เข้าสู่ระบบ
"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Sang gadis, yang memiliki namalengkap Jung Ara—saat ini ia berusia tujuh belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara suka rela datang ke tempat ini, dan menjual dirinya sendiri ketika tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Katanya, sih, perdagangan manusia. Bukan karena ia mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Karena pikirnya, dengan menjadi budak ia akan mendapatkan tempat untuk pulang dan diterima. Ia hanya mendambakan kehangatan, kebahagiaan, serta kasih dari orang di sekitarnya. Sebab selama ini, yang dia rasakan hanyalah kekosongan tak terperi. Itulah sebabnya ia berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela, diterangi lampu kekuningan yang membuat wajahnya semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana membuatnya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia terkurung menunggu nasib. Di luar jeruji, para pembeli berdiri pongah. Ara menunduk dalam-dalam. Ia bisa merasakan tatapan dari luar kurungan—bukan hanya manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua, perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia, juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka. Ara bisa melihat semuanya. Sejak kecil, ia bisa melihat yang hal tak kasat mata. Akibatnya, satu per satu dunianya berubah. Ditinggalkan orang tua. Disiksa kerabat. Dikucilkan teman. Dicemooh masyarakat. Disebut pembawa sial. Monster. Anak iblis. Dan setiap kali orang tahu tentang itu, hidup Ara berubah menjadi neraka. Kemampuannya bukan anugerah. Itu kutukan. "Aku pernah mendengar kabarnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus." "Sepertinya masih remaja, tapi berakhir di tempat ini." "Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?" "Dia bisa melihat kita." Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Ia tidak peduli siapa yang membelinya. Mati pun tak masalah. "Jung Ara." Ketika namanya dipanggil, ia melangkah mendekati jeruji dan mengangkat wajahnya. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan pandangan lelah. Beginilah akhir hidupnya. "Tidak apa-apa," batinnya memaksa. "Ini pilihanku." Saat semua yang di sana mengeluh karena 'barang' seperti Ara dimiliki oleh pria tua mesum, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Udara seketika berubah drastis. Tubuh Ara menegang, ia langsung tahu, bahkan sebelum ia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu berkedip pelan saat ia melangkah. Makhluk-makhluk lain yang tadi tampak percaya diri kini menunduk. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat lantai bergetar halus, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dingin, berat, menekan paru-paru siapa pun yang berdiri di dekatnya. Dalam satu gerakan cepat, ia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung. “Sepuluh juta,” ucapnya datar. Semua orang heboh, ada yang tertawa, ada juga yang berdecak entah untuk apa. Pria tua yang masih dicengkeram mengerang protes, matanya melotot marah, sementara mulutnya sudah mengeluarkan kata-kata tak pantas dan sumpah serapah yang tajam. “Poundsterling. Berikan dia padaku.” Dan semuanya langsung terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Ara mendongak untuk pertama kalinya, dan ia melihatnya. Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Ia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia. Ia bukan makhluk gaib biasa. Ia berbeda. "Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara. “Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan. Satu bulir peluh mengalir di pelipis Ara, belah bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar. Bukan karena nominalnya, tetapi karena cara pria itu mengatakan 'milikku'. Seolah ia bukan barang. Seolah ia sesuatu yang sudah lama ditunggu. Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, melainkan degupan yang muncul saat yang diharapkan akhirnya akan segera terkabul. *** Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri sangat dekat dengannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya. “Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?" Ada jeda beberapa saat ketika pandangan Ara bersirobok dengan tatapan dingin pria yang sudah memilikinya, sebelum akhirnya Ara menjawab, "Baik." Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Ia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita udah selesai. Kami pergi." Pria itu tidak lagi bicara ketika melangkah keluar ruangan, Ara hanya mengikutinya dalam diam. "Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. "Lebih baik kau diam," sahut Jong Su sambil menatap punggung pria misterius dan Ara yang kian menjauh. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi. []Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.Ara menatap lemari itu sejenak."Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang
Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.Sejak pertama kali memasuki rumah ini, ia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Ia benar-benar disambut baik di sini.“Kau belum makan apa-a
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika ia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kantong celana.“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika ia masih bayi dan dimandikan oleh
Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihat
Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.Ya, tidak mungkin terjadi.Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya."Hei, bangun ...."Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini?“Bangunlah.”Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.Ara menge
Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka.Pengantin?Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya.Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu.“Jadi, kau bisa melihatnya, ya?”Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang.Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus.Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya y







