LOGINRendra malah tertawa pelan mendengar ucapan polos bercampur pasrah dari adik iparnya itu. Tawa renyahnya memecah ketegangan yang sempat menyelimuti ruangan, membuat pundak Pak Angga dan Bu Siwi ikut sedikit mengendur. Tangan Rendra kembali menepuk bahu Arkan, kali ini dengan cengkeraman bersahabat."Tenang saja, Arkan," kata Rendra seraya menggelengkan kepalanya geli. "Semua itu tidak akan terjadi. Tidak ada yang akan mengeksekusimu malam ini."Arkan mengembuskan napas panjang yang terdengar jelas, mengusap tengkuknya dengan senyum canggung. Belum sempat Arkan membalas perkataan sang kakak ipar, suara derap langkah kaki dari arah pintu masuk kembali terdengar.Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, menampilkan rombongan keluarga Narrottama. Eyang Utari melangkah di barisan paling depan dengan tongkat kayunya yang berketuk pelan di lantai marmer, didampingi oleh Dewa. Tepat di belakang mereka, Sintia berjalan dengan gaun sutra mewahnya, disusul Ratu yang melangkah santai dengan dagu se
Hari berikutnya, Sera menghabiskan waktu dari pagi sampai sore dengan perasaan gelisah yang terus menggerogoti hatinya. Bahkan saat memeriksa rekam medis pasien di rumah sakit, fokusnya kerap kali buyar. Pikirannya melayang jauh pada acara malam nanti di istana. Ia sama sekali tidak bisa memprediksi kemungkinan buruk apa yang akan meledak di sana.Karena terus dihantui rasa cemas, Sera memutuskan pulang dari RS Narita lebih awal. Begitu kakinya melangkah melewati pintu penghubung ruang makan utama istana, matanya menangkap kesibukan para pelayan. Deretan piring porselen sudah tertata rapi di atas meja, berdampingan dengan set sendok garpu.Seorang pelayan wanita berseragam rapi melangkah mendekat, lalu membungkuk sopan di hadapannya. "Nona Sera, jamuan makan malam untuk nanti hampir siap sepenuhnya."Sera mengangguk pelan seraya menarik sudut bibirnya tipis. "Terima kasih banyak. Kalau begitu, aku mau ke kamar dulu untuk bersiap.""Baik, Nona."Sera melangkah menaiki tangga menuju kam
Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasar
Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,
Sera terdiam menyandarkan kening dan pelipisnya pada kaca jendela mobil yang terasa dingin. Pandangan matanya kosong, terpaku menatap deretan kendaraan dan pepohonan jalan raya yang melintas cepat di luar. Suasana di dalam kabin mobil itu begitu hening dan mencekam. Lana dan Deo yang duduk di kursi depan pun hanya bisa bungkam, tak berani mengeluarkan suara karena memahami kekalutan hati Sera setelah keributan besar di rumah orang tuanya tadi.Sera memejamkan mata sejenak seraya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya masih berdenyut sesak, dan di kepalanya saat ini hanya ada satu keinginan: ia hanya ingin cepat sampai ke istana, bertemu langsung dengan Rendra, dan menenggelamkan tubuhnya memeluk suaminya itu erat-erat.Begitu mobil berbelok melewati gerbang utama dan berhenti sempurna di pelataran istana, Sera menghela napas lega saat ekor matanya menangkap mobil dinas milik Rendra sudah terparkir rapi di depan lobi. Tanpa menunggu Lana turun untuk membukakan pintu penump
Sera tersentak di tempatnya berdiri. Matanya membulat menatap profil wajah Arkan dari samping. Ia benar-benar tidak menyangka adiknya yang tadi siang masih bersikap sedikit kekanak-kanakan di kamar, kini bisa berdiri begitu tegak dan merangkai kata dengan sangat tenang dan dewasa.Keterkejutan Sera kian bertambah saat Arkan melangkah satu jengkal ke depan seraya mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah pintu rumah."Mari masuk ke dalam rumah dulu, Nyonya Sintia. Duduklah di dalam agar kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," ucap Arkan menawarkan tanpa nada menantang.Mendengar ajakan dari anak remaja itu, wajah Sintia justru semakin memerah padam. Wanita itu mendengus sinis seraya melangkah mundur, mengibaskan tangannya dengan gestur menolak mentah-mentah."Tidak sudi!" bentak Sintia seraya menatap sekeliling halaman dengan mata menyalang. "Kamu pikir aku buta?! Kalian semua sengaja berdiri di sini untuk mengeroyokku, kan?! Menantu tidak tahu diri, mantan sopir, dan anak n







