แชร์

Bab 28 Berteduh

ผู้เขียน: Lukalama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-13 16:32:20

Suara gemuruh petir seolah membelah langit saat Juna menarik tali kekang Apollo menuju sebuah pondok kayu tua.

Pondok itu tampak kokoh meski dimakan usia, tempat para penebang kayu biasanya beristirahat. Setelah memastikan Apollo aman di bawah atap tumpukan kayu, Juna menyambar pergelangan tangan Bella dan membawanya masuk ke dalam pondok.

"Duduk lah di sana," perintah Juna pendek, menunjuk sebuah kursi kecil kayu tua yang tertutup jerami kering.

Bella menurut tanpa bantahan. Giginya bergelatu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 135 Anjing dan Jalang

    Sadewa mencengkeram rahang Beatrice dengan kuat, memaksa wanita itu menatap matanya yang dipenuhi rasa frustrasi dan hasrat gelap untuk berkuasa. "Ayahku mendapatkan apa yang dia mau dari perusahaan ini, Juna mendapatkan warisan, dan sekarang kau ... kau juga ingin mengambil keuntungan dari ayahku? Tidak semudah itu, Jalang." Sadewa yang kehilangan segalanya kini menjelma menjadi sosok yang nekat dan berbahaya. Jika Beatrice menolak atau berteriak, seluruh rencananya di The Raden akan hancur berantakan hari ini juga jika hubungan gelapnya dengan Wisnu terbongkar. Melihat celah kepasrahan di mata Beatrice, Sadewa tersenyum sinis. Sadewa mencengkeram paha Beatrice dengan kasar, menahan pergerakan wanita itu agar tidak bisa melarikan diri dari atas wastafel yang dingin. "Kau mau mengancamku? Aku akan lebih dulu mengancammu," desis Sadewa tepat di depan wajah Beatrice, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya. "Kau pikir ibuku tidak akan tinggal diam dengan mainan murahan s

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 134 Keluar dari Persembunyian

    Suara ketukan pintu yang keras dan tergesa-gesa memecah keheningan di dalam ruang kerja. Wisnu yang baru saja selesai merapikan pakaiannya segera menoleh ke arah pintu dengan dahi berkerut dalam. "Masuk!" seru Wisnu. Pintu terbuka. Sosok Sadewa melangkah masuk ke dalam ruang kerja Wisnu. Namun, langkah pria itu langsung tertahan di ambang pintu. Sepasang matanya membelalak, cukup terkejut melihat seorang wanita asing berdiri begitu dekat di samping ayahnya. Hampir bertahun-tahun ini, Sadewa tidak pernah melihat ayahnya dekat-dekat dengan wanita manapun setelah hubungan dingin orang tuanya membeku. Kenyataan bahwa ada seorang asisten wanita di dalam ruangan pribadi ayahnya disiang hari, memicu alarm kecurigaan di kepalanya. Sadewa menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah Beatrice, mencoba membaca situasi di antara dua orang itu. Sementara itu, Beatrice tersenyum dengan tenang. Melihat kedatangan putranya yang tidak diundang, amarah Wisnu langsung tersulut seketika. Wajah

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 133 Topeng Kepatuhan

    "Ah ... Paman ahh ... terus ... hngh," desah Beatrice tertahan, matanya terpejam erat saat merasakan dominasi Wisnu yang tanpa ampun. Jemarinya mencengkeram tepi meja hitam kokoh itu semakin kuat, mencari tumpuan untuk tubuhnya yang mulai gemetar. Di balik ruangan kerja Wisnu yang terkunci, napas Beatrice semakin memburu, berkejaran dengan detak jantungnya yang berdentum liar. Cengkeraman tangan Wisnu di pinggulnya terasa begitu kokoh, mengunci pergerakannya di atas meja kerja yang dingin. Wisnu sengaja memperdalam tekanan miliknya ke dalam liang intim Beatrice yang sudah amat basah, membuat Beatrice mendesah keenakan lebih keras. "Kau menyukainya, bukan? Ini harga yang setara untuk posisi yang kau inginkan di perusahaan The Raden," bisik Wisnu dengan suara baritonnya yang berat. "Sialan ... milikmu benar-benar brutal, Ahh!" umpat Beatrice pelan di antara napasnya yang tersengal, pinggulnya bergerak mengikuti ritme yang ditentukan oleh Wisnu. "Kendalikan suaramu, Beatrice. A

