FAZER LOGINDi sisi lain, Vance berlari membelah kegelapan malam dengan tubuh Ara yang tak sadarkan diri dalam gendongannya.
Napasnya memburu. Keempat kakinya menghantam tanah basah dengan ritme cepat, memecah sunyi hutan yang terasa semakin pekat. Ikatan yang sempat terputus antara dirinya dan Ara kini telah kembali, dan itu justru membuat dadanya semakin sesak.DIa bisa merasakan semuanya. Rasa sakit yang menjalar di setiap inci tubuh sang gadis, napas yang tersengal, jantung yang ber"Tenang saja. Aku hanya mengirimkan dia ke rumahnya," ujar Hope Nightray sambil tersenyum geli, separuh mencemooh.Anthony menghela napas. Masih teringat jelas dalam benak tentang pertemuan mereka di malam itu. Sejujurnya, Anthony merasa kesal jika harus bertatap wajah dengan Hope Nightray. Tetapi mau bagaimana lagi, hanya dia yang bisa membantu Ara pulih.Sementara itu, Vance lekas bangun dan berjalan menghampiri Hope, lalu duduk tepat di hadapannya. Sorot matanya penuh harap, bahkan suara yang keluar darinya terdengar lebih lembut dari biasanya. “Apa kau bisa membangunkan Ara?”Melihat itu, mata Hope langsung berbinar. “Aduh, kau manis sekali, sih.”Tanpa menahan diri, Hope mengusap kepala Vance dengan gemas, jemarinya menyelusup di sela bulu hitam pemuda itu seperti sedang memanjakan hewan kesayangan. Pemandangan itu seketika mengingatkannya pada sosok lain.Di Tír na nÓg, dia juga memiliki makhluk serupa Vance—bulu hitam legam, tubuh
“Keluarlah, Noah Lee. Sampai kapan kau akan bersembunyi di sana?” ujar Anthony tanpa mengalihkan pandangannya dari Ara.Vance tidak tampak terkejut. Sejak tadi, indra tajamnya sudah menangkap keberadaan seseorang yang berdiam di balik pepohonan. Hanya saja, dia terlalu fokus menjaga Ara hingga tak merasa perlu memergokinya.Untuk sesaat, hutan kembali sunyi. Lalu terdengar desir halus dari semak di balik batang pohon besar. Seseorang akhirnya melangkah keluar dari balik bayang-bayang, menampakkan sosok tinggi berbalut setelan rapi yang nyaris tampak kontras dengan suasana hutan liar di sekitarnya.Noah Lee.Pria itu muncul dengan senyum canggung yang menggantung di bibirnya, seolah baru saja tertangkap melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan.“Aku hanya mengkhawatirkannya.” Langkah Noah pelan, tetapi mantap saat mendekati mereka. Sepasang matanya langsung jatuh pada Ara yang masih terbaring lemah di antara akar pohon besar. Ta
Tampak pakaian serta lembaran kain lain seperti tirai, selimut, dan seprai bergantung rapi di tiang jemuran, menjadi sasaran empuk sinar mentari pagi yang hangat. Cahaya keemasan menimpa permukaannya, membuat kain-kain itu bergoyang lembut diterpa angin.Lantai rumah bersih tanpa setitik debu, langit-langitnya pun bebas dari sarang laba-laba. Setiap inci perabotan tertata begitu rapi, seolah rumah itu selalu dihuni oleh seseorang yang mencintai ketertiban.Di atas meja kayu, dua piring tersusun berdampingan. Padahal kenyataannya, tak pernah ada satu pun tangan yang membalikkan piring itu, atau menduduki kursi di hadapannya sekadar untuk menyantap makanan.Lily selalu melakukan seluruh pekerjaan rumah tanpa pernah mengeluh.Membersihkan, menata, memasak, dia melakukan semuanya dengan telaten. Rumah ini seolah menjadi dunianya sendiri, sesuatu yang dia jaga dengan sepenuh hati, bahkan tanpa mengharap imbalan sedikit pun.Meski ekspresi data
