Masuk“Aku sungguh tidak paham,” ujar Arnold sambil menatap surat di tangannya, “Kenapa Pak Bambang bersikeras agar aku menyembunyikanmu di perkebunan ini.” Ia duduk di balik meja kerjanya, sorot matanya serius.
Surat yang ditangannya itu berasal dari mantan mandor kepercayaannya—puluhan tahun mengabdi, lalu tiba-tiba memilih pensiun tanpa mengambil pesangon, dengan satu syarat: jabatan kosong itu diberikan kepada seorang pemuda tampan bernama Junaidi. Juna menimbang jawabannya dengan hati-hati. Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya memilih berterus terang. “Ada seseorang… yang ingin menghabisi saya.” Salah satu alis Arnold terangkat. “Seseorang? Musuhmu?” “Teman,” koreksi Juna sambil mengangguk. “Telah terjadi kesalahpahaman dengan sahabat saya. Ia terlalu marah untuk mau mendengar penjelasan saya. Jadi saya pikir, lebih baik menghilang sementara—setahun, mungkin—untuk kebaikan semua pihak.” Arnold terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Well, baiklah, kalau keadaanmu sedang sulit, aku bisa mengerti.” Sebenarnya, ia tidak sepenuhnya menerima alasan Junaidi. Namun fakta bahwa ia tak perlu membayar pesangon Pak Bambang—jumlah yang cukup besar untuk membangun rumah dua lantai—membuat Arnold memilih untuk tidak menggali lebih dalam. Arnold kembali menunduk, matanya menyusuri baris demi baris surat panjang dari Pak Bambang. Hening menggantung di ruang kerjanya, sampai akhirnya Junaidi membuka suara. “Pak Arnold,” ucapnya hati-hati, “Saya tahu putri Anda … tidak menyukai saya sejak hari pertama saya bekerja. Dan dia mengatakan akan menyingkirkan saya.” Arnold mendongak, menatap Junaidi sejenak sebelum menghela napas. “Oh … Bella memang begitu, sejak dulu pekerja keras, tapi juga keras kepala. Sejak remaja sudah terbiasa memerintah dan jarang mau mendengar.” kata Arnold jujur. Junaidi menghela napas pelan. “Saya tidak keberatan dimarahi atau diperlakukan tak adil. Tapi saya perlu kepastian dari Anda.” Ia menatap Arnold lurus. "Kepastian dari saya?" “Iya Pak, saya tak ingin tiba-tiba disingkirkan hanya karena putri anda merengek ingin menyingkirkan saya.” Arnold terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Aku akui, aku terlalu memanjakannya. Bella sering berlaku seenaknya karena tahu ayahnya akan selalu melindungi. Tapi untuk urusan ini, aku sudah berjanji pada Pak Bambang. Bella tidak akan bisa memecatmu.” Tatapan Junaidi sedikit melunak, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum smirk. Namun ia belum selesai. “Kalau begitu, izinkan saya mengajukan satu syarat lagi.” Arnold mengangkat alis. “Katakan.” “Saya tidak butuh gaji dari anda,” ujar Junaidi mantap. “Saya hanya butuh satu hal—keamanan. Rahasia tentang keberadaan saya harus benar-benar aman. Bahkan dari keluarga Pak Arnold sekalipun.” Arnold menatapnya lama, seolah menimbang bobot kata-kata itu. “Termasuk Bella?” tanyanya pelan. “Terutama Bella,” jawab Junaidi tanpa ragu. Arnold menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. “Aku bisa Menjanjikannya. Selama kau bekerja dengan baik di perkebunan ku dan tidak menimbulkan masalah besar yang merugikan.” Junaidi menunduk hormat. “Saya mengerti, Pak. Kalau begitu … apakah putri Anda sudah memiliki calon?” Arnold menatapnya sekilas, seakan menimbang maksud di balik pertanyaan itu. “Calon suami Bella?” Ia menghela napas pelan. “Dia sudah dijodohkan.” Alis Junaidi sedikit terangkat, meski suaranya tetap tenang. “Dengan seseorang di sini?” “Tidak,” jawab Arnold singkat. “Seorang pria pilihanku. Pria itu punya nama besar dan di ibukota. Latar belakangnya jelas, masa depannya juga terjamin.” Junaidi mengangguk