Mag-log in"Mas? Siapa Alana?" ulang Zalina kebingungan. Suaminya yang tak kunjung menjawab juga membuat pikirannya semakin meliar. Ketakutan perlahan mulai mengambil alih hatinya.
"Alana? Siapa Alana?" tanya Arya pura-pura tidak mengerti. Padahal jantungnya sudah berdetak sangat keras akibat bibirnya yang keceplosan menyebutkan nama perempuan yang masih menguasai hatinya. "Tadi Mas nyebut nama Alana." Arya mencolek hidung istrinya. "Mana ada seperti itu, kamu salah dengar itu. Alana, Zalina, mirip, kan?" Zalina mengangguk walau raut tak percaya itu masih tergambar di wajahnya. Selama ini dia tak pernah punya masalah kesehatan pada telinganya, rasanya tidak mungkin dia salah dengar. Apalagi tadi Arya mengatakan tepat di samping telinganya. Namun, untuk menyangkal pun Zalina tidak bisa. Jawaban sang suami sangat masuk akal. Belum lagi wajah di depannya tak menunjukkan kepanikan. Arya masih tetap tersenyum manis padanya. "Sudah jangan dipikirkan." Arya menyentil dahi sang istri. "Sepertinya kamu terlalu menikmati permainan kita, sampai nggak mendengar ucapan Mas dengan jelas." Merapikan rambut istrinya yang menutupi pipi, Arya lantas mendekatkan bibir pada telinga Zalina. "Kenapa? Mau lagi?" "Mas!" Zalina memukul dada suaminya yang masih terbalut kaos hitam. Walaupun sudah sering melakukan hubungan suami istri, Zalina masih malu jika suaminya membahas dengan terang-terangan. "Nggak usah malu kalau mau lagi." Arya duduk, lalu menarik Zalina agar duduk di pangkuannya. "Kita sudah satu tahun menikah, nggak usah malu-malu lagi." Arya menatap lurus wajah istrinya yang mulai memerah. Sementara tangannya bergerak untuk menutup kancing piyama Zalina, yang tadi terbuka karena ulahnya. "Sekarang saatnya pindah ke kamar." "Mas!" Zalina refleks melingkarkan tangan pada leher suaminya yang tiba-tiba berdiri. Mengangkatnya tanpa kesulitan sama sekali. Rasa curiga itu masih ada, tapi berusaha dia buang sebab kepercayaannya pada Arya begitu besar. Lagipula selama ini tidak pernah suaminya itu berbuat aneh-aneh. Dikala Zalina mencoba berpikir positif mengenai Arya, laki-laki itu justru tersenyum sinis. Sangat tipis hingga orang lain tak akan bisa melihatnya, termasuk perempuan yang sedang meringkuk dalam gendongannya seraya menyembunyikan wajah di dadanya. Arya merasa menang karena bisa mengendalikan istrinya dengan mudah. Tidak perlu bersusah payah untuk membuat Zalina kembali percaya padanya. *** "Aduh." "Astaga, bu. Sebentar saya ambilkan obat." Zalina tak menjawab, pandangannya tertuju pada darah yang menetes dari jarinya. Terlalu memikirkan nama Alana menyebabkan dia tidak fokus memotong sayuran. "Kamu kenapa?" Menoleh, Zalina mendapati wajah panik sang suami yang sedang berlari ke arahnya. Dia membiarkan Arya menariknya, membawanya ke depan wastafel untuk mengucurkan air di atas tangannya yang berdarah. Desisan kecil keluar dari bibir Zalina saat merasakan perih akibat tindakan suaminya. "Aku sudah sering bilang, kan? Jangan masak!" Zalina tersentak sampai refleks menarik tangannya mendengar bentakan itu. Selalu seperti ini, Arya akan marah jika dia terluka. Awalnya hal tersebut menyenangkan untuk Zalina, sebab bisa merasakan cinta suaminya yang begitu besar. Namun, sekarang entah mengapa ada perasaan tak nyaman di sudut hatinya. "Aku hanya ingin membuat makan malam untuk kita. Karena Mas tampak kelelahan, jadi aku ingin membuat masakan spesial," balas Zalina. Jika biasanya seorang suami menyukai istri yang pintar memasak, tapi Arya justru sebaliknya. Selalu melarang Zalina memasak dengan alasan tidak mau istrinya terluka. Ada banyak benda berbahaya di dapur menurut laki-laki itu. Padahal pelayan mereka mengatakan jika masakan Zalina itu enak. "Tapi gara-gara masak tangan kamu terluka!" Zalina mengesah. Suasana hatinya sedang buruk dan Arya berhasil memancing kekesalannya semakin bertambah. "Ini hanya luka kecil," ujarnya. Menekan dengan keras rasa dongkolnya, agar tak sampai membentak Arya. Selama ini Zalina lebih banyak diam ketika dimarahi, tapi kali ini dia ingin membalasnya. Ingin suaminya tahu jika dirinya juga bisa marah. Walaupun masih dalam batas normal karena tak sampai menghardik Arya. "Kecil apanya? Itu berdarah!" "Jangan berlebihan." "Apa kamu bilang?" Arya mendelik. Rasa khawatirnya berubah menjadi amarah karena ucapannya terus disanggah. "Keluar dari dapur!" desisnya tajam. Zalina menggeleng. "Sebentar lagi masakanku matang." "Berhenti membantahku!" Arya mengepalkan tangannya dengan erat. Kebahagian yang dirasa setelah percintaan mereka tadi lenyap tak berbisa, diganti amarah yang kini benar-benar menguasai. "Oke." Zalina membalas tatapan Arya tak kalah tajam. Entah dapat keberanian darimana dia melakukan itu, tapi yang jelas dirinya tidak terima dibentak-bentak seperti itu. Selama satu tahun pernikahan, hari ini adalah pertengkaran terbesar mereka. Penyebabnya tentu Zalina yang berani melawan. "Mau kemana?" Zalina menatap pergelangan tangannya yang dicengkram erat. Hal yang menyebabkan dia urung melangkah. "Katanya aku harus keluar dari dapur? Kamu lupa sama ucapanmu sendiri?" Menyentak tangan sang suami, Zalina berjalan dengan langkah tegap. Mengabaikan rasa perih yang semakin kuat. Bahkan tak menatap pelayan yang ternyata sejak tadi bersembunyi di belakang dinding pembatas dapur dan ruang tengah. Kamar adalah tujuannya. Tidak ada adegan membanting pintu. Zalina hanya menguncinya agar Arya tak bisa masuk. Setelah itu tubuhnya luruh. Duduk di atas lantai yang dingin sambil bersandar pada pintu tersebut. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Mas?" gumam Zalina. Zalina tidak akan bersikap seperti itu jika hanya mendengar nama Alana satu kali. Namun, dia mendengarnya dua kali. Iya. Dua kali! Tanpa Arya sadari nama itu kembali dia gumamkan ketika mata hampir terpejam menuju alam mimpi. Jangan tanyakan perasaan Zalina saat itu, karena sudah pasti hatinya hancur. Apalagi ketika Arya menyebutkan nama itu dengan sangat lembut dan penuh cinta. "Kalau kamu tidak mau jujur, maka aku sendiri yang akan mencari kebenaran itu," ujar Zalina penuh tekad meski air mata telah membasahi pipi. Karena jujur saja, jauh dalam lubuk hatinya dia takut pada kenyataan yang akan dihadapinya. Namun, diam saja juga tidak mungkin, kan? Sebab Zalina merasa bisa gila jika hidup dalam tanya yang tidak ada jawabannya."Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama
"Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s
"Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc
"Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep
Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S
"Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende







