Share

Pelukan Sang Majikan di Malam Hari
Pelukan Sang Majikan di Malam Hari
Author: Rosa Uchiyamana

1. Malam yang Panjang

last update Last Updated: 2025-10-06 11:20:56

Sera benci bagaimana tubuhnya berkhianat. Tubuhnya menikmati setiap hentakan pria yang seharusnya dia jauhi. Namun di balik desahan yang lolos, hatinya terasa hancur. Karena Sera tahu, setelah semuanya usai, hanya amplop berisi uang yang akan menunggu di meja.

Di luar, hujan turun dengan deras. Suara gemericiknya mampu meredam desahan dan geraman rendah yang saling bersahutan di dalam kamar mewah itu.

Kamar yang telah menjadi saksi bisu bagaimana luka dan gairah bertemu dalam tubuh seorang wanita yang dipaksa tunduk pada takdir.

“Kenapa melamun?”

Suara berat itu terdengar di sela-sela napas yang memburu, seiringan dengan gerakan Raven yang tiba-tiba terhenti, yang mampu mengeluarkan Sera dari lamunan singkatnya.

Satu tangan lebar Raven bergerak menyentuh dagu Sera hingga mata mereka saling bersitatap. Sementara satu tangannya yang lain masih mengunci kedua pergelangan tangan Sera di atas kepala.

“Saat saya menyentuhmu, kamu hanya boleh memikirkan saya. Mengerti?”

Suara Raven terdengar berat dan serak, tapi juga lembut dalam waktu bersamaan.

Sera hanya mengangguk singkat sebagai tanggapan darinya.

Ada getir yang menyesakkan dada ketika Sera merasakan dirinya didesak kembali begitu kuat dan liar. Batinnya berteriak, ingin memberontak. Namun lagi-lagi tubuhnya berkata lain, dia merespons setiap sentuhan liar pria itu yang seolah tak ingin berhenti mencari-cari kenikmatan untuk mereka berdua.

Ketika Raven membebaskan kedua pergelangan tangan Sera dari genggamannya, Sera mencengkeram bahu kekar Raven sebagai pelampiasan emosinya yang campur aduk. Gairah, rasa bersalah dan jijik pada diri sendiri bergumul di dalam dada.

Napas Sera tertahan saat Raven menunduk dan mempertemukan bibir mereka. Sera merasakan sesuatu yang lembab dan dingin kini melumat bibirnya dengan rakus.

Semakin hari, Sera semakin terbiasa dengan aroma mint dan aftershave yang menguar dari pria itu ketika wajah mereka tak berjarak seperti ini. Bahkan, aroma ini menjadi candu baginya.

Raven baru melepas tautan bibir mereka ketika napas keduanya nyaris habis. Kamar yang luas itu terasa seakan menyempit dan panas. Peluh membanjiri tubuh mereka. Sekuat apapun Sera menahan diri untuk tidak mendesah, tapi pada akhirnya dia gagal menahannya ketika Raven menggerakkan dirinya semakin liar.

Netra keduanya bertemu di tengah napas yang memburu. Ada getar di dalam dada ketika Raven menatap Sera dengan tatapan lembut dan dalam.

Tatapan itu… hanya akan Raven berikan padanya ketika mereka berada di atas ranjang. Sera tahu, setelah semuanya selesai, Raven akan kembali menatapnya dengan dingin dan tajam, seolah-olah Sera adalah makhluk paling menjijikkan di muka bumi.

Sera memejamkan mata, berusaha menghindari tatapan pria itu. Dia tidak ingin jatuh lebih dalam kepada pesonanya. Tidak. Sera tidak boleh memiliki perasaan terkutuk itu pada majikannya sendiri. Dia tidak pantas. Sera sadar diri, bagi Raven dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini sekaligus pemuas hasratnya.

Ya, hanya itu. Tidak lebih.

Hubungan mereka di atas ranjang ini hanya sekadar transaksi. Sera membutuhkan uang. Dan Raven butuh pelampiasan hasratnya. Seharusnya Sera tidak terbawa perasaan.

Meski sejak awal Sera sudah berusaha membentengi diri, tapi pertahanannya perlahan runtuh setiap kali Raven memperlakukannya dengan lembut.

“Buka matamu,” bisik Raven seraya mengelus pipi halus Sera yang seputih susu. “Jangan mengabaikan saya seperti ini. Saya tidak suka.”

Lembut, tapi penuh intimidasi. Suara Raven berhasil membuat mata Sera kembali terbuka hingga tatapan mereka bertemu. Ada gairah yang membara dalam sorot mata keduanya.

Tak ingin terlalu lama menatap mata Raven yang membius dan memabukkan itu, Sera lantas menarik wajah pria itu dan mempertemukan bibir mereka kembali. Hingga keduanya larut dalam ciuman panas dan gerakan tubuh yang semakin liar dan membakar gairah. 

Sera sadar, apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah kesalahan dan dosa. Namun terkadang hidup ini tidak adil bagi manusia seperti dirinya. Sera membenci jalan hidup yang dia jalani ini. Namun Sera tidak punya pilihan lain.

Sera teringat kejadian tiga bulan lalu. Saat itu ayah kandungnya dengan tega menjual dirinya kepada seorang mucikari. Ayahnya yang seorang penjudi dengan hutang di mana-mana itu menjual Sera seharga 20 juta. Sera yang polos tidak sadar bahwa dirinya sudah dijual saat itu.

Hingga malam itu Sera berakhir di kamar hotel bersama Raven yang menyewanya dari mucikari itu.

Akibat pengaruh obat yang dicampurkan ke dalam minuman Sera, Sera terjebak di bawah kuasa Raven. Perlawanan yang Sera layangkan terasa sia-sia saat tubuhnya yang panas merespons berlebihan pada setiap sentuhan Raven. Dengan tak berdaya, kesuciannya akhirnya direnggut oleh pria penuh kuasa itu. Hati Sera hancur setelah tahu ayahnya menjualnya.

Satu minggu setelah malam menyakitkan itu, Sera ikut Bu Ratna–tetangganya, bekerja menjadi Asisten Rumah Tangga di rumah keluarga konglomerat. Namun siapa sangka, pemilik rumah itu ternyata Raven Lucien Maheswara. Pria yang menghabiskan malam dengannya kala itu.

Awalnya Sera berniat mengundurkan diri hari itu juga, tapi Raven menahannya. Entah karena alasan apa, Raven malah mengancam bahwa Sera tidak akan diterima kerja dimanapun jika mengundurkan diri dari rumah ini.

Karena membutuhkan uang untuk biaya hidup, membayar hutang-hutang ayahnya dan pengobatan adiknya yang sakit gagal ginjal, Sera pun terpaksa melanjutkan kerjanya di rumah Raven meski dia enggan berhadapan dengan pria yang telah merenggut kesuciannya.

Lalu suatu hari, Raven menawarkan sebuah kesepakatan kepada Sera. Dia meminta Sera menjadi pemuas hawa nafsunya. Sebagai imbalan, Raven akan melunasi seluruh hutang ayahnya dan menjamin biaya pengobatan adiknya.

Sera yang masih memiliki harga diri menolak mentah-mentah permintaan gila itu. Apalagi Raven telah beristri. Namun lagi-lagi Sera harus tunduk pada takdir yang mempermainkannya. Hingga akhirnya dia terpaksa menerima tawaran Raven karena terdesak keadaan. Dia tidak punya pilihan lain.

Dan tiga bulan telah berlalu. Selama itu Sera menjalankan ke dua perannya di rumah ini, menjadi pembantu yang “bersih” di siang hari, dan menjadi pemuas hawa nafsu sang majikan di malam hari. Setiap hari, dia selalu dirundung perasaan bersalah setiap kali berhadapan dengan istri Raven.

“Panggil nama saya,” bisik Raven dengan napas tersengal tanpa menghentikan gerakannya. Dia seakan tahu bahwa wanita yang berada di bawahnya akan sampai ke puncaknya.

Sera menggigit bibir bawah, berusaha untuk tidak menuruti permintaan lelaki itu. Sera tak pantas menyebut namanya.

Namun, gelombang kenikmatan yang menghantam dirinya, membuat akal sehat Sera tenggelam begitu saja. Pada akhirnya bibir Sera meloloskan nama Raven, hingga Sera melihat pria itu menyunggingkan senyuman samarnya. Seakan puas dengan apa yang dia dengar.

Tak lama, Raven menyusul. Dia meledakkan gairahnya di dalam diri Sera. Setelah semuanya usai, Raven menarik dirinya dan merebahkan tubuh di samping wanita itu.

“Keluar dari kamar ini secepatnya, sebelum istri saya datang,” tukas Raven dengan suara yang mendadak berubah dingin.

Sera sempat tertegun, lalu menjawab pelan, “Baik.”

Sera turun dari ranjang dan mengenakan pakaiannya kembali dengan tangan gemetar dan dada sesak. Meski tubuhnya terasa lelah dan kakinya tremor, dia tidak punya hak untuk beristirahat barang sebentar saja di atas ranjang milik majikannya itu. Tugasnya sudah selesai malam ini.

Ketika semuanya berakhir, Raven kembali menjadi sosok yang dingin dan tak berperasaan. Pria itu duduk dan menyelimuti setengah tubuhnya dengan selimut.

“Jangan lupa minum obatnya. Saya tidak mau kamu hamil,” tambah Raven lagi. Ekor matanya yang tajam sempat menatap Sera sesaat.

“Bapak jangan khawatir. Saya tidak akan pernah lupa, karena saya juga tidak ingin ada anak hasil dari hubungan ini,” timpal Sera dengan tatapan datar, dia sudah selesai mengenakan seluruh pakaiannya.

Raven tidak memberi tanggapan apapun lagi. Dia menarik salah satu laci nakas di sampingnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari sana.

Tanpa perasaan, dia setengah melemparkan amplop berisi uang itu ke meja nakas, tepat di hadapan Sera. “Ambil ini. Dan jangan berpikir kamu bisa lebih dari sekadar pemuas hasrat saya.”

Sera tercenung, matanya menatap amplop itu dengan getir. Dia merasa harga dirinya kembali ditukar dengan uang.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
~kho~
wow... pen geplak pala si Raven boleh gak sih?
goodnovel comment avatar
NING
Thor. Aku mampir nih. Dah kangen dengan karya2mu. Makasih dah up cerita baru.
goodnovel comment avatar
Siti Nur janah
dah lama banget aku ga baca gn...tapi pas lihat sinopsis cerita kak Uchi yg baru.... langsung cus balik lagi baca gn
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   146. Sisa-Sisa Tadi Malam

    Kamar itu luas dan sunyi. Tetapi kini udara di dalamnya terasa memanas, sesak oleh gairah yang tak terucap.“Aaahhh… Pak Raven….”Sera semakin tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mendesah.Tubuhnya bergetar saat dia merasakan sesuatu yang lembab dan dingin menyapu miliknya di bawah sana, bergerak memutar dengan rakus.Jari-jari lentik Sera terselip di sela-sela rambut Raven, menjambak rambutnya untuk melampiaskan perasaannya di sana.Dia menekan kepala pria itu seolah ingin Raven menguasainya lebih dalam. Kini, lidah itu melesak, lebih dalam dan lebih menggoda.Sera merasakan seluruh tubuhnya lumpuh. Tumit-tumit kakinya bergerak menendang sprei seolah hanya itu satu-satunya cara untuk melampiaskan kenikmatannya.“Pak Raven….”Nama itu terus keluar dari mulut Sera, merdu dan menggoda, terasa seperti cambuk yang membuat Raven semakin terpacu.Hingga beberapa detik berikutnya, rintihan Sera terdengar di kamar itu bersamaan dengan sesuatu yang meledak di dalam dirinya. Dia merasa tak me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   145. Cara Lain

    Raven menerima satu setel pakaian wanita lengkap, dari David. Tadi Raven memang sempat menyuruh sekretarisnya itu agar membeli pakaian wanita.Raven juga mendapat laporan dari David mengenai pria yang memberi minuman pada Sera di club malam itu.Menurut penyelidikan David, pria itu tidak memiliki motif khusus. Dia hanya tertarik pada Sera. Dan itu membuat amarah Raven semakin besar.“Beri dia pelajaran,” titah Raven, tegas. “Dan buat dia menyesal.”David mengangguk. “Baik,” jawabnya patuh.Raven menutup pintu. Dia kembali ke dalam sambil menenteng paper bag berisi pakaian untuk Sera. Lalu menghampiri kamar yang ditempati wanita itu.Kemungkinan Sera sudah terlelap saat ini, tapi Raven akan tetap meletakkan pakaian itu di dalam. Supaya ketika Sera bangun besok pagi, wanita itu bisa langsung mengenakannya.Raven mendorong pintu hingga terbuka lebar.Seketika itu juga, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Sera berbaring di lantai tanpa sehelai benang pun.“Apa yang

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   144. Menghilangkan Penderitaan Sera

    Sera berusaha bersabar dengan kondisi tubuhnya. Namun, detik demi detik yang berlalu terasa bagai siksaan baginya.Dia bergerak-gerak, mencari posisi duduk yang nyaman. Tetapi dia tidak menemukan kenyamanan dalam posisi apapun.Belum pernah dia merasakan kegelisahan hebat sampai seperti ini.“Tolong,” lirih Sera lagi, berharap pria di sampingnya dapat mengeluarkannya dari penderitaan. “Ini… benar-benar menyiksa.”Raven mencengkeram kemudi dengan erat. Dia tidak ingin melihat Sera menderita lebih lama lagi.Akhirnya, Raven membelokkan kendaraannya ke hotel terdekat. Dia mereservasi sebuah kamar tipe presidential suite. Lalu membawa Sera ke ruangan tersebut.Di dalam lift yang hanya ditumpangi mereka berdua, Raven berdiri tegak dengan raut muka mengeras. Tapi sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.Sementara itu, Sera semakin kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia terlihat lemas seperti kehilangan tenaga. Napasnya pendek dan tidak teratur.Jemari Sera mencengkeram kemeja Raven, seolah me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   143. Tersiksa

    “Wanita lain?” Raven mengerutkan keningnya. Lalu dia teringat dengan wanita yang disewanya tadi. “Kamu melihatnya?”“Bapak pikir saya tidak melihatnya?” tanya Sera seraya menatap Raven dengan tatapan kecewa.Sera hendak pergi. Tapi Raven tiba-tiba menarik Sera ke dalam pelukannya, membuat Sera terhenyak.Begitu lengan Raven melingkar di tubuhnya, reaksi tubuh Sera terasa terlalu aneh.Tubuh Sera bergetar, karena sentuhan Raven bagai aliran listrik yang melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya. Napas Sera kian memburu. Detak jantungnya semakin tak karuan.“Wanita itu bukan siapa-siapa,” ucap Raven dengan suara rendah. Dia merasa ingin menjelaskan hal itu pada Sera, agar tidak salah paham.“Saya membayarnya untuk membuat saya lupa padamu,” lanjut Raven, “tapi wanita itu gagal melakukannya. Saya tetap… merindukanmu. Dan malam ini saya berencana pulang ke rumah untuk menemuimu.”Sera seketika tertegun mendengarnya. Dia tahu, Raven bukan tipe pria yang akan mengatakan kalimat omong kosong.Dan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   142. Reaksi Tubuh yang Berlebihan

    Raven mengembuskan napas kasar. Mungkin itu hanya mirip dengan suara Sera saja, pikirnya.Akhirnya Raven melanjutkan langkahnya lagi, berusaha untuk tidak peduli.“Aku bilang jangan menyentuhku! Lepaskan!” seru wanita itu lagi, yang membuat langkah kaki Raven kembali terhenti.Raven menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.Seketika itu juga mata Raven melebar ketika melihat seorang wanita yang sedang digoda oleh seorang pria.Sera.Ya, Raven yakin sekali wanita itu adalah Sera.Tapi kenapa wanita itu ada di tempat seperti ini?Di sana, Sera sedang memberontak, berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram pria itu.Namun pria itu langsung memenjarakan Sera di dinding dan nyaris menciumnya. Sera dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, menghindari sentuhan itu. Pemandangan itu membuat darah di kepala Raven terasa mendidih. Rahangnya seketika berubah mengeras dengan sorot mata yang tajam dan berbahaya.“Mundur,” perintah Raven dengan suara rendah dan dingin, yang membuat Sera da

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   141. Minuman Penghilang Rasa Sakit

    Siapa wanita itu?Kenapa dia terlihat berani menggoda Raven?Bahkan, Raven pun tidak mengusirnya. Pria itu hanya diam seolah mengizinkan wanita cantik itu menggoda dirinya.Jari-jari tangan Sera perlahan mengepal.Jadi, Raven tidak pulang ke kediamannya tiga hari terakhir ini karena lebih senang menghabiskan waktu di club malam, bersama wanita lain?Sera tersenyum getir.Miris memang. Sera merasa cemburu padahal hubungan dirinya dengan Raven pun adalah sebuah kesalahan yang amat besar dan kotor.Akhirnya Sera berbalik badan, menyeret langkahnya keluar dari ruangan itu.Dia terus mengingatkan diri sendiri, bahwa dirinya tidak berhak cemburu pada wanita itu.Sera bukan siapa-siapa bagi Raven. Yang patut cemburu dan marah sebenarnya adalah Celine.Namun, tetap saja Sera tidak bisa membohongi hatinya sendiri.Sera berhenti melangkah di ruangan yang ramai dengan musik menghentak-hentak. Ekspresi wajahnya tampak sendu.“Sepertinya lagi nggak baik-baik aja?”Sera tersentak ketika seorang pri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status