Share

2. Daya Tarik Baru

last update Last Updated: 2025-10-06 11:21:01

Sera keluar dari rumah Raven dengan perasaan campur aduk dan tubuh lelah. Amplop berisi uang pemberian Raven dia sembunyikan di dalam saku cardigan. Ya, dia mengesampingkan harga dirinya, karena kenyataannya dia memang membutuhkan uang itu.

Hujan masih turun dengan deras. Sera merapatkan cardigannya dan berdiri cukup lama di beranda samping.

Kamar ART ada di bagian belakang, terpisah dari rumah mewah ini. Setidaknya tubuh Sera akan basah kuyup ketika menyeberangi taman menuju kamarnya.

Sebenarnya di dalam ada payung, tapi Sera terlalu enggan kembali ke dalam rumah majikannya. Yang ingin dia lakukan saat ini hanya membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Sera sempat berjongkok, karena lututnya terlalu lemas untuk menopang berat tubuhnya. Pada saat yang sama dia mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah.

Sera tertegun. Dia hapal betul siapa pemilik mobil tersebut. Celine Adisty, istri Raven Lucien Maheswara yang baru saja pulang.

Sesaat kemudian Sera mendengar suara pintu rumah yang dibuka dari luar. Dari balik dinding kaca, Sera melihat lampu ruang tamu di dalam sana menyala dan Celine berjalan dengan anggun menaiki tangga, menuju kamar utama.

Celine merupakan sosok perempuan cantik dan sempurna. Dia memiliki segalanya. Bahkan Sera pikir, Celine tidak memiliki cela apapun. Hal itu membuat Sera semakin merasa bersalah pada wanita itu.

“Maaf.” Sera bergumam tanpa sadar.

Sebagai seorang wanita, Sera mengerti betapa sakitnya ketika pasangan sendiri memiliki hubungan terlarang dengan wanita lain di belakangnya. Dan Sera merasa dirinya benar-benar buruk, tidak memiliki harga diri karena hadir sebagai orang ketiga dalam pernikahan majikannya. Meski hubungannya dengan Raven tidak berlandaskan cinta, tetap saja itu bentuk pengkhianatan.

Sera masuk ke kamarnya dengan badan sedikit basah kuyup. Setelah mandi dengan air hangat, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Beberapa tanda merah di leher mengingatkannya pada sosok Raven.

Mata Sera terpejam sejenak sambil mengepalkan tangan. Berusaha mengenyahkan perasaan terkutuk itu dari dalam hatinya. Bagaimanapun, dia tidak boleh terbawa perasaan dalam hubungan ini.

Pukul lima pagi keesokan harinya, Sera sudah berada di rumah Raven dengan kemeja putih dan rok hitam selutut yang membalut tubuh semampainya. Sementara rambutnya yang panjang dikuncir kuda. Tadi dia sempat kesulitan menutupi tanda merah di lehernya menggunakan alat make up seadanya.

Sera melakukan tugasnya seperti biasa sebelum kedua majikannya bangun. Tepat pukul tujuh, Sera membantu Ratna menyiapkan sarapan.

“Kamu sakit?” tanya Ratna, yang mengenakan seragam yang sama dengan Sera dan apron abu-abu.

“Nggak, Mbak. Aku baik-baik aja, kok,” dusta Sera sambil membawa makanan ke meja makan.

“Baik-baik aja gimana? Itu wajah kamu pucat begitu.” Ratna menghela napas pelan. “Kalau kamu sakit, jangan sungkan minta izin sama Pak Raven buat istirahat sehari.”

Sera tersenyum. Ratna memang baik dan perhatian. Dia sudah menganggap Ratna seperti ibu sendiri.

“Aku cuma sedikit lelah, Mbak. Tapi Mbak percaya deh, aku baik-baik aja.” Sera berusaha menenangkan, walau dia tak yakin tubuhnya akan baik-baik saja.

Akhir-akhir ini Sera kurang istirahat. Siang dia sibuk bekerja. Dan malam yang seharusnya dia gunakan untuk istirahat, justru dia habiskan di kamar majikannya. Sehingga setiap harinya Sera hanya tidur sekitar 4 jam, itupun jika dia bisa tidur nyenyak.

Tekanan batin dari ayahnya, kondisi kesehatan adiknya dan hubungan terlarang yang dia jalani menjadi penyebab turunnya berat badan Sera akhir-akhir ini.

“Oh? Selamat pagi, Pak,” sapa Ratna, yang membuat punggung Sera seketika berubah menegang.

