LOGINSaat Tristan menerima telepon dari Summer, ia sedikit terkejut. “Bu, Scarlett sedang tidur atau mandi?”“Tidak,” jawab Summer sambil menghela napas. “Dia pingsan di kantornya. Joshua yang sedang mengantarkan dokumen menemukannya pingsan, lalu segera membawanya ke rumah sakit.”“Tapi Tristan, jangan khawatir. Scarlett sudah sadar sekarang. Dia baru selesai menjalani pemeriksaan dan sudah kembali ke kamarnya. Dokter menyarankan rawat inap beberapa hari untuk observasi.”Mendengar Scarlett berada di rumah sakit membuat jantung Tristan berdegup kencang. “Bu, aku segera ke sana.”Ia langsung menutup telepon dan bergegas menuju rumah sakit.Saat Tristan tiba, Bruce, Zoe, Gary, dan Angel sudah berada di sana, sementara Chris baru saja pergi setelah menerima telepon dari rumah.Melihat Tristan datang, Scarlett mencoba mencairkan suasana. “Hanya gula darah rendah, tapi semua orang bert
Ada yang menerobos masuk ke dalam ruangan Tristan seolah-olah tempat itu miliknya sendiri, Bruce langsung menjatuhkan dirinya ke kursi di seberang meja kerja Tristan dengan sikap santai penuh percaya diri. Dengan seringai usil, ia berkata, “Bro, kamu benar-benar bikin geger di sini! Scarnet Technology sedang jadi bahan pembicaraan di seluruh Woodland. Kamu kembali untuk membuat kekacauan, ya?”Sejak Tristan kembali, perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya di Woodland mulai kesulitan, bahkan saham beberapa di antaranya merosot tajam. Sementara itu, Tristan terus sibuk mengakuisisi dua perusahaan lain dan membawa perusahaannya berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.Godaan Bruce hanya dibalas tatapan santai Tristan. “Aku tidak mengusikmu, kan? Anggap saja itu bantuan dariku.”Bruce terkekeh sambil menyilangkan kaki. “Perusahaanku punya saham di perusahaan Letty. Kamu pasti tidak berani macam-macam denganku.”Tatapa
Suara Nathan terdengar lembut, tenang—jelas ia mewarisi sifat santai dari Scarlett. Summer sedikit kesal, tetapi akhirnya ia menjelaskan, “Sama seperti kamu, ayahmu bekerja di dinas rahasia, jadi kalian berdua harus merahasiakan semuanya.”Agar Tristan benar-benar mengerti, Summer menambahkan penjelasan, “Nathan tidak pernah bercerita tentang kegiatannya disekolah atau teman-temannya. Ia seperti sedang berlatih untuk misi rahasia. Itu sebabnya Scarlett sering bercanda bahwa Nathan bersekolah di taman kanak-kanak dinas rahasia.”Tristan merasa itu lucu. Ia teringat bahwa dulu ia juga sering menyembunyikan cerita bagaimana kegiatannya disekolah dari orang tuanya, meskipun mereka selalu berusaha menggali informasi darinya. Nathan rupanya mewarisi sifat itu, dan Tristan tidak bisa menahan tawa.Perjalanan itu dipenuhi kehangatan dan gelak tawa. Nathan mulai menerima Tristan sebagai ayahnya, sementara Summer terus menceritakan kebiasaan
Di dalam Maybach, Summer beberapa kali bergantian menatap Tristan dan Nathan. Ia memperhatikan betapa miripnya Nathan dengan ayahnya, terutama pada sikap mereka yang sama-sama pendiam.Suasana di dalam mobil cukup hening. Melihat Summer sedang dalam suasana hati yang sangat baik, Nathan tiba-tiba bertanya, “Nenek, Ibu dan Paman itu teman baik ya?”Wajah Summer langsung berubah gelap. Ia menunduk menatap Nathan, lalu membetulkannya dengan tegas, “Siapa yang bilang dia pamanmu? Dia itu ayahmu. Ayah kandungmu.”“Hah?” Rahang Nathan hampir jatuh karena terkejut. Mulutnya menganga saat ia mencoba memproses kabar itu. “Aku punya ayah?”Nathan menatap Summer seolah baru saja menemukan kota Atlantis yang hilang. Anak itu bahkan belum pernah melihat ayahnya, dan tidak ada seorang pun yang pernah menyebut-nyebut tentang sosok itu kepadanya.Selama ini, Nathan seakan mengira dirinya seperti Spider-Man, muncul be
