Share

Terluka Parah?

last update publish date: 2026-06-02 21:43:16

Suasana riuh di dalam stadion dalam sekejap berubah menjadi jeritan histeris yang memekakkan telinga.

Detik itu juga, insting Rendra bergerak cepat. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, ia langsung menyambar bahu Sera dan menarik tubuh istrinya dengan satu sentakan kuat.

Sera terdorong ke depan hingga tubuhnya membungkuk dalam, sementara Rendra dengan sigap memosisikan tubuh tegapnya di atas Sera, memeluknya erat dan menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng hidup untuk menutu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
siapakah pelakunya?? sungguh jahat syekali dirinya,,
goodnovel comment avatar
Wida
kira2 dalangnya siapa y
goodnovel comment avatar
Eenok Khus
pasti ada yg sngja ya deh mask bgtu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Orang Yang Bisa Dipercaya

    Rendra mengulas senyuman tipis, lalu menaikkan botol bir di tangannya sedikit ke udara. "Aku hanya yakin pada satu hal, Van," sahut Rendra, suaranya terdengar berat dan lambat. Ia menatap pendar lampu mini bar yang memantul di permukaan botol kaca tersebut. "Orang yang sedang dicari Naka di pedalaman Amartapura itu adalah satu-satunya saksi hidup yang tersisa dari generasi masa lalu. Dia tahu rahasia di balik silsilah dan rentetan kematian tidak wajar yang menimpa para pemimpin Iraya." Rendra menghentikan kalimatnya, meneguk kembali minumannya hingga tersisa sepertiga botol. "Jika dia tidak bisa memberi jawaban, maka tidak ada orang lain lagi di dunia ini yang tahu bagaimana cara memutus rantai sial ini." Evan mengangguk-angguk paham, sorot matanya yang tajam tampak meredup, ikut merasakan beban berat yang dipikul oleh pria di sebelahnya. "Saya mengerti, Pak. Keamanan Anda dan Nona Sera memang harus menjadi prioritas di atas segalanya." Evan meneguk birnya agak banyak, membiarka

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Sebotol Bir

    Evan menggelengkan kepala perlahan, kedua tangannya terangkat sedikit di depan dada dengan gestur menolak halus. "Maaf, Pak, saya rasa sebaiknya tidak. Saya khawatir kita malah akan mabuk malam ini, dan semua agenda penting Anda untuk besok pagi bisa menjadi kacau berantakan," ucap Evan, mencoba beralasan seprofesional mungkin demi menjaga kedisiplinan yang selama ini ia agungkan. Mendengar penolakan kaku dari ajudannya, Rendra justru menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang terlihat geli. Ia melangkah santai menuju minibar yang ada di sana dan mengambil minuman dari lemari pendingin. "Kita hanya akan minum bir, Van. Paling-paling kamu hanya akan menjadi lebih sering pergi ke belakang untuk buang air kecil karena efeknya," seloroh Rendra sembari menyodorkan salah satu botol dingin itu ke arah tangan Evan. Evan tertegun sejenak menatap botol di tangan Rendra. Perlahan, seulas senyuman tipis yang jarang terlihat akhirnya terbit juga di wajah kaku pria tegap itu.

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Harus Punya Kehidupan Pribadi

    Evan mengembuskan napas pendek lewat hidung, mencoba bersikap jujur di hadapan pemimpin tertinggi Iraya ini. "Saya merasa Anda seolah-olah sedang menaruh rasa curiga yang sangat besar kepada saya dan Pak Syaki, hanya karena fakta kekerabatan kami," ungkap Evan, mengutarakan isi hatinya yang mengganjal. Mendengar keberanian dari ajudan kepercayaannya itu, Rendra menyunggingkan seulas senyuman miring yang terkesan sangat dingin di sudut bibirnya. Ia tidak mencoba berkelit atau menyembunyikan fakta yang ada. "Aku memang menaruh rasa curiga kepadamu, Van. Aku tidak akan menampik hal itu," aku Rendra jujur dengan nada suara yang teramat tenang namun menusuk. Evan terdiam selama satu detik, rahangnya tampak mengeras di depan kemudi. "Saya bisa membuktikan kepada Anda, bahwa saya sama sekali tidak seperti apa yang dituduhkan oleh pihak luar, Pak. Jika Anda mengizinkan, saya sendiri yang akan bergerak turun ke lapangan untuk menyelidiki seluruh aktivitas internal Pak Syaki demi membuk

