Share

Anak

last update publish date: 2026-04-07 08:47:51

Rendra berdiri mematung, bayangan lampu kamar yang temaram menciptakan garis rahang yang tegas dan dingin pada wajahnya. Ia memutar-mutar kotak test pack itu di antara jemarinya dengan gerakan lambat yang mengintimidasi.

"Memang kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan?" tanya Rendra, suaranya rendah namun tajam, seolah sedang menguliti pertahanan diri Sera.

Sera terdiam beberapa saat. Tenggorokannya terasa kering, debaran jantungnya memukul-mukul rongga dadanya begitu keras. Ia menunduk, tak
Adinasya Mahila

huhuhu harusnya up semalam geng tapi aku ngelonin bocil eh ikut tidur 😅😅

| 32
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
kannn lgian sih pke ngmong gt jdny d skak mat kan sm Mas Rendra xixiii
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
mau in aja sera,,udah halal juga,,setiap malam,,setiap hari,,enak lho,,hhhh dan jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisi rendra,,karena rendra udah mulai jatuh hati padamu sera,,
goodnovel comment avatar
Eddy Hadarian
Sera jgn punya pikiran yg aneh pada Rendra Blm keliatan garis duanya tunggu seminggu lagi y Sera
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Melanjutkan Perjalanan

    Sofia tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi antusiasme pria di depannya. "Jangan, Pak Irawan," cegahnya halus. "Nanti kelihatan mencolok sekali. Lagipula, di istana itu masih banyak orang-orang kepercayaan Rendra. Jadi, jangan gegabah." Irawan terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Kamu benar. Kita harus tetap bermain bersih di permukaan." Sofia menyunggingkan senyum penuh arti seraya merapikan tas mewahnya. Ia bangkit dari kursi. "Saya permisi dulu, Pak. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan." "Baik, Sofia. Terima kasih informasinya," jawab Irawan melepas kepergian wanita itu. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan hitam melaju mulus membelah jalanan Jayakarta dan berhenti tepat di halaman Mansion Narrotama. Sofia turun dengan anggun, melangkah menuju pintu utama. Di dalam ruang tengah, Sintia yang sedang merapikan beberapa rangkaian bunga mendongak. Wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar gembira. "Sofia? Ya ampun, sayang!" seru Sintia hangat,

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Nasib Pengawal Sera

    Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tegasnya Pak Presiden

    Di luar pondok, suara tangisan bayi yang kencang dan melengking mendadak memecah heningnya udara hutan.Bara yang berdiri di bawah pengawalan ketat langsung menoleh cepat ke arah pintu pondok. Matanya seketika berkaca-kaca, dadanya naik turun tajam menahan gejolak rasa haru dan gelisah yang membuncah.Di dekatnya, Rendra berdiri tegap dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana, memandang pimpinan pemberontak itu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi."Apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak memberimu izin melihat anakmu?" cetus Rendra pelan, namun sarat akan penekanan.Bara seketika memutar kepalanya, menatap Rendra dengan pendar mata kaget yang tak tertutupi. "Presiden ternyata memang sangat kejam," desis Bara seraya mengetatkan rahangnya.Rendra terkekeh tipis, menyunggingkan senyum miring yang tajam."Mana yang lebih kejam, aku atau kamu?" tanya Rendra menatap lurus mata Bara. "Bahkan saat anakmu lahir, kamu ditangkap karena menjadi pemberontak. Ideologi apa yang kamu

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Membantu Persalinan

    Rendra langsung menolak senjata di tangannya sedikit melonggar, matanya bergeser cepat menatap ke arah sumber suara. Kedua matanya melebar sewaktu menangkap sosok Sera yang berdiri di dekat ranjang. Napas Rendra tertahan, ada rasa lega yang amat sangat membuncah di dadanya, walau matanya seketika tertuju pada luka dengan bercak darah kering di kening istrinya. Tanpa memberi celah, Naka bergerak amat cepat dari samping. Ia memelintir lengan Bara ke belakang punggung lalu menekan pria itu kasar hingga berlutut menghantam lantai kayu. Naka menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan sindiran. "Ternyata gembong pemberontak yang ditakuti ini bisa dilumpuhkan semudah ini," gumam Naka dingin, makin menekankan lututnya ke punggung Bara. Rendra tidak memedulikan Naka lagi. Ia menurunkan senjatanya begitu saja dan menghambur maju, menarik tubuh Sera ke dalam pelukan yang teramat erat. Rendra membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera, bahunya bergetar hebat. Air mata pria itu menetes basah

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menolak Mentah-mentah

    Cengkraman jari-jari Bara di pergelangan tangannya terasa amat menyakitkan. Tanpa memberi ruang untuk membantah, Bara menyeret langkah Sera yang tersungkur-sungkur mengikuti pacuan kakinya yang cepat.Sera terpaksa setengah berlari menyeberangi pelataran tanah yang becek hingga mereka tiba di ambang pintu sebuah pondok.Begitu melangkah melewati tirai kain yang terkulai, pendengaran Sera langsung dihantam oleh jeritan melengking. Di atas ranjang bambu yang dilapisi kain lusuh, seorang wanita berguling ke kiri dan ke kanan, meremas perut besarnya dengan wajah mandi peluh.Melihat kondisi itu, naluri Sera sebagai dokter seketika mengambil alih rasa takutnya. Ia membebaskan tangannya dari cekaman Bara lalu berlari mendekati ranjang."Tolong... sakit sekali..." ratap wanita itu dengan napas putus-putus.Sera memeriksa wajah pucat wanita itu, lalu matanya menyapu sekeliling ruangan yang hanya berisi barang-barang kayu seadanya. Panik mendadak menyerang Sera. Ia berbalik cepat menatap Bara

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Meminta Bantuan Ibu Negara

    Sera duduk menyendiri di sudut lantai kayu pondok yang dingin. Di hadapannya, sebuah piring Seng berisi porsi nasi dan lauk kering tergeletak begitu saja.Sera sama sekali tidak menyentuhnya. Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya. Bagaimana jika makanan itu dibubuhi racun?Ia memalingkan wajah, memilih memaku pandangan ke arah celah sempit di dinding kayu. Cahaya siang menembus garis-garis tipis, menimpa matanya yang perlahan berkaca-kaca. Bulir air mata menetes basah, mengalir melewati pipinya yang kotor.“Bagaimana keadaan Mas Rendra?”Bayangan saat rentetan tembakan meletus dan mobil yang meledak kembali berputar di kepalanya. Dada Sera bergemuruh kencang. Ia mencekeram kuat pinggiran pakaiannya, didera ketakutan membayangkan Rendra terluka atau—bahkan lebih buruk dari itu.Sementara itu di luar pondok, Bara berdiri membelakangi beberapa anak buahnya yang duduk melingkar di atas akar-akar pohon besar. Senjata laras panjang mereka tampak disandarkan pada tiang kayu."Bang, apa s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status