LOGINSaat break time, dari kursi meja taman Sekar menyapu pandangan ke taman rekreasi yang menjadi lokasi gathering. Tampak dalam matanya para wanita yang semuanya cantik, dan dia bisa menebak mana yang istri karyawan, mana yang karyawati. Mungkin karena dia pernah menjadi salah satu di antaranya, lalu kini menjadi kedua-duanya.Mungkin juga itu hanya perasaannya saja kalau tebakannya benar. Di mata Sekar, meski sama-sama cantik dan make up mereka sangat on point, gestur bisa menjadi pembeda.‘Pantesan Bu Brenda juga effort banget. Rajin ke salon. Aku ngerti sekarang; dia juga nggak mau kalah cantik sama cewek-cewek di kantor suaminya. Tetap pengen yang dikangenin, jadi tempat pulang.’Sekar membatin sok bijak sambil lalu tersenyum pada Adi, anak buah Liam yang mengambil duduk di depannya, menuang minuman ke gelas karton, lalu main ponsel.Tatapan mereka bertemu. Setelah nyengir seadanya, Sekar bilang, “Adi, kata Liam, kamu yang rekomendasiin resort di Nirmala beach. Thanks, ya.”Lawan bi
Suara riuh musik yang sedang tren masa kini berpadu dengan sorak-sorai bocah-bocah di taman rekreasi outbound yang disulap meriah dengan deretan tenda-tenda sponsor acara dan spanduk besar lebar bertuliskan ABDI Family Fun Day. Sekar sejenak membeku, teringat saat masih bekerja di bank ini dulu.“Oh, ternyata ada fun-nya.” Liam ikut mendongak membaca spanduk yang didominasi warna khas bank ABDI, biru langit, navy, dan putih.Sekar nengok. “Kayaknya dari jaman aku masih kerja di ABDI juga tiap family day ada kata fun-nya.”Mereka bertemu tatap. “Gitu ya? Aku nggak pernah notice apa?”“Emangnya divisi auditor nggak pernah jadi panitia?” Sekar mengernyit.“Pernah. Tapi soal fun-fun gitu aku lupa.” Liam menggandeng tangan Sekar mengajaknya ke booth kopi yang sudah buka.“Tahun ini PIC-nya divisi mana?” Tangan Sekar meraih paper cup berisi kopi hangat dari Liam. “Thanks.”Saat menyesapnya, Sekar membuat huruf O; kopi susu, salah satu kopi yang sering diminumnya dan Liam mengingat itu.“Kat
“Masalahnya apa?” Di samping Sekar, Liam memandangi komputer layar datar warna hitam di meja kerja toko buku, berbisik.“OS-nya jadul. Tiap dinyalain loading-nya lama. Kadang mesti aku tepuk-tepuk gitu dulu.” Sekar menjawab pelan sambil tetap menginput rekapan transaksi hari itu.“Pak Andi udah tau?”“Udah. Dari pagi juga aku bilang kalau kamu sore mau dateng ke sini, ngecek-ngecek.”Liam mengacak rambut Sekar, gregetan. “Bilang kek dari tadi. Kan aku nggak mesti ngomong bisik-bisik, kayak nggak enak sama Pak Andi.”“Yee, dikira udah paham. Lagian ya Liam, mana mungkin aku minta tolong kamu kalau Pak Andi juga nggak tau? Ih!” Sekar mengedikkan bahu.“Kamu pikir, yang barusan kamu bilang itu ada di sini?” Ibu jari Liam mengusap dahi Sekar. “Kalau ngomong tuh nggak usah kayak aku mesti mecahin kode rahasia!”Sekar menepis tangan Liam. “Tau ah! Ribet. Udah deh ini dikerjain. Dicek, diapain kek terserah!”Mereka bertukar posisi duduk, tapi sedetik kemudian Sekar bangkit.“Eits—” Liam mena
“Gita! Lo nggak apa-apa kan?” Sekar kontan memeluk sahabatnya itu dengan erat.“Ew! Sakit, Beb! Lo meluk kenceng amat sih!” Gita meringis lalu tersenyum prihatin saat melepas dekapan Sekar. “I’m good. Duduk dulu yuk mendingan, malu diliatin orang-orang.”Sekar celingukan sekilas, lalu menuruti kata Gita untuk duduk manis sebab banyak mata menatap gusar ke arah mereka.Setelah kedua perempuan itu cukup tenang, musik di kafe itu kembali mengalun lembut, sebab sebelumnya berhenti, seakan memberi mereka kesempatan untuk menjadi sorotan pengunjung. Suara cangkir yang beradu dengan saucer dan dengung mesin kopi pun kini berangsur terdengar normal.Gita cekikikan pelan merasakan perubahan atmosfer kafe langganannya dan Sekar itu.“Elo sih heboh banget,” ujar Gita lantas mengulurkan sebuah paper bag dengan merek parfum tercetak di sana. “Happy belated birthday.”Sekar berbinar saat mengintip isi tas kertas motif gingham biru putih itu. “Maaci Gita,” katanya dengan suara sok imut. “Git, benera
“Waktu saya sama Diego ke unit kalian … kayak berkunjung ke rumah orang yang lagi jatuh cinta. Saya sempat lihat kok, Liam curi-curi kesempatan, usap siku Sekar pas ngelewatin kita di meja makan.” Mata Brenda berbinar.Sekar bengong. Dia ingat itu, tapi tak percaya dengan apa yang didengarnya.“Sebentar-sebentar.” Brenda menepuk pundak Sekar, “ini ayahnya Diego nelpon.”Berikutnya, terdengar suara Brenda yang berubah lembut, agak manja, dan lebih riang saat mengobrol dengan suaminya. Sekar pura-pura main ponsel, memandang beberapa bocah bermain perosotan, sesekali mencuri dengar—seperti biasa untuk menabung ide novel — kali ini Brenda bercerita soal oleh-oleh dari kebun teh.“Bubu, nanti sore pulang cepat ya? Kita cobain teh putih.”‘Astaga!’ Sekar membatin lalu melirik. Dia tertawa dalam hati; tarikan nada suara Brenda jadi mirip Diego saat meminta es krim. Sedetik kemudian, pandangannya beradu dengan Brenda yang sudah selesai bertelepon.“Bubu?”Brenda merona. “Panggilan sayang dari
Ketika membuka mata keesokan paginya, Sekar menoleh pada Liam. Pria itu berbaring miring menghadapnya dengan lengan terjulur di bawah kepala Sekar yang telentang.“Tidur lagi aja.”Sekar mendengar suara berat berbisik di telinganya, lalu kening dan pipinya dijalari rasa hangat. Kecupan Liam kemudian berhenti di atas bahu Sekar.“Jam berapa?”Sekar memiringkan tubuh, membenamkan wajah di dada Liam. Beberapa ratus hari lagi mungkin dirinya dan Liam tak akan begini lagi. Tiba-tiba saja sepagi itu dia ingin menabung kenangan; aroma citrus Liam yang memanjakan indranya.“Setengah enam.” Liam memainkan helaian rambut Sekar, melilitkan di jarinya. “Ngomong-ngomong semalam kamu jadi makan lagi?”Tangan mungil Sekar refleks meraba perut. Terasa lebih rata dari biasanya plus keroncongan. “Lupa,” sahutnya, kembali telentang.“Aku nungguin sebenernya. Sambil main game. Tapi kayaknya kamu langsung tidur. Aku ketuk-ketuk pintunya, nggak ada suara, dikunci.”Sebenarnya Sekar mendengar sayup-sayup su







