LOGINSekar sulit berpaling. Liam masih menatapnya. Apa karena dia menawan? Senyumnya, gerak-geriknya, sentuhannya, perhatiannya. ‘Sialan!’ Dia mengumpat dalam hati.Barangkali Tuhan sempat menambahkan bintang-bintang ketika menciptakannya. Sepercik saja rasanya sudah cukup. Sekar berpikir begitu tentang Liam—yang pertama kali, tiba-tiba saja.“Hm … Sekar, kamu kedinginan nggak? Aku ambil selimut dulu.” Liam keluar keluar mobil lagi, ke bagasi mengambil selimut.Begitu kembali ke mobil Liam menutupi kaki istrinya yang bercelana pendek itu dengan selimut tipis abu-abu. Sekar terkesiap, mengangkat kedua tangan sedikit, pura-pura biasa saja, padahal jantungnya seperti mau meloncat keluar.“Thanks.” Sekar tersenyum sekilas.Sambil menunggu truk towing yang menurut informasi akan tiba dalam waktu dua puluh menit lagi, mereka mengobrol random. Tepat saat itu bintang bermunculan di langit, bercahaya alami di malam perbukitan yang gelap.“Kalau udah sampai aku kepengen berendam air hangat.” Sekar d
Liam kembali menyalakan mesin. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tak ada hasil. Keduanya lihat-lihatan lagi, lalu terkekeh pelan.“Kenapa ketawa?” Sekar membuka kaca mobil sepertiga, membiarkan udara di dalam berganti dengan kesejukan alam.Liam melakukan hal yang sama seraya mengecek keadaan di luar dari celah jendela. Saat kembali memandang Sekar, dia bilang, “Are you thinking what I’m thinking?”“Kayaknya kita dimarahin ya?” bisik Sekar. “Nggak boleh begituan di kebun.”Liam mengangkat kedua alis mengiyakan. Keduanya lantas kompak tergelak.“Sst, jangan kenceng-kenceng ketawanya,” protes Sekar.“Kenapa jadi mistis gitu?” Liam nyengir, mencoba menyalakan mobil sekali lagi. Sayangnya masih gagal. Mobil hitam itu masih enggan berfungsi.“Hm, telepon mobil derek kayaknya.” Liam meraih ponsel, mencari informasi kontak towing terdekat. “Untung ada sinyal.”Sekar menyapu pandangan ke sekeliling. Jalanan di kawasan kebun teh mulai sepi, hanya terlihat hamparan tanaman teh yang memanjang mengiku
Suara air dari pancuran di dalam kamar mandi masih terdengar di telinga Liam, letaknya memang tak jauh, hanya beberapa langkah dari ruang tidur. Dan Liam sekarang sudah berada di laman sebuah web novel di mana penulis bernama Peonyrose mempublikasi novel-novel romantis dewasanya.Dengan akun pengunjung—bukan anonim, hanya belum mendaftar menjadi anggota—Liam mulai menelusuri jejak penulis bernama bunga-bungaan itu. Mata pria itu mengerjap ditambah ekspresi tertegun membaca judul-judul novel online yang sebagian besar seperti sudah menceritakan isi ceritanya.‘Hm, apa ini sama kayak cerita-cerita drama yang suka anak kantor nonton? Cuma ini versi novel?’Liam bergumam dalam hati, teringat beberapa staf di timnya memang sering membicarakan drama yang katanya seru, berdurasi pendek, dan bikin ketagihan.“Apa nih? Cintaku Bersemi di Mesin ATM?” Liam tergelak pelan, lantas nyengir-nyengir setelah membaca beberapa paragraf.“Teller bank sama mas-mas yang suka ngisi ATM? Serius? Deskripsinya
Sekar bahagia.Buncahan perasaan itu terpancar dari setiap inci dirinya. Begitulah dia di pagi hari, duduk di meja makan, tersenyum lebar memandang roti panggang pertama yang dia buatkan untuk suaminya. “Foto dulu ah. Kenang-kenangan. Paling enggak selama jadi istri aku pernah nyiapin sarapan buat suami.” Cengiran lebar tergambar di wajah Sekar waktu mengunggah foto roti panggang.Sambil menunggu Liam bangun, Sekar duduk bersandar di kursi meja makan sambil menekuk kedua lutut, santai membalas ucapan-ucapan selamat ulang tahun dari keluarga dan sahabatnya di ponsel.Begitu mendengar suara batuk-batuk sengaja di dekatnya, Sekar berhenti mengetik pesan. Suami yang seksi sekujur badan, yang dibuatkan sarapan, sudah bangun.“Hai, pagi.” Suara serak dan tangan Liam mengusap rambutnya lembut. Sekar baru saja berpikir apa tangan Liam mengandung sengatan listrik? Sebab tiap pria itu menyentuhnya, dia seperti tersengat ribuan volt.‘Dan semalam … I screamed his name, bilang aku suka dia!’ Se
‘So, let’s keep me in your heart, Liam. Karena aku juga bakalan menyimpan semua memori ini,’ gumam Sekar di hati terdalam begitu ciuman manis yang tak lama itu terlepas pelan-pelan.Saat tenggelam dalam tatapan Liam, Sekar melihat apa yang pria itu pernah tawarkan padanya. Beberapa pasang padan kata menari-nari di kepala: love, lust, suka, cinta. Dan Sekar tak tahu mana yang mewakili perasaannya.“Naik sepeda lagi yuk!”Sekar lagi-lagi enggan memikirkannya. Berlari sejauh yang dia bisa untuk tetap berada dalam zona nyaman. Dan bisa saja sorot mata pria itu berdusta. Apalagi kata-kata yang dipakai Liam selalu itu-itu saja: I want you; I need you—seperti kurang meyakinkan.Embusan angin mengayun-ayun daun-daun nyiur kelapa. Liam melipat selimut pantai, sementara Sekar memasukkan novelnya kembali ke dalam tas.“Mau ke mana kita? Cari kerang? Bikin istana pasir?” Liam menaruh selimut tipis bergaris ungu di keranjang sepeda Sekar.Si gadis ulang tahun menggelengkan kepala sambil bergumam-gu
Sepuluh menit sudah Sekar membuka mata dan menemukan kamar sudah terang benderang. Gorden yang terbuka lebar, cahaya matahari membias di lantai, dan pemandangan pantai membentang di depannya dari jendela.Dia berguling ke kiri, tersenyum lebar dengan perasaan membuncah seakan terbangun di surga. Dan hari ini hari ulang tahunnya yang ke-28. Dengan tambahan waktu sepuluh menit lagi menikmati pemandangan tepi pantai dari dalam kamar, hingga totalnya dua puluh menit, kejutan yang Sekar damba tak muncul-muncul juga.“Gila sih, aku berharap di-surprise-in sama Liam yang tiba-tiba masuk kamar bawa kue ulang tahun!” gumam Sekar, menarik selimut hingga ke ujung kepala.Dia lalu bangun. Masih berharap mungkin Liam sedang keluar, membeli cake kecil untuknya, lalu bilang: ‘Sori beli kuenya jauh! Surprise, happy birthday Sekar!’.Beberapa saat kemudian semesta mengabulkan harapannya. Tak serupa, malah lebih unik.“Hai, good morning. Udah bangun?” Liam berdiri di meja makan lipat yang menempel pada







