LOGINhalo apa kabar kleyan 🤗
Rendra memalingkan pandangannya ke arah kaca depan, memutus percakapan tentang bayi itu. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengetuk bahu jok depan tempat Mayor Naka duduk di samping pengemudi."Mayor Naka, berapa lama lagi kita sampai?" tanya Rendra dengan suara beratnya.Naka melirik spion tengah, lalu memutar sedikit badannya. "Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalanan di depan makin menanjak dan berbatu. Lebih baik Anda dan Nona Sera tidur dulu saja untuk menghemat tenaga."Rendra menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya kembali ke jok tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sera. "Tidak, aku mau melihat daerah ini," sahut Rendra datar.Sera yang duduk di sampingnya menatap profil samping wajah suaminya. Garis rahang Rendra tampak tegas dengan tatapan mata yang terus mengawasi hamparan pepohonan liar di luar. Sebuah senyum tipis terukir manis di bibir Sera. Tanpa bersuara, ia perlahan memalingkan kembali wajahnya menatap ke luar jendela, menikmati keheningan di antara me
Ekspresi wajah Sera seketika berubah. Ia menegakkan tubuhnya, menengadah dan menatap dalam manik mata Rendra yang pekat. Ada guratan kelabu yang samar melintas di matanya."Seperti kita, Mas," sahut Sera pelan, suaranya nyaris teredam angin malam. "Tembok di antara mereka terlalu tinggi. Apa Mas Rendra pikir aku tidak takut awalnya?"Rendra diam. Pandangannya memaku lekat pada raut wajah istrinya. Ia bisa merasakan sisa emosi dari perjalanan panjang hubungan mereka yang tidak pernah mudah."Apa aku harus memberi semangat ke Deo?" tanya Rendra, menaikkan sedikit alisnya. "Aku tahu wanita selalu ingin diusahakan. Memang susah kalau dari awal Deo sendiri yang tidak mau bergerak untuk mendapatkan Erika."Sera mendesah kecil, menggeleng pelan. "Deo itu minder, Mas. Dia berpikir tidak pantas berada di sisi Erika hanya karena dia seorang pengawal dan Erika itu tuan putri."Rendra menyunggingkan senyum remeh, sudut bibirnya terangkat tipis. "Deo ternyata mengecilkan dirinya sendiri."Sera men
Sofia tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi antusiasme pria di depannya. "Jangan, Pak Irawan," cegahnya halus. "Nanti kelihatan mencolok sekali. Lagipula, di istana itu masih banyak orang-orang kepercayaan Rendra. Jadi, jangan gegabah." Irawan terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Kamu benar. Kita harus tetap bermain bersih di permukaan." Sofia menyunggingkan senyum penuh arti seraya merapikan tas mewahnya. Ia bangkit dari kursi. "Saya permisi dulu, Pak. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan." "Baik, Sofia. Terima kasih informasinya," jawab Irawan melepas kepergian wanita itu. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan hitam melaju mulus membelah jalanan Jayakarta dan berhenti tepat di halaman Mansion Narrotama. Sofia turun dengan anggun, melangkah menuju pintu utama. Di dalam ruang tengah, Sintia yang sedang merapikan beberapa rangkaian bunga mendongak. Wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar gembira. "Sofia? Ya ampun, sayang!" seru Sintia hangat,
Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan
Di luar pondok, suara tangisan bayi yang kencang dan melengking mendadak memecah heningnya udara hutan.Bara yang berdiri di bawah pengawalan ketat langsung menoleh cepat ke arah pintu pondok. Matanya seketika berkaca-kaca, dadanya naik turun tajam menahan gejolak rasa haru dan gelisah yang membuncah.Di dekatnya, Rendra berdiri tegap dengan kedua tangan tersimpan di dalam saku celana, memandang pimpinan pemberontak itu dengan raut wajah dingin tanpa ekspresi."Apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak memberimu izin melihat anakmu?" cetus Rendra pelan, namun sarat akan penekanan.Bara seketika memutar kepalanya, menatap Rendra dengan pendar mata kaget yang tak tertutupi. "Presiden ternyata memang sangat kejam," desis Bara seraya mengetatkan rahangnya.Rendra terkekeh tipis, menyunggingkan senyum miring yang tajam."Mana yang lebih kejam, aku atau kamu?" tanya Rendra menatap lurus mata Bara. "Bahkan saat anakmu lahir, kamu ditangkap karena menjadi pemberontak. Ideologi apa yang kamu
Rendra langsung menolak senjata di tangannya sedikit melonggar, matanya bergeser cepat menatap ke arah sumber suara. Kedua matanya melebar sewaktu menangkap sosok Sera yang berdiri di dekat ranjang. Napas Rendra tertahan, ada rasa lega yang amat sangat membuncah di dadanya, walau matanya seketika tertuju pada luka dengan bercak darah kering di kening istrinya. Tanpa memberi celah, Naka bergerak amat cepat dari samping. Ia memelintir lengan Bara ke belakang punggung lalu menekan pria itu kasar hingga berlutut menghantam lantai kayu. Naka menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan sindiran. "Ternyata gembong pemberontak yang ditakuti ini bisa dilumpuhkan semudah ini," gumam Naka dingin, makin menekankan lututnya ke punggung Bara. Rendra tidak memedulikan Naka lagi. Ia menurunkan senjatanya begitu saja dan menghambur maju, menarik tubuh Sera ke dalam pelukan yang teramat erat. Rendra membenamkan wajahnya di ceruk leher Sera, bahunya bergetar hebat. Air mata pria itu menetes basah