Ciuman mendadak dari Scarlett benar-benar membuat Tristan terkejut. Matanya membesar, seolah ia berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.Ia sama sekali tidak menduganya. Scarlett yang mengambil langkah pertama bukanlah sesuatu yang ia bayangkan, apalagi dengan ciuman yang begitu tiba-tiba dan intens hingga membuatnya benar-benar kehilangan kendali.Sesaat Tristan membeku, bibir Scarlett masih menempel pada bibirnya. Lalu, ia menangkup wajah Scarlett dengan kedua tangannya, membuka bibirnya perlahan, dan memperdalam ciuman itu.Scarlett memejamkan mata, melingkarkan kedua lengannya di leher Tristan, lalu berjinjit agar dapat membalas ciumannya dengan semangat yang sama.Sebelum menemui Tristan, Scarlett sama sekali tidak berniat bertindak seimpulsif itu.Namun ketika ia melihat wajah kaget Tristan yang bercampur bahagia, dan mendengar Tristan mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dirinya, Scarlett seakan kehilangan kendali.Setelah cium
Kilas balik Tristan sebelum makan siang bersama Lucian.Tristan mengajak Scarlett ke tempat lama yang dulu sering mereka datangi semasa sekolah—sebuah bukit tinggi yang pernah menjadi “tempat pelarian” mereka. Mereka memarkir mobil di ujung jalan, lalu duduk di atas kap mobil, memandang seluruh Woodland yang terbentang luas di bawah sana.Kota itu tampak seperti lautan cahaya di bawah langit penuh bintang yang berkelap-kelip.Dulu, Tristan selalu merasa seolah-olah seluruh tempat itu adalah miliknya. Namun sekarang, ia tidak lagi merasakan sedikit pun rasa memiliki itu. Di mana pun ia berada, perasaan tersebut tetap tidak pernah kembali.Tristan menyerahkan sebotol air mineral kepada Scarlett. Ia memutar tutupnya terlebih dahulu sebelum memberikannya, lalu membuka botol miliknya sendiri. Setelah meneguk sedikit, ia berkata, “Aku akan menemui ayahku.”Scarlett juga meneguk air, lalu menoleh menatapnya.Tristan menangkap tatap
Tristan tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Scarlett. Tatapannya tertuju padanya seolah hidupnya bergantung pada hal itu. Rasanya seperti sudah berabad-abad sejak terakhir kali mereka bertemu, bukan sekadar beberapa tahun.Di ujung lorong, Scarlett melihat Tristan berdiri terpaku di tempatnya
Scarlett tak kuasa menahan tawa kecil. “Jangan khawatir. Sekarang aku sudah punya anak, aku tidak akan melakukan hal bodoh. Lagipula, aku masih punya harga diri.”Meski dulu ia pernah mengabaikan peringatan dari teman-temannya demi Tristan, masa itu sudah lama berlalu. Sejak musim dingin di Bougenv
Scarlett menghela napas lelah. “Kita cari waktu untuk mengurus berkas-berkasnya, ya?” katanya. “Aku juga banyak urusan, begitu juga kamu.”Scarlett pikir pertemuan mereka kemarin berjalan cukup baik. Dia berharap mereka bisa membicarakan semuanya dengan tenang dan menyelesaikannya. Tapi ternyata Tr
Sebelum Scarlett sempat mengatakan apa pun, Bruce sudah lebih dulu berbicara, “Dengar, Scarlett. Dalam urusan hati, lebih baik kita segera mengambil keputusan tegas, seperti mencabut plester dengan cepat. Kalau kamu berpisah sekarang, mungkin kamu akan sedih—paling lama satu atau dua minggu. Tapi k







