Share

151. Menentang Keluarga

last update Last Updated: 2026-01-13 19:06:09

Dari mana ibunya mendapatkan foto-foto itu?

Itu pertanyaan pertama yang terlintas dalam benak Raven ketika melihat semua gambar tersebut.

Raven tidak tampak terkejut. Sebaliknya, dia tetap terlihat tenang seolah-olah bukan itu yang membuatnya marah saat ini.

“Itu memang kami,” ucap Raven dengan suara rendah dan tegas, seraya menaikkan pandangannya kembali pada ibunya. “Lalu, Mama mau apa?”

Mata Cantika seketika membulat. “Kamu benar-benar berhubungan dengannya?”

“Benar,” jawab Raven tanpa ragu.

Pengakuan Raven membuat wajah Cantika seketika berubah pucat.

Sementara itu, Sera tertegun mendengarnya.

Sera sempat berpikir bahwa Raven akan menyangkal dan menyalahkan dirinya, tetapi dia keliru.

Raven justru bersikap sebaliknya.

Dan itu membuat Sera terenyuh karena ternyata dia tidak berdiri sendirian. Ada seseorang yang sedang melindunginya.

“Kamu sudah menikah, Raven!”

“Itu benar.” Raven mengangguk tenang. “Dan aku tidak lupa.”

Dada Cantika naik turun karena emosi. “Kehadiran dia bisa memp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Valenka Lamsiam
seralah yang paling disalahkan dimata orang². pasti dikira sudah menggoda raven
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   164. Mengkhianati Pernikahan

    Setelah berpisah dengan Sera, Raven berjalan dengan langkah berat ke dalam rumahnya. Dan di saat yang sama, Celine baru saja tiba.Mereka berpapasan. Tapi Raven hanya meliriknya sekilas dan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.“Aku sudah melihat gosip yang tersebar di media,” ucap Celine tiba-tiba, yang membuat langkah kaki Raven seketika terhenti.Raven memutar badannya dan menatap Celine dengan tenang. “Aku tahu kamu pasti akan mendengarnya cepat atau lambat.”Celine mendengus pelan. “Jadi selama ini seperti itu kelakuan kalian berdua,” ucapnya sambil tersenyum masam. “Pantas saja aku selalu melihat sikap yang mencurigakan dari wanita itu.”Raven tidak menunjukkan reaksi apapun. Ekspresi wajahnya tampak tenang.Celine mendekat, kali ini raut wajahnya berubah sedih. “Aku sama sekali nggak nyangka, Rav, kamu berselingkuh dengan seorang pembantu yang bahkan posisinya jauh lebih rendah.”Rahang Raven berkedut. Dia tahu bahwa Sera adalah wanita yang tidak setara dengan mereka, tap

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   163. Penghilang Rasa Lelah

    Sera membuka tutup sebuah kotak kecil seukuran ponsel, dalam genggamannya.Di dalam kotak itu terdapat sebuah pembatas buku, terbuat dari kain linen berwarna krem. Tepiannya dijahit dengan rapi.Di bagian bawah pembatas buku itu terdapat sulaman daun kecil berwarna hijau, dan bunga mungil berwarna putih. Dan di bagian tengahnya ada satu huruf inisial ‘R’.Sera membuat pembatas buku itu dengan tangannya sendiri. Disulam dengan hati-hati dan telaten.Dia sengaja membuatnya untuk Raven. Supaya menjadi pengingat bagi pria itu agar berhenti sejenak di tengah kesibukannya meninjau dokumen pekerjaan.Sera menghela napas pelan, lalu menutup kotak itu kembali dan menggenggamnya erat. Lalu Sera melihat jam di layar ponselnya. Hampir pukul sepuluh malam, tapi Raven tak kunjung pulang.Meski begitu Sera tetap setia menunggu. Dia duduk di tangga beranda samping.Sera menguap. Lalu lama-lama matanya mengantuk. Kepalanya kini tertunduk dengan mata yang perlahan terpejam.Hingga Sera tidak menyadari

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   162. Kehilangan Segalanya

