Se connecterSebenarnya, apa yang terjadi pada Ara?Pertanyaan itu terus berputar di kepala Vance sepanjang perjalanan. Dan kini, jawabannya perlahan mulai terbentang di hadapannya.Hari hampir memasuki tengah hari ketika akhirnya dia berdiri di depan kamar yang dipesan Anthony J. Wallenstein untuk tiga hari ke depan. Perjalanan menuju tempat ini jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.Dia harus menaiki kereta menggunakan uang yang dititipkan Lily, mengikuti petunjuk jalan yang membingungkan, berganti bus di sekitar Stasiun Paddington, hingga akhirnya tiba di hotel dengan menyamar menggunakan "permen" sihir buatan Yuuscar.Begitulah Vance menyebut benda bulat kecil itu.Sebelum berangkat, Anthony sempat mengingatkannya, "Ada banyak makhluk dunia bawah yang mengawasi hotel ini. Di luar maupun di dalam. Karena itu, kau harus menyamar sebagai aku. Tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya karena mereka semua bodoh. Aku sudah meminta seseorang membuat
"Bagaimana situasinya?""Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," jawab Succubi seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Semuanya berjalan lancar. Para manusia mulai gelisah dan membentuk kelompok untuk memburu sang kambing hitam dari Neraka. Mara serta rekan-rekan kami di lapangan telah mengonfirmasi bahwa mereka siap bergerak sesuai waktu yang telah Yang Mulia tentukan."Jattandier Bloodfallen tertawa pelan, tawa itu terdengar sangat puas."Bagus. Bagus sekali. Ah ... betapa menyenangkannya ini." Sudut bibirnya terangkat perlahan. Dia menyandarkan tubuh pada kursinya sambil menatap kosong ke arah jendela besar di belakang ruangan.Lalu, senyumnya semakin lebar. "Manusia memang makhluk yang menarik. Cukup beri mereka rasa takut dan sedikit kebohongan, mereka akan saling membunuh tanpa perlu kusuruh."Succubi ikut tersenyum, merasa lega karena pekerjaannya mendapat pujian dari calon penguasa Abyss. Dia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap langsun
Vance terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa sangat mencurigakan.Jika Anthony hanya ingin melakukan telepati, iblis itu tidak membutuhkan perantara darah. Selama ini Anthony selalu dapat menghubunginya secara langsung.Lalu, mengapa sekarang berbeda?Apa terjadi sesuatu pada Anthony?Atau ... Ara?Tidak.Sedari awal, jika sesuatu terjadi pada pemilik kontraknya, dia pasti akan merasakannya. Ikatan familiar mereka terlalu kuat untuk dibohongi. Namun, yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada perasaan bahagia, terasa hangat yang memenuhi dadanya, bercampur dengan kelembutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Namun, anehnya kebahagiaan itu terasa begitu menyesakkan.Vance yakin, selama di London mereka pasti mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan hingga emosi Ara masih mengalir melalui kontrak mereka. Karena itulah firasat buruk yang memenuhi kepalanya terasa semakin tidak masuk akal.Menggeleng pelan, Va
'Jaga rumah ini. Apa pun yang terjadi.'Mata Lily memanas, lalu satu tetes air mata meluncur di pipinya."Lily?"Suara Vance membuat tubuhnya tersentak. Banshee itu buru-buru mengusap air mata, lalu menoleh dan memberikan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vance tidak tertipu."Kau baik-baik saja?"Lily mengangguk cepat, kemudian membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara Vance hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung Lily yang semakin menjauh."Apa aku salah lihat?" Dia menelengkan kepala, tangannya mengusap tengkuk. "Lily ... menangis?"Belum sempat dia mengejar, sesuatu yang bercahaya melintas di sudut matanya. Vance mendongak, dan mendapati seekor burung kecil berwarna biru terang terbang menuju dirinya. Tubuh burung itu terlihat transparan. Cahaya biru membentuk bulu-bulunya, sementara serpihan energi berjatuhan dari sayapnya setiap kali mengepak."Sihir?" Vance mengulurkan tangan, dan bu
"Hah ...." Yuuscar mengembuskan napas kasar sembari mengusap wajahnya.Yeah. Tentu saja akan seperti ini.Meski Anthony J. Wallenstein merupakan sosok iblis yang konon paling sempurna setelah raja dunia bawah, seluruh kesempurnaan itu seolah menguap begitu dia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar disayanginya.Naif. Bodoh. Dan luar biasa keras kepala.Anthony sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Ratusan tahun berkubang di tempat yang bahkan tidak mengenal arti cahaya, sampai akhirnya dia menemukan secercah terang dalam wujud seorang manusia bernama Jung Ara. Tentu saja dia menjadi tergila-gila.Masalahnya, kegilaan Anthony tidak pernah mengenal batas. Nyawanya sendiri sampai dia kesampingkan hanya demi menempatkan 'cahaya' yang ditemukannya itu di atas segala-galanya.Yuuscar menggeleng pelan, betapa bodohnya teman iblisnya ini.Benar kata pepatah. Selain membuat buta dan gila, cinta rupanya juga mampu membuat makhluk palin
"Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng
“Perutku rasanya aneh,” gumam Ara seraya menyentuh perutnya, sesekali meremasnya kecil.Anthony mengernyit heran. Dia menggenggam tangan Ara lalu menyingkirkannya perlahan sebelum telapak tangannya sendiri berpindah menyentuh perut gadis itu. Lembut dan penuh kehati-hatian.
"Araphael." "Tuan, ini aku. Ara." Dengan susah payah, Ara mengangkat tangan kanannya. Jemarinya meraih wajah Anthony, lalu menyandarkan kepalanya ke pipi sang tuan. Ara tersenyum kecil saat tubuh besar yang memeluknya bereaksi. Ketika jemarinya mengusap rahang Anthony, iblis tak bersaya
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpik
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka