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 132 Juna Dibuat Terpojok

    Beatrice datang mengenakan pakaian kantor yang sopan, blazer berwarna navy yang pas di tubuh, rambutnya disanggul rapi, dan wajahnya dipoles makeup tipis. Juna dan Ray mematung di tempatnya. Mata mereka menyipit, menatap Beatrice yang kini berdiri tegak di samping kursi Wisnu. "Kenalkan. Beatrice kakak iparmu, dia akan menjadi asisten pribadimu sekaligus penanggung jawab operasional di lapangan untuk proyek ini," ujar Wisnu. Beatrice memberikan senyum tipis yang tampak sopan. Ia membungkuk sedikit ke arah Juna, lalu menyodorkan tangannya dengan percaya diri. "Sebuah kehormatan bisa bekerja sama dengan Anda, Pak Arjuna. Saya harap kehadiran saya bisa membantu meringankan beban kerja Anda yang sangat padat ini." Juna tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Ia menatap Beatrice, lalu beralih menatap Wisnu yang tampak menikmati pemandangan di depannya dengan penuh kemenangan. Juna menyadari sekarang bahwa ini bukan lagi soal bisnis. Ini adalah cara Wisnu untuk menempatkan

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 131 Keterikatan yang Menyesakan

    "Bu," suara Juna memecah kesunyian saat perjalanan menuju gedung kantor. "Sampai kapan Ibu akan membiarkan Wisnu terus-terusan menginjak harga diri kita? Aku lihat dia semakin berani, bersikap seenaknya di depan kakek." Citra Dewi menoleh perlahan ke arah jendela, menatap pemandangan kota yang melintas cepat. "Apa maksudmu, Arjuna?" "Ibu tahu maksudku," Juna mencengkeram kemudi lebih erat. "Hubungan Ibu dan Wisnu ... itu tidak sehat. Mengapa Ibu masih bertahan dengannya? Jika Ibu merasa tertekan, aku sudah ditunjuk sebagai pewaris, aku bisa membantu mengurus semuanya. Kita tidak perlu lagi tunduk pada orang seperti dia." Citra Dewi menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti beban bertahun-tahun yang tertahan. Ia memejamkan mata sejenak sebelum menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Arjuna, hidup Ibu tidak sesederhana itu," ucap Citra Dewi pelan. "Kamu tahu bukan, masa-masa sulit saat perusahaan The Raden yang hampir saja dinyatakan bangkrut? Sa

  • Pelukan Panas Tukang Kebun   Bab 130 Pengorbanan Beatrice

    "Ahhh ... Paman ... lebihhh dalam ... ahh!" rintih Beatrice dengan mata yang terpejam erat, menyerahkan seluruh tubuhnya pada ritme panas yang diciptakan oleh pria paruh baya itu. Mendengar rintihan yang begitu pasrah, Wisnu menggeram rendah. Untuk semakin memperdalam sentuhannya, ia menyusupkan satu tangannya ke bawah lutut Beatrice, lalu mengangkat satu kaki wanita itu tinggi-tinggi hingga bersandar di bahunya. Posisi yang semakin terbuka lebar itu membuat Wisnu leluasa melakukan hentakan yang jauh lebih dalam, menembus langsung ke pusat kehangatan Beatrice yang paling sensitif. "Milikmu sangat menjepit," ucap Wisnu terengah-engah. Hentakan yang semakin dalam dan cepat itu membuat Beatrice memekik keras, tangannya mencakar punggung Wisnu saat sensasi penuh yang mendesak di dalam dirinya membawa mereka berdua semakin dekat menuju puncak pelepasan yang tak tertahankan. Beatrice bisa merasakan otot-otot di lengan Wisnu menegang hebat, bahkan gemetar karena usaha pria itu men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status