Share

Bab 2

Author: Crispy Coco
Aku menatap punggungnya. Darahku terasa membeku.

Itu lilin-lilin nenekku. Di ranjang kematiannya, dia menggenggam tanganku dan berkata, "Rosa, setiap putri Keluarga Rasman berjalan menuju altar dengan lilin-lilin ini. Mereka akan memberkatimu dengan kebahagiaan."

Sekarang, lilin-lilin itu membusuk entah di tempat pembuangan mana, hanya karena Clara merasa "terlalu berangin di pulau".

"Kamu tahu arti lilin-lilin itu bagiku," kataku. Suaraku hanya bisikan.

Maxim sudah berada di depan pintu. "Rosa, jangan membesar-besarkan hal sepele. Clara cuma bersikap praktis."

Pintu itu kembali tertutup.

Aku berdiri di sana, dikelilingi kotak-kotak itu, merasa kosong sampai ke dasar.

Malam berikutnya adalah jamuan makan keluarga. Aku mengenakan gaun hitam, duduk di kursi tradisionalku di meja panjang, di sebelah kanan tempat duduk kepala. Kursi calon Nyonya Chandra. Namun, semua mata tertuju pada Clara.

Dia mengenakan gaun pink dengan bahu terbuka. Kalung mutiara panjang yang sangat indah terlingkar di lehernya.

Aku mengenal kalung itu. Maxim membelinya di sebuah lelang di Duban bulan lalu. Katanya dia ke sana untuk urusan bisnis. Harganya miliaran. Kupikir dia menyimpannya untukku. Untuk pernikahan kami, tetapi ternyata untuk Clara.

"Semuanya, lihat!" Clara mengangkat sebuah tablet, wajahnya berbinar penuh semangat. "Aku mendesain ulang dekorasi pernikahannya!"

Layar itu dipenuhi warna pink. Lengkungan pink, bunga pink, taplak meja pink, sarung kursi pink. Bahkan vasnya pun pink. Tampak seperti pesta ulang tahun Barbie.

"Bukankah ini agak ...." Paman Maxim, seorang letnan berpangkat tinggi dari generasi lama, mulai berbicara.

"Agak apa?" Maxim meletakkan gelas anggurnya. Tatapannya dingin. "Clara bekerja sepanjang minggu untuk ini."

"Kekanak-kanakan," kataku. Ucapan pertamaku malam itu.

Seluruh meja langsung hening. Semua orang menatapku.

"Ini pernikahan seorang bos mafia. Bukan pesta ulang tahun anak kecil."

Mata Clara seketika berkaca-kaca. "Rosa, aku cuma ingin membuatnya lebih hidup ...." Dia menggigit bibirnya, suaranya bergetar. "Kalau kamu nggak suka, aku bisa mengulanginya ...."

"Nggak perlu." Suara Maxim sedingin es. "Clara adalah konsultan pernikahan kita. Selera dia sempurna. Mungkin kamu yang perlu belajar gimana rasanya menjadi muda."

Dia mempermalukanku ... di depan semua orang. Wajahku terasa seperti terbakar.

"Maxim, ini pernikahanku."

"Pernikahan kita," sahutnya. "Dan aku mengundang Clara. Kamu harus menunjukkan rasa hormat padanya."

"Nggak, nggak ...." Clara tiba-tiba berdiri, menutupi wajahnya. "Ini semua salahku, aku seharusnya nggak ikut campur dalam pernikahan kalian ...."

Dia mulai terengah. "Aku ... aku nggak bisa bernapas. Maaf ...."

Ini dia "pertunjukannya".

Maxim langsung bangkit dan memeluknya. "Clara, tarik napas. Lihat aku." Dia mengusap punggungnya, matanya dipenuhi kelembutan yang belum pernah kulihat dia berikan pada siapa pun. Bukan padaku. Bahkan saat aku hancur di pemakaman ayahku sendiri, dia hanya memberiku tisu.

"Ini semua salahku ...." Clara terisak. "Aku bakal pergi sekarang juga ...."

"Kamu nggak akan ke mana-mana." Maxim memeluknya lebih erat, lalu dia menoleh padaku, matanya menyala marah. "Sekarang kamu puas? Ini yang kamu mau? Membuat seorang wanita kena serangan panik hanya karena warna pernikahan sialanmu?"

Aku menatap akting sempurna Clara di pelukan Maxim. Aku melihat sekilas pandangan yang dia lemparkan ke arahku, memastikan reaksiku. Aku melihat jemarinya mencengkeram kemeja Maxim, mengklaim dirinya.

"Aku nggak melakukan apa pun padanya. Aku cuma menyampaikan pendapat tentang pernikahanku sendiri."

"Masalahnya adalah sikapmu!" Maxim berteriak. "Clara punya trauma! Kamu tahu itu. Menyerangnya seperti ini sama saja kamu menusuk punggungnya dengan pisau!"