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Status Evan

    Sera mengulas senyuman tipis, mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu menjawab dengan nada suara santun. "Mengenai hal itu, Erika sebenarnya termasuk orang yang sedikit tertutup jika sudah menyangkut masalah pribadinya," jawab Sera. Tak ada jawaban. Sera mulai merasa bingung dan serba salah harus merespons bagaimana lagi agar tidak menyinggung keluarga Wakil Presiden. Dengan gerakan sembunyi-sembunyi, jemari lentik Sera bergerak ke samping, lalu menepuk-nepuk pelan paha tegap Rendra beberapa kali. Ia berharap suaminya itu menangkap kode darurat yang dikirimkannya dan segera membantunya mengalihkan pembicaraan ini. Rendra yang sejak tadi diam memperhatikan, mengulum bibirnya kuat-kuat untuk menahan senyuman yang hampir pecah. Ia bisa merasakan dengan jelas ketukan panik dari jemari Sera di pahanya. Tahu betul kalau sang istri saat ini sedang merasa sangat kikuk dan sudah tidak tahu harus berkata apa lagi, Rendra

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Pertanyaan Yang Sulit Dijawab

    Sera mendongak, menatap Raja yang sengaja menggantung lisannya di udara.“Apakah mungkin Anda mengenal gadis bernama Erika? Setahu saya, dia saat ini juga sedang menjalani program koas medis di Rumah Sakit Narita," tanya Raja dengan nada suara yang terdengar cukup penasaran.Sera seketika tersentak kaget mendengar nama sahabat dekatnya mendadak disebut oleh putra Wakil Presiden. Gerakan menyuapnya terhenti di udara. Ia refleks menolehkan kepalanya ke arah Rendra sebentar, dan sepasang suami istri itu saling berpandangan selama satu detik dengan dahi yang sama-sama berkerut heran.Sera kembali menatap Raja, lalu menganggukkan kepala perlahan. "Iya, saya kenal. Erika adalah teman seangkatan saya di kampus dan rekan koas," jawab Sera sopan.Rendra yang duduk di samping Sera langsung menimpali dengan suara beratnya yang tegas, menegaskan posisi kedekatan mereka. "Teman baik malahan. Mereka berdua selalu bersama ke mana-mana, saling menempel seperti lem dan perangko.”Ucapan Rendra membuat

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Isi Pikiran Orang

    Evan sedikit tersedak mendengar perkataan Rendra yang meluncur begitu tiba-tiba. Suara batuk kecilnya memecah ketegangan. Dengan gerakan agak terburu-buru, ia meraih gelasnya dan menenggak air putih di dalamnya hingga tandas untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering.Setelah meletakkan kembali gelasnya ke atas meja, Evan menatap sungkan ke arah Pak Syaki dan Ibu Amina secara bergantian sebelum memberikan jawaban dengan nada suara yang dilingkupi keraguan."Sepertinya, sudah cukup lama, Pak," jawab Evan, memilih kalimat aman.Di dalam benaknya, Evan harus menahan diri dengan sekuat tenaga. Ia tidak mungkin berterus terang mengatakan di hadapan semua orang kalau momen terakhir kali dirinya bertemu dan mengobrol langsung dengan Pak Syaki adalah saat acara prosesi lamaran resmi Raja beberapa waktu lalu. Evan tahu betul situasi sensitif itu, jika ia sampai menyebutkan hal tersebut sekarang, bisa jadi Raja akan langsung merasa tersinggung dan suasana makan malam ini akan menjadi b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status