Share

Test Pack

last update publish date: 2026-04-04 17:42:46

Tepat jam satu siang, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan halus di depan lobi sebuah restoran mewah bergaya klasik Eropa. Sera turun dengan langkah terburu-buru, didampingi oleh Lana dan Deo yang selalu siaga di belakangnya. Alamat yang dikirimkan Sintia ternyata merujuk pada salah satu tempat paling eksklusif di Jayakarta.

Sera tiba di depan meja resepsionis tepat saat sebuah mobil sedan mewah lainnya berhenti. Sintia keluar dengan keanggunan yang mengintimidasi, mengenakan setelan formal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (11)
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Gak usah marah2 Sintia kalo Sera hamil ya itu karena anakmu lah bukan salah Sera
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya kk
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
semoga sera beneran hamil,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Prosesi

    Rendra mengamati ketulusan di wajah sang istri. Dalam hati, pria itu tersenyum geli sekaligus tak sabar melihat bagaimana reaksi wanita ini beberapa jam lagi. Rendra mencondongkan tubuhnya ke depan, mengecup kening Sera dengan lembut dan lama."Semoga prosesi wisudamu berjalan lancar hari ini," bisik Rendra tepat di pelipis Sera. "Tunjukkan senyum terbaikmu di atas panggung nanti. Aku akan selalu mendoakanmu dari jauh.""Pasti, Mas. Hati-hati di perjalanan dinasnya ya," balas Sera seraya meraih tangan kanan Rendra, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.Rendra bangkit berdiri, meraih jas luarnya, lalu menarik tuas koper dinasnya. Pria itu sempat menoleh sekali lagi di ambang pintu, melemparkan tatapan teduh seraya melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pintu kamar yang tertutup rapat.Sepeninggal suaminya, Sera menghela napas panjang seraya bangkit dari ranjang. Ia menepuk kedua pipinya perlahan di depan cermin. "Ayo Sera, hari ini harimu. Tidak boleh bersedih

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Hari Wisuda

    "Dari Mas Rendra?" ulang Erika, matanya seketika membulat lebar. Rasa penasarannya langsung memuncak. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap kotak itu dengan tatapan berbinar. "Cepat buka, Sera! Jangan cuma dielus-elus pitanya begitu. Aku penasaran sekali, apa yang diberikan seorang presiden untuk istrinya sebelum wisuda!"Sera tertawa kecil melihat ekspresi heboh sahabatnya itu. "Kamu ini tidak sabaran sekali sih, Erika.""Tentu saja aku penasaran! Cepat buka!" desak Erika seraya menepuk-nepuk tepi meja dengan gemas.Sera menarik napas perlahan. Dengan gerakan hati-hati, ujung jemarinya menarik salah satu sisi pita yang terikat rapi hingga simpulnya terlepas. Pita itu ia singkirkan ke tepi meja. Perlahan, kedua ibu jarinya mendorong tutup kotak itu ke atas.Bunyi engsel kecil kotak itu terbuka pelan di keheningan ruang koas.Begitu penutupnya terbuka sempurna, mata Sera dan Erika tertuju pada benda yang terbaring anggun di atas bantalan di dalam kotak. Kilau logam mu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Hadiah Kecil

    Karina melotot kaget, wajahnya seketika pias bercampur malu saat menyadari beberapa pasang mata di koridor mulai memperhatikan mereka. "Erika! Jaga bicaramu ya! Aku cuma bertanya baik-baik pada Sera, kenapa kamu yang malah mengamuk seperti orang gila begini?!""Bertanya baik-baik kamu bilang?!" bentak Erika makin garang, melangkah maju satu jengkal hingga membuat Karina refleks mundur teratur. "Kalimatmu tadi itu murni sindiran murahan! Sekali lagi aku mendengar kamu berani membuka mulut beracunmu itu untuk menyindir Sera, aku tidak akan segan-segan melaporkan kelakuan tidak etismu ini langsung ke komite etik dan konsulen pembimbing kita! Kamu mau ijazahmu ditahan karena masalah sikap, iya?!"Mendengar ancaman serius mengenai kelulusan dan konsulen pembimbing, nyali Karina seketika ciut. Bibirnya bergetar menahan malu dan jengkel. Tanpa mampu membalas sepatah kata pun lagi, Karina berbalik dan melangkah tergesa-gesa meninggalkan koridor itu dengan wajah merah padam.Erika mendengus ka

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Sandiwara

    Pagi itu, suasana meja makan di istana terasa lebih hening dari biasanya. Aroma nasi goreng dan telur dadar mengepul hangat, namun Sera hanya mengaduk-aduk piringnya dengan sendok tanpa selera. Di seberang meja, Rendra memperhatikan gerak-gerik sang istri.Pria itu menarik napas pendek, lalu memasang raut wajah murung. Keningnya berkerut samar, bibirnya terkatup rapat, menampilkan ekspresi yang menyiratkan rasa bersalah mendalam."Sera," panggil Rendra dengan nada suara yang sengaja dilembutkan dan sedikit bergetar.Sera mendongak dari piringnya, menatap suaminya lurus. "Iya, Mas?"Rendra mengulurkan tangannya ke seberang meja, meraih jemari Sera dan menggenggamnya perlahan. "Aku benar-benar minta maaf soal wisuda lusa nanti. Rasanya aku menjadi suami yang tidak berguna karena tidak bisa berdiri di sampingmu di hari sepenting itu."Melihat tatapan sang suami yang tampak begitu redup dan terpukul, rasa kecewa yang sempat mengendap di hati Sera seketika luntur. Ia membalikkan telapak ta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Memberi Kejutan

    Malam harinya di istana, keheningan menyelimuti kamar tidur utama. Sera duduk di tepi ranjang , memangku sebuah kotak perhiasan kecil seraya memeriksa anting mutiara yang rencananya akan ia kenakan di hari wisuda.Suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat dari arah kamar mandi. Rendra yang baru saja selesai mandi melangkah keluar mengenakan celana tidur panjang dan kaus katun hitam santai, tangannya mengusap-usap rambutnya yang setengah basah dengan handuk kecil.Rendra melempar handuknya ke keranjang pakaian kotor, lalu berjalan memutar menghampiri sisi ranjang tempat Sera duduk. Pria itu menjatuhkan diri duduk tepat di samping istrinya seraya melirik kotak beludru di pangkuan Sera."Sedang menyiapkan apa malam-malam begini?" tanya Rendra dengan suara baritonnya yang tenang.Sera mendongak menatap suaminya, lalu menunjukkan kotak perhiasan itu. "Cuma memeriksa aksesoris untuk kebaya wisuda nanti, Mas. Tadi sore aku, Erika, Ayah, dan Ibu sudah selesai mengambil kebaya di butik

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Persiapan

    Lonceng di atas pintu butik berdenting pelan saat Sera mendorong daun pintu kaca itu terbuka. Aroma wewangian melati langsung menyambut langkahnya, berbaur dengan deretan manekin berbalut kain brokat aneka warna yang tertata anggun di sepanjang dinding ruangan."Sera, lihat ini! Warna hijau sage ini cantik sekali!" seru Erika yang sudah lebih dulu melesat ke deretan gantungan kebaya di sudut kiri. Tangannya menarik sehelai kebaya brokat berpayet halus, lalu menempelkannya ke depan dada seraya berputar menghadap cermin.Sera tersenyum tipis melihat tingkah heboh sahabatnya itu. Ia menoleh ke belakang, memperhatikan langkah pelan kedua orang tuanya yang berjalan beriringan masuk ke dalam butik. Bu Siwi tampak mengusap ujung lengan daster batiknya dengan kikuk seraya menatap lantai marmer yang mengilap, sementara Pak Angga berjalan tegap di samping sang istri seraya mengamati sekeliling dengan tenang."Ayah, Ibu, duduk di sofa sini saja dulu," ajak Sera lembut seraya menuntun lengan ibun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status