Share

Bab 837

Penulis: Lilia
"Kalian semua keluar dulu." Anggi berkata dengan singkat, lalu segera mengejar Luis masuk ke ruang obat.

Torus merasa jantungnya akan copot. Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu di luar bersama Puspa dan Titiek. Dalam hati, dia terus berdoa, semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.

Begitu Anggi masuk ke ruang obat, dia langsung menutup pintu. Sambil berjalan, dia juga menyalakan lilin, membuat ruangan itu menjadi jauh lebih terang.

Luis mencari ke segala arah, tetapi tidak menemukan apa pun. Begitu menoleh, dia melihat perempuan cantik itu. Alis indahnya sedikit berkerut, "Kurang ajar, siapa yang mengizinkanmu mengikutiku masuk?"

Anggi tak tahan dan tertawa kecil. Saat itu juga, Luis merasa aneh. Perempuan ini sama sekali tidak takut padanya dan tatapannya begitu akrab.

Anggi berdeham, lalu sengaja mengubah suaranya dan berkata kepada Luis, "Hamba sudah lama mengagumi nama besar Kaisar. Apakah Kaisar berkenan mengabulkan satu permintaan kecil hamba?"

Luis men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Xinxui
Aska mana thor..
goodnovel comment avatar
Munkah
anggi dan luis bikin gemes...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1179

    Keesokan hari sebelum fajar menyingsing, Pati dan Ishaq menunggang kuda datang. Sepanjang perjalanan, di hati Ishaq timbul firasat buruk.Jika bukan karena urusan besar, bagaimana mungkin Aska menyuruh Pati memanggilnya datang?"Paman."Saat Ishaq melihat Aska, dia sangat terharu. Dia tak bisa menahan diri untuk menyebut Zahra. "Dia mungkin mengira Paman pergi meninggalkan ibu kota lebih awal karena dirinya."Aska berkata, "Aku sudah mengatakan hal itu pada Arya. Dia akan menghibur Zahra. Kepergianku dari ibu kota bukan karena Zahra."Ishaq akhirnya menghela napas lega. "Ya. Terus, Guru memanggilku ke sini untuk apa?"Aska menarik napas dalam-dalam. "Master Cahyo telah mencapai kesempurnaan. Kalau kamu pergi sekarang, mungkin masih bisa bertemu dengannya."Mata Ishaq langsung memerah. Dia berbalik dan segera berjalan ke luar. Pati segera membawanya menuju ruang meditasi Cahyo.Di depan ruang meditasi, biksu muda yang sebelumnya membukakan pintu untuk mereka tampak menguap. Sepertinya s

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1178

    Cahyo menuangkan teh untuknya. "Sepertinya, selama Tuan Aska berada di dunia fana, kondisimu sudah kembali normal."Aska mengangguk, tak sanggup mengucapkan terima kasih. Karena dulu, saat dia memindahkan seluruh serangan balik milik Anggi ke tubuhnya sendiri, yang dia pikirkan adalah menukar satu nyawa demi nasib Zahra dan Ishaq.Namun tak disangka, Cahyo justru menggunakan nasib Ishaq untuk menukar satu nyawanya.Sampai hari ini, meskipun Anggi dan Luis tak pernah mengatakannya, mereka barangkali sama sepertinya, sama-sama merasa hal itu tidak adil bagi Ishaq.Sekalipun Ishaq memilih jalan Tao, dalam kehidupan ini sangat mungkin dia akan menjalani hidup seorang diri. Seperti dirinya, seperti gurunya, juga para leluhurnya."Apakah dalam hidup ini Master masih memiliki penyesalan?" tanya Aska.Cahyo tersenyum. "Nggak." Dia menatap Aska. "Bagaimana kamu bisa terpikir datang ke Kuil Awan?"Aska berkata, "Setelah keluar dari ibu kota, tiba-tiba aku nggak tahu harus pergi ke mana lebih dul

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1177

    Seperti yang dikatakan ayahandanya, dengan latar belakang keluarga Arya, selama dia bersedia, entah berapa banyak keluarga bangsawan berkuasa di ibu kota yang rela menjalin pernikahan dengan Kediaman Jenderal Tantomo."Zahra, percayalah padaku." Suara Arya sedikit serak, rendah hingga terdengar seperti embusan napas.Dia mengira dirinya telah mendapatkan hati Zahra, mengira ke depannya semuanya akan berjalan mulus. Namun hari ini, dia menolak untuk mengumumkan bahwa dirinya telah dipilih sebagai pendamping."Aku percaya padamu."Zahra membalas menggenggam tangan Arya. Ishaq telah mengatakan bahwa Pati juga ikut pergi meninggalkan ibu kota bersama Aska. Pati sudah berjanji kepada Ishaq akan mengirim surat untuk melaporkan keselamatan.Selama Aska aman, apa salahnya jika dia meninggalkan ibu kota untuk mencari jalannya sendiri?....Di Istana Abadi.Setelah Anggi kembali, dia melihat Keswan sudah menunggunya di depan pintu."Guru Keswan," sapa Anggi sambil melangkah mendekat, tanpa perna

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1176

    "Kita kembali ke istana saja," ucap Anggi kepada Luis sambil tersenyum.Dibandingkan hadiah ulang tahun yang diberikan Aska kepada kedua anak itu, hadiah darinya dan Luis benar-benar tak seberapa nilainya.Baru sekarang Anggi menyadari bahwa semua perkataan Aska tentang menyukai emas itu hanyalah untuk menenangkan dirinya dan Luis.Kini, emas-emas itu kembali ke tangan Zahra dan Zenna dengan cara seperti ini. Aska benar-benar tidak menginginkan apa pun.Luis menarik napas dalam-dalam. "Baik."Dia sampai berharap bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi.Pertama, untuk menambah perbendaharaan negara demi Zahra. Kedua, untuk memberi Aska lebih banyak lagi. Selama bertahun-tahun ini, ajaran Tao bangkit di seluruh negeri. Kuil berdiri satu demi satu ....Hanya saja, semua itu sebenarnya hanyalah keinginan sepihak mereka. Luis sangat tahu, dia hanya pura-pura tidak mengerti. Dia paham betul apa yang paling diinginkan Aska.Sayangnya, apa yang diinginkan Aska itu ... ditakdirkan tak akan per

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1175

    Aska tidak berpamitan, bahkan tidak menemui dirinya.Zahra tahu apa yang dihindari Aska. Aska takut dia akan melekat padanya dan merusak reputasi bersih yang dijaganya seumur hidup ....Tidak, bukan begitu. Aska menjaga kesuciannya sepanjang hidup dan hanya mencintai ibundanya. Justru dia yang tidak bisa membedakan antara rasa kagum dan rasa cinta, hingga membuat Aska pergi.Semua ini karena dirinya ....Memikirkan itu, hati Zahra terasa nyeri. Kakinya melemas hingga hampir terjatuh. Untung ada seseorang yang menopangnya. Dia menoleh. Orang yang memeganginya adalah Arya.Wajah Arya penuh kecemasan. "Kamu nggak apa-apa?"Zahra tak berani berkata apa-apa, hanya mengangguk. "A ... aku nggak apa-apa."Arya berkata, "Guru sudah lama mengatakan padaku akan meninggalkan ibu kota. Kamu juga tahu. Hanya saja kita nggak menyangka hari ini adalah harinya. Kamu nggak boleh berpikir yang bukan-bukan.""Tapi ....""Nggak ada tapi. Kuda terbang ini adalah hadiah dari Guru untukmu." Sambil berbicara,

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1174

    Itu adalah hadiah ulang tahun dari Aska. Entah seberapa besar kegembiraan di hati Zahra. Padahal dia sempat mengira Aska tak mau lagi menghiraukannya."Kalau begitu, buka.""Baik."Tarian dan nyanyian telah berhenti. Para menteri pun menatap keempat peti besar itu. Aska benar-benar mengeluarkan banyak uang.Mata Arya juga sempat tertahan pada peti-peti itu, lalu dia menoleh ke arah Zahra. Dia melihat wajah Zahra dipenuhi sukacita, ekspresi yang bahkan lebih cerah dibanding saat menerima hadiah darinya. Di hatinya muncul sedikit kekecewaan.Namun, lantas kenapa? Antara Zahra dan Aska, mereka berdua sama sekali mustahil!Ando memerintahkan orang-orang membuka peti itu. Seketika, seekor kuda emas bersayap setinggi anak berusia lima atau enam tahun, terpampang di hadapan semua orang.Para menteri terperangah. Bagaimana mungkin seorang Kepala Biro Falak memiliki begitu banyak emas untuk membuat kuda emas?Ada yang berkata, "Beberapa tahun ini, Permaisuri tampaknya sering menghadiahkan emas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status