Share

Iblis Yang Mencintaiku
Iblis Yang Mencintaiku
Author: Shiooki

1 - Dia Milikku

Author: Shiooki
last update publish date: 2026-03-10 20:56:49

"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya.

Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi.

Beberapa waktu lalu, Jung Ara suka rela datang ke tempat ini, dan menjual dirinya sendiri ketika tak sengaja mendengar ada acara ilegal yang kebetulan diselenggarakan di kotanya, Busan. Katanya, sih, perdagangan manusia.

Bukan karena dia mencintai uang.

Bukan pula karena dipaksa.

Karena pikirnya, dengan menjadi budak dia akan mendapatkan tempat untuk pulang dan diterima.

Dia hanya mendambakan kehangatan, kebahagiaan, serta kasih dari orang di sekitarnya. Sebab selama ini, yang dia rasakan hanyalah kekosongan tak terperi.

Itulah sebabnya dia berdiri di ruang bawah tanah tanpa jendela, diterangi lampu kekuningan yang membuat wajahnya semakin pucat. Rantai dingin melingkari leher dan kedua pergelangan tangannya. Gaun putih sederhana membuatnya terlihat seperti persembahan. Di sekelilingnya, manusia-manusia terkurung menunggu nasib. Di luar jeruji, para pembeli berdiri pongah.

Ara menunduk dalam-dalam. Dia bisa merasakan tatapan dari luar kurungan—bukan hanya manusia. Ada aura yang terlalu gelap, sosok bermata merah yang menyamar sebagai pria tua, perempuan dengan senyum terlalu lebar untuk disebut manusia, juga makhluk bertubuh tinggi dengan pupil vertikal seperti reptil, berdiri angkuh seolah dunia ini milik mereka.

Ara bisa melihat semuanya.

Sejak kecil, dia bisa melihat yang hal tak kasat mata. Akibatnya, satu per satu dunianya berubah. Ditinggalkan orang tua. Disiksa kerabat. Dikucilkan teman. Dicemooh masyarakat. Disebut pembawa sial. Monster. Anak iblis.

Dan setiap kali orang tahu tentang itu, hidup Ara berubah menjadi neraka.

Kemampuannya bukan anugerah.

Itu kutukan.

"Aku pernah mendengar kabarnya, tetapi baru kali ini aku melihatnya. Dia memiliki aura yang bagus."

"Sepertinya masih remaja, tapi berakhir di tempat ini."

"Dia terlihat kotor, tapi wajahnya cantik, siapa yang sudah membelinya?"

"Dia bisa melihat kita."

Bisikan-bisikan itu membuat lututnya melemas. Ara memejamkan mata. Namun, dia tidak peduli siapa yang membelinya. Mati pun tak masalah.

"Jung Ara."

Ketika namanya dipanggil, dia melangkah mendekati jeruji dan mengangkat wajahnya. Seorang pria tua berpenampilan aneh menatapnya dengan senyuman puas—dialah yang membeli Ara. Tangannya mendarat di pundak Ara, sedangkan gadis itu hanya diam dengan pandangan lelah.

Beginilah akhir hidupnya.

"Tidak apa-apa," batinnya memaksa. "Ini pilihanku."

Saat semua yang di sana mengeluh karena 'barang' seperti Ara dimiliki oleh pria tua mesum, pintu ruangan tiba-tiba terbuka.

Udara seketika berubah drastis.

Tubuh Ara menegang, dia langsung tahu, bahkan sebelum dia menoleh ke sumber yang membuat dirinya merinding. Seseorang yang bukan manusia telah datang.

Seorang pria berjubah hitam melangkah masuk, wajahnya tertutup tudung. Lampu berkedip pelan saat ia melangkah. Makhluk-makhluk lain yang tadi tampak percaya diri kini menunduk. Auranya tidak seperti yang lain. Bukan sekadar gelap, melainkan dalam seperti jurang tanpa dasar.

Setiap langkahnya membuat lantai bergetar halus, seolah dunia mengakui kehadirannya. Dingin, berat, menekan paru-paru siapa pun yang berdiri di dekatnya.

