LOGINDi lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya.
Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka. Pengantin? Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya. Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu. “Jadi, kau bisa melihatnya, ya?” Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang. Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus. Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya yang aneh. Ia ingin berbohong. Berpura-pura menjadi gadis polos yang tak tahu-menahu sisi gelap dunia. Namun, percuma. Makhluk di hadapannya jelas tahu. Ara menelan ludah susah payah dan segera menatap pria yang kebetulan berbalik menghadapnya. "A-anda berbicara dengan saya?" Suaranya pecah sebelum kalimatnya selesai. "Jika bukan kepadamu, apa mungkin aku bicara pada dinding? Siapa namamu?" tanya pria misterius, lalu kembali berbalik dan membuka pintu di hadapannya. “Ara. Nama saya Jung Ara,” ucapnya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Pria itu membuka tudungnya. Wajahnya tampan dalam cara yang tidak wajar, rahangnya terlihat tegas. Terlalu sempurna. Terlalu tajam. “Anthony,” katanya. “Anthony J. Wallenstein. Senang bertemu denganmu, My Puppy Girl." Pria yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Anthony J. Wallenstein mengulurkan tangan kanannya pada Ara, membuat gadis itu terdiam menatap tangan tersebut beberapa saat sebelum akhirnya meletakkan kedua tangannya yang masih dirantai pada telapak besar milik Anthony. Ia menyebutnya 'Puppy Girl' seolah itu panggilan wajar. "Di zaman seperti ini, jarang sekali ada manusia sepertimu. Kau istimewa,” lanjutnya. “Bukankah itu hal yang patut kau syukuri?” “Patut kusyukuri?” Suara Ara pecah, tatapannya kosong. Ia menunduk, rambut panjangnya menutupi wajah. Kata istimewa selalu diikuti penderitaan. Selalu berarti ia akan dijadikan objek, eksperimen, atau bahan ejekan. Ia langsung mendorong tangan Anthony, kenangan pahit menyerbu seperti badai. Suara hinaan. Tatapan jijik. Rooftop sekolah. Angin dingin. Keinginan untuk menghilang dari dunia tidak adil dan kejam ini. “Bagaimana bisa saya mensyukurinya?! Kemampuan? Ini kutukan!” teriaknya tiba-tiba, emosi yang selama ini dipendam meledak. Anthony tidak marah mendengar teriakan penuh defensif itu. Ia justru mendekat. Terlalu dekat. Satu tangan memegang dagu Ara, memaksanya menatap langsung ke mata gelap itu. Sementara tangan lainnya menarik pinggang Ara. “Selama ini kau pasti kesulitan.” Kalimat sederhana itu terdengar tidak menghakimi, juga tidak mencemooh, membuat sesuatu di dada Ara bergetar. Anthony lalu menghancurkan rantai di leher dan tangan Ara begitu saja, seolah besi itu hanya kaca tipis yang mudah pecah. "Mau bagaimana lagi? Itu sudah menjadi bagian dari dirimu. Daripada terus menolak, bagaimana jika kau belajar menerimanya?" Kabut hitam mulai mengalir dari bawah kaki Anthony, berputar seperti makhluk hidup. Udara menjadi berat. Bayangan di dinding bergerak tidak wajar. “Aku bisa saja menculikmu sejak dulu,” katanya tenang. “Tapi aku menunggu. Sekarang aku sudah menghabiskan banyak uang demi membelimu. Jadi berhenti memasang wajah putus asa itu, dan menghargai kesabaranku, hm?" Anthony merangkul bahu Ara hingga tubuh gadis itu menubruk tubuhnya yang kekar, dan Ara tertegun saat Anthony memegang belakang kepalanya. Perlakuannya sangat lembut. "Sekarang kau milikku, kau harus membuat dirimu terlihat layak untukku." Nada posesif itu membuat perut Ara menegang. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah. Bebas. Namun, entah mengapa, ia merasa tidak aman saat kabut hitam mulai menyebar di sekitar kaki mereka. Ara panik. “A-apa ini …?” “Tutup matamu,” kata pria Wallenstein. “Berpegangan padaku.” Refleks, Ara mencengkeram jubahnya. Bukan karena percaya, tetapi karena takut jatuh, dan kabut ini membuat napasnya sesak. Ia merasa lebih baik saat menutup mata, ia juga merasakan kulitnya terasa sejuk berdekatan dengan Anthony. Dalam hitungan detik, kabut menelan mereka. *** "Kau bisa membuka matamu." Ketika Ara membuka mata, ia berada di kamar luas dengan langit-langit tinggi dan pencahayaan hangat. Tidak ada jeruji. Tidak ada lorong bawah tanah. Tidak ada bisikan menjijikkan. Apa mereka … berteleportasi? "Malam ini kita istrahat di sini," kata Anthony santai yang entah sejak kapan sudah berbaring di sofa, matanya terpejam. Jubah yang ia gunakan pun hilang, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung sebatas siku, juga sepotong celana dengan warna serupa. "Kau bisa menggunakan tempat tidurnya," imbuhnya sambil melirik ke arah kanan di mana tempat tidur berada. "T-tidak, mana mungkin saya menggunakannya sementara Anda tidur di sini?" Ara langsung bersimpuh di lantai. Ia harus bersikap layaknya seorang budak, 'kan? Anthony menghela napas, membuat Ara meliriknya dari balik poninya yang panjang dan mendapati pria itu memandangnya dengan tatapan yang tak bisa Ara terka. "Ya sudah, kita tidur bersama di sana." Ara menegang mendengarnya. Sebelum ia sempat protes, pria itu sudah mengangkatnya ke bahu seperti karung beras. "T-tunggu! Turunkan saya!" pinta Ara sedikit memberontak. "Kau berkata seolah aku sedang menculikmu saja." "S-saya berat." Ara mencicit. "Tubuh tinggal tulang seperti ini kau sebut berat?" Ara langsung melipat bibirnya, ia juga berhenti memberontak dan pasrah diperlakukan seperti karung beras hingga akhirnya Anthony menurunkan dirinya di tempat tidur. Bahkan Ara sempat heran mengapa pria ini bisa menurunkannya dengan lembut seperti ini, sementara tadi ia mengangkatnya seperti karung beras? "Sekarang tidurlah. Besok kita harus berangkat." Ara ingin menanyakan maksud dari perkataan tersebut, tetapi lidahnya terasa kelu saat dengan tiba-tiba pria itu menyelimutinya, lalu mengusap kepalanya. Sentuhannya hangat, berbeda dengan auranya yang gelap. "Berhenti gemetar," bisiknya. "Aku tidak akan menyakitimu." Jantung Ara berdebar tak terkendali. Kedekatan ini berbahaya. Pria ini berbahaya. Namun, untuk pertama kalinya sejak kecil, ia tidak merasa sendirian. "Tidak. Aku tidak boleh tidur, aku harus tetap terjaga," kata Ara dalam hati, ia merasa ada sesuatu yang menyangkut di bawah matanya. Kenyamanan yang disalurkan Anthony melalui usapan di kepalanya membuat ia mengantuk. "Selamat tidur, Ara." Dalam keadaan setengah sadar, sayup-sayup Ara mendengar suara tersebut. Dia juga bisa melihat wajah Anthony yang mengabur sebelum akhirnya kegelapan menghampirinya. []Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.Ara menatap lemari itu sejenak."Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang
Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.Sejak pertama kali memasuki rumah ini, ia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Ia benar-benar disambut baik di sini.“Kau belum makan apa-a
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika ia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kantong celana.“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika ia masih bayi dan dimandikan oleh
Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihat
Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.Ya, tidak mungkin terjadi.Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya."Hei, bangun ...."Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini?“Bangunlah.”Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.Ara menge
Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka.Pengantin?Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya.Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu.“Jadi, kau bisa melihatnya, ya?”Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang.Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus.Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya y







