เข้าสู่ระบบDi taman belakang...
Rafka masih duduk diam di bangku batu.Sementara Jagatra tetap berada di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi.Karena malam itu, kesunyian terasa lebih jujur daripada kata-kata.Namun di bagian lain istana...seseorang akhirnya mencapai batasnya.Setelah meninggalkan balkon bersama Justin...Rionaldo tidak kembali ke ruang pengobatan.Ia berbelok sendiri ke koridor timur.Langkahnya pelan.Tanpa tujuan jelas.Tanpa sadar.Di taman belakang...Rafka masih duduk diam di bangku batu.Sementara Jagatra tetap berada di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi.Karena malam itu, kesunyian terasa lebih jujur daripada kata-kata.Namun di bagian lain istana...seseorang akhirnya mencapai batasnya.Setelah meninggalkan balkon bersama Justin...Rionaldo tidak kembali ke ruang pengobatan.Ia berbelok sendiri ke koridor timur.Langkahnya pelan.Tanpa tujuan jelas.Tanpa sadar.Ia hanya berjalan.Melewati aula kosong.Melewati lorong panjang.Melewati jendela-jendela tinggi yang memperlihatkan langit malam kelabu.Sampai akhirnya...langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu tua.Rionaldo membeku.Karena ia mengenali tempat itu.Kamar Cristian.Sunyi.Pintu itu sudah tertutup sejak pemiliknya pergi.Tidak ada penjaga.Tidak ada pelayan.Tidak ada siapa-siapa.Hanya sebuah ruangan kosong yang ditinggalkan se
Malam masih menyelimuti Aethelgard.Kabut tipis mulai turun perlahan di halaman-halaman istana. Obor penjaga berkelip pelan diterpa angin dingin, sementara suara langkah prajurit malam terdengar samar dari kejauhan.Di balkon sayap barat...Justin dan Rionaldo masih berdiri dalam diam.Tak ada lagi yang perlu dikatakan malam itu.Karena beberapa luka memang tidak bisa dijahit dengan kata-kata.Akhirnya Justin mengembuskan napas panjang."Ayo balik."Rionaldo mengangguk kecil.Mereka berdua mulai berjalan kembali menuju ruang pengobatan.Namun saat tiba di depan pintu...keduanya berhenti.Karena seseorang sudah tidak ada di sana.Rafka.Pria itu menghilang tanpa suara.Justin mengernyit."Mana dia?"Rionaldo melirik ke dalam ruangan.Jagatra masih duduk dekat ranjang Lucas.Para tabib sibuk bekerja.Namun memang...Rafka tidak terlihat.Di sisi lain istana...Rafka duduk sendirian di taman be
Malam semakin dalam di Aethelgard.Hujan di luar perlahan mereda, meninggalkan suara tetesan air dari atap batu istana. Ruang pengobatan mulai sedikit tenang setelah Lucas akhirnya sadar kembali.Para tabib masih sibuk mengganti ramuan dan membersihkan racun dari tubuhnya.Namun ketegangan yang tadi memenuhi ruangan…belum benar-benar hilang.Rionaldo duduk di lantai dekat dinding sambil menundukkan kepala. Rafka berdiri diam di dekat jendela. Jagatra masih berada di sisi ranjang Lucas tanpa banyak bicara.Sementara Justin…perlahan berjalan keluar ruangan sendiri.Tidak ada yang menghentikannya.Karena semua orang mengira ia hanya butuh udara.Koridor istana terasa panjang dan dingin malam itu.Langkah Justin bergema pelan melewati obor-obor redup.Tatapannya kosong lurus ke depan.Isi kepalanya masih dipenuhi Michael.Cristian.Lucas.Dan semua orang yang hampir hilang satu per satu.Namun semakin lama ia berjalan
saat Lucas dibawa menuju ruang pengobatan kerajaan. Para tabib berjalan cepat melewati koridor sambil membawa ramuan dan kain hangat.Sementara di belakang mereka…tidak ada satu pun yang bicara.Jagatra berjalan paling depan.Tatapannya lurus.Dingin.Rionaldo mengepalkan tangannya sejak tadi. Justin menunduk sambil mengusap wajah kasar berkali-kali. Dan Rafka terus menatap bercak darah kecil yang tertinggal di lantai batu tempat Lucas jatuh tadi.Semuanya terasa terlalu mirip.Terlalu dekat dengan kehilangan lain yang belum sempat mereka kubur.Pintu ruang pengobatan terbuka keras.BRAKK!Tabib segera membaringkan Lucas di atas ranjang besar.“Cepat, siapkan penawar!”“Air panas!”“Bersihkan lukanya lagi!”Suara para tabib memenuhi ruangan.Namun Lucas sendiri hanya memejamkan mata sambil menahan napas berat.Racun hitam samar mulai terlihat jelas di bawah kulit lehernya sekarang.Dan itu membuat suasana ruang
Hujan kecil belum berhenti sejak ruangan penghormatan itu ditinggalkan. Lorong-lorong istana dipenuhi cahaya obor redup dan langkah pelan para pelayan yang berbicara nyaris berbisik.Namun setelah keluar dari ruangan Cristian…tidak ada seorang pun yang benar-benar merasa bisa bernapas lega.Jagatra berjalan paling depan di koridor utama.Tatapannya lurus.Diam.Sementara di belakangnya, Justin menunduk sambil memasukkan tangan ke saku jubah. Rafka berjalan pelan dengan wajah pucat. Rionaldo masih memegang gelas kecil kosong sejak tadi.Dan Lucas…langkahnya mulai terasa berat.Sangat berat.Awalnya tidak ada yang sadar.Sampai....BRUKK!Tubuh Lucas tiba-tiba oleng keras menghantam dinding batu.“Lucas!”Rafka langsung bergerak cepat menangkap bahunya sebelum pria itu jatuh sepenuhnya ke lantai.Rionaldo membeku.Justin langsung mendecak panik.“Anjir.!”Lucas tertawa kecil sambil menahan napas kasar.“
Malam turun perlahan di Aethelgard.Hujan tipis kembali membasahi halaman istana. Cahaya obor memantul di lantai batu yang masih menyisakan retakan perang. Dan di tengah kerajaan yang sedang mencoba bangkit kembali…nama Cristian kembali memenuhi udara.Karena besok pagi… pemakamannya akan dilaksanakan.Di ruang persiapan kerajaan, beberapa pelayan berjalan pelan sambil membawa kain putih dan lambang bahrasta.Tidak ada suara keras.Tidak ada percakapan panjang.Semua orang bergerak hati-hati…seolah takut merusak kesunyian yang menyelimuti istana malam itu.Di ruangan paling ujung…tubuh Cristian terbaring tenang.Pakaiannya sudah diganti dengan jubah kerajaan berwarna hitam dan emas. Luka di dadanya ditutupi kain kehormatan perang.Dan untuk pertama kalinya sejak perang dimulai…wajah pria itu terlihat benar-benar damai.Pintu ruangan terbuka perlahan.KREEKK…Jagatra masuk lebih dulu.Di belakangnya ada Lucas, Ju
pagi dibuka oleh suara langkah yang dipercepat Di ruang peta, Kaesar berdiri lebih awal dari siapa pun, Ia menyukai permukaan yang tidak memberi petunjuk, tempat orang lain harus mengisi kekosongan dengan kecemasan mereka sendiri.“Mulai hari ini,” katanya tanpa menoleh, “semua izin lint
Cristian tidak berada di aula latihan pagi itu. Keputusan kecil, nyaris tak terlihat, namun ia mengubah cara beberapa mata mencari. Pedang- pedang berderet rapi di rak, satu tempat kosong di sudut,bukan karena diambil, melainkan karena sengaja tidak dipajang. Cristian memilih ruang senyap di bawa
Ellisha datang tanpa pengumuman.Tidak ada pengiring. Tidak ada kain kebesaran. Ia berjalan sendiri melewati koridor yang biasanya hanya ia lihat dari jarak aman,lorong-lorong tempat keputusan kecil mengubah arah banyak hidup. Gaunnya sederhana, warna pucat yang nyaris menyatu dengan dinding batu.
Pagi tidak datang dengan terang. Ia merayap. Di bangunan kecil sisi taman, Jagatra terbangun sebelum lonceng pertama. Lilin semalam telah habis, menyisakan sumbu hitam yang bengkok jejak kecil dari sesuatu yang dibiarkan menyala terlalu lama. Ia tidak menyalakan yang baru. Cahaya, pagi ini, tidak







