Share

2. Mencari Kebenaran

Author: SashiArumi
last update Last Updated: 2025-11-20 09:47:30

"Mas? Siapa Alana?" ulang Zalina kebingungan. Suaminya yang tak kunjung menjawab juga membuat pikirannya semakin meliar. Ketakutan perlahan mulai mengambil alih hatinya.

"Alana? Siapa Alana?" tanya Arya pura-pura tidak mengerti. Padahal jantungnya sudah berdetak sangat keras akibat bibirnya yang keceplosan menyebutkan nama perempuan yang masih menguasai hatinya.

"Tadi Mas nyebut nama Alana."

Arya mencolek hidung istrinya. "Mana ada seperti itu, kamu salah dengar itu. Alana, Zalina, mirip, kan?"

Zalina mengangguk walau raut tak percaya itu masih tergambar di wajahnya. Selama ini dia tak pernah punya masalah kesehatan pada telinganya, rasanya tidak mungkin dia salah dengar. Apalagi tadi Arya mengatakan tepat di samping telinganya.

Namun, untuk menyangkal pun Zalina tidak bisa. Jawaban sang suami sangat masuk akal. Belum lagi wajah di depannya tak menunjukkan kepanikan. Arya masih tetap tersenyum manis padanya.

"Sudah jangan dipikirkan." Arya menyentil dahi sang istri. "Sepertinya kamu terlalu menikmati permainan kita, sampai nggak mendengar ucapan Mas dengan jelas."

Merapikan rambut istrinya yang menutupi pipi, Arya lantas mendekatkan bibir pada telinga Zalina. "Kenapa? Mau lagi?"

"Mas!" Zalina memukul dada suaminya yang masih terbalut kaos hitam. Walaupun sudah sering melakukan hubungan suami istri, Zalina masih malu jika suaminya membahas dengan terang-terangan.

"Nggak usah malu kalau mau lagi." Arya duduk, lalu menarik Zalina agar duduk di pangkuannya. "Kita sudah satu tahun menikah, nggak usah malu-malu lagi."

Arya menatap lurus wajah istrinya yang mulai memerah. Sementara tangannya bergerak untuk menutup kancing piyama Zalina, yang tadi terbuka karena ulahnya. "Sekarang saatnya pindah ke kamar."

"Mas!" Zalina refleks melingkarkan tangan pada leher suaminya yang tiba-tiba berdiri. Mengangkatnya tanpa kesulitan sama sekali.

Rasa curiga itu masih ada, tapi berusaha dia buang sebab kepercayaannya pada Arya begitu besar. Lagipula selama ini tidak pernah suaminya itu berbuat aneh-aneh.

Dikala Zalina mencoba berpikir positif mengenai Arya, laki-laki itu justru tersenyum sinis. Sangat tipis hingga orang lain tak akan bisa melihatnya, termasuk perempuan yang sedang meringkuk dalam gendongannya seraya menyembunyikan wajah di dadanya.

Arya merasa menang karena bisa mengendalikan istrinya dengan mudah. Tidak perlu bersusah payah untuk membuat Zalina kembali percaya padanya.

***

"Aduh."

"Astaga, bu. Sebentar saya ambilkan obat."

Zalina tak menjawab, pandangannya tertuju pada darah yang menetes dari jarinya. Terlalu memikirkan nama Alana menyebabkan dia tidak fokus memotong sayuran.

"Kamu kenapa?"

Menoleh, Zalina mendapati wajah panik sang suami yang sedang berlari ke arahnya. Dia membiarkan Arya menariknya, membawanya ke depan wastafel untuk mengucurkan air di atas tangannya yang berdarah.

Desisan kecil keluar dari bibir Zalina saat merasakan perih akibat tindakan suaminya.

"Aku sudah sering bilang, kan? Jangan masak!"

Zalina tersentak sampai refleks menarik tangannya mendengar bentakan itu. Selalu seperti ini, Arya akan marah jika dia terluka.

Awalnya hal tersebut menyenangkan untuk Zalina, sebab bisa merasakan cinta suaminya yang begitu besar. Namun, sekarang entah mengapa ada perasaan tak nyaman di sudut hatinya.

