Share

153. Masak Bersama

Penulis: Rosa Uchiyamana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-14 19:07:43

Sera menatap kemeja Raven yang menggantung di hadapannya dengan napas berat.

Meski sudah melewati proses pencucian, tapi aroma parfumnya masih menempel, membuat Sera merasa pria itu ada di dekatnya.

Apa yang harus Sera lakukan?

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di kepala Sera. Dia ingin keluar dari kehidupan yang dijalaninya saat ini, tapi di saat yang sama keinginannya untuk berada di sisi Raven semakin kuat.

“Apa yang kamu pandangi? Kemejanya? Atau sedang membayangkan orang yang memakainya?”

Suara Raven yang tiba-tiba terdengar membuat Sera tersentak.

Sera keluar dari lamunannya dan baru sadar bahwa dia sudah terlalu lama memandangi kemeja pria itu.

Tanpa menoleh ke arah Raven yang berdiri di pintu, Sera bergumam pelan, mengelak, “Saya tidak memandangi kemeja Bapak.”

Kemudian Sera mulai menyemprotkan uap dari setrika uap yang sejak tadi ada dalam genggamannya.

Raven memperhatikan Sera sambil tetap berdiri di ambang pintu. Dia hanya memandangnya. Tak berniat mengganggu meski alasan d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
radayinta
hhmmm, di kasih yang manis2, sebelum badai datang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   161. Berita yang Tersebar

    Sera terdiam sambil menatap kopi di hadapannya. Dia sempat ragu selama beberapa saat. Lalu menghela napas panjang dan mengetuk pintu.“Pak Raven, saya membawa kopi untuk Bapak,” ucap Sera dengan nada suara yang profesional.Sera menunggu beberapa detik dengan perasaan tak menentu, sampai akhirnya terdengar jawaban dari dalam kamar, suara Raven yang berat yang menyuruh Sera untuk masuk.Sera mendorong pintu tersebut. Lalu perlahan melangkah masuk dan tertegun kala melihat Raven tengah mengenakan kemeja di depan cermin.Dada Sera seketika terasa sesak ketika teringat dengan kedatangan Cantika tadi malam ke rumahnya.Jari-jari tangan Sera tanpa sadar semakin erat mencengkeram ujung nampan.“Letakkan saja di meja,” kata Raven sambil memutar badannya.Sera mengangguk. “Baik,” jawabnya, lalu menghampiri nakas dan menaruh kopi panas itu di sana.Raven berjalan perlahan, mendekati Sera dengan kancing kemeja yang belum terpasang satu pun. Membuat otot liat di perutnya yang terbagi enam itu ter

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   160. Penolakan

    Sera terdiam. Dia tidak tampak terkejut sama sekali. Seolah dia sudah bisa menduga bahwa hal ini akan terjadi.Namun alih-alih tergoda, dada Sera justru terasa sesak.Sera mengeratkan cengkeramannya pada tas. Lalu perlahan Sera menggeleng. “Maaf, Nyonya. Tapi saya tidak bisa menerimanya,” ucapnya dengan tenang.Kedua alis Cantika terangkat. “Jumlah uang ini lebih dari cukup untuk membuat hidupmu dan adik-adikmu nyaman dan terjamin.”“Saya tahu,” ucap Sera sambil berusaha tetap sopan, tapi nada suaranya tegas dan jelas. “Justru karena itu saya tidak bisa menerimanya.”Cantika mendengus pelan, lalu melipat tangannya di dada dengan dagu sedikit terangkat. “Kamu pikir, bertahan di sisi Raven akan membuatmu menang?”“Saya tidak sedang berlomba dengan siapapun.” Sera menaikkan pandangannya ke arah Cantika. Tatapannya tidak tampak takut, tapi juga tidak menantang. “Saya hanya sedang menentukan pilihan, Nyonya.”“Pilihan?” Cantika tertawa sinis.“Benar,” jawab Sera, “mungkin hidup saya tidak

