LOGINTampak pakaian serta lembaran kain lain seperti tirai, selimut, dan seprai bergantung rapi di tiang jemuran, menjadi sasaran empuk sinar mentari pagi yang hangat. Cahaya keemasan menimpa permukaannya, membuat kain-kain itu bergoyang lembut diterpa angin.
Lantai rumah bersih tanpa setitik debu, langit-langitnya pun bebas dari sarang laba-laba. Setiap inci perabotan tertata begitu rapi, seolah rumah itu selalu dihuni oleh seseorang yang mencintai ketertiban.Di atas meja kayu,Langkah Anthony seketika terhenti tepat sebelum jemarinya menyentuh pagar. Udara sore masih menyisakan aroma hujan ketika pria itu mengangkat pandangan ke arah rumahnya sendiri. Mantel hitam panjang yang dia kenakan bergerak pelan tertiup angin, sementara wajah tampannya tetap setenang biasanya. Baru saja dia kembali dari gereja. Rutinitas menyebalkan yang harus terus dia jalani selama sepuluh tahun terakhir demi menjaga kesepakatan dengan Noah Lee. Jika Anthony tidak datang melapor, pria gereja itu akan mendatangi rumahnya tanpa diundang. Dan Anthony membenci itu. Terutama karena Lily tidak pernah menyukai kehadiran Noah. Sebelum dia pergi tadi, Noah bahkan sempat mengatakan sesuatu yang membuat Anthony ingin mematahkan senyum ramah di wajah pria itu. Dia mengatakan bahwa kehidupan Ara akan lebih baik jika tinggal bersamanya, dan berada jauh dari rumah iblis seperti Anthony J. Wallenstein. Omong kosong. Tak ada t
"Aku mendapatkan ini darimu dan ibu. Lalu ... apa bedanya ayah dengan diriku?" Dan untuk pertama kalinya, sang Raja Abyss tidak langsung menjawab. Sunyi kembali menyelimuti aula yang memanas. Namun, sunyi itu tidak bertahan lama. Seolah tersadar oleh kalimat putranya sendiri, sang Raja mendadak menggeram rendah—suara yang terdengar lebih menyerupai raungan binatang buas dibanding makhluk berakal. Aura hitam meledak dari tubuhnya, membuat lantai aula bergetar hebat. Cengkeramannya menguat. Kuku-kuku panjang berwarna hitam pekat itu menembus kulit leher Juslandier tanpa belas kasihan. Darah menetes satu demi satu, lalu mengalir membasahi jemari sang Raja. Di sekitar mereka, para iblis mulai saling melirik. Bisikan-bisikan kecil bermunculan seperti racun yang menyebar pelan. Jika apa yang dimaksud oleh Juslandier Bloodfallen adalah matanya, jelas hal tersebut membuat rahasia yang selama ratu
Hari itu, menjadi hal paling terkelam di sepanjang sejarah Abyss. Titik di mana kegelapan benar-benar berkumpul di dunia bawah, menjadi sumber dari malapetaka. Dan pusatnya adalah sang Raja. Kemurkaan dan kekecewaan terpahat jelas di wajahnya. Aura dominan yang mengerikan bocor tanpa kendali, hingga api hitam menjalar di sepanjang pilar istana. Bukan sekadar api, itu hidup, menari, melahap udara dengan amarah yang tak terbendung. Langit-langit Abyss bergemuruh pelan, seakan turut menahan napas. Di tengah kehancuran yang mengendap itu, seorang pria bersimpuh. Tatapannya kosong, darah menetes dari ujung jarinya yang gemetar, tak terkendali. "JUSLANDIER!" Suara itu menghantam seperti petir yang jatuh tepat di ubun-ubun, mengguncang seluruh aula. "JAWAB PERTANYAANKU!" Namun, Juslandier Bloodfallen hanya diam. Kepalanya tetap tertunduk, rambutnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya. Penutup mata yang biasa menutupi pandan
Matahari belum sepenuhnya terbit ketika pria berkulit pucat itu berjalan dan berhenti di depan jendela setelah mengaitkan kancing celana, tangannya memegang gelas kecil berisi cairan berwarna oranye tua. Sekilas dia melirik sosok yang meringkuk di atas ranjang, terlelap, hanya tertutup selimut sebatas dada. Jakunnya bergerak naik turun saat dia meneguk minumannya, dan cairan memabukkan itu habis perlahan, seiring tatapannya yang kosong menembus jalanan yang masih sepi. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Pria itu—Yuuscar Vingkimanuel—berbalik. Langkahnya tenang menuju meja kerja. Dia meraih sebuah peti berukuran sedang, menatapnya sejenak sebelum membukanya, lalu mengeluarkan kotak persegi panjang dari dalamnya. Mata hitamnya menatap benda itu lama, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu suara 'klik' terdengar saat kotak itu terbuka. Kilatan tajam dari bilah pisau langsung memantul di matanya. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Apa dia benar-benar akan melakukannya …?" guma
“Sephael!” Sephael menoleh saat namanya dipanggil. Tampak Jivael terbang mendekat dan mendarat di sampingnya. Sephael membiarkan burung Nirvana yang bertengger di lengannya terbang pergi, seolah memberi ruang. Namun, Sephael tidak langsung menatapnya. Tatapannya masih tertuju pada permukaan telaga, pada bayangannya sendiri. “Bagaimana?” tanyanya tenang. “Apa kau mendapat informasi dari Sungjael?” Tanpa perlu melihat, Sephael tahu jawaban itu bahkan sebelum Jivael menggeleng. “Buku itu bukan sesuatu yang bisa diakses sembarangan,” jawab Jiivael pelan. “Sungjael … enggan memberitahuku.” Sephael memejamkan mata sejenak, lalu menyibakkan rambutnya ke belakang. Sudah dia duga. Sungjael adalah penjaga Hukum Langit, eksekutor yang menggenggam kehidupan dan kematian atas perintah Sang Ayah. Informasi seperti itu tidak mungkin keluar dengan mudah, bahkan kepada mereka yang berkedudukan tinggi sekalipun. Meski be
"Kudengar ada keributan di istana Utara, jadi aku datang. Dan—WHOAH! Aku tidak menyangka kau menciptakan danau di sini.”Suara itu menggema ringan di tengah udara Abyss yang pekat.Di hadapannya, terbentang danau merah kehitaman. Permukaannya nyaris tidak beriak karena cairan itu terlalu kental untuk bergerak.Jattandier berdecih pelan tanpa membuka mata. Tubuhnya terbaring santai di atas sofa merah tua, kedua tangan terlipat di bawah kepala, seolah tempat itu hanyalah ruang istirahat biasa—bukan istana yang baru saja dipenuhi pembantaian. Namun, aura yang menguar darinya jelas berbahaya."Berisik."Mikhail tersenyum lebar, sama sekali tidak terusik. Pandangannya tetap terpaku pada danau itu, penuh kekaguman. Dia bahkan berlari dari istana Selatan. Bukan karena tidak bisa berteleportasi, dia hanya ingin memastikan dengan mata kepalanya sendiri.Dan sekarang, dia melihatnya. Seluruh danau itu terisi oleh darah iblis yang ditemui J