Dalam satu gerakan cepat, dia memutar cengkeraman pria tua di pundak Ara hingga pria tua itu meraung.

"Sepuluh juta," ucapnya datar.

Semua orang heboh, ada yang tertawa, ada juga yang berdecak entah untuk apa. Pria tua yang masih dicengkeram mengerang protes, matanya melotot marah, sementara mulutnya sudah mengeluarkan kata-kata tak pantas dan sumpah serapah yang tajam.

“Poundsterling. Berikan dia padaku.”

Dan semuanya langsung terdiam, menahan napas, termasuk si pria tua yang makin melebarkan mata saat mendengar nominal uang tersebut.

Ara mendongak untuk pertama kalinya, dan dia melihatnya.

Sayap hitam besar membentang di balik punggung pria itu. Dia memiliki aura gelap bercampur kilau emas samar, aura yang tak pernah Ara lihat dari makhluk gaib mana pun. Matanya hitam dengan semburat biru samudera yang terlalu dalam untuk disebut manusia.

Dia bukan makhluk gaib biasa.

Dia berbeda.

"Sudah kuputuskan." Suara berat khas miliknya menggema di telinga Ara.

“Aku akan menjadikanmu milikku,” katanya pelan.

Satu bulir peluh mengalir di pelipis Ara, belah bibirnya yang pucat sedikit terbuka. Ara merasa dunia berputar.

Bukan karena nominalnya, tetapi karena cara pria itu mengatakan 'milikku'.

Seolah Jung Ara bukan barang.

Seolah dirinya adalah sesuatu yang sudah lama ditunggu.

Dan entah mengapa, jantung Ara berdegup bukan hanya karena takut, melainkan degupan yang muncul saat yang diharapkan akhirnya akan segera terkabul.

***

Ara tersentak saat rantai di lehernya ditarik, membuatnya mendongak dan mendapati pria yang baru saja membelinya berdiri sangat dekat dengannya. Ah, transaksinya sudah selesai, rupanya.

"Tidak usah banyak merenung. Tegakkan punggungmu dan luruskan pandanganmu. Mengerti?"

Ada jeda beberapa saat ketika pandangan Ara bersirobok dengan tatapan dingin pria yang sudah memilikinya, sebelum akhirnya Ara menjawab, "Baik."

Si pria merasa tidak puas mendengar jawaban Ara, apalagi dengan suara lesu seperti itu. Dia lekas melirik sang penanggung jawab acara dan berkata, "Urusan kita sudah selesai. Kami pergi."

Pria itu tidak lagi bicara ketika melangkah keluar ruangan, sementara Ara hanya mengikutinya dalam diam.

"Auranya bukan main," ujar pria kurus di samping si penanggung jawab acara.

"Lebih baik kau diam," sahut Jong Su sambil menatap punggung pria misterius dan Ara yang kian menjauh. "Dia beberapa kali datang kemari tanpa membeli apa pun. Dan kali ini, dia sampai mengeluarkan uang sebanyak itu demi Ara. Mungkin, gadis itu adalah barang yang dicarinya selama ini." Jong Su mengimbuhi, membuat asistennya mengernyitkan dahi.

[]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Iblis Yang Mencintaiku    185 - Aku Mencintaimu

    "Bunuh aku, Juslandier."Setelah semua ini, Juslandier Bloodfallen berharap dirinya tidak pernah belajar bagaimana rasanya mencintai seseorang.Dunia seakan berhenti.Inikah maksud perkataan Araphael hari itu?Inikah 'nanti' yang selama ini ditunggu oleh sang malaikat?Inikah janji yang harus dia tepati?"Maaf." Juslandier tidak bisa bernapas, suaranya terdengar begitu lirih. Dia kembali memeluk Araphael. Dan kali ini, Araphael tidak membalas pelukannya. Juslandier mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menembus telapak hingga darah mengalir.Dia menyadari bahwa menyalahkan dirinya sendiri tidak akan mengubah apa pun. Dia tidak bisa memutar waktu, apalagi mengubah takdir. Dia tidak bisa kembali ke hari ketika dia pertama kali mencium aroma manis milik Araphael. Karena sejak hari itu, takdir mereka telah ditulis.Mereka memilih jalan ini. Mereka memilih untuk saling mencintai. Inilah takdir yang dirinya maupun Araphael ambil. Inilah takdir yang mereka emban. Dan kini, mereka harus membayar