pelan, menyembunyikan sesuatu di balik ekspresi datarnya. “Saya mengerti. Kalau begitu, saya permisi.” Ia baru saja melangkah menuju pintu ketika suara Arnold menghentikannya. “Junaidi.” Juna menoleh. “Malam ini, makanlah bersama kami,” ujar Arnold mengajak. “Aku ingin memperkenalkanmu secara resmi sebagai mandor perkebunan. Sekaligus… agar putriku, Bella, bisa lebih menerima kehadiranmu.” Junaidi terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu yang tak terucap. Ia lalu menunduk sopan. “Baik, Pak Arnold. Terima kasih atas undangannya. Saya terima dengan senang hati.” ***** Selesai membuat kesepakatan dengan Arnold, Juna kembali ke tempat istirahatnya—sebuah bangunan kecil yang sengaja dibangun di tengah perkebunan, tak jauh dari lumbung padi. Biasanya tempat itu menjadi basecamp para tukang kebun, tetapi sejak Junaidi bekerja, tak boleh seorang pun diizinkan masuk … kecuali orang tertentu. Langkahnya terhenti begitu melihat sosok pria yang berdiri bersandar di depan pintu. “Ray,” ujar Junaidi datar. “Untuk apa kau kemari?” Pria itu langsung berdiri tegak. “Tuan—” “Ssst!" Junaidi mendekat cepat, sorot matanya mengeras. “Sudah berapa kali kubilang? Jangan pernah memanggilku seperti itu di sini.” Ray tersentak, menelan ludah. “Maaf, tu— eh! Ju–Juna,” ralatnya gugup. Junaidi menghela napas pelan. “Ada apa datang kesini tiba-tiba?” Ray menoleh sekilas ke sekeliling, memastikan tak ada siapa pun yang menguping. “Aku hanya ingin mengantarkan beberapa dokumen,” ucapnya pelan, memperlihatkan sebuah flashdisk. “Cukup,” potong Juna cepat. “Jangan katakan apa-apa lagi. Kita bicarakan di dalam.” Ia segera membuka pintu yang selalu terkunci rapat, lalu memberi isyarat agar Ray masuk. Begitu pintu tertutup kembali, Juna berjongkok di sisi ranjang kayu sederhana. Ia menggeser kasur tipis itu, lalu membuka papan lantai yang tampak biasa saja. Dari balik rongga sempit, ia mengeluarkan sebuah laptop hitam—bersih, benda mewah yang tak seharusnya berada di tempat sesederhana itu. Ray memandang sekeliling ruangan tempat tinggal tuannya. Dinding kayu polos, meja kayu kecil, satu lemari tua. Jauh dari kesan mewah yang selama ini identik dengan kehidupan sang tuan di kota besar. “Anda benar-benar bisa bertahan tinggal dua minggu di tempat reyot begini?” Juna menyeringai. “Tempat tidurnya juga sudah kuganti. Kubuat lebih nyaman. Kalau hujan pun, tak ada bocor sama sekali,” celetuknya santai. “Ya, tapi tetap saja, Anda kan—” “Ssst!” Juna mengangkat tangan. “ Cepat, serahkan flashdisknya.” Ray menurut tanpa banyak bicara. Begitu flashdisk tertancap, layar laptop menyala, menampilkan barisan data—nama perusahaan, alur dana, potongan transaksi, dan catatan rahasia yang sama sekali tak ada hubungannya dengan kehidupan seorang tukang kebun. Waktu berlalu tanpa terasa. Jari-jari Juna bergerak cepat di atas keyboard, sesekali berhenti hanya untuk menajamkan analisis atau menandai bagian tertentu. Akhirnya, Juna menutup laptopnya dengan pelan. Ia mencabut flashdisk, lalu menyerahkannya kembali pada Ray. “Proses ini. Amankan semua salinannya,” ujarnya tegas. “Aku butuh laporan lengkap sebelum akhir minggu.” Ray menerima flashdisk itu dengan kedua tangan. “Baik. Apakah ada instruksi lain?” Juna berdiri, menatap pintu pondok yang tertutup rapat. “Untuk sementara, tidak. Tapi mulai sekarang jangan sering-sering datang ke sini. Hubungi saja aku lewat ponsel,” ujarnya tegas. Ray tampak ragu. “Tapi Anda jarang membawa ponsel, jadi saya—” Tok ... Tok ... Tok ... Suara ketukan pelan di pintu membuat keduanya membeku. Juna langsung mengangkat tangan, memberi isyarat diam pada Ray. Sorot matanya berubah waspada. “Junaidi apa kau ada didalam?” suara seorang perempuan terdengar.Kriettt ... Suara derit engsel pintu kayu yang tua itu memecah kesunyian malam di tengah perkebunan. Dengan hati-hati, Bella mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu, meraba dinding bilik kayu yang kasar untuk mencari saklar lampu gantung. Begitu jarinya menemukan tombol plastik kecil dan menekannya, pijar lampu kuning hangat langsung menerangi seluruh isi ruangan yang sempit itu. Bella mengerjap, lalu terperanjat hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Di sudut ruangan, tepat di atas ranjang kayu kecil berbalut tikar pandan, sosok pria tengah duduk dengan sangat santai. Juna melipat kedua tangannya di dada, mengenakan kaus polos hitam dan celana bahan kasual. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan, tapi sukses membuat perut Bella mendadak mulas. "Sudah puas bermain-main sendiri, istri nakal?" suara bariton Juna mengalun rendah, memecah keheningan malam dengan nada penuh intimidasi terselubung. Bella
"Membangun rumah? Di sini, di desa?" tanya Brenda tak percaya, matanya membelalak lebar. "Bella, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu, seorang direktur perusahaan besar dan istri dari CEO The Raden Group, mau tinggal di desa kecil seperti ini?" "Bella serius, Bu," jawab Bella mantap, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. "Kemarin malam, Uttari menangis sejadi-jadinya. Dia bilang kalau orang tuanya tidak punya waktu untuk mereka. Bella sadar, selama ini kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dunia luar sampai mengabaikan kebahagiaan anak-anak yang sesungguhnya." Arnold terdiam, menatap putrinya dengan pandangan penuh bangga sekaligus haru. Pria paruh baya itu mengelus jenggot tipisnya, lalu tersenyum tipis. "Suamimu, Juna ... apakah dia tahu rencana sebesar ini? Kamu tahu sendiri suamimu itu punya andil besar di perusahaan dan sangat terikat dengan ritme kehidupan dikota besar." Bella mendengus pelan, mengingat perdebatan sengit mereka semalam sebelum ia nekat kab
"Masuki aku, Sayang ... sekarang!" rintih Bella dengan suara serak yang sangat menggoda. Sembari mengucapkan kalimat itu, Bella dengan berani menarik kedua lututnya ke atas, membuka lebar-lebar paha dan liang hangatnya yang masih berkedut sensitif. Juna tidak perlu diminta dua kali. Pria itu menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol akibat gairah yang sudah berada di ubun-ubun. Dengan satu gerakan posesif, Juna memosisikan dirinya di antara kedua paha istrinya, mengarahkan tongkat kebanggaannya yang sudah mengeras maksimal tepat di bibir liang yang menganga pasrah. Jlesss... Tanpa ragu dan dalam satu hentakan yang dalam, Juna langsung memasukkan seluruh miliknya, menghujam hingga ke dasar rahim Bella. Penyusupan yang begitu mendadak dan padat itu seketika menyumbat jalan keluar cairan di dalam sana. Akibatnya, cairan percintaan yang tadinya mengalir deras langsung muncrat ke sekeliling sprei. "AAAHHH!" jerit Bella tertahan, matanya terbelalak sesaat seb
"Apa? Pindah ke desa?!" pekik Juna, nada suaranya meninggi setengah oktaf karena terkejut. Juna yang sedang berbaring sambil santai diatas ranjang, menegakkan duduknya. Ia menatap sang istri seolah Bella baru saja menyarankan mereka untuk pindah ke planet Mars. "Iya. Aku serius," jawab Bella dengan suara mantap, meski sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. "Aku berencana memboyong Danendra dan Uttari tinggal di desa untuk sementara waktu. Kasihan Uttari ...," Juna mendengus tidak percaya, menatap tajam ke arah istrinya. "Desa mana maksudmu, Bella? Wirata? Kamu mau bawa anak-anak ninggalin Arkapa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Perusahaan logistik global sedang ekspansi besar-besaran, posisiku sebagai CEO dan posisimu sebagai Direktur Rantai Pasok dibutuhkan di kantor pusat!" "Kantor pusat, kantor pusat terus!" potong Bella, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut terpancing. Ia bangkit dari tepian ranjang, berdiri tegak menghadapi suaminya. "Asal kamu
Sore mulai bergeser menuju malam ketika mobil yang membawa Bella akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Raden. Rumah besar itu masih sama seperti biasanya. Megah, tenang, dan terlalu luas untuk disebut sekadar rumah. Begitu Bella turun dari mobil, ia langsung menyerahkan tasnya kepada seorang pelayan yang sudah siap siaga menunggu di depan pintu. Ia baru saja melangkah beberapa meter ketika suara tangisan terdengar dari dalam rumah. “Mamaaa!” Dari arah ruang keluarga, seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya dengan rambut ikal yang tergerai berantakan. Rambut itu sangat mirip dengan rambut Bella ketika masih kecil. “Uttari?” Bella langsung berjongkok melebarkan tangan, menyambut pelukan hangat dari anak keduanya itu. Isak tangis kecil langsung meredam begitu wajah basah Uttari menelusup ke ceruk leher sang ibu. "Ada apa, sayang? Kenapa nangis hmm?" tanya Bella lembut, mengusap punggung kecil putrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sempat Uttari menjawab,
Deru halus mesin Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang tujuh paling eksklusif di jantung ibu kota. Seorang petugas valet segera berlari menghampiri dan membukakan pintu, menyambut kedatangan salah satu wanita paling berpengaruh di lingkaran bisnis Jakarta."Selamat datang, nyonya Raden," ucap sopan penuh hormat, seorang petugas."Selamat pagi, Nyonya Besar. Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut Anda kembali di hotel ini," ucap sang General Manager membungkuk hormat, memberikan gestur mempersilakan dengan tangan terbuka.Bella turun dengan gaya anggun. Gaun tweed pastel rancangan Chanel membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara kacamata hitam besar bertabur permata menutupi sebagian wajahnya yang dipoles tanpa cela. Bella mengangguk, senyum penuh wibawa terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto Jimmy Choo berketukan anggun di atas lantai marmer putih bersih, meninggalkan jejak aura kekuasaan yang membuat setiap p
“Juna! Buka pintunya!”DOK! DOK! DOK!Juna dan Ray saling berpandangan tanpa suara, kepanikan jelas terbaca di mata masing-masing. Setiap ketukan Di pintu terdengar seperti hitungan mundur—penanda bahwa waktu mereka kian menipis.“Buat apa dia datang malam-malam begini …,” gumam Juna panik, sambil
Di sebuah pondok kecil di tengah sawah, Juleha dan Arul sedang duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam, tubuh mereka beradu hangat di bawah sinar matahari siang.Tak berselang lama, bibir mereka bertemu dalam ciuman panjang, diselingi desahan yang membuat milik Arul terasa tegang.Aroma
“Tidak bisa! Urusan pemecatan, ayah yang mengatur.” kata Arnold dengan tegas.“Tapi, Ayah—” Bella melangkah maju, menahan emosi."Tidak! Pokoknya tidak boleh!"“Apa Ayah tidak lihat, berapa pohon yang sudah dibuat botak oleh si Junaidi? Cara kerjanya berantakan. Menanam padi saja tidak presisi. Ben
“Astaga, Juna!” suara Bella melengking, memecah sunyi perkebunan. “Kenapa semua dahan kamu potong? Kerjamu itu tinggal memetik jeruknya, bukan membuat pohonnya botak begini!”Pria yang bernama Juna itu berhenti bekerja, menoleh dengan wajah nyaris tanpa rasa bersalah.“Maaf, Bu Bella.”“Nona!” Bell