“Ya. Pagi.”

Suara itu… membuat Sera mematung. Suaranya terdengar dingin dan datar.

Sera sempat melirik jam dinding, masih pukul tujuh lewat sepuluh menit. Tumben Raven sudah turun, pikirnya. Sebab biasanya Raven baru akan turun bersama istrinya pukul tujuh lewat tiga puluh menit.

Sera memutar badan menghadap pria itu. Sesaat pandangan mereka bertemu. Tatapan pria itu terasa dingin dan menusuk, membuat Sera sadar di mana posisinya saat ini. Tidak ada tatapan lembut yang hanya akan Sera dapatkan ketika mereka berada di atas ranjang.

“Selamat pagi, Pak Raven. Apa Bapak mau minum kopi?” tawar Sera sambil menundukkan sedikit pandangannya.

“Ya.” Raven menarik kursi utama di meja makan dan duduk di sana.

“Baik. Mohon tunggu sebentar.”

Sera bergegas membuat kopi tanpa gula kesukaan majikannya. Sementara pria yang menjabat sebagai CEO Maheswara Corp itu mulai tenggelam dengan berita terbaru pada tabletnya. Penampilannya sudah rapi dengan setelan jas hitam dan rambut yang disisir rapi ke belakang.

Dengan rambut seperti itu, Raven terlihat lebih dewasa dan berkarisma. Sedangkan ketika rambutnya acak-acakkan pada malam hari, dia terkesan liar, berbahaya, tapi juga memikat.

Sera membawa secangkir kopi panas ke hadapan Raven. Aroma aftershave yang menguar dari pria itu mengingatkan Sera pada setiap ciuman panasnya. Sera menggertakkan gigi sejenak, mengutuk diri sendiri karena tak seharusnya mengingat hal itu di saat seperti ini.

“Silahkan, Pak.” Sera mendadak gugup.

Raven masih menatap iPad, tangannya hendak meraih cangkir kopi yang baru saja diletakkan Sera, tapi jemarinya justru malah bersentuhan dengan punggung tangan wanita itu.

Sera tersentak.

Raven seketika mendongak hingga pandangan mereka bertemu.

Sera mendadak lupa bagaimana caranya bernapas ketika jari telunjuk Raven menyentuh punggung tangannya. Sentuhan itu mengingatkan Sera pada setiap sentuhan panas Raven di malam hari.

Sementara tatapan Raven tertuju pada wajah Sera, dingin dan datar, tapi penuh selidik. Seolah tengah meneliti wajah Sera yang pucat.

Di saat seperti ini, Sera benci pada tubuhnya sendiri. Tak seharusnya jantungnya berdebar-debar karena tatapan itu.

Namun suara high heels yang beradu dengan lantai membuat Sera tersentak. Buru-buru Sera menarik kembali tangannya dan berlalu ke dapur.

“Mama sudah bilang ke kamu kalau nanti sore kita diundang makan malam?” tanya Celine yang kini sedang menghampiri meja makan.

Dengan tenang, Raven menyeruput kopi. Lalu menjawab dingin, “Ya.”

“Gimana menurut kamu?” Celine duduk di salah satu kursi di samping Raven. “Apa perlu kita datang?”

“Tentu saja,” jawab Raven tanpa menatap Celine. “Aku tidak mungkin melewatkan undangan orang tuaku.”

“Boleh aku nggak datang kali ini?”

Mata Raven bergerak, menatap Celine tanpa ekspresi. “Kenapa?”

Celine mendesah panjang. “Aku sedang sibuk di kantor,” jawabnya, “lagi pula aku sudah bisa menebak, yang ingin mereka bahas cuma meminta kita agar memberi mereka cucu. Aku sudah bosan dengan permintaan seperti itu.”

Tak ada riak apapun di wajah Raven. Tatapan mata coklat pria itu bergeser ke arah dapur yang tak bersekat.

Sera yang kebetulan sedang melirik Raven, seketika melarikan pandangannya ke arah lain ketika pria itu menatapnya tajam.

“Kamu harus datang,” ucap Raven sembari menatap Celine kembali. “Hargailah orang tuaku. Bagaimanapun juga kamu menantu kesayangan mereka.”

Kalau sudah bicara dingin seperti itu, Celine tidak bisa membantah lagi. Dia akhirnya terpaksa mengiyakan ucapan Raven.

Sera menghampiri meja makan sambil membawa sepiring buah-buahan yang telah dia kupas dan menjadi potongan kecil. Dia sama sekali tidak berani menatap Celine.

Setiap kali berhadapan dengan wanita cantik dan elegan itu, hati Sera selalu dihantam perasaan bersalah yang terus menggerogotinya.

Celine sempat melirik Sera sesaat. Lalu menatap suaminya. “Aku penasaran, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu pulang lebih awal ke rumah?”

Jantung Sera terasa seakan berhenti berdetak sesaat kala mendengar pertanyaan itu. Piring dalam genggamannya tiba-tiba bergetar.

Kenapa Celine bertanya seperti itu? Apa dia mencurigai sesuatu?

Raven yang akan menyeruput kopinya lagi, seketika berhenti dan melirik Celine. “Apa itu masalah?”

“Menurutku itu cukup aneh. Kamu berubah sekarang.” Dia mendengus pelan seraya menarik satu sudut bibirnya. “Kamu yang biasanya selalu pulang larut malam, atau bahkan menginap di kantor, tiba-tiba sering pulang lebih awal. Apa rumah ini sekarang punya daya tarik baru bagimu?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
~kho~
laah... pasangan suami istri yang aneh... whehehe
goodnovel comment avatar
NING
Nah naga2nya dah curiga nih istri syah
goodnovel comment avatar
Siti Nur janah
apakah pernikahan raven tidak bahagia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   259. Sosok yang Berbeda

    Demi Sera.Dia melangkah masuk.Seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang merapikan lapak buah, menatap Raven dengan curiga. “Cari apa, Mas?”Raven mengeluarkan ponsel dan membaca catatan yang ditulis Sera. “Mangga muda keras. Campur jambu dan nanas. Cabai diulek. Gula merah, bukan gula pasir,” ujarnya, dengan nada suara seolah-olah dia sedang membaca dokumen kerjaan.Ibu itu berkedip beberapa kali, lalu tersenyum tipis. “Oh. Mau bikin rujak?”Raven mengangguk samar. “Iya.”“Buat istri yang lagi ngidam, ya?”Raven terdiam selama sepersekian detik, lalu kembali mengangguk. “Iya.”Ibu itu tersenyum lebar. “Tunggu sebentar,” katanya, lalu memilihkan mangga muda, dia tekan-tekan sebentar, memasukkannya ke dalam kantong kresek. Lalu nanas yang masih segar dan jambu yang kulitnya mulus.“Cabenya mau berapa, Mas?”Raven menatap cabe rawit yang merah menyala itu. “Yang pedas sekali.”Ibu itu terkekeh-kekeh. “Kalau gitu yang banyak, Mas. Saya tambahin, ya.”Raven membayar tanpa menawar. Bahkan di

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   258. Demi Sera

    Raven mengerutkan keningnya, napasnya sedikit berat. “Sesuatu yang lain?”“Hm.” Sera mengangguk. Dia menurunkan kedua tangannya dari dada, ke pinggang Raven dan meremasnya pelan, membuat Raven kesulitan menelan salivanya. “Saya… pengen makan rujak serut mangga muda,” lanjutnya dengan ragu.Mata Raven mengerjap. Dia melirik jam dinding sesaat, lalu menatap wajah Sera lagi. “Sudah jam sepuluh. Memangnya masih ada yang jual?”“Nggak tahu.” Sera menggeleng sambil tersenyum kikuk.“Kamu benar-benar menginginkannya?”Kali ini Sera mengangguk. “Iya.”Sebenarnya Sera tidak ingin merepotkan suaminya, dan dia juga tidak berani berharap banyak Raven akan mencari makanan itu untuknya. Apalagi saat ini sudah hampir tengah malam.Tapi tiba-tiba….“Baik. Aku akan mencarinya untukmu,” kata Raven tanpa ragu.Sera membulatkan matanya. “Mas? Serius?”“Iya.” Raven mengangguk mantap. “Kamu sedang mengidam. Keinginanmu jauh lebih penting.” Lalu tanpa banyak bicara, dia masuk ke walk in closet dan mengeluar

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   257. Kacang Lupa Kulitnya

