Se connecteraku tu mau crazy up tapi takut kalian protes geng 😅😅😅
Sera yang duduk di samping Rendra spontan menelan ludahnya dengan susah payah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Ratu akan berani menjawab dengan nada seketus dan seberani itu. Rendra tidak terpancing emosi. Ia tetap tenang, namun kalimat berikutnya yang keluar dari bibirnya terdengar begitu menusuk. "Jadi kamu memang sengaja? Kamu ingin dilecehkan di tempat seperti itu?" "Tentu saja tidak mau!" balas Ratu dengan nada suara yang naik satu oktav, wajahnya memerah menahan kesal. "Wanita mana di dunia ini yang ingin dilecehkan oleh pria hidung belang? Tapi untungnya, malam itu ada Arkan di sana yang bergerak cepat menolongku." Ratu memalingkan wajahnya, menatap ke arah Arkan yang sejak awal pembicaraan hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ratu menyenggol lengan Arkan dengan ujung jarinya. "Kamu mau diam saja seperti patung? Ayo, bicara!" Melihat Arkan yang masih bergeming, Ratu kembali bersuara dengan nada yang teramat santai. "Ah.
Sera tidak menyangka bahwa Rendra akan langsung menerima usulnya begitu saja, bahkan tanpa mengajaknya berdiskusi sedikit pun terlebih dahulu. Di sebuah rumah makan bernuansa privat yang terletak di sudut kota yang tenang, pria itu rupanya telah menyusun agenda sepihak dengan mengundang Arkan dan Ratu untuk datang ke sana. Sera berjalan dengan langkah setengah berlari menyusuri selasar restoran. Napasnya memburu. Padahal, baru saja ia hendak beristirahat di ruang koas, tapi Lana tiba-tiba datang menghampiri dan memberikan kabar bahwa Rendra sudah menunggunya di restoran ini untuk makan siang bersama Ratu dan Arkan. Sera menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu. Ia memegang dadanya, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan agar kembali normal. Begitu pintu terbuka, pandangan mata Sera langsung menangkap sosok Arkan dan Ratu yang ternyata sudah duduk berseberangan di dalam ruangan tersebut. Ratu yang sedang memutar-mutar ponsel di atas meja tampak mengernyitkan
Sera mengerjapkan matanya. "Maksud Mas Rendra?" "Aku akan mengirimkan beberapa orang kepercayaanku untuk memantau dan mengawasi Arkan secara diam-diam selama dia berada di sana. Jadi, kamu bisa tenang sekarang dan tidak perlu berpikir yang tidak-tidak," jawab Rendra memberikan solusi mutlak. Sera perlahan menganggukkan kepalanya, merasa sedikit lega dengan jaminan dari Rendra. Rendra menurunkan tangannya dari pipi Sera, namun matanya masih menatap lekat. "Lalu... apa ada hal lain lagi yang ingin kamu sampaikan kepadaku?" Sera mengerutkan keningnya bingung. "Maksud Mas Rendra apa?" Rendra tersenyum miring, seulas senyuman yang sarat akan pengetahuan tersembunyi. "Kamu tadi sempat bertemu dengan Papa di rumah sakit, kan? Apa saja yang kalian berdua bicarakan di selasar tadi?" Sera seketika mengembuskan napas pasrah. Ia benar-benar menyadari bahwa dirinya memang tidak akan pernah bisa menyembunyikan hal sekecil apa pun dari mata dan telinga seorang Presiden. Rendra kembal
Kini, Sera duduk di meja makan dengan tatapan kesal yang terus tertuju lurus ke arah Arkan. Ketegangan dari dalam kamar adiknya itu tadi rupanya terbawa hingga ke ruangan ini, membuat suasana makan malam mendadak berubah menjadi sangat dingin dan kaku. Angga dan Siwi yang duduk berdampingan hanya bisa saling pandang dengan guratan heran di wajah mereka, merasa bingung melihat perubahan sikap kedua anak mereka yang biasanya rukun. Siwi mencoba memecah ketegangan yang mencekam itu dengan menyendokkan sepotong lauk ke atas piring Sera. "Ini dicicipi dulu sup ayamnya. Mumpung masih hangat," ucap Siwi dengan nada selembut mungkin, mencoba mencairkan suasana. Sera tersentak pelan. Sapaan ibunya seketika membuat ia sadar bahwa kekesalannya telah membuat kedua orang tuanya merasa bingung dan tidak nyaman. Ia menarik napas dalam, lalu buru-buru mengulas senyum tipis dan mulai menyuap makanannya, mencoba bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Setelah makan malam
Sera berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit. Pertanyaan yang beberapa saat lalu ia lontarkan kepada Dewa berakhir menggantung begitu saja di udara, sebab pria paruh baya itu tidak memberikan jawaban yang jelas dan justru mengalihkan pembicaraan sebelum pamit kembali ke dalam kamar rawat Sintia. Sera menekuk bibirnya rapat-rapat. Di dalam benaknya, sebuah pemikiran mulai berkecamuk,jika pernikahan ini memang sudah direncanakan sedemikian rupa oleh Rendra sejak awal, maka batas antara ketulusan perasaan dan tindakan memanfaatkan dirinya kini menjadi sangat abu-abu. Pundak Sera meluruh, kehilangan kekuatan. Ia mengembuskan napas panjang yang terdengar begitu berat, lalu memilih untuk mendudukkan tubuhnya di atas salah satu kursi selasar. Helaan napas yang berulang kali lolos dari bibir Sera rupanya tidak luput dari perhatian Deo dan Lana. Mereka saling melemparkan pandangan penuh arti. Deo sedikit memiringkan kepalanya, berbisik lirih ke arah Lana tanpa mengalihkan pandanga
Sera mengangguk, melangkah mendekati sisi ranjang lalu duduk dengan posisi tubuh tegak dan formal. Keheningan sempat merayap selama beberapa saat di antara dirinya dan Sintia, membuat Sera berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang kaku. Ia melirik ke arah botol cairan infus yang tinggal menyisakan sepertiga bagian di atas tiang besi. "Jam berapa dokter akan datang untuk memeriksa Anda?" tanya Sera dengan nada suara sesopan mungkin. "Jika pemeriksaan sudah selesai, Nyonya bisa meminta selang infusnya untuk dilepas sekarang. Atau... apa mau saya bantu lepaskan saja?" Sintia tidak langsung menjawab. Sepasang matanya bergerak beralih dari wajah Sera, lalu menatap lurus ke arah Dewa yang masih berdiri di dekat sana. Sorot mata Sintia tampak tegas, seolah sedang mengirimkan sinyal yang meminta suaminya itu untuk segera keluar dan meninggalkan mereka berdua saja di dalam kamar. Dewa yang sudah puluhan tahun hidup bersama Sintia tentu langsung paham arti tatapan tersebut. Pria paruh bay







