Se connecterSera menelan ludah pelan. Udara di ruang keluarga itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Jari-jemari Sera yang bertaut di atas pangkuan mencengkeram semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menyalurkan rasa kejut yang baru saja menghantam dadanya.Rendra di sebelahnya langsung menggeser posisi duduk. Bahu tegap pria itu menegang. Tatapannya beralih dari Sera menuju wanita paruh baya di seberang meja kaca."Ma," panggil Rendra. Suaranya tidak tinggi, tapi ada penekanan berat di setiap katanya. Matanya menatap lurus ke arah Sintia. "Sera hanya bertanya. Dia khawatir pada Eyang."Sintia perlahan mengangkat dagunya. Tangan kirinya bergerak merapikan lipatan gaun yang ia kenakan dengan gerakan lambat dan teratur, seakan ucapan putranya barusan hanyalah angin lalu."Mama juga hanya menjawab, Ren. Mama bilang Eyang sedang istirahat, dan kedatangannya hanya akan mengganggu. Apa ada yang salah dengan jawaban Mama?"Rendra membuka mulut, bersiap membalas ucapan ibunya, namun Sera
"... Arkan."Kening Sera berkerut dalam. Langkah kakinya otomatis terhenti begitu nama itu tertangkap oleh telinganya. Napasnya tertahan sesaat. Berbagai pertanyaan seketika berjejalan di dalam kepalanya. Kenapa Ratu menyebutkan nama Arkan? Ada hubungan apa sebenarnya mereka berdua sampai Ratu harus menelepon Arkan malam-malam begini?Ujung jemari Sera meremas pelan sisi bajunya. Apakah Arkan yang dimaksud adalah adiknya?Namun, sedetik kemudian Sera menggeleng pelan. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikiran itu. Nama Arkan tidak hanya satu di dunia ini. Pasti ada banyak orang yang bernama Arkan selain adiknya. Tidak mungkin Ratu memiliki urusan dengan adiknya malam-malam begini.Memutuskan untuk tidak mempedulikan pembicaraan itu lebih jauh, Sera memutar tumitnya perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ia bergegas meninggalkan area taman pembatas itu, melangkah masuk kembali ke dalam rumah.Baru beberapa langkah melewati lorong yang terang, Sera melihat Rendra berdiri di ruang depan deng
Malam harinya di Istana Kepresidenan, suasana kamar utama terasa hening sebelum derit pintu memecah kesunyian. Rendra melangkah masuk seraya melonggarkan kancing teratas kemejanya yang mulai kusut setelah seharian berkutat dengan urusan kenegaraan.Melihat Sera yang tengah merapikan beberapa buku kedokteran di atas meja, langkah Rendra memelan. Ia mendekat, lalu mendaratkan pelukan ringan di pundak istrinya dari belakang sembari menyandarkan dagunya sejenak."Sedang apa?" tanya Rendra dengan suara rendah yang terdengar lelah namun tenang. "Bagaimana seharian ini? Apa saja aktivitasmu?"Sera menoleh sedikit, menyunggingkan senyum lembut menyambut kepulangan sang suami. "Tadi pagi aku ke Rumah Sakit Narita. Menjemput Deo karena hari ini dia sudah diperbolehkan pulang."Alis Rendra terangkat sebelah. "Deo sudah pulang?""Iya, lukanya sudah membaik. Malah setelah itu aku, Erika, dan Lana mengantar Deo pulang ke rumahnya," lanjut Sera seraya membalikkan tubuh menghadap Rendra. Jemarinya te
"Masih lajang?" potong Lana pelan, kepalanya tertunduk sedikit dengan raut wajah penuh penyesalan. "Sekali lagi saya minta maaf, Nona Sera. Bukan maksud saya untuk sengaja menyembunyikan hal ini dari Anda."Sera menatap lekat wajah pengawalnya itu, menanti kelanjutan kalimatnya tanpa menyela.Lana mengusap pelan punggung putrinya yang masih bersandar di bahunya. "Saya sama sekali tidak bermaksud menutupi status saya yang seorang janda. Hanya saja, hal seperti ini memang tidak pernah menjadi bahan pembicaraan di kalangan para pengawal Nona. Maka dari itu saya memilih diam. Saya tidak mau membahasnya lebih dulu karena untuk apa juga dibicarakan? Lagipula, status pribadi saya ini sama sekali tidak penting untuk dibahas di lingkungan kerja."Mendengar penjelasan panjang lebar itu, Sera tertegun beberapa detik. Helaan napas pelan lolos dari bibirnya. Sera menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang campur aduk antara tak habis pikir dan geli."Lana, Lana... ka
Tubuh Deo menegang sejenak mendengar pertanyaan Sera. Tangannya yang mengusap kepala anak perempuan berkuncir dua itu membeku di udara. Deo berdeham canggung, mencoba memasang senyum kaku di wajahnya sembari menarik perlahan tubuh mungil itu agar berdiri di sampingnya."Ini... keponakan saya, Nona. Anak sepupu yang kebetulan sedang main ke sini," jawab Deo cepat. Nada bicaranya terdengar terburu-buru, matanya bahkan sempat melirik sekilas ke arah Lana yang masih mematung di dekat mobil.Sera mengerutkan keningnya lebih dalam. Ia melangkah maju satu langkah, menatap gadis kecil itu dengan tatapan meneliti. Wajah anak itu tampak manis dengan mata bulat jernih, namun ada sesuatu pada garis rahang dan bentuk matanya yang terasa tidak asing di mata Sera."Keponakan?" gumam Sera ragu. Matanya menyipit menatap Deo. “Tapi anak ini sepertinya mirip ….”Deo gelagapan. Tenggorokannya tercekat, tangannya yang sehat bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.Sebelum Deo sempat mer
Setelah membersihkan diri dan berpamitan pada Rendra, Sera melangkah keluar kamar. Di pelataran istana, mobil dinas yang akan membawanya sudah terparkir rapi. Lana tampak berdiri tegap di samping pintu penumpang, segera membukakan pintu begitu melihat sang majikan mendekat."Pagi, Nona," sapa Lana sopan seraya menundukkan kepala sedikit."Pagi, Lana," balas Sera dengan senyum simpul yang masih menyisakan sisa-sisa rona hangat di wajahnya. "Kita langsung ke Rumah Sakit Narita, ya.""Baik, Nona."Perjalanan membelah jalanan ibu kota yang mulai ramai berlangsung lancar tanpa hambatan berarti.Setibanya di Rumah Sakit Narita, Sera melangkah santai menyusuri koridor lantai rawat inap. Aroma antiseptik yang khas menyambut indra penciumannya, mengingatkannya pada rutinitas koas yang selama ini dijalaninya.Saat berbelok di persimpangan lorong menuju kamar Deo, sosok Erika sudah terlihat melangkah keluar dari ruangan tersebut. Gadis itu mengenakan blus krem santai dengan rambut dikuncir kuda r