Di sisi lain, Vance berlari membelah kegelapan malam dengan tubuh Ara yang tak sadarkan diri dalam gendongannya.Napasnya memburu. Keempat kakinya menghantam tanah basah dengan ritme cepat, memecah sunyi hutan yang terasa semakin pekat. Ikatan yang sempat terputus antara dirinya dan Ara kini telah kembali, dan itu justru membuat dadanya semakin sesak.DIa bisa merasakan semuanya. Rasa sakit yang menjalar di setiap inci tubuh sang gadis, napas yang tersengal, jantung yang berdetak sangat lemah, nyaris seperti nyala lilin yang siap padam kapan saja.Vance menggertakkan rahang, dia tidak punya waktu untuk mengeluh. Keselamatan Ara adalah satu-satunya hal yang penting saat ini.Mengikuti arah yang diperintahkan Anthony, Vance terus berlari menuju hutan bagian utara. Semakin jauh dia masuk, udara terasa semakin dingin. Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon, membelai pergelangan kakinya seperti tangan tak kasatmata.Hingga akhirnya
"Aku membuangnya," jawab Anthony tanpa menyadari bicaranya yang tidak formal. Dan dua kata itu berhasil membuat Anthony terlempar dan menghantam guci besar hingga benda tersebut hancur. Makhluk-makhluk di sana tercengang, tetapi mereka memilih untuk tidak melakukan apa pun, bahkan tak berkutik ketika api hitam yang dikeluarkan sang Raja telah menyebar ke setiap sudut dan membakar sebagian ruangan. Sedangkan di tempatnya, Anthony mendengkus seraya mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang terasa remuk, berusaha untuk berdiri. Ayahnya sungguh tak tanggung-tanggung mengeluarkan tenaga, dan saat ini kondisinya tidak dapat dikatakan baik."Telah lama saya membuangnya." Anthony terbatuk, darah turut mengalir dari sela bibir hingga melewati dagunya. "Karena kupikir, iblis pembelot sepertiku tidak pantas memiliki sayap agung.""Iblis kurang ajar," maki sang bapak kegelapan datar. Dia mengangkat tangan kirinya, seketika itu juga tubuh Anthony melayang den
"JUSLANDIER!"Suara gelegar itu menggema hebat di seluruh aula istana Abyss, memaksa setiap bisikan yang semula memenuhi ruangan lenyap seketika. Langit kelabu di atas Abyss bergemuruh, petir menyambar berulang kali, memantulkan murka sang penguasa negeri kegelapan. Raja Abyss bangkit dari singgasananya. Tatapan merah darah itu mengunci sosok yang berdiri di tengah aula.Putra bungsunya.Putra yang pernah dia buang, kini kembali dan dengan berani memperlihatkan aib terbesar seorang iblis di hadapan seluruh petinggi Abyss.Punggung tanpa sayap.Sementara itu, Anthony sama sekali tidak memedulikan gelegar amarah tersebut. Perhatiannya tetap tertuju pada tubuh Jung Ara di pelukannya. Tubuh gadis itu semakin dingin, napasnya hampir tak terasa.Anthony merapatkan kemeja hitam yang menyelimuti tubuh Ara, menahan agar tekanan udara dan aura gelap dari segala penjuru Abyss tidak menghancurkan tubuh rapuh itu lebih jauh. Jemarin
"Sekarang waktunya kau membalas kebaikanku. Atau aku akan meremukkan tubuhmu dan melemparkanmu pada Salamander," bisik Anthony tajam. Cengkeramannya semakin kuat. Terdengar suara retakan. Mungkin tulang rusuk, atau mungkin punggung. Anthony tidak peduli. Yang ada di kepalanya hanya satu, yaitu Ar
Malam di belahan bumi utara tampak lebih gelap dari biasanya.Lebih sunyi.Bahkan makhluk-makhluk penghuni hutan yang biasanya memecah gulita dengan nyanyian malam kini tak mengeluarkan satu suara pun. Keheningan itu begitu pekat, seolah mampu menelan siapa saja yang terjaga di
Selama perjalanan kereta dari Stasiun Paddington, Ara sama sekali tidak berbicara. Dia hanya memandang ke luar jendela, menatap domba-domba yang tersebar di sepanjang bukit dan rumah-rumah batu kapur berwarna kuning madu yang berkelebat di sepanjang jalur.Anthony pun sama; pria itu memi
Ara duduk termenung di salah satu sofa luar ruang kerja Yuuscar, tepat di antara rak-rak vinyl dan alat musik yang tertata rapi. Tidak ada pelanggan sore itu. Hanya alunan musik jazz yang mengalun pelan, cukup untuk membuat pikirannya semakin tenggelam.Kepalanya tertunduk. Di tangannya,