    Sera berhenti melangkah di ambang pintu. Perasaannya tiba-tiba ragu. Jari-jari tangannya menggenggam erat nampan berisi secangkir teh melati hangat.Menghela napas panjang, Sera kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Cantika yang sedang duduk di beranda.“Saya membuat teh melati hangat untuk Nyonya,” kata Sera sambil meletakkan gelas bening berisi cairan keemasan itu di meja kecil samping kursi rotan.Cantika melirik minuman itu sesaat, tapi tidak memberi tanggapan apapun pada Sera.Sera kembali menegakkan punggungnya dan terdiam selama beberapa detik sambil menggenggam nampan kosong.“Saya… minta maaf,” ucap Sera setelah beberapa saat hening. “Karena kehadiran saya sudah membuat Nyonya terganggu.”Cantika mengembuskan napas kasar. Ujung matanya bergerak samar.Sera mengeratkan genggamannya dan kembali melanjutkan ucapannya, “Saya tahu ini bukan pilihan yang Nyonya harapkan, tapi saya akan berusaha menjadi istri yang tidak memalukan untuk keluarga ini.”Mendengarnya, Cantika membe

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   256. Makan Malam Keluarga

    Jari-jari tangan Sera yang dingin saling meremas di depan perutnya. Matanya menatap bangunan klasik yang terlihat megah di depan sana.Dia pernah berkunjung ke rumah itu beberapa bulan yang lalu. Tapi dulu statusnya masih sebagai asisten rumah tangga.Sore ini dia kembali ke sana, tapi sebagai istri Raven. Sera benar-benar merasa gugup.“Jangan khawatir. Ada aku.” Raven meraih salah satu tangan Sera, menyelipkan jari-jari tangannya pada sela jari istrinya. Berusaha memberikan kehangatan pada tangan yang dingin itu.Sera mendongak, menatap Raven yang selalu terlihat tampan dengan kemeja hitamnya. “Iya. Selama ada Mas Raven, saya pasti akan baik-baik saja.”Raven seketika berdehem. Lalu menunduk dan berbisik di telinga Sera, “Itu kata-kata milikku. Kamu jangan mengatakan sesuatu yang membuatku kehilangan kendali.”Sera akhirnya terkekeh kecil. Perasaan gugupnya perlahan hilang lalu dia menegakkan punggungnya.“Ayo, ikut aku.”Sambil menggenggam tangan Sera, Raven membawanya memasuki ked

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   255. Cinta Pertama

    Sera ternganga saat mendengar pertanyaan Raven yang tak masuk akal itu.Apa katanya?Dia bertanya apakah Bastian sudah lebih dulu menempati hatinya?Kenapa Raven tiba-tiba bertanya seperti itu?Sera lalu menatap Raven dengan kening berkerut dan sedikit menelengkan kepalanya, berusaha meneliti ekspresi Raven yang keruh saat ini.Bukan. Ekspresi Raven saat ini bukan marah. Tapi dia seolah kesal karena sesuatu yang lain.“Kenapa tidak menjawab?” tanya Raven saat Sera tak kunjung memberikan jawaban. “Kamu lebih dulu menyukainya daripada aku?”Sera kembali ternganga. Tapi detik berikutnya dia tertawa. “Kenapa Mas tanya seperti itu? Saya nggak pernah menyukai siapapun sebelumnya.” Dia menjawab polos dan jujur apa adanya. “Termasuk Bastian.”Raven seketika menegang, pupilnya melebar. Jawaban Sera barusan membuat debaran di dalam dadanya berdetak cepat hingga nyaris meledak.Ting!Pintu lift terbuka. Ruangan kecil itu kosong.Sera melangkah masuk dan menekan tombol angka tiga. Raven berdiri d

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   254. Terbakar Cemburu

    “Kayaknya dia nggak suka kita bicara berdua.”“Hm?” Sera mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah yang ditatap Bastian.Di sebuah meja yang berjarak sekitar tiga meja dari mereka, Raven terlihat sedang duduk bersandar dan bersedekap dada dengan tatapan tertuju ke arah mereka. Ditemani gelas kecil berisi espresso yang sudah tinggal separuh.“Dia terus memperhatikan kita dari tadi.” Bastian tersenyum kecil. “Posesif juga ternyata.”Sera meluruskan kembali pandangannya dan meringis. Ya, setelah mendapatkan izin untuk berbicara berdua dengan Bastian, Sera dan Bastian pergi ke cafe yang ada di lobi rumah sakit. Dan siapa sangka Raven mengikuti mereka berdua, tapi duduk agak jauh sambil mengawasi.Sera sudah menjelaskan pada Bastian mengenai apa yang terjadi pada dirinya selama lima bulan terakhir.Tidak semua. Karena memang Sera tidak memiliki hutang penjelasan apapun. Tapi sebagai seorang teman, Sera berusaha menghargai Bastian.Sera menceritakan di mana selama ini dia tinggal, alasan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status