แชร์

Membalaskan Dendam

ผู้เขียน: Adinasya Mahila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-18 21:14:02

Sera terengah, genggaman tangannya pada kemeja Rendra perlahan terlepas saat menyadari tatapan sang suami yang tidak bisa dibantah.

Sera memilih melangkah mundur dengan teratur, memanfaatkan deretan kursi kayu kosong sebagai tameng. Tubuhnya yang mungil merosot, bersembunyi di balik sebuah meja bundar yang tertutup taplak kain menjuntai hingga ke lantai.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Sera merogoh saku tasnya dan menyambar ponsel. Jemarinya dengan cepat mencari nama Evan dalam daftar pang
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (13)
goodnovel comment avatar
eva nindia
rendra jngan dbikin kenapa²... c sintia aja yg dbkin knpa2...
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
smoga aj Rendra g kena piso y.. biar s lampir aj yg kena lha biar tau rsa
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Aduhhhhh.....piye Iki ..gantungan kunci
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tetap Semangat Dan Percaya

    Rendra mengembuskan napas pendek sembari menggelengkan kepala. "Naka belum menghubungi lagi sampai malam ini. Kamu tahu betul bagaimana Jalur komunikasi di wilayah pedalaman Amartapura," tutur Rendra. Ia memajukan wajahnya sedikit, menatap lekat sepasang manik mata Sera yang tampak redup. "Tapi, aku benar-benar sangat berharap dia bisa membawa kabar baik." Rendra mengulurkan telapak tangannya, mengusap lembut kulit pipi Sera dengan gerakan lambat. Sera hanya bisa terdiam. Ada sebersit perasaan sesak dan tidak berdaya yang mendadak menyergap rongga dadanya. Ternyata dirinya sama sekali tidak bisa membantu banyak untuk menyelesaikan rentetan masalah rumit dan berbahaya yang sedang dihadapi oleh Rendra. Merasa tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menenangkan suaminya, Sera memilih untuk menggeser tubuhnya mendekat. Ia melingkarkan kedua lengannya di sekeliling pinggang Rendra, memeluk erat tubuh pria itu dengan sangat rapat, menyembunyikan wajahnya di dada Rendra dalam kehenin

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menjadi Pendengarmu

    Hening seketika menyergap ke dalam kamar. Rendra tidak langsung menyahut, ia hanya terus memandangi sepasang manik mata Sera dengan tatapan yang mendadak terkunci.Sera menanti selama beberapa detik, namun bibir Rendra masih saja terkatup rapat. Rasa penasaran di dalam dada Sera kian membubung tinggi. Ia memajukan wajahnya sedikit, menelisik setiap gurat halus di dahi suaminya yang tampak mengeras."Terjadi sesuatu yang sangat serius kah, Mas?" selidik Sera lagi, mengulangi pertanyaannya dengan nada suara yang jauh lebih pelan namun sarat akan penekanan.Rendra mengembuskan napas pendek melalui hidung. Ada gurat keraguan yang melintas cepat di wajah tampannya saat ia menggelengkan kepala secara perlahan. Ia menurunkan kedua tangannya dari bahu Sera, lalu menepuk pinggul istrinya itu dengan lembut."Mandilah dulu. Tubuhmu sudah sangat lelah setelah seharian di UGD. Aku sudah ingin memelukmu di ranjang," kilah Rendra, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan seulas senyuman tipis yang dip

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Curiga Pada Orang Terdekat

    Sofia sudah keluar dari ruang kerja Rendra beberapa saat yang lalu. Dan saat ini Rendra tampak berdiri tegak di depan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pelataran istana. Sebelah tangannya terselip dalam ke kantong celana bahan yang ia kenakan.Pandangan matanya menerawang jauh, menembus rimbunnya pepohonan di halaman, namun pikirannya justru tertinggal pada rentetan kalimat tajam yang baru saja dilontarkan Sofia. Dada bidangnya naik turun secara teratur saat ia membuang napas berat. Uucapan Sofia benar-benar mengganggu ketenangannya. Dokumen di atas meja dan tuduhan tentang orang terdekatnya terus berputar, meruntuhkan fokus yang sejak pagi coba ia pertahankan.Rendra masih menatap lurus ke luar jendela saat suara ketukan pelan di pintu memecah lamunannya. Daun pintu bergeser terbuka, dan Evan melangkah masuk dengan dokumen di tangan lalu bergerak mendekat ke arah meja kerja.Evan menghentikan langkahnya beberapa tindak di dekat Rendra. Sebagai ajudan yang sudah berta

