ANMELDENKedua tangan Sera terkepal di sisi tubuhnya, gemetar menahan gejolak di dada. Ia menarik napas pendek-pendek seraya menatap lurus ke dalam manik mata Rendra yang tampak begitu bingung. "Sofia menemuiku di restoran," ucap Sera, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dia bilang... kalian berdua punya masa lalu yang Mas sembunyikan dariku." Kerutan di dahi Rendra semakin dalam. "Sofia menemuimu?" "Dia bilang, kalau bukan karena kutukan Iraya, kalian berdua pasti sudah bersama sampai sekarang," lanjut Sera seraya menyeka kasar air mata yang kembali lolos menuruni pipinya. Sera menelan ludah, dadanya sesak saat harus mengulang kalimat itu. "Dan dia bilang... Mas dan Sofia punya anak." Pupil mata Rendra melebar sempurna. Tubuh tegapnya menegang kaku di tempat. Keheningan pekat seketika menyergap ruangan luas itu selama beberapa detik. Udara di sekitar mereka seolah tersedot habis. "Sofia bilang apa?!" suara bariton Rendra meninggi, matanya membelalak tak percaya. "Dia bilang kali
Pupil mata Sera melebar seketika. Gelas kaca di dekat tangannya hampir saja tersenggol sikut saat tubuhnya menegang kaku di kursi. Dadanya bergemuruh hebat, mencerna setiap kata yang baru saja terlontar dari bibir Sofia. "Mana mungkin..." bisik Sera seraya menggelengkan kepala pelan, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kamu mengada-ada." Sofia tertawa remeh, melipat kedua tangannya di depan dada seraya menyandarkan punggungnya santai. "Mengada-ada katamu? Kamu pikir aku sejauh ini datang cuma untuk membuat lelucon murahan?" Sera mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha mati-matian meredam getaran di jemarinya. "Mas Rendra tidak mungkin menyembunyikan hal sebesar itu." "Rendra pintar menjaga citranya, Sera. Dan kamu terlalu naif untuk melihat apa yang ada di balik topeng kesempurnaannya," sahut Sofia dengan senyum tipis yang memuakkan. Tatapannya menatap lurus ke arah Sera tanpa berkedip. "Kalau saja tidak ada mitos kutukan sialan itu, aku dan Rendra pasti sudah bersama s
Dentang halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar dari meja sudut restoran bernuansa modern itu. Sera menyesap jus jeruknya perlahan, sementara di hadapannya, Erika sedang sibuk memotong daging steik seraya bercerita panjang lebar tentang rencananya setelah wisuda. "Pokoknya aku bersyukur sudah berhasil melewati semua ini," celoteh Erika seraya menyuapkan potongan daging ke mulutnya. Sera tersenyum simpul, meletakkan gelasnya kembali ke atas meja. "Aku juga sangat bersyukur." "Tidak sia-sia kita belajar dan begadang berhari-hari—" Kalimat Erika terhenti saat ponsel Sera yang tergeletak di samping piring mendadak bergetar panjang. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah nomor yang sudah lama tidak menghubunginya lengkap dengan notifikasi pesan singkat yang masuk. Dahi Sera berkerut halus. Ia mengulurkan tangan, membuka kunci layar, dan membaca pesan tersebut. [ Aku ingin bertemu denganmu hari ini ] Mata Sera sedikit membelalak. Nama mantan juru bicar
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Udara di sekitar mereka seolah mendadak membeku. Sofia menatap wanita muda di hadapannya dengan mata membelalak, pupil matanya menyempit karena rasa syok yang luar biasa."Apa kamu bilang?" suara Sofia terdengar mendesis, sangat rendah namun bergetar. "Ulangi kalimatmu."Asistennya meremas tabletnya lebih kuat, napasnya memburu pelan karena ketakutan. "Ajudan Pak Rendra menyampaikan bahwa agenda Presiden hari ini sangat padat. Mereka mengatakan... Pak Rendra tidak bisa meluangkan waktu untuk pertemuan informal di luar jadwal kenegaraan. Dan pihak istana tidak memberikan alternatif jadwal lain, Bu."Sofia tetap membisu selama beberapa detik, mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan. Otaknya berusaha menolak kenyataan bahwa seseorang yang pernah menjadi mitranya—seseorang yang ia yakini tidak akan berani menutup pintu padanya—baru saja mengabaikan permintaannya seolah-olah ia bukan siapa-siapa."Tidak mungkin," gumam Sofia, suaranya berget
Sementara itu, di kompleks istana kepresidenan, suasana ruang kerja tampak begitu tenang. Suara ketukan ujung pulpen di atas berkas kenegaraan beradu dengan desing pendingin ruangan yang nyaris tak terdengar.Ketukan dua kali di pintu menghentikan gerakan tangan Rendra. Pria itu mengangkat pandangannya dari map laporan anggaran."Masuk," ucap Rendra singkat.Pintu terbuka pelan. Evan melangkah masuk dengan langkah cepat namun tetap teratur. Di tangannya, pria itu memegang sebuah map tipis dan ponsel dinas yang masih menyala layarnya. Evan berhenti tepat dua langkah di depan meja kerja, membungkuk memberi salam."Selamat siang, Pak."Rendra meletakkan pulpennya ke atas tatakan. "Ada laporan mendesak?"Evan melirik layar ponselnya sebelum kembali menatap Rendra. "Baru saja asisten pribadi Ibu Sofia menghubungi protokoler kesekretariatan, Pak. Dia meminta jadwal pertemuan pribadi antara Anda dan Bu Sofia hari ini."Alis Rendra tidak bergerak sedikit pun. Sorot matanya tetap datar, tanpa
“Sofia jangan bertindak gegabah, kamu masih belum mengerti situasi yang sedang kita hadapi. Ini bukan sekadar persoalan kamu mendapatkan jabatan atau tidak. Ada hal-hal yang jauh lebih serius daripada ambisimu di partai.”Sofia terkekeh pendek.“Lalu apa yang sebenarnya dikatakan Rendra kepada Anda sampai Anda berubah pikiran secepat ini?”Irawan terdiam.“Kenapa diam, Pak?” Sofia memiringkan kepalanya. “Anda datang ke sini untuk mencabut dukungan kepada saya, tetapi bahkan tidak berani menjelaskan alasannya. Apa dia menunjukkan dokumen tertentu? Rekaman? Atau mungkin foto-foto yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan saya?”“Cukup, Sofia!”Bentakan Irawan membuat ruangan itu mendadak sunyi.Untuk sesaat, Sofia tidak bergerak. Ia menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam, seolah-olah sedang menimbang apakah orang itu masih pantas diperlakukan sebagai sekutu atau sudah berubah menjadi penghalang.Irawan menarik napas panjang. Kedua tangannya bertaut di atas meja.“Aku sudah melih







