Share

Pembalasan Istri Bayangan
Pembalasan Istri Bayangan
Penulis: SashiArumi

1. Siapa Alana?

Penulis: SashiArumi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-18 12:03:44

"Sampai kapan kamu bersikap seperti itu? Alana sudah meninggal! Yang jadi istri kamu sekarang itu Zalina!"

"Ibu tidak tahu apa-apa!" Arya menggenggam bolpoin di tangannya lebih erat. Niat hati ingin memeriksa laporan yang dibawanya pulang, karena tadi tiba-tiba merasa pusing saat di kantor fokusnya justru hilang karena kedatangan ibunya.

"Ibu tahu semuanya! Ibu tahu kamu menikahi Zalina karena mirip dengan Alana! Bahkan kamu menyuruh dia mengubah penampilan agar mirip dengan Alana. Apa kamu mau mama menyebutkan semuanya?"

"Ma, tolonglah. Jangan ikut campur urusanku. Seperti yang selama ini mama lakukan."

Sinta mengela nafas panjang. Apa yang dikatakan putranya memang benar. Selama ini dia tak peduli dengan pernikahan Arya. Karena sama seperti sang putra, dia pun masih sulit menerima kepergian calon menantu kesayangannya. Perempuan yang begitu berharga bagi keluarga mereka.

Namun, semakin lama dia semakin kasihan pada Zalina, perempuan yang selalu menyapanya dengan ramah. Perempuan yang tak lain adalah menantunya saat ini. Namun, hanya dijadikan bayangan oleh Arya.

"Kamu pikir mama bisa diam saja ketika Zalina tambah kehilangan jati dirinya gara-gara kamu mau dia seperti Alana?"

"Dia selama ini tidak pernah protes," bela Arya mulai jengah. Pekerjaannya masih banyak, tapi mamanya tiba-tiba datang merecoki.

"Tentu saja dia tidak protes. Karena dia memang tidak tahu. Coba kalau tahu, kamu sudah ditinggalkan sejak dulu."

"Mama jangan bicara sembarangan!" seru Arya dengan suara tertahan. Sadar diri untuk tidak membentak perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. "Lebih baik mama keluar sekarang," pintanya dengan suara yang sangat rendah.

Arya tak mau bertengkar dengan mamanya. Namun, jika terus berada di ruangan yang sama dengan kondisi amarah yang menguasai, kemungkinan besar pertengkaran tak bisa dihindari.

"Pikirkan baik-baik omongan mama." Sinta mengesah. Memilih mengalah untuk saat ini, tapi kedepannya akan kembali berusaha mengingatkan sang putra sebelum hal buruk terjadi. "Mama pulang, jaga kesehatan."

Melangkah keluar tanpa menunggu balasan putranya, Sinta dikejutkan oleh keberadaan menantunya yang berdiri di depan pintu. Membawa nampan berisi dua cangkir teh dan satu piring bolu.

"Mau kemana, Ma? Ini saya bawakan minuman dan camilan untuk teman ngobrol dengan Mas Arya."

Sinta mengesah. Ada rasa kasihan melihat perempuan di depannya. Namun, sama seperti sang putra dia pun belum bisa move on dari Alana. Perempuan baik hati yang merupakan idaman banyak orang untuk dijadikan menantu. "Kamu makan sendiri saja. Saya mau pulang."

"Ta–tapi .... "

Zalina urung menyelesaikan kalimatnya, sebab sang mertua lebih dulu melewati tubuhnya. Pergi tanpa mengatakan apapun setelah menolak kebaikannya.

Menarik nafas panjang, Zalina mencoba berpikir positif jika perempuan paruh baya itu banyak kesibukan hingga tak bisa berlama-lama di rumahnya. Toh, hal tersebut bukan yang pertama kali terjadi.

Bagi Zalina selama sang suami masih berada di pihaknya, tak masalah jika semua orang membencinya. Dan untungnya hal itulah yang terjadi, Arya memperlakukannya dengan sangat baik selama ini.

Mengetuