แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Crispy Coco
Keesokan sorenya, aku menjalani fitting terakhir untuk gaun pengantinku.

Gaun itu milik nenekku. Rendanya indah dengan paduan warna putih, setiap bunga disulam tangan.

Tujuh puluh tahun lalu, dia mengenakannya saat menikah dengan kakekku. Empat puluh tahun lalu, ibuku memakainya ketika melangkah masuk ke rumah keluarga kami di Silia. Sekarang, giliranku.

"Bu Rosa, kamu tampak menakjubkan," ujar penjahit itu sambil dengan hati-hati merapikan ekor gaun. "Gaun ini memang diciptakan untukmu."

Aku menatap bayanganku di cermin. Dia benar. Gaun ini indah. Gaun ini menyimpan cinta tiga generasi perempuan Keluarga Rasman dan aku akan mengkhianati semua makna yang dikandungnya.

"Veil panjangnya sempurna," kata sang penjahit sambil mengangkat pusaka yang serasi. Ibuku sendiri yang menyulam mawar-mawar di atasnya. Setiap tusukan benang adalah doa untuk kebahagiaan putrinya.

Saat itu juga, pintu terbuka.

Maxim masuk dengan Clara. Mereka baru kembali dari mencicipi kue pernikahan. Maxim membawa sekotak sampel.

"Wow," kata Clara, berhenti begitu melihatku. Sorot matanya berubah dari kagum menjadi iri, lalu dengan cepat dia tutupi dengan pujian. "Rosa, kamu cantik sekali! Gaun ... itu istimewa sekali." Suaranya terdengar tegang.

Maxim melangkah ke sisiku. Selama satu detik, matanya benar-benar terpukau. "Pengantinku," bisiknya sambil mengecup pipiku. "Sangat sempurna."

Senyum Clara sempat goyah. Dia segera memulihkannya, memaksakan senyum cerah yang rapuh. "Oh ya, Rosa, terima kasih sudah mengizinkanku menjadi pendamping utamamu." Dia mengeluarkan ponselnya dan menggeser layar ke sebuah foto. "Maxim membelikanku gaun. Aku janji akan jadi pendamping terbaik!"

Dia memutar layar ke arahku. Aku melihat foto sebuah gaun putih panjang, berpotongan rendah, menjuntai hingga lantai, penuh manik-manik halus. Tampilannya hampir persis seperti gaun pengantin, hanya saja tanpa veil.

"Gaun pendamping yang ... sangat cantik," kataku dingin.

Senyum Clara kembali goyah. "Iya, Maxim bilang aku harus berdandan pantas untuk hari sepenting itu ...."

Aku meletakkan hiasan kepala yang sedang kupegang dan menatapnya lurus-lurus. "Katakan padaku, Clara."

"Apa?"

"Kamu ini pendamping utama, atau pengantin?"

Udara seolah-olah membeku. Wajah Clara memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. "Rosa, aku ... aku cuma ingin ...." Suaranya bergetar. "Aku cuma ingin pernikahanmu sempurna, aku ingin semuanya terlihat pantas di sana ...."

Dia menoleh ke Maxim, sambil menangis. "Aku salah ya? Aku seharusnya nggak memakai gaun seformal ini?"

Maxim mengerutkan kening ke arahku. "Rosa, itu cuma gaun," katanya tajam. "Dia nggak akan mengalahkan pengantin."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya. Dia bergeser, tak nyaman di bawah tatapanku. "Ayolah, ini cuma gaun putih," katanya kesal. "Bukan masalah besar."

Tangis Clara makin menjadi. "Ini semua salahku!" teriaknya sambil berlari ke arahku. "Rosa, aku benar-benar minta maaf!"

Dia bergerak terlalu cepat. Kakinya tersangkut sesuatu.

"Ah!"

Keseimbangannya hilang dan dia terjatuh ke depan. Tangannya terulur, meraih apa pun yang bisa dia pegang. Dia meraih veil-ku. Suara robekan yang mengerikan menggema di ruangan yang sunyi.

Aku menunduk. Veil bersulam mawar buatan ibuku, yang baru saja dipegang penjahit, robek. Sebuah koyakan panjang membelah renda antiknya.

"Astaga!" Clara terduduk di lantai, air mata mengalir deras. "Aku minta maaf! Aku nggak sengaja!" Dia menatap potongan renda di tangannya dan menangis semakin keras. "Aku benar-benar nggak bermaksud, aku ceroboh sekali ...."

Maxim langsung berlutut untuk menolongnya berdiri. "Clara, kamu nggak apa-apa? Sakit nggak?" Naluri pertamanya adalah memeriksa Clara. Bukan pusaka keluarga yang hancur.

"Aku nggak apa-apa. Tapi veil Rosa ...." Clara terisak. "Ini semua salahku ...."

Maxim akhirnya melirik renda di lantai, lalu menatapku. "Itu kecelakaan," katanya datar. "Kita bisa memperbaikinya. Atau aku belikan yang baru."

Membelikan yang baru. Dia bilang akan membelikan yang baru. Bagi dia, sejarah keluarga kami, warisan kami, hanyalah barang dagangan lain.

"Nggak apa-apa," kataku, suaraku bergetar. "Cuma veil."

Aku membungkuk dan memunguti potongan renda yang hancur. Setiap benang yang kuambil membuat hatiku perih.

"Maxim, tanganku sakit," rintih Clara, memperlihatkan goresan kecil di telapak tangannya.

Sedangkan Maxim, seperti biasa, memilih dia. Dia mengangkat Clara dan membawanya menuju ruang kerjanya sambil berteriak memanggil salah satu anak buahnya untuk memanggil dokter.

Mataku terasa panas, tetapi air mata tak mau jatuh. Sedetik kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari nomor terenkripsi.

[ Semuanya sudah siap. Aku menunggumu, ratuku. ]
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 9

    Sudut Pandang Rosa:Malam itu adalah malam terbesar dunia bawah Kota Nawera. Gala amal tahunan. Sebuah malam ketika dosa-dosa dicuci dengan sampanye dan setiap transaksi kotor "dibersihkan" terang-terangan.Daya tarik utama malam ini adalah mahkota kebanggaan Keluarga Chandra. Menara Keluarga Chandra yang ikonik di Manha.Itu simbol kekuasaan keluarga mereka, warisan terakhir yang ditinggalkan ayah Maxim. Malam ini, kepemilikannya akan berpindah tangan.Aku memasuki aula sambil menggandeng lengan Niko. Lampu sorot langsung mengarah ke kami. Setiap mata di ruangan memancarkan campuran rasa takut dan hormat."Pak Niko, Bu Rosa, silakan ke sini."Seorang pelayan mengantar kami ke balkon utama di tengah ruangan. Dulu tempat itu milik Maxim. Sekarang sudah menjadi milik kami.Saat aku duduk, sosok yang familier tertangkap di sudut mataku. Maxim.Dia mengenakan setelan lama, jelas kebesaran untuk tubuhnya sekarang. Kerahnya sudah usang. Dia duduk di kursi murah. Sendirian. Tanpa pengawal."D

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 8

    Sudut Pandang Rosa:Maxim berubah menjadi lelucon terbesar di Kota Nawera. Video "Pernikahan Pulau Tanpa Pengantin" dan "Ratu di Gereja" viral di media sosial. Semua orang melihat Kepala Keluarga Chandra diusir dari gereja. Mereka juga menyaksikan kekasih kecilnya yang "polos" mengamuk, berguling-guling di lantai.Dia berusaha menghilangkan pemberitaan itu, tetapi dia lupa bahwa server yang mengendalikan media kini milik suamiku. Tanpa tiga jalur pencucian uang Keluarga Rasman, uang ilegal Keluarga Chandra tak lebih dari tumpukan kertas. Kontainer pengirimannya disita bea cukai. Kasino-kasinonya digerebek. Bahkan kompleks tua keluarganya di Silia ikut "tak sengaja" disapu polisi setempat.Sedangkan aku? Aku duduk di kantor mewah Niko di Manha."Kamu lagi lihat apa?" Niko memelukku dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, napas hangatnya menyentuh telingaku."Menonton anjing liar mengemis," jawabku, menunjuk sosok yang berdiri di bawah hujan deras. Dia sudah di sana tiga jam.

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 7

    Sudut Pandang Rosa:"Apa? Aku nggak pernah memilih Clara!" Maxim menggeleng panik. "Rosa, kamu nggak mengerti, dia itu cuma ....""Cuma apa?" Aku memotongnya. "Lebih penting dariku?""Nggak! Aku mencintaimu!"Cinta? Aku tak bisa menahan tawa."Kamu mencintaiku?" Aku berlutut hingga kami sejajar mata dengan mata. "Kalau begitu, kenapa kamu membiarkannya memakai pusaka keluargaku?"Wajah Maxim langsung pucat."Kenapa kamu memindahkan lokasi pernikahan ke pulau miliknya?""Kenapa kamu membuang lilin-lilin yang ditinggalkan nenekku?""Kenapa kamu membiarkannya merobek veil ibuku?"Mulut Maxim terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia tahu. Tidak ada alasan."Rosa ...." Suaranya bergetar. "Beri aku kesempatan. Aku bisa menebus semuanya ....""Menebusnya?" Aku berdiri. "Dengan apa? Dengan kebohonganmu? Pengkhianatanmu? Atau dengan keluarga menyedihkanmu yang sudah hampir jadi debu?""Rosa ...." Suaranya gemetar. "Ini cuma lelucon, 'kan? Kamu marah karena aku mengganti lokasi acara? Aku

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 6

    Sudut Pandang Rosa:"Dengan ini, kamu resmi menjadi suami dan istri."Begitu pastor menyelesaikan ucapannya, gereja langsung dipenuhi oleh tepuk tangan yang menggelegar.Aku berhasil. Aku akhirnya lolos dari "penjara" Maxim.Niko menoleh padaku. Ada kilatan kelembutan di mata birunya yang dalam, sesuatu yang tak pernah kulihat pada pria sepertinya. "Istriku," katanya pelan, lalu mengecup punggung tanganku.Tiba-tiba, dia berlutut dengan satu lutut.Seluruh gereja terdiam. Setiap tamu menahan napas.Niko mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari balik jasnya. Di dalamnya ada cincin berlian hitam besar, dikelilingi lingkaran berlian-berlian kecil. Kilauannya berpendar di bawah cahaya jendela kaca patri."Rosa Valgana." Suaranya penuh khidmat. "Sebagai hadiah pernikahan," katanya tegas, "aku memberimu setengah wilayahku di Kota Nawera."Setengah wilayahnya? Itu bernilai triliunan.Desahan terkejut menggema di seluruh gereja.Di dunia kami, perasaan adalah kelemahan. Keuntungan adalah s

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 5

    Sudut Pandang Maxim:Pulau itu sunyi senyap.Tablet di tanganku bergetar. Di layar, Rosa berdiri di samping psikopat Rasia itu."Nggak, ini nggak mungkin ...." Aku mencengkeram tablet lebih erat. "Ini pasti tipu daya. Efek khusus. Editan!""Maxim, siapa itu?" Clara yang tak tahu apa-apa seperti biasa, ikut mendekat. "Siapa pria itu? Dia lebih tinggi darimu ... dan gaun Rosa ... kelihatannya lebih mahal dari punyaku.""Diam."Aku mendesis, tak sanggup lagi mendengar rengekannya sedetik pun.Kemudian, suara pastor menggema dari gereja tua itu."Apakah kamu, Rosa Rasman, menerima pria ini, Niko Valgana, sebagai suamimu?"Aku menahan napas.Rosa pasti akan bilang tidak. Dia mencintaiku selama lima tahun. Dia tak mungkin menikahi bajingan itu.Namun di layar, Rosa mengangkat dagunya. Suaranya tegas dan sedingin es. "Aku bersedia."Duniaku seketika hancur."Nggak!" Aku berteriak, menghantamkan tablet ke pasir. "Ini nggak mungkin!"Namun, layar itu tidak pecah. Siaran langsung pernikahan itu

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 4

    Malam sebelum pernikahan, aku sendirian di rumah besar itu.Maxim dan Clara sudah pergi sejak pagi. "Pengecekan terakhir di pulau," katanya.Koperku tergeletak di atas ranjang. Di dalamnya hanya beberapa pakaian sederhana dan veil yang robek. Aku membawanya bersamaku. Sebuah kenang-kenangan dari lima tahun kebohongan.Ponselku berdering. Dari Maxim."Rosa, kamu sudah tidur?" Nadanya terdengar ceria. "Aku dan Clara sudah di pulau. Semuanya sempurna.""Oh ya?""Matahari terbenam di sini luar biasa. Besok kamu pasti menyukainya." Dia berhenti sejenak, suaranya melembut. "Helikopter akan menjemputmu jam sepuluh pagi. Jangan terlambat."Pukul sepuluh pagi. Dia masih hidup di dunia mimpinya."Maxim," kataku."Ya?""Kamu bersemangat untuk besok?""Tentu saja." Dia tertawa. "Ini akan jadi pernikahan terbesar di Kota Nawera. Seluruh dunia akan melihat betapa bahagianya kita."Bahagia. Lelucon yang luar biasa."Bagus," kataku sambil tersenyum dingin.Aku menutup panggilan dan mematikan ponsel. A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status