"Aku hanya ingin membuat makan malam untuk kita. Karena Mas tampak kelelahan, jadi aku ingin membuat masakan spesial," balas Zalina.

Jika biasanya seorang suami menyukai istri yang pintar memasak, tapi Arya justru sebaliknya. Selalu melarang Zalina memasak dengan alasan tidak mau istrinya terluka. Ada banyak benda berbahaya di dapur menurut laki-laki itu. Padahal pelayan mereka mengatakan jika masakan Zalina itu enak.

"Tapi gara-gara masak tangan kamu terluka!"

Zalina mengesah. Suasana hatinya sedang buruk dan Arya berhasil memancing kekesalannya semakin bertambah. "Ini hanya luka kecil," ujarnya. Menekan dengan keras rasa dongkolnya, agar tak sampai membentak Arya.

Selama ini Zalina lebih banyak diam ketika dimarahi, tapi kali ini dia ingin membalasnya. Ingin suaminya tahu jika dirinya juga bisa marah. Walaupun masih dalam batas normal karena tak sampai menghardik Arya.

"Kecil apanya? Itu berdarah!"

"Jangan berlebihan."

"Apa kamu bilang?" Arya mendelik. Rasa khawatirnya berubah menjadi amarah karena ucapannya terus disanggah. "Keluar dari dapur!" desisnya tajam.

Zalina menggeleng. "Sebentar lagi masakanku matang."

"Berhenti membantahku!" Arya mengepalkan tangannya dengan erat. Kebahagian yang dirasa setelah percintaan mereka tadi lenyap tak berbisa, diganti amarah yang kini benar-benar menguasai.

"Oke." Zalina membalas tatapan Arya tak kalah tajam. Entah dapat keberanian darimana dia melakukan itu, tapi yang jelas dirinya tidak terima dibentak-bentak seperti itu.

Selama satu tahun pernikahan, hari ini adalah pertengkaran terbesar mereka. Penyebabnya tentu Zalina yang berani melawan.

"Mau kemana?"

Zalina menatap pergelangan tangannya yang dicengkram erat. Hal yang menyebabkan dia urung melangkah. "Katanya aku harus keluar dari dapur? Kamu lupa sama ucapanmu sendiri?"

Menyentak tangan sang suami, Zalina berjalan dengan langkah tegap. Mengabaikan rasa perih yang semakin kuat. Bahkan tak menatap pelayan yang ternyata sejak tadi bersembunyi di belakang dinding pembatas dapur dan ruang tengah.

Kamar adalah tujuannya. Tidak ada adegan membanting pintu. Zalina hanya menguncinya agar Arya tak bisa masuk. Setelah itu tubuhnya luruh. Duduk di atas lantai yang dingin sambil bersandar pada pintu tersebut.

"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Mas?" gumam Zalina.

Zalina tidak akan bersikap seperti itu jika hanya mendengar nama Alana satu kali. Namun, dia mendengarnya dua kali. Iya. Dua kali!

Tanpa Arya sadari nama itu kembali dia gumamkan ketika mata hampir terpejam menuju alam mimpi. Jangan tanyakan perasaan Zalina saat itu, karena sudah pasti hatinya hancur. Apalagi ketika Arya menyebutkan nama itu dengan sangat lembut dan penuh cinta.

"Kalau kamu tidak mau jujur, maka aku sendiri yang akan mencari kebenaran itu," ujar Zalina penuh tekad meski air mata telah membasahi pipi. Karena jujur saja, jauh dalam lubuk hatinya dia takut pada kenyataan yang akan dihadapinya.

Namun, diam saja juga tidak mungkin, kan? Sebab Zalina merasa bisa gila jika hidup dalam tanya yang tidak ada jawabannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

  • Pembalasan Istri Bayangan   6. Menemukan Bukti

    Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu

  • Pembalasan Istri Bayangan   5. Orang Yang Setia

    "Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin

  • Pembalasan Istri Bayangan   4. Pertemuan Tak Terduga

    "Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto

  • Pembalasan Istri Bayangan   3. Permintaan Maaf

    "Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status