เข้าสู่ระบบ“Juna! Buka pintunya!”
DOK! DOK! DOK! Juna dan Ray saling berpandangan tanpa suara, kepanikan jelas terbaca di mata masing-masing. Setiap ketukan Di pintu terdengar seperti hitungan mundur—penanda bahwa waktu mereka kian menipis. “Buat apa dia datang malam-malam begini …,” gumam Juna panik, sambil berbisik. “Siapa wanita itu? Kedengarannya … tidak ramah.” bisik Ray, yang ikut panik. Juna menghela napas singkat. “Dia Bella, putri pemilik tanah ini.” Wajah Ray berubah. “Kalau begitu dia—” “Kamu! Keluar lewat jendela samping sana,” potong Juna cepat, suaranya penuh desakan. “Tapi kalau dia melihat saya keluar bagaimana!” “Justru itu,” sela Juna sambil melangkah ke pintu. “Aku akan membuka pintu ini, dan saat dia masuk. Kau segera bergerak cepat keluar.” Ray mengangguk, setuju dengan rencana tuannya. Dok! Dok! Dok! “Junaidi! Jangan buat aku mendobrak pintu–!” Cekrek! Juna buru-buru membuka pintu, dan langsung menarik pergelangan tangan Bella dan menyeretnya masuk ke dalam pondok. Ray tak membuang waktu. Ia bergerak keluar dari jendela dengan langkah senyap, satu detik terlambat saja bisa menimbulkan masalah baru. “Apa-apaan kau!” pekik Bella, tersentak kaget. Juna menutup pintu dengan satu gerakan cepat. “Diam, jangan berisik.” “Kurang ajar! Lepaskan tanganku!” Bella meronta-ronta, satu lengannya masih di genggam Juna. Juna terkekeh melihat wajah panik Bella. “Beraninya kau menarikku! Benar-benar tidak sopan!” Bella terus mengomel. Juna mengendurkan pegangannya, “Kau tidak seharusnya datang malam-malam kesini. Tempat ini tidak aman.” Kata-kata itu justru membuat Bella curiga, lalu menatap sekeliling pondok yang sempit dan agak lembab. “Tidak aman? Memang kau menyembunyikan apa, hah?" Di luar pondok, terdengar bunyi langkah tergesa—lalu tiba-tiba …. BRUK! “Suara apa itu di depan pintu?” tanya Bella curiga. Tangannya refleks meraih menarik gagang pintu. Namun Juna bergerak lebih cepat. Ia menahan pintu dengan satu telapak tangannya. “Jangan dibuka!” Bella membeku sesaat—lalu kemarahannya kembali meledak. “Minggir, Juna! Siapa kamu berani menahanku disini?!” Bella panik dan marah bercampur, Juna berdiri terlalu dekat dibelakang—kehadirannya terasa mengancam, sekaligus membuatnya sulit bergerak. “Aaaghh—” Suara erangan dari luar–Ray sedang kesakitan akibat jatuh dari tangga. “Ada seseorang di luar sana!” Bella refleks menarik gagang pintu. Juna langsung menahannya. Tanpa sadar, tubuhnya makin merapat, punggung Bella terkurung di antara pintu dan dadanya. “Bukan, i–itu suara kucing hutan.” “Kucing hutan! Jangan bercanda!” Bella mendengus. “Sejak kapan ada kucing hutan masuk ke perkebunan ayahku?” Juna merapat, terlalu dekat untuk sekadar bicara. Bibirnya hampir menyentuh daun telinga Bella saat ia menurunkan suara, hangat dan berbahaya. “Kau tahu daerah ini dekat hutan kecil,” bisiknya pelan. “Tak semua suara bisa dibedakan mana hewan, mana bukan.” Nafasnya sengaja dibiarkan menyentuh kulit Bella. Seketika, bulu kuduk Bella meremang. “Kadang mereka masuk sampai lumbung,” lanjutnya, datar tapi menusuk. “Kalau kau nekat keluar sekarang—dan ternyata yang kau temui bukan kucing … aku tak yakin siapa yang harus bertanggung jawab nantinya.” Bella berbalik, menatap Juna tajam. “Kau mau menakut-nakutiku?” suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia inginkan. Juna tersenyum smirk. Ia pun mencondongkan tubuh, membuat Bella terkurung di antara dada kerasnya dan daun pintu yang dingin. Jaraknya terlalu dekat dan menekan. “Aku hanya memperingatkanmu, Nona,” bisiknya rendah, sengaja menarik kata itu. “Kau tidak ingin pulang dengan cerita diserang binatang liar, bukan?” Ada sesuatu dalam cara Juna memandangnya—liar, gelap, dan berbahaya. Seolah satu langkah lagi, dan batas itu akan benar-benar dilanggar. Tangan Juna terangkat, berhenti hanya sejengkal dari bahu Bella. Cukup dekat untuk menyentuh. Cukup dekat untuk menyerang. Untuk sesaat, Bella hampir lupa bernapas. Ia membenci dirinya sendiri karena menyadari—pria ini terlalu tampan untuk situasi yang seharusnya menakutkan. Detik itu terasa salah. Sangat salah. Juna pun tersadar. Ia menarik tubuhnya mundur selangkah, seolah baru saja melewati garis yang tak boleh disentuh. Rahangnya mengeras, matanya kembali dingin dan terkendali. Bella menelan ludah, menepis kabut di kepalanya. Ia memalingkan wajah, jemarinya refleks menyibak rambut yang jatuh ke pipi. Merah di wajahnya menjalar hingga ke telinga. “A–ayahku menyuruhku menjemputmu untuk makan malam,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Juna mengangguk pelan, seakan ketegangan barusan tak pernah terjadi. “Pak Arnold terlalu baik, padahal aku masih bisa menyusul sendiri.” katanya datar. “Dia tidak suka menunggu,” sahut Bella cepat. “Dan… dia ingin kau datang tepat waktu.” “Sifatnya sama sepertimu, kalau begitu, aku tak punya alasan menolak.” Ia meraih jaketnya, memberi jarak yang kini terasa aman—meski sisa-sisa panas masih menggantung di udara. “Mari.” Juna membuka pintu dan mempersilahkan Bella keluar dari kabin terlebih dahulu. Mereka melangkah keluar pondok bersama. Bulan makin bersinar, membentangkan cahaya keemasan di atas perkebunan. Bella berjalan setengah langkah di depan, berusaha memusatkan perhatian pada jalan setapak di hadapannya. Sementara itu Juna mengikutinya dari belakang, pandangannya tak lepas dari punggung Bella—tatapannya tajam, menyembunyikan sejuta makna yang sulit diartikan. ****** Arnold tersenyum lebar begitu melihat kedatangan Juna dan Bella. “Nah, ini dia tamu yang kita tunggu. Ayo, duduklah. Anggap saja rumah sendiri.” katanya sambil menepuk bahu Juna. “Terima kasih, Pak,” jawab Juna sopan, sedikit menunduk. Brenda ikut menyela dengan senyum hangat. “Makanlah yang banyak, jangan sungkan kalau ingin tambah,” ujarnya, disertai tawa kecil yang membuat suasana meja makan terasa lebih akrab. “Wah … rasanya saya ini orang paling beruntung di desa ini,” Juna melihat banyak makanan ala barat yang tersaji. "Ck!" Bella berdecih pelan, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan rasa tak sukanya. Bibirnya mengerut, matanya melirik Juna sekilas sebelum berpaling, seolah kehadiran pria itu saja sudah cukup mengusik selera makannya. Menangkap dengusan halus itu, Juna justru tersenyum—tenang, nyaris menyebalkan. Ia menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Bella, sengaja memilih jarak yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan. “Sepertinya aku duduk di tempat terlarang,” katanya santai sambil melirik Bella dari samping. Bella menoleh tajam. “Kalau begitu, pindah saja,” balasnya singkat. Juna terkekeh pelan, sama sekali tak tampak tersinggung. “Sayang sekali, aku sempat berpikir, makan malam akan terasa jauh lebih nikmat bila ditemani wanita sejujur Nona Bella.” Arnold tertawa kecil, menganggapnya sekadar basa-basi ramah antar anak muda. Brenda ikut tersenyum, jelas menyukai suasana akrab itu. Bella justru menegakkan punggung, rahangnya mengeras, menahan kesal. "Aku selalu menghargai kejujuran. Bahkan yang disampaikan lewat decihan." lanjut Juna, menurunkan suaranya sedikit— agar hanya Bella yang bisa mendengarnya. Bella terdiam sesaat. Lalu ia berdecih lagi, seolah melontarkan sumpah serapah dalam hati—meyakinkan dirinya bahwa acara makan malam ini, akan menjadi pengalaman terburuk sepanjang hidupnya.Kriettt ... Suara derit engsel pintu kayu yang tua itu memecah kesunyian malam di tengah perkebunan. Dengan hati-hati, Bella mendorong daun pintu yang tidak terkunci itu, meraba dinding bilik kayu yang kasar untuk mencari saklar lampu gantung. Begitu jarinya menemukan tombol plastik kecil dan menekannya, pijar lampu kuning hangat langsung menerangi seluruh isi ruangan yang sempit itu. Bella mengerjap, lalu terperanjat hebat hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya nyaris copot dari tempatnya. Di sudut ruangan, tepat di atas ranjang kayu kecil berbalut tikar pandan, sosok pria tengah duduk dengan sangat santai. Juna melipat kedua tangannya di dada, mengenakan kaus polos hitam dan celana bahan kasual. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang luar biasa menyebalkan, tapi sukses membuat perut Bella mendadak mulas. "Sudah puas bermain-main sendiri, istri nakal?" suara bariton Juna mengalun rendah, memecah keheningan malam dengan nada penuh intimidasi terselubung. Bella
"Membangun rumah? Di sini, di desa?" tanya Brenda tak percaya, matanya membelalak lebar. "Bella, kamu tidak sedang bercanda, kan? Kamu, seorang direktur perusahaan besar dan istri dari CEO The Raden Group, mau tinggal di desa kecil seperti ini?" "Bella serius, Bu," jawab Bella mantap, sorot matanya menyiratkan ketulusan yang mendalam. "Kemarin malam, Uttari menangis sejadi-jadinya. Dia bilang kalau orang tuanya tidak punya waktu untuk mereka. Bella sadar, selama ini kita terlalu sibuk mengejar kesempurnaan dunia luar sampai mengabaikan kebahagiaan anak-anak yang sesungguhnya." Arnold terdiam, menatap putrinya dengan pandangan penuh bangga sekaligus haru. Pria paruh baya itu mengelus jenggot tipisnya, lalu tersenyum tipis. "Suamimu, Juna ... apakah dia tahu rencana sebesar ini? Kamu tahu sendiri suamimu itu punya andil besar di perusahaan dan sangat terikat dengan ritme kehidupan dikota besar." Bella mendengus pelan, mengingat perdebatan sengit mereka semalam sebelum ia nekat kab
"Masuki aku, Sayang ... sekarang!" rintih Bella dengan suara serak yang sangat menggoda. Sembari mengucapkan kalimat itu, Bella dengan berani menarik kedua lututnya ke atas, membuka lebar-lebar paha dan liang hangatnya yang masih berkedut sensitif. Juna tidak perlu diminta dua kali. Pria itu menegang sempurna, urat-urat di leher dan lengannya menonjol akibat gairah yang sudah berada di ubun-ubun. Dengan satu gerakan posesif, Juna memosisikan dirinya di antara kedua paha istrinya, mengarahkan tongkat kebanggaannya yang sudah mengeras maksimal tepat di bibir liang yang menganga pasrah. Jlesss... Tanpa ragu dan dalam satu hentakan yang dalam, Juna langsung memasukkan seluruh miliknya, menghujam hingga ke dasar rahim Bella. Penyusupan yang begitu mendadak dan padat itu seketika menyumbat jalan keluar cairan di dalam sana. Akibatnya, cairan percintaan yang tadinya mengalir deras langsung muncrat ke sekeliling sprei. "AAAHHH!" jerit Bella tertahan, matanya terbelalak sesaat seb
"Apa? Pindah ke desa?!" pekik Juna, nada suaranya meninggi setengah oktaf karena terkejut. Juna yang sedang berbaring sambil santai diatas ranjang, menegakkan duduknya. Ia menatap sang istri seolah Bella baru saja menyarankan mereka untuk pindah ke planet Mars. "Iya. Aku serius," jawab Bella dengan suara mantap, meski sorot matanya menyiratkan beban pikiran yang berat. "Aku berencana memboyong Danendra dan Uttari tinggal di desa untuk sementara waktu. Kasihan Uttari ...," Juna mendengus tidak percaya, menatap tajam ke arah istrinya. "Desa mana maksudmu, Bella? Wirata? Kamu mau bawa anak-anak ninggalin Arkapa? Kamu sadar nggak apa yang kamu omongin? Perusahaan logistik global sedang ekspansi besar-besaran, posisiku sebagai CEO dan posisimu sebagai Direktur Rantai Pasok dibutuhkan di kantor pusat!" "Kantor pusat, kantor pusat terus!" potong Bella, emosinya yang sejak tadi ditahan akhirnya ikut terpancing. Ia bangkit dari tepian ranjang, berdiri tegak menghadapi suaminya. "Asal kamu
Sore mulai bergeser menuju malam ketika mobil yang membawa Bella akhirnya memasuki halaman kediaman keluarga Raden. Rumah besar itu masih sama seperti biasanya. Megah, tenang, dan terlalu luas untuk disebut sekadar rumah. Begitu Bella turun dari mobil, ia langsung menyerahkan tasnya kepada seorang pelayan yang sudah siap siaga menunggu di depan pintu. Ia baru saja melangkah beberapa meter ketika suara tangisan terdengar dari dalam rumah. “Mamaaa!” Dari arah ruang keluarga, seorang anak perempuan kecil berlari ke arahnya dengan rambut ikal yang tergerai berantakan. Rambut itu sangat mirip dengan rambut Bella ketika masih kecil. “Uttari?” Bella langsung berjongkok melebarkan tangan, menyambut pelukan hangat dari anak keduanya itu. Isak tangis kecil langsung meredam begitu wajah basah Uttari menelusup ke ceruk leher sang ibu. "Ada apa, sayang? Kenapa nangis hmm?" tanya Bella lembut, mengusap punggung kecil putrinya dengan penuh kasih sayang. Belum sempat Uttari menjawab,
Deru halus mesin Rolls-Royce Phantom hitam berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang tujuh paling eksklusif di jantung ibu kota. Seorang petugas valet segera berlari menghampiri dan membukakan pintu, menyambut kedatangan salah satu wanita paling berpengaruh di lingkaran bisnis Jakarta."Selamat datang, nyonya Raden," ucap sopan penuh hormat, seorang petugas."Selamat pagi, Nyonya Besar. Suatu kehormatan besar bagi kami dapat menyambut Anda kembali di hotel ini," ucap sang General Manager membungkuk hormat, memberikan gestur mempersilakan dengan tangan terbuka.Bella turun dengan gaya anggun. Gaun tweed pastel rancangan Chanel membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara kacamata hitam besar bertabur permata menutupi sebagian wajahnya yang dipoles tanpa cela. Bella mengangguk, senyum penuh wibawa terukir di bibirnya. Langkah kakinya yang mengenakan stiletto Jimmy Choo berketukan anggun di atas lantai marmer putih bersih, meninggalkan jejak aura kekuasaan yang membuat setiap p
Setan apa yang membuatku mengatakan itu?Junaidi mengumpat dalam hati.Ia hanya ingin melihat pipi Bella memerah—sekilas saja, tanda bahwa gadis itu tak selalu sedingin nada bicaranya. Sialnya, yang ia dapat justru tatapan melotot penuh amarah.Bella pantas marah. Pria macam apa yang berani melonta
"Ya Tuhan, apakah kau pernah melihat pria setampan dan segagah itu?”Bisikan kagum itu mengalir dari bibir ke bibir beberapa gadis, janda, dan emak-emak desa yang berkumpul di tepi lahan perkebunan Hartman.Berbondong-bondong mereka membawa rantang dan air minum, mata mereka tak lepas dari seorang
“Aku sungguh tidak paham,” ujar Arnold sambil menatap surat di tangannya, “Kenapa Pak Bambang bersikeras agar aku menyembunyikanmu di perkebunan ini.” Ia duduk di balik meja kerjanya, sorot matanya serius.Surat yang ditangannya itu berasal dari mantan mandor kepercayaannya—puluhan tahun mengabdi,
Di sebuah pondok kecil di tengah sawah, Juleha dan Arul sedang duduk berdekatan. Tangan mereka saling menggenggam, tubuh mereka beradu hangat di bawah sinar matahari siang.Tak berselang lama, bibir mereka bertemu dalam ciuman panjang, diselingi desahan yang membuat milik Arul terasa tegang.Aroma