Yang lain di meja hanya menunduk menatap steik mereka. Tak ada yang berani bicara, tak ada yang memihakku, dan tak ada yang menganggap ini salah.

"Aku lelah," kataku sambil berdiri dan meletakkan serbetku. "Nikmati makan malam kalian."

"Rosa ...." Paman Maxim akhirnya angkat suara. "Duduklah. Selesaikan ini seperti orang dewasa."

"Nggak perlu." Aku melirik Clara, yang tampak sempurna dalam pelukan Maxim. "Sepertinya rumah ini sudah punya nyonya baru."

Aku berbalik dan pergi.

Saat menaiki tangga, aku mendengar isak tangis Clara makin keras, disusul suara Maxim yang lembut menenangkannya.

"Ssstt, Sayang, jangan menangis." Kudengar dia berbisik. "Dia cuma cemburu. Sudah nggak heran."

Hatiku sangat sakit mendengarnya.

Aku menutup pintu kamar dan memutar sebuah nomor terenkripsi.

"Kamu pernah bilang akan menikah denganku. Tawaran itu masih berlaku? Kamu punya dua hari. Temui aku di Silia."

Aku menutup telepon.

Saat itu juga, Maxim mendorong pintu terbuka. Nadanya tidak sekeras sebelumnya.

"Rosa, kamu masih marah? Aku tahu aku memang agak kasar tadi. Tapi kamu harus mengerti. Dia putri pria yang menyelamatkan hidupku."

Dia mendekat dan memelukku, mencoba menciumku seolah-olah tak terjadi apa-apa. "Aku tahu kamu cuma sedang emosi. Pernikahan kita bakal besar dan romantis. Kamu sudah menantikannya, 'kan? Besok aku dan Clara akan mencicipi kue pernikahan. Percayalah, kamu nggak akan kecewa."

Aku menatap ketulusannya yang palsu dan hanya merasa mual.

Jika dia akan selalu mengutamakan Clara, baiklah. Aku akan memberinya hari pernikahan yang tak akan pernah dia lupakan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 9

    Sudut Pandang Rosa:Malam itu adalah malam terbesar dunia bawah Kota Nawera. Gala amal tahunan. Sebuah malam ketika dosa-dosa dicuci dengan sampanye dan setiap transaksi kotor "dibersihkan" terang-terangan.Daya tarik utama malam ini adalah mahkota kebanggaan Keluarga Chandra. Menara Keluarga Chandra yang ikonik di Manha.Itu simbol kekuasaan keluarga mereka, warisan terakhir yang ditinggalkan ayah Maxim. Malam ini, kepemilikannya akan berpindah tangan.Aku memasuki aula sambil menggandeng lengan Niko. Lampu sorot langsung mengarah ke kami. Setiap mata di ruangan memancarkan campuran rasa takut dan hormat."Pak Niko, Bu Rosa, silakan ke sini."Seorang pelayan mengantar kami ke balkon utama di tengah ruangan. Dulu tempat itu milik Maxim. Sekarang sudah menjadi milik kami.Saat aku duduk, sosok yang familier tertangkap di sudut mataku. Maxim.Dia mengenakan setelan lama, jelas kebesaran untuk tubuhnya sekarang. Kerahnya sudah usang. Dia duduk di kursi murah. Sendirian. Tanpa pengawal."D

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 8

    Sudut Pandang Rosa:Maxim berubah menjadi lelucon terbesar di Kota Nawera. Video "Pernikahan Pulau Tanpa Pengantin" dan "Ratu di Gereja" viral di media sosial. Semua orang melihat Kepala Keluarga Chandra diusir dari gereja. Mereka juga menyaksikan kekasih kecilnya yang "polos" mengamuk, berguling-guling di lantai.Dia berusaha menghilangkan pemberitaan itu, tetapi dia lupa bahwa server yang mengendalikan media kini milik suamiku. Tanpa tiga jalur pencucian uang Keluarga Rasman, uang ilegal Keluarga Chandra tak lebih dari tumpukan kertas. Kontainer pengirimannya disita bea cukai. Kasino-kasinonya digerebek. Bahkan kompleks tua keluarganya di Silia ikut "tak sengaja" disapu polisi setempat.Sedangkan aku? Aku duduk di kantor mewah Niko di Manha."Kamu lagi lihat apa?" Niko memelukku dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahuku, napas hangatnya menyentuh telingaku."Menonton anjing liar mengemis," jawabku, menunjuk sosok yang berdiri di bawah hujan deras. Dia sudah di sana tiga jam.

