Mag-log inSera menatap pantulan dirinya di cermin. Terpana. Dia seolah tidak mengenali diri sendiri.Tubuhnya kini dibalut gaun pengantin putih berbentuk putri duyung. Bagian atas hingga pinggang dan pinggul dibuat ketat mengikuti lekuk tubuh. Lalu melebar mulai dari lutut ke bawah hingga membentuk ekor yang menjuntai di lantai.Bahunya berbentuk off shoulder, sehingga leher dan bahunya terbuka. Mahkota kecil menghiasi kepalanya. Rambutnya terurai bergelombang. Sementara veil tipis menjuntai jatuh ke belakang punggung.“Aku benar-benar nggak percaya kalau wanita di depanku ini adalah diriku,” gumam Sera.Seorang wanita yang sedang memasang sarung tangan tipis di tangan Sera, seketika terkekeh kecil. “Bu Sera terlihat cantik sekali.”Sera tersenyum kecil mendengar pujian itu. “Semua ini karena tangan ajaib kamu, Mbak. Make up-nya benar-benar bagus. Aku hampir nggak mengenali diriku sendiri.”“Pada dasarnya Bu Sera-nya yang sudah cantik.” Wanita itu tersenyum bangga. “Saya cuma perlu memoles sedi
Raven menuangkan air hangat ke dalam gelas yang telah terisi satu kantong teh melati. Lalu dia melangkah pelan menuju ruang keluarga sambil membawa gelas tersebut.“Aku buatkan teh untukmu,” kata Raven seraya menaruh teh di atas meja, di hadapan Sera. Kemudian duduk di sampingnya.Sera yang sejak tadi terdiam, kini menatap Raven perlahan dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Mas.”Sera meraih gelas tersebut dan meneguknya sejenak, lalu menangkupnya dengan kedua telapak tangan.Kehangatan dan aroma melati dari teh itu membuat perasaan Sera yang semula kacau, menjadi sedikit lebih baik.“Kenapa Mas pulang lagi?” tanya Sera akhirnya setelah beberapa saat terdiam.“Ada berkas penting yang tertinggal.” Raven menatap Sera lamat-lamat. “Tapi beruntung berkas itu ketinggalan. Kalau tidak, aku tidak akan tahu kejadian tadi.”Sera menghela napas panjang dan kembali terdiam. Apa yang Ririn katakan tadi membuat Sera sadar bahwa masa lalunya akan selalu melekat pada dirinya.Sera kembali merasa inse
“Rin, kenapa ada foto suamiku di handphone kamu?”Sera mengalihkan tatapannya dari foto Raven yang sedang duduk di ruang keluarga, di layar ponsel Ririn, ke arah Ririn dengan tatapan penuh tanya.Ririn terkesiap. Panik. “M-Maaf, Bu. Saya mengakui saya sudah lancang.” Lalu menunduk. “T-Tolong kembalikan handphone saya.”Sera tidak langsung memberikan ponsel itu. Dia kembali menatap layar dan menggesernya. Tertegun.Ternyata foto itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa.Foto Raven yang sedang berenang di kolam renang yang bertelanjang dada. Sepertinya Ririn mengambil foto itu diam-diam dari balkon lantai tiga.Foto Raven sedang menelepon di beranda dengan kancing kemeja terbuka.Foto Raven sedang tertidur di sofa.Dan foto Raven yang sedang tersenyum.Semua foto itu diambil secara diam-diam. Sera merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya. Cemburu yang bercampur dengan perasaan kesal.“Ririn.” Sera menghela napas panjang dan menatap gadis itu. “Bisa kamu jelasin kenapa ka
Harum aroma kopi yang pekat menguar di udara saat cairan hitam itu mengalir ke dalam gelas kecil.Selagi menunggu kopi itu penuh, Sera memandangi Raven yang sedang duduk di meja makan, sibuk dengan iPad-nya, sementara tangan yang lain mengusap-usap bulu tebal Mickey yang meringkuk di kursi sampingnya.Sera tersenyum kecil. Pria itu selalu terlihat tiga kali lebih tampan ketika mengenakan setelan jas hitamnya.Setelah tidak terdengar air mengucur, Sera mengalihkan tatapannya ke mesin kopi. Lalu menuangkan kopi itu ke dalam cangkir.“Bu Sera, biar saya bantu bawakan kopinya,” tawar Ririn yang baru saja tiba di dapur.“Nggak apa-apa, Rin, biar aku saja.” Sera menolak dengan halus.Ririn tersenyum dan kembali mendekat. “Ini ‘kan sudah jadi tugas saya, Bu. Bu Sera lebih baik duduk aja.”Sera mengerutkan keningnya samar. Mulutnya terbuka hendak mencegah, tapi Ririn sudah lebih dulu mengambil kopi itu dan membawanya ke hadapan Raven.Sera hanya menghela napas panjang. Dia akan melangkah, aka
Sera tercenung menatap pintu itu. Dadanya bergetar. Jari-jari tangannya yang dingin perlahan mencengkeram pakaiannya.Benarkah dirinya mendapatkan karma sekarang?Dulu dia pembantu yang tidak tahu diri dan berani berhubungan dengan majikannya. Tidak mungkin… Ririn dan Raven….Tidak. Tidak. Sera menggeleng cepat, berusaha mengenyahkan pikiran negatifnya itu.Tapi ini sudah terlalu lama. Jika Ririn hanya ingin menaruh teh, seharusnya dia sudah keluar sejak tadi, bukan?Apakah sekarang… semesta sedang membalas Sera? Karena kesalahan Sera di masa lalu?Sera menggigit bibir bawah. Dia kini berjalan mondar-mandir dengan perasaan tak nyaman. Tapi dia tidak berani mendekati pintu.Sera takut, jika dia masuk ke ruangan itu, dia akan melihat apa yang ada dalam pikirannya saat ini.Jadi, Sera memutuskan untuk memutar badan dan melangkah pergi. Namun hatinya terasa semakin berat. Napasnya sesak.Dia tidak bisa membayangkan laki-laki yang dicintainya sedang berduaan dengan perempuan lain. Di malam
“Gimana, Mas? Enak?” tanya Sera, ragu. Menatap Raven dengan harap-harap cemas.Raven menghentikan kunyahan di dalam mulutnya, menatap Sera sambil menarik sudut bibirnya ke atas tipis. “Makanan buatanmu tidak pernah gagal.”“Syukurlah.”Sera menghela napas lega. Lalu dia menegakkan punggung dan memasukkan potongan pizza ke dalam mulutnya.Pada saat yang sama, tanpa sengaja pandangan Sera tertuju pada iPad Raven yang tergeletak di samping piring.Sera penasaran, apa yang tadi ditunjukkan Raven pada Ririn?Sera ingin bertanya pada Raven tapi dia takut dianggap terlalu ikut campur.Pada akhirnya Sera menurunkan pandangannya pada piring di hadapannya. Makanan di dalam mulutnya seketika terasa hambar dan terasa keras saat melewati tenggorokan.Jika boleh jujur, Sera merasa cemburu saat melihat Raven dan Ririn yang terlalu dekat seperti tadi. Walaupun sebenarnya sikap Raven terlihat dingin pada Ririn.Tapi Sera mengakui kalau Ririn adalah gadis muda yang cantik dan memiliki tubuh proporsiona