  • Iblis Yang Mencintaiku    184 - Selamatkan Aku

    "Ini perintah."Suara itu kembali menggema di dalam kepalanya, udara di sekitar Juslandier terasa membeku."Juslandier Bloodfallen, bunuh dia."Tubuhnya bergetar. Nama itu terdengar seperti vonis, layaknya takdir yang tidak bisa dia hindari. Dan dua kata selanjutnya menghentikan jantung Juslandier selama sepersekian detik. Dia lekas menutup kedua telinganya kuat-kuat."Tidak. Tidak ...." Dia menggeleng. Air mata mulai memenuhi kedua matanya. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. "Tidak!"Namun, suara itu tidak hilang. Ia terus memantul, menghantam kesadarannya."Penggal kepalanya."Untuk sesaat, Juslandier berharap dia bukan putra Raja Abyss, karena dia menyadari bahwa ada perintah yang tidak mampu dia patuhi."SEKARANG.""TIDAK!"Teriakan itu keluar begitu saja. Juslandier lagi-lagi menggeleng seraya menutup telinganya rapat-rapat. Lalu, suara yang begitu dia kenali menyapa gendang telinganya."

  • Iblis Yang Mencintaiku    183 - Perintah Sang Raja

    "Angkat senjata kalian! Misi kita telah berubah!" Suara Jivael menggema di seluruh medan perang sambil mengangkat Pedang Agung-nya tinggi. Sayap putihnya mengepak kuat sebelum dia melesat menuju langit. "Musnahkan dia, atau bumi dan seisinya akan hancur!"Kalimat itu menghantam Juslandier lebih keras daripada tombak yang tadi menembus dadanya, seperti keadaan medan perang yang terus-menerus disambar petir. Juslandier benar-benar merasa ketakutan karena seluruh dunia baru saja menjadikan orang yang paling dia cintai sebagai musuh.Bagaimana bisa Jivael mengucapkan kata-kata itu?Bagaimana bisa dia memandang Araphael sebagai ancaman?Bukankah Araphael adalah saudaranya?Bukankah mereka dibesarkan di Nirvana yang sama?Bukankah mereka pernah tertawa, menangis, dan hidup bersama?Lalu bagaimana mungkin sekarang Jivael mengangkat pedang kepada adiknya sendiri?Tangan kanan Juslandier mencengkeram dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, paru-parunya seolah menyempit hingga membuat dia kesulitan

  • Iblis Yang Mencintaiku    182 - Musnahkan Dia!

    "Kau kembali. Kau menemuiku lagi."Araphael langsung menangis tanpa berusaha menahannya, dia hanya mampu mengangguk perlahan. Bibirnya terasa kelu, seakan seluruh kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokan.Dia hanya bisa menatap Juslandier, menatap iblis yang pernah mengacungkan pedang ke arahnya, iblis yang membuatnya jatuh, iblis yang membuatnya berani melawan takdir. Dan kini, Juslandier Bloodfallen menunjukkan senyuman yang mampu membuat air mata kian mengalir deras di pipinya, semakin sulit dihentikan.Di sekitar mereka, peperangan seolah berhenti. Para malaikat maupun iblis, mereka semua tak menunjukkan tanda-tanda akan melanjutkan pertempuran, mereka hanya terpaku di tempat masing-masing. Tidak ada yang mengangkat senjata, seakan seluruh medan perang sedang menyaksikan dua makhluk yang berusaha melawan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perang itu sendiri, yaitu takdir.Begitu pula dengan Sephael dan Jivael yang terdiam, tenggelam dalam pikiran karena mereka tidak