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pilihan Untuk Sofia

    Sofia tampak tersentak kaget mendengar ucapan Rendra, sepasang matanya membelalak menatap Rendra tak percaya. Rendra menyandarkan punggungnya, tatapannya berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. "Kamu sama sekali tidak menunjukkan sikap tanggap atau memberikan respons apa pun di saat Evan berulang kali memintamu untuk berkoordinasi menyusun draf klarifikasi terkait kejadian darurat kemarin." Sofia seketika terdiam membisu, mulutnya terkatup rapat tanpa mampu mengeluarkan sanggahan seketika. Rendra menghela napas pendek, nada suaranya melunak namun tetap menyiratkan ketegasan yang mutlak. "Sof, sebagai seorang teman yang sudah lama mengenalmu, aku pribadi sejujurnya sama sekali tidak ingin mengambil tindakan keras seperti ini. Tapi melihat situasi dan profesionalitasmu belakangan ini, aku tidak bisa lagi mempertahankan posisimu sebagai juru bicara kepresidenan." Rendra menjeda kalimatnya sejenak, mengamati perubahan raut wajah Sofia yang mendadak menegang. "Tapi aku tidak aka

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Apa Masih Berkomitmen?

    Sera hanya menatap diam Karina, ia sama sekali tidak berniat untuk memanjangkan obrolan atau berdebat banyak. Sera memaksakan senyum tipis di bibirnya, mencoba bersikap biasa. "Semoga kita bisa menjadi rekan satu tim yang baik selama di stase bedah nanti," ucap Sera dengan nada santai dan datar. Tanpa menunggu balasan dari Karina, Sera segera melangkah pergi. Karina tetap bergeming di tempatnya berdiri, memandangi punggung Sera yang perlahan berjalan menjauh menyusuri selasar. Detik itu juga, senyuman manis di wajah Karina lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan senyuman sinis yang sarat akan kebencian. Sera menyempatkan diri untuk mampir sejenak ke ruang koas sebelum melanjutkan rentetan tugas klinisnya yang menumpuk. Begitu keluar, ia berjalan lambat menyusuri koridor rumah sakit sembari mendekap sebuah map di dada kirinya. Tiba-tiba saja, ponsel di dalam saku jas putihnya bergetar memecah keheningan. Sera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel tersebut. Seulas seny

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Satu Tim

    Rendra mengalihkan pandangannya kembali ke arah layar tablet Evan yang masih menampilkan cuplikan video klarifikasinya. Guratan di dahinya mengeras, memancarkan ketegasan. "Apapun itu," jawab Rendra, suaranya terdengar berat dan dingin. "Yang pasti aku harus bertemu langsung dengan orang itu begitu Naka berhasil memastikan keberadaannya." Evan mengangguk. Ia lalu menggeser layar ponselnya, membaca selembar memo digital yang tadi dikirimkan oleh tim humas kepresidenan. "Jika Anda diundang untuk berdiskusi secara terbuka mengenai masalah mitos kutukan ini dan acaranya ditayangkan secara langsung di televisi, apa Anda bersedia, Pak?" tanya Evan, menatap Rendra dengan pandangan serius. "Sebab, sudah ada salah satu stasiun TV swasta nasional yang mengajukan proposal penawaran resmi sejak sore tadi." Rendra menaikkan sebelah alisnya, melirik Evan sekilas sebelum membetulkan posisi duduknya. "Menurutmu, apa hal semacam itu memang perlu dilakukan sekarang?" tanya Rendra balik. "Aku aka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status