya bukan makhluk dengan aura mengerikan seperti ini, mungkin dia sudah menarik kerah pria itu dan memaksanya bicara.Namun, hari ini berbeda. Aura Anthony lebih berat dari biasanya. Lebih gelap. Sorot matanya seperti sesuatu yang siap menghancurkan siapa pun yang berani menyulutnya."Suasana hatiku sedang buruk. Menyingkir." Sepasang mata mightblack itu bergulir tajam ke arah Van
"Kau milikku. Sekarang. Dan akan selalu begitu seterusnya.""Hentikan omong kosongmu. Dia sudah memilih." Dalam sekejap, Jattandier menarik Ara ke sisinya, lebih kasar dari yang Anthony lakukan sebelumnya, tanpa memberikan waktu untuk menolak. Rahangnya mengeras saat menatap saudaranya, kesabaran yang tersisa nyaris habis. "Dia ikut denganku.""Kau tidak bisa melakukan itu!"Jattandier menepis tangan Anthony yang hendak menarik Ara "Jauhkan tanganmu dari Pengantinku!""JATTANDIER!"Gelegar suara yang Anthony keluarkan memicu api hitam timbul di sekitar tubuhnya, sama halnya dengan Jattandier hingga tak sengaja membuat Ara terhempas akibat tekanan udara yang terjadi di antara kedua saudara tersebut.Anthony dan Jattandier yang melihat Ara melayang dan hendak jatuh ke sungai refleks berlari demi menyelamatkan, tetapi sebelum itu terjadi, waktu seketika terhenti bersamaan dengan datangnya cahaya putih menyilaukan dari arah selatan.
"Sesuai permintaanmu, Pengantinku."Air mata kembali jatuh di pipi Ara. Dia sudah tidak peduli lagi.Sama seperti saat pertama kali dirinya dimasukkan ke dalam kurungan sebagai manusia yang diperjualbelikan. Siapa pun itu, ke mana pun dia dibawa, Ara hanya menginginkan satu hal sederhana. Yaitu, tempat untuk pulang. Namun, kini itu saja tidak lagi cukup.Apa yang dia rasakan selama berada di kediaman Wallenstein telah mengubah segalanya. Dia tidak hanya ingin pulang ke tempat yang menerimanya, Ara ingin bahagia.Jika iblis yang kini merengkuhnya—dengan sayap hitam yang menyelimuti tubuhnya—benar-benar bisa memberinya kebahagiaan itu, maka biarlah. Meski harus hancur, bahkan jika harus kekal di neraka, dia rela."Jika kau ingin aman, tetap di dekatku."Suara itu mengalun rendah di telinganya.Ara teringat rasa sakit yang mencabik tubuhnya saat pertama kali tersadar di tempat asing—tempat yang dia yakini sebagai
Ara merasa setiap inci tubuhnya bergetar hebat. Suara bising yang sebelumnya menghantam pendengarannya, disusul cahaya menyilaukan yang menelan segalanya dalam gelap. Kalau saja detak jantungnya tidak berdentum liar, bergema sampai ke telinganya sendiri, Ara mengira dirinya telah mati.Perlahan, Ara membuka matanya.Pandangan pertama yang tertangkap adalah sosok seseorang dengan lengan yang memeluknya erat. Sorot matanya tajam, menelanjangi, dipenuhi sesuatu yang membuat napas Ara tercekat.Keinginan.Di detik itu juga, kesadaran menghantamnya. Ara tahu siapa, atau lebih tepatnya, apa yang sedang memeluknya. Refleks, dia mendorong tubuh pria itu dan menjauh, melangkah mundur beberapa kali sambil terhuyung, sebelum akhirnya Ara mengedarkan pandangannya ke sekeliling.Jalan raya. Lampu kendaraan. Trotoar. Dan sekarang, dirinya berada di pinggir jalan. Dirinya masih hidup. Helaan napas lega hampir saja lolos, tetapi langsung tercekat di teng
Lonceng kecil yang tergantung di atas pintu berdenting nyaring ketika daun pintu terbuka.Seseorang yang berada di dalam ruangan itu seketika bangkit dari duduknya. Dia melongok dari balik pintu, lalu melambaikan tangan kepada seorang gadis yang baru saja tiba, memberi isyarat agar masuk ke ruangannya."Ini, bunga untuk Paman."Yuuscar mendengkus geli saat melihat Ara menyodorkan sebuket bunga kepadanya, tetapi tetap menerimanya. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang menyukai bunga?"Ara mengerjap, lalu mengusap tengkuknya dengan canggung. "Ah, maaf. Kalau Paman tidak suka, boleh dikembalikan. Akan kuberikan pada bibi di toko seberang."Tawa kecil lolos dari bibir Yuuscar. Dia meletakkan buket bunga itu di sudut meja kerjanya, lalu menyandarkan pinggul pada permukaan meja."Aku hanya bercanda," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Ara. Akan kuberikan pada Selkie, dia pasti menyukainya," lanjutnya, kemudian dia memberi isya