  • Iblis Yang Mencintaiku    181 - Pertemuan Kembali

    "Ini kekalahanmu, Juslandier."Makhluk setengah malaikat dan setengah iblis itu bergeming. Dia terlentang di atas tanah yang basah oleh darah dan hujan, tampak seperti seseorang yang telah kehilangan alasan untuk bangkit.Pedang masih mengarah ke tubuhnya. Ratusan pasang mata memandangnya. Para malaikat dan para iblis, musuh maupun kawan, tetapi Juslandier Bloodfallen tidak memedulikan satu pun dari mereka. Dia bahkan tidak peduli saat dipermalukan di depan seluruh pasukan, dan tidak peduli jika hari ini namanya tercatat sebagai pihak yang kalah. Dan mungkin, kematian sedang berdiri tepat di hadapannya.Rasa sakit berlomba-lomba mengekang tubuhnya, meresapi setiap siksaan yang melanda ketika darah di dadanya mengucur makin deras."JUSLANDIER!" Suara Mikhail menggema, penuh kemarahan dan frustrasi."Bangun, Bodoh!"Juslandier mendengar suara Mikhail, menyuruhnya untuk berhenti berpura-pura seperti seorang pengecut dan balik menyerang, bahkan tak tanggung-tanggung menyumpah serapahinya

  • Iblis Yang Mencintaiku    180 - Kekalahan Sang Putra Mahkota

    Juslandier terbahak.Pemilik rambut jelaga itu tertawa lepas. Tawanya menggema di tengah hujan dan dentang senjata ketika anak panahnya berhasil menembus sayap kiri Jivael. Pemandangan itu terasa begitu memuaskan.Darah merah mengalir di antara bulu-bulu putih gading yang selama ini tampak sempurna. Warna suci itu ternoda dalam sekejap, menciptakan kontras yang membuat senyum Juslandier semakin lebar.Dia bisa membayangkan rasa sakitnya. Terlebih ketika Jivael memejamkan mata selama beberapa detik, berusaha menahan nyeri yang menjalar dari luka tersebut.Sangat lucu.Malaikat yang selama ini selalu terlihat tenang kini menatapnya dengan kemarahan yang nyaris tak disembunyikan. Petir menyambar langit, kilatan putih menerangi wajah Jivael yang muram. Dan pemandangan itu membuat Juslandier merasa jauh lebih hidup.Atau mungkin, jauh lebih mati rasa.Tanpa menunggu lebih lama, dia kembali melesat ke udara. Sayap hitamnya membentang lebar, tubuhnya meluncur di antara hujan dan darah yang me

  • Iblis Yang Mencintaiku    117 - Dunia Yang Gelap

    Sosok yang memiliki samudera di kedua bola matanya itu menjulurkan tangan perlahan, mengusap pipi selembut sutra milik gadis yang sedang terlelap di atas ranjangnya. Jemarinya bergerak hati-hati, seolah Jung Ara adalah sesuatu yang sangat rapuh.Anthony menggigit bibir bawahnya samar, lalu

  • Iblis Yang Mencintaiku    115 - Tanda Kepemilikan

    Anthony menyeringai kecil, sorot matanya perlahan berubah tajam. “Menyingkirkan sesuatu yang tidak perlu, dan mengambil kembali milikku yang telah dirampas oleh tikus.”“Kau—!”Jattandier menggertak marah. Api nyaris melesat dari telapak tangannya jika

  • Iblis Yang Mencintaiku    114 - Selamat Datang, Jung Ara

    “Aku akan tinggal di sini. Aku tidak akan pergi meninggalkan tempat ini.”“Apa itu keinginanmu yang sesungguhnya?”Ara langsung mendongak. Pupilnya bergetar hebat saat mendengar pertanyaan tersebut. Dan seketika, bayangan sosok berjubah hitam bertudung kembal

  • Iblis Yang Mencintaiku    112 - Jika Ini Takdirku

    “Bagaimana dengan Juslandier?”Napas Ara tercekat saat mendengar nama asli pria yang dicintainya, dan hatinya mencelos. Ara ingin menangis kencang dalam kehancuran hatinya sendiri. Bohong jika Ara tidak membayangkan wajah Anthony. Tatapan hangatnya. Cara pria itu memandang dirinya seolah Ara adal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status