Início / Romansa / Pelukan Hangat Tuan Presiden / Curhat Ke Pak Presiden Part 1

Compartilhar

Curhat Ke Pak Presiden Part 1

last update Data de publicação: 2026-05-28 19:03:52

Kini, Sera duduk di meja makan dengan tatapan kesal yang terus tertuju lurus ke arah Arkan. Ketegangan dari dalam kamar adiknya itu tadi rupanya terbawa hingga ke ruangan ini, membuat suasana makan malam mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku.

Angga dan Siwi yang duduk berdampingan hanya bisa saling pandang dengan guratan heran di wajah mereka, merasa bingung melihat perubahan sikap kedua anak mereka yang biasanya rukun.

Siwi mencoba memecah ketegangan yang mencekam itu dengan meny
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (6)
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
ser gk crita ttg omngn mertua km
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
makasih up nya
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
knp Sera g ngmg jg Klo s lampir nyruh Jan pny ank?? malah curhat mslah Arkan doank
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Curhat Ke Pak Presiden Part 2

    Sera mengerjapkan matanya. "Maksud Mas Rendra?" "Aku akan mengirimkan beberapa orang kepercayaanku untuk memantau dan mengawasi Arkan secara diam-diam selama dia berada di sana. Jadi, kamu bisa tenang sekarang dan tidak perlu berpikir yang tidak-tidak," jawab Rendra memberikan solusi mutlak. Sera perlahan menganggukkan kepalanya, merasa sedikit lega dengan jaminan dari Rendra. Rendra menurunkan tangannya dari pipi Sera, namun matanya masih menatap lekat. "Lalu... apa ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan kepadaku?" Sera mengerutkan keningnya bingung. "Maksud Mas Rendra apa?" Rendra tersenyum miring, seulas senyuman yang sarat akan pengetahuan tersembunyi. "Kamu tadi sempat bertemu dengan Papa di rumah sakit, kan? Apa saja yang kalian berdua bicarakan di selasar tadi?" Sera seketika mengembuskan napas pasrah. Ia benar-benar menyadari bahwa dirinya memang tidak akan pernah bisa menyembunyikan hal sekecil apa pun dari mata dan telinga seorang Presiden. Rendra kemba

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Curhat Ke Pak Presiden Part 1

    Kini, Sera duduk di meja makan dengan tatapan kesal yang terus tertuju lurus ke arah Arkan. Ketegangan dari dalam kamar adiknya itu tadi rupanya terbawa hingga ke ruangan ini, membuat suasana makan malam mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku. Angga dan Siwi yang duduk berdampingan hanya bisa saling pandang dengan guratan heran di wajah mereka, merasa bingung melihat perubahan sikap kedua anak mereka yang biasanya rukun. Siwi mencoba memecah ketegangan yang mencekam itu dengan menyendokkan sepotong lauk ke atas piring Sera. "Ini dicicipi dulu sup ayamnya. Mumpung masih hangat," ucap Siwi dengan nada selembut mungkin, mencoba mencairkan suasana. Sera tersentak pelan. Sapaan ibunya seketika membuat ia sadar bahwa kekesalannya telah membuat kedua orang tuanya merasa bingung dan tidak nyaman. Ia menarik napas dalam, lalu buru-buru mengulas senyum tipis dan mulai menyuap makanannya, mencoba bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Setelah makan malam

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menemui Arkan

    Sera berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Pertanyaan yang beberapa saat lalu ia lontarkan kepada Dewa berakhir menggantung begitu saja di udara, sebab pria paruh baya itu tidak memberikan jawaban yang jelas dan justru mengalihkan pembicaraan sebelum pamit kembali ke dalam kamar rawat Sintia. Sera menekuk bibirnya rapat-rapat. Di dalam benaknya, sebuah pemikiran mulai berkecamuk,jika pernikahan ini memang sudah direncanakan sedemikian rupa oleh Rendra sejak awal, maka batas antara ketulusan perasaan dan tindakan memanfaatkan dirinya kini menjadi sangat abu-abu. Pundak Sera meluruh, kehilangan kekuatan. Ia mengembuskan napas panjang yang terdengar begitu berat, lalu memilih untuk mendudukkan tubuhnya di atas salah satu kursi selasar. Helaan napas yang berulang kali lolos dari bibir Sera rupanya tidak luput dari perhatian Deo dan Lana. Mereka saling melemparkan pandangan penuh arti. Deo sedikit memiringkan kepalanya, berbisik lirih ke arah Lana tanpa mengalihkan pandanga

