Mag-log in
"Kau, ikutlah denganku."
Suara berat seorang pria berjubah hitam menggema di ruangan bawah tanah yang pengap. Sang gadis yang dipanggil hanya terdiam. Kepalanya tetap tertunduk, seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk mempertanyakan apa pun. Namanya Jung Ara. Usianya baru sembilan belas tahun. Beberapa waktu lalu, dia datang ke tempat ini atas kemauannya sendiri setelah tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Perdagangan manusia, katanya. Ara datang bukan karena mencintai uang. Bukan pula karena dipaksa. Dia hanya sudah kehabisan pilihan. Sejak kecil, hidup seolah tidak pernah memberinya kesempatan untuk bernapas. Ayahnya pergi tanpa pernah kembali. Ibunya, yang tak lagi sanggup menanggung tekanan hidup dan tingkah aneh Ara yang selalu berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat, juga sering menangis karena tiba-tiba terluka, pernah mencoba membunuhnya. Saat kesadarannya kembali, wanita itu justru memilih mengakhiri hidupnya sendiri di depan mata Ara karena rasa bersalahnya. Sejak hari itu, Ara tinggal bersama pamannya. Namun, tempat itu tak pernah menjadi rumah baginya. Hari-harinya dipenuhi pukulan, makian, dan hinaan. Di sekolah dia dijauhi teman-temannya karena dianggap aneh. Orang-orang menyebutnya pembawa sial, anak iblis, bahkan gila. Semuanya hanya karena Ara mampu melihat sesuatu yang tak mampu dilihat manusia lain. Puncaknya terjadi ketika dia mengambil seribu won untuk membeli obat bagi neneknya yang sakit. Pamannya marah besar, dia mengamuk seperti binatang liar yang terusik. Nenek yang berusaha melindunginya dipukul tanpa ampun hingga meninggal di hadapan Ara. Hari itu, kewarasan Ara ikut mati. Dia mengambil sebilah pisau, dan menikam pamannya berkali-kali. Setelah itu, dia menyerahkan diri ke polisi. Lalu dikirim ke pusat rehabilitasi karena mentalnya yang rusak. Dua tahun di pusat rehabilitasi tidak mengembalikan hidupnya. Saat keluar, dia hanyalah seorang mantan pembunuh dengan kondisi mental yang rapuh. Tak ada keluarga yang menunggunya di rumah. Yang menunggunya hanyalah rentenir yang terus menagih utang peninggalan pamannya dengan kekerasan. Ara makin merasa kosong. Perlakuan yang dia dapat sedari kecil membuatnya tak bisa bersosialisasi, apalagi mendapat pekerjaan untuk melunasi utang pamannya. Ara pernah berkali-kali mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, setiap kali berada di ambang kematian, tubuhnya selalu gemetar. Dia terlalu takut untuk benar-benar mati. Karena itu, ketika mendengar tentang pasar gelap, Ara akhirnya membuat keputusan. "Kalau aku memang terlalu pengecut untuk mati ... biarlah orang lain yang menentukan nasibku." Jika menjual dirinya bisa melunasi utang itu. Jika setelah ini dia tak perlu lagi kembali ke kehidupan yang telah menghancurkannya. Mungkin, itulah akhir yang paling pantas untuk seseorang sepertinya. *** Kini Ara berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela. Lampu-lampu kekuningan yang menggantung redup di langit-langit, membuat kulitnya tampak semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana yang dikenakannya membuat dirinya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia lain menunggu nasib di balik jeruji. Sementara di luar jeruji, para pembeli mengamati mereka seperti sedang memilih barang. Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan-tatapan itu. Bukan hanya milik manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua. Perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia. Juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka. Ara bisa melihat mereka semua. Kemampuan yang seharusnya disebut anugerah itu justru berubah menjadi kutukan yang merenggut keluarganya. Kutukan yang membuatnya kehilangan masa kecil. Dan kutukan yang menghancurkan alasan untuk tetap hidup. "Aku pernah mendengar kabarnya, tapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus." "Sepertinya masih muda, sayang sekali berakhir di tempat ini." "Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?" "Dia bisa melihat kita." Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, semua itu sudah tidak berarti lagi. Siapa pun yang membelinya, apa pun yang akan terjadi setelah ini, dia tidak peduli. "Jung Ara." Ara membuka mata. Dia melangkah mendekati jeruji ketika namanya dipanggil. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong. Beginilah akhir hidupnya. Setidaknya, semuanya akan segera selesai. "Tidak apa-apa. Ini pilihanku," batinnya lirih. Beberapa orang mengeluh karena 'barang' seperti Ara jatuh ke tangan pria tua itu, sebagian lain hanya menggeleng pelan. Namun, sebelum transaksi benar-benar selesai, pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Udara seketika berubah drastis. Tubuh Ara menegang. Dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang. Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu-lampu berkedip pelan mengikuti langkahnya. Makhluk-makhluk yang sebelumnya berdiri dengan angkuh kini menundukkan kepala. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar. Setiap langkahnya membuat udara terasa lebih berat, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung kesakitan. "Sepuluh juta," ucapnya datar. Ruangan mendadak riuh. Ada yang tertawa, ada juga yang mengumpat. Sementara pria tua yang masih dicengkeram melotot marah sambil melontarkan sumpah serapah, pria berjubah hitam itu bahkan tidak meliriknya. “Poundsterling. Berikan dia padaku." Seketika seluruh ruangan terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut. Tak seorang pun berani bersuara. Ara perlahan mengangkat wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, dia melihatnya. Ada sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia. Dia bukan makhluk gaib biasa. Dia berbeda. "Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara. “Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan. Peluh dingin mengalir di pelipis Ara. Bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar. Bukan karena nominalnya, tetapi cara pria itu mengatakan 'milikku' tidak terdengar seperti seseorang yang sedang membeli barang. Melainkan seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang sudah lama ditunggu. Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, melainkan karena secercah harapan yang bahkan tidak berani dia akui. *** Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri tepat di depannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya. "Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?" Pandangan mereka bertemu sesaat. Tatapan pria itu terlihat dingin. Namun, entah mengapa tidak terasa menghakimi. "Baik," jawab Ara lirih. Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi." Tanpa menunggu jawaban, pria itu berbalik meninggalkan ruangan. Ara mengikuti di belakangnya dengan langkah pelan. "Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara. Sementara Jong Su, si penanggung jawab acara masih memandangi punggung pria berjubah hitam itu yang perlahan menghilang di balik lorong. "Lebih baik kau diam." Pria itu mengembuskan napas panjang. Tatapannya beralih kepada sosok Ara yang berjalan mengikuti pria tersebut. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi. *** "Apa kau masih mengingatku?" tanya pria itu pelan tanpa menoleh. Ara tentu mengernyit. "Maaf, apa kita pernah bertemu?" Pria misterius itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis. "Tujuh ratus tahun. Waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian. Tapi kali ini, aku tidak akan kehilanganmu lagi." Ara mendengar gumaman tersebut. Namun, dia sama sekali tidak mengerti. []Sebenarnya, apa yang terjadi pada Ara?Pertanyaan itu terus berputar di kepala Vance sepanjang perjalanan. Dan kini, jawabannya perlahan mulai terbentang di hadapannya.Hari hampir memasuki tengah hari ketika akhirnya dia berdiri di depan kamar yang dipesan Anthony J. Wallenstein untuk tiga hari ke depan. Perjalanan menuju tempat ini jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.Dia harus menaiki kereta menggunakan uang yang dititipkan Lily, mengikuti petunjuk jalan yang membingungkan, berganti bus di sekitar Stasiun Paddington, hingga akhirnya tiba di hotel dengan menyamar menggunakan "permen" sihir buatan Yuuscar.Begitulah Vance menyebut benda bulat kecil itu.Sebelum berangkat, Anthony sempat mengingatkannya, "Ada banyak makhluk dunia bawah yang mengawasi hotel ini. Di luar maupun di dalam. Karena itu, kau harus menyamar sebagai aku. Tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya karena mereka semua bodoh. Aku sudah meminta seseorang membuat
"Bagaimana situasinya?""Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," jawab Succubi seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Semuanya berjalan lancar. Para manusia mulai gelisah dan membentuk kelompok untuk memburu sang kambing hitam dari Neraka. Mara serta rekan-rekan kami di lapangan telah mengonfirmasi bahwa mereka siap bergerak sesuai waktu yang telah Yang Mulia tentukan."Jattandier Bloodfallen tertawa pelan, tawa itu terdengar sangat puas."Bagus. Bagus sekali. Ah ... betapa menyenangkannya ini." Sudut bibirnya terangkat perlahan. Dia menyandarkan tubuh pada kursinya sambil menatap kosong ke arah jendela besar di belakang ruangan.Lalu, senyumnya semakin lebar. "Manusia memang makhluk yang menarik. Cukup beri mereka rasa takut dan sedikit kebohongan, mereka akan saling membunuh tanpa perlu kusuruh."Succubi ikut tersenyum, merasa lega karena pekerjaannya mendapat pujian dari calon penguasa Abyss. Dia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap langsun
Vance terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa sangat mencurigakan.Jika Anthony hanya ingin melakukan telepati, iblis itu tidak membutuhkan perantara darah. Selama ini Anthony selalu dapat menghubunginya secara langsung.Lalu, mengapa sekarang berbeda?Apa terjadi sesuatu pada Anthony?Atau ... Ara?Tidak.Sedari awal, jika sesuatu terjadi pada pemilik kontraknya, dia pasti akan merasakannya. Ikatan familiar mereka terlalu kuat untuk dibohongi. Namun, yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada perasaan bahagia, terasa hangat yang memenuhi dadanya, bercampur dengan kelembutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Namun, anehnya kebahagiaan itu terasa begitu menyesakkan.Vance yakin, selama di London mereka pasti mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan hingga emosi Ara masih mengalir melalui kontrak mereka. Karena itulah firasat buruk yang memenuhi kepalanya terasa semakin tidak masuk akal.Menggeleng pelan, Va
'Jaga rumah ini. Apa pun yang terjadi.'Mata Lily memanas, lalu satu tetes air mata meluncur di pipinya."Lily?"Suara Vance membuat tubuhnya tersentak. Banshee itu buru-buru mengusap air mata, lalu menoleh dan memberikan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vance tidak tertipu."Kau baik-baik saja?"Lily mengangguk cepat, kemudian membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara Vance hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung Lily yang semakin menjauh."Apa aku salah lihat?" Dia menelengkan kepala, tangannya mengusap tengkuk. "Lily ... menangis?"Belum sempat dia mengejar, sesuatu yang bercahaya melintas di sudut matanya. Vance mendongak, dan mendapati seekor burung kecil berwarna biru terang terbang menuju dirinya. Tubuh burung itu terlihat transparan. Cahaya biru membentuk bulu-bulunya, sementara serpihan energi berjatuhan dari sayapnya setiap kali mengepak."Sihir?" Vance mengulurkan tangan, dan bu
"Hah ...." Yuuscar mengembuskan napas kasar sembari mengusap wajahnya.Yeah. Tentu saja akan seperti ini.Meski Anthony J. Wallenstein merupakan sosok iblis yang konon paling sempurna setelah raja dunia bawah, seluruh kesempurnaan itu seolah menguap begitu dia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar disayanginya.Naif. Bodoh. Dan luar biasa keras kepala.Anthony sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Ratusan tahun berkubang di tempat yang bahkan tidak mengenal arti cahaya, sampai akhirnya dia menemukan secercah terang dalam wujud seorang manusia bernama Jung Ara. Tentu saja dia menjadi tergila-gila.Masalahnya, kegilaan Anthony tidak pernah mengenal batas. Nyawanya sendiri sampai dia kesampingkan hanya demi menempatkan 'cahaya' yang ditemukannya itu di atas segala-galanya.Yuuscar menggeleng pelan, betapa bodohnya teman iblisnya ini.Benar kata pepatah. Selain membuat buta dan gila, cinta rupanya juga mampu membuat makhluk palin
"Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya. Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. P
Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja dia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka
Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and ch