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   159. Tamu Tak Diundang

    Pukul sepuluh malam, Raven menghentikan laju kendaraannya di pinggir jalan tepat di depan rumah Sera.Raven mengembuskan napas berat sebelum melepas sabuk pengaman di tubuhnya.“Terima kasih,” ucap Raven, dengan kaku dan datar. “Untuk hari ini.”Sera seketika membeku. Dia tak percaya bahwa seorang pria dingin seperti Raven, mengucapkan kalimat itu padanya.Dan hal itulah yang membuat Sera sadar bahwa sekejam apapun pria itu, dia tetap manusia yang memiliki hati nurani.Dada Sera terasa menghangat mendengarnya.“Sama-sama,” jawab Sera, pelan.Raven menoleh, menatap Sera lekat. “Kalau masih lelah, tidak apa-apa jika besok tidak kerja.”Sera langsung menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Saya akan tetap bekerja.”Dia ingin tetap profesional dan tidak menjadikan hubungan mereka sebagai alasan untuk menghindar dari kewajiban.Raven mengangguk singkat pada akhirnya. “Baiklah.”“Kalau begitu… saya pamit dulu,” ucap Sera dengan berat. “Selamat malam.”Sera akan membuka pintu, tetapi Raven tiba-ti

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   158. Tetap di Sisinya

    Pertanyaan Sera membuat Raven menghentikan gerakan tangannya yang akan mendekatkan gelas ke mulut, sesaat.Dia mengerjap tenang, lalu menyesap minumannya dengan anggun.Sera sedikit menunduk, tangannya semakin terasa dingin. Dia menyesal telah mengajukan pertanyaan itu, yang seharusnya sudah Sera tahu jawabannya.Pria itu tak akan mungkin memilihnya jika ibunya tetap memaksa.Raven menaruh gelas ke meja dengan tenang, seraya menatap Sera.“Saya memilih…,” ucap Raven dengan suara rendah. “Apapun yang membuat kamu tetap di sisi saya.”Sera seketika membeku, seolah lupa bagaimana caranya bernapas.Sera mendongak, menatap Raven dengan tatapan yang seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.Raven mengembuskan napas berat tanpa melepaskan tatapannya dari manik mata wanita itu. “Apapun yang terjadi di masa depan, tetaplah berada di sisi saya, Sera. Seperti yang pernah saya katakan kemarin.”Tetap berada di sisi Raven, sebagai apa?Sera terdiam, dia ingin menyuarakan pertanyaan itu. Tetap

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   157. Tawa Raven

    Sera lebih menyukai gunung daripada laut. Karena sejak kecil dia hidup di daerah pegunungan sebelum pindah ke kota.Tetapi mulai saat ini sepertinya dia akan lebih menyukai laut. Karena kehadiran Raven di sisinya memberikan rasa yang berbeda.Laut akan menjadi sebuah tempat yang mengingatkan Sera akan sosok Raven.Sejak pagi mereka menghabiskan waktu bersama.Mandi bersama di dalam jacuzzi yang menghadap ke arah hamparan laut biru di hadapan mereka.Lalu, sarapan bersama. Raven sendiri yang menyiapkan sarapan untuk mereka, bukan Sera.Kemudian siang harinya mereka berkeliling di sekitar pantai, mencoba kuliner lokal, atau hanya sekedar duduk sambil menikmati es kelapa.Sikap Raven tidak jauh berbeda dari biasanya. Tetap datar dan kaku.Tetapi dia tidak menyembunyikan kepeduliannya pada Sera. Memayungi wanita itu dengan tangan ketika sinar matahari menerpa wajahnya.Atau mengelap keringat di pelipis Sera menggunakan sapu tangan mahal miliknya.Perhatian kecil itu membuat Sera terenyuh.

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   156. Malam yang Tenang

    Mata Sera sedikit melebar ketika Raven menghentikan kendaraannya di pinggir pantai. Lalu pria itu mengajaknya untuk turun.“Jadi, ini tempat yang Bapak maksud tadi?” tanya Sera sambil mengedarkan pandangan ke pantai yang terbentang di hadapan mereka, remang oleh cahaya bulan.“Ya,” jawab Raven tenang. “Saya tidak tahu kamu menyukai pantai atau tidak. Tapi ini semoga bisa menghiburmu.”Sera tertegun.Dia melihat pria itu membuka pintu belakang, mengambil jas hitam yang digantung di hanger.Lalu Raven kembali berdiri di hadapan Sera, menyampirkan jas itu di bahunya dengan hati-hati, membuat Sera membeku.Jas itu jatuh pas menutupi bahu Sera, terasa berat, hangat dan beraroma khas Raven.“Anginnya dingin,” ucap Raven sambil merapikan kerah jas itu supaya tidak melorot.Suaranya datar dan rendah, tapi ada kekhawatiran dan kepedulian dalam ucapannya.Lalu pria itu meraih tangan Sera dan menggenggamnya erat. Telapak tangan pria itu terasa hangat dan membuat Sera merasa aman.Sera mengikuti

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status