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berharap Kami Berpisah

    Sera mengangguk, melangkah mendekati sisi ranjang lalu duduk dengan posisi tubuh tegak dan formal. Keheningan sempat merayap selama beberapa saat di antara dirinya dan Sintia, membuat Sera berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang kaku. Ia melirik ke arah botol cairan infus yang tinggal menyisakan sepertiga bagian di atas tiang besi. "Jam berapa dokter akan datang untuk memeriksa Anda?" tanya Sera dengan nada suara sesopan mungkin. "Jika pemeriksaan sudah selesai, Nyonya bisa meminta selang infusnya untuk dilepas sekarang. Atau... apa mau saya bantu lepaskan saja?" Sintia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak beralih dari wajah Sera, lalu menatap lurus ke arah Dewa yang masih berdiri di dekat sana. Sorot mata Sintia tampak tegas, seolah sedang mengirimkan sinyal yang meminta suaminya itu untuk segera keluar dan meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar. Dewa yang sudah puluhan tahun hidup bersama Sintia tentu langsung paham arti tatapan tersebut. Pria paruh bay

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Mertua Jahat Berubah?

    "Silakan saja kalau kamu mau menemui Mama," jawab Rendra, helaan napasnya terdengar berat. Namun, jeda beberapa detik setelahnya nada suaranya berubah menjadi sangat dalam dan penuh penekanan. "Tapi, pastikan jangan sampai kamu terluka atau ditindas lagi di sana, jangan biarkan hal itu terjadi lagi." Sera tersenyum tipis. "Tenang saja, Mas. Nyonya Sintia tidak akan melakukan hal seperti itu lagi kepadaku. Percayalah." Di seberang sana, Rendra terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu pekat, mengisyaratkan gurat keberatan dan rasa berat hati yang teramat sangat untuk memberikan izin kepada istrinya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Rendra kemudian, mencoba mengalihkan kecemasannya yang masih menggantung. "Makan siang dulu sebelum pergi menemui mama." Sera melirik sekilas ke arah jam dinding di koridor. "Aku belum lapar, Mas. Nanti saja, Erika juga sedang ada urusan sebentar, aku makan setelah Erika kembali saja." Setelah beberapa menit berbincang,mereka akhirnya mengak

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Berani Kalau Sedang Cemburu

    Sera melangkah masuk ke ruang koas, lalu meletakkan tas kertas tebal berlogo merek ternama pemberian Ratu di atas mejanya. Ia berdiri mematung sembari memandangi benda itu dengan kening berkerut, tampak benar-benar bingung dengan motif di balik pemberian tersebut. Erika yang sejak tadi berada di sana langsung menyadari perubahan ekspresi wajah Sera. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Sera pelan. "Ada apa? Kenapa mukamu ditekuk begitu?" Tanpa menunggu persetujuan, jemari Erika yang penasaran bergerak meraih tas kertas itu. Ia membuka bagian atasnya lebar-lebar, mengintip ke dalam, lalu merogoh isinya. Begitu menarik sepotong pakaian tebal keluar dari sana, kedua mata Erika seketika membelalak lebar, dan ekspresi wajahnya berubah total menjadi penuh keterkejutan. "Astaga, Sera... ini jaket mahal!" seru Erika setengah berbisik, jemarinya mengusap permukaan bahan jaket yang halus dan terasa sangat premium. "Ini merek luar negeri yang antreannya panjang sekali kalau mau beli!"

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status