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 7

    Sudut Pandang Rosa:"Apa? Aku nggak pernah memilih Clara!" Maxim menggeleng panik. "Rosa, kamu nggak mengerti, dia itu cuma ....""Cuma apa?" Aku memotongnya. "Lebih penting dariku?""Nggak! Aku mencintaimu!"Cinta? Aku tak bisa menahan tawa."Kamu mencintaiku?" Aku berlutut hingga kami sejajar mata dengan mata. "Kalau begitu, kenapa kamu membiarkannya memakai pusaka keluargaku?"Wajah Maxim langsung pucat."Kenapa kamu memindahkan lokasi pernikahan ke pulau miliknya?""Kenapa kamu membuang lilin-lilin yang ditinggalkan nenekku?""Kenapa kamu membiarkannya merobek veil ibuku?"Mulut Maxim terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Dia tahu. Tidak ada alasan."Rosa ...." Suaranya bergetar. "Beri aku kesempatan. Aku bisa menebus semuanya ....""Menebusnya?" Aku berdiri. "Dengan apa? Dengan kebohonganmu? Pengkhianatanmu? Atau dengan keluarga menyedihkanmu yang sudah hampir jadi debu?""Rosa ...." Suaranya gemetar. "Ini cuma lelucon, 'kan? Kamu marah karena aku mengganti lokasi acara? Aku

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 6

    Sudut Pandang Rosa:"Dengan ini, kamu resmi menjadi suami dan istri."Begitu pastor menyelesaikan ucapannya, gereja langsung dipenuhi oleh tepuk tangan yang menggelegar.Aku berhasil. Aku akhirnya lolos dari "penjara" Maxim.Niko menoleh padaku. Ada kilatan kelembutan di mata birunya yang dalam, sesuatu yang tak pernah kulihat pada pria sepertinya. "Istriku," katanya pelan, lalu mengecup punggung tanganku.Tiba-tiba, dia berlutut dengan satu lutut.Seluruh gereja terdiam. Setiap tamu menahan napas.Niko mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam dari balik jasnya. Di dalamnya ada cincin berlian hitam besar, dikelilingi lingkaran berlian-berlian kecil. Kilauannya berpendar di bawah cahaya jendela kaca patri."Rosa Valgana." Suaranya penuh khidmat. "Sebagai hadiah pernikahan," katanya tegas, "aku memberimu setengah wilayahku di Kota Nawera."Setengah wilayahnya? Itu bernilai triliunan.Desahan terkejut menggema di seluruh gereja.Di dunia kami, perasaan adalah kelemahan. Keuntungan adalah s

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 5

    Sudut Pandang Maxim:Pulau itu sunyi senyap.Tablet di tanganku bergetar. Di layar, Rosa berdiri di samping psikopat Rasia itu."Nggak, ini nggak mungkin ...." Aku mencengkeram tablet lebih erat. "Ini pasti tipu daya. Efek khusus. Editan!""Maxim, siapa itu?" Clara yang tak tahu apa-apa seperti biasa, ikut mendekat. "Siapa pria itu? Dia lebih tinggi darimu ... dan gaun Rosa ... kelihatannya lebih mahal dari punyaku.""Diam."Aku mendesis, tak sanggup lagi mendengar rengekannya sedetik pun.Kemudian, suara pastor menggema dari gereja tua itu."Apakah kamu, Rosa Rasman, menerima pria ini, Niko Valgana, sebagai suamimu?"Aku menahan napas.Rosa pasti akan bilang tidak. Dia mencintaiku selama lima tahun. Dia tak mungkin menikahi bajingan itu.Namun di layar, Rosa mengangkat dagunya. Suaranya tegas dan sedingin es. "Aku bersedia."Duniaku seketika hancur."Nggak!" Aku berteriak, menghantamkan tablet ke pasir. "Ini nggak mungkin!"Namun, layar itu tidak pecah. Siaran langsung pernikahan itu

  • Pembalasan Dendam, Menikahi Musuh Kekasihku   Bab 4

    Malam sebelum pernikahan, aku sendirian di rumah besar itu.Maxim dan Clara sudah pergi sejak pagi. "Pengecekan terakhir di pulau," katanya.Koperku tergeletak di atas ranjang. Di dalamnya hanya beberapa pakaian sederhana dan veil yang robek. Aku membawanya bersamaku. Sebuah kenang-kenangan dari lima tahun kebohongan.Ponselku berdering. Dari Maxim."Rosa, kamu sudah tidur?" Nadanya terdengar ceria. "Aku dan Clara sudah di pulau. Semuanya sempurna.""Oh ya?""Matahari terbenam di sini luar biasa. Besok kamu pasti menyukainya." Dia berhenti sejenak, suaranya melembut. "Helikopter akan menjemputmu jam sepuluh pagi. Jangan terlambat."Pukul sepuluh pagi. Dia masih hidup di dunia mimpinya."Maxim," kataku."Ya?""Kamu bersemangat untuk besok?""Tentu saja." Dia tertawa. "Ini akan jadi pernikahan terbesar di Kota Nawera. Seluruh dunia akan melihat betapa bahagianya kita."Bahagia. Lelucon yang luar biasa."Bagus," kataku sambil tersenyum dingin.Aku menutup panggilan dan mematikan ponsel. A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status