    “Berita apa?” tanya Raven dengan satu alis terangkat. “Langsung ke intinya.”“Tentang….” David mengembuskan napas pelan di seberang sana. “Hubungan Anda dengan Sera… sudah tersebar di media.”Raven seketika membeku.“Media apa?” tanya Raven setelah beberapa detik terdiam.“Awalnya akun gosip di media sosial, Pak,” jawab David, “tapi dalam dua jam terakhir, sudah diangkat oleh tiga portal hiburan online. Sekarang sudah merembet ke media bisnis. Bahkan oleh portal media yang besar dan terkenal.”Raven mengembuskan napas kasar dan sorot matanya berubah tajam. “Apa isi beritanya?”“Foto-foto Anda dan Sera di club malam dan pantai. Ada narasi bahwa Anda berselingkuh dengan staf rumah tangga sendiri. Beberapa artikel bahkan menyebut nama perusahaan.”Rahang Raven seketika berubah mengeras. “Bagaimana foto Sera? Apa wajahnya terlihat?”Di antara semua yang harus Raven khawatirkan saat ini, Sera adalah hal pertama yang terlintas dalam benaknya.“Wajah Sera diblur, Pak,” jawab David, “tapi… wa

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   161. Berita yang Tersebar

    Sera terdiam sambil menatap kopi di hadapannya. Dia sempat ragu selama beberapa saat. Lalu menghela napas panjang dan mengetuk pintu.“Pak Raven, saya membawa kopi untuk Bapak,” ucap Sera dengan nada suara yang profesional.Sera menunggu beberapa detik dengan perasaan tak menentu, sampai akhirnya terdengar jawaban dari dalam kamar, suara Raven yang berat yang menyuruh Sera untuk masuk.Sera mendorong pintu tersebut. Lalu perlahan melangkah masuk dan tertegun kala melihat Raven tengah mengenakan kemeja di depan cermin.Dada Sera seketika terasa sesak ketika teringat dengan kedatangan Cantika tadi malam ke rumahnya.Jari-jari tangan Sera tanpa sadar semakin erat mencengkeram ujung nampan.“Letakkan saja di meja,” kata Raven sambil memutar badannya.Sera mengangguk. “Baik,” jawabnya, lalu menghampiri nakas dan menaruh kopi panas itu di sana.Raven berjalan perlahan, mendekati Sera dengan kancing kemeja yang belum terpasang satu pun. Membuat otot liat di perutnya yang terbagi enam itu ter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   160. Penolakan

    Sera terdiam. Dia tidak tampak terkejut sama sekali. Seolah dia sudah bisa menduga bahwa hal ini akan terjadi.Namun alih-alih tergoda, dada Sera justru terasa sesak.Sera mengeratkan cengkeramannya pada tas. Lalu perlahan Sera menggeleng. “Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak bisa menerimanya,” ucapnya dengan tenang.Kedua alis Cantika terangkat. “Jumlah uang ini lebih dari cukup untuk membuat hidupmu dan adik-adikmu nyaman dan terjamin.”“Saya tahu,” ucap Sera sambil berusaha tetap sopan, tapi nada suaranya tegas dan jelas. “Justru karena itu saya tidak bisa menerimanya.”Cantika mendengus pelan, lalu melipat tangannya di dada dengan dagu sedikit terangkat. “Kamu pikir, bertahan di sisi Raven akan membuatmu menang?”“Saya tidak sedang berlomba dengan siapapun.” Sera menaikkan pandangannya ke arah Cantika. Tatapannya tidak tampak takut, tapi juga tidak menantang. “Saya hanya sedang menentukan pilihan, Nyonya.”“Pilihan?” Cantika tertawa sinis.“Benar,” jawab Sera, “mungkin hidup saya tidak

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   159. Tamu Tak Diundang

    Pukul sepuluh malam, Raven menghentikan laju kendaraannya di pinggir jalan tepat di depan rumah Sera.Raven mengembuskan napas berat sebelum melepas sabuk pengaman di tubuhnya.“Terima kasih,” ucap Raven, dengan kaku dan datar. “Untuk hari ini.”Sera seketika membeku. Dia tak percaya bahwa seorang pria dingin seperti Raven, mengucapkan kalimat itu padanya.Dan hal itulah yang membuat Sera sadar bahwa sekejam apapun pria itu, dia tetap manusia yang memiliki hati nurani.Dada Sera terasa menghangat mendengarnya.“Sama-sama,” jawab Sera, pelan.Raven menoleh, menatap Sera lekat. “Kalau masih lelah, tidak apa-apa jika besok tidak kerja.”Sera langsung menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Saya akan tetap bekerja.”Dia ingin tetap profesional dan tidak menjadikan hubungan mereka sebagai alasan untuk menghindar dari kewajiban.Raven mengangguk singkat pada akhirnya. “Baiklah.”“Kalau begitu… saya pamit dulu,” ucap Sera dengan berat. “Selamat malam.”Sera akan membuka pintu, tetapi Raven tiba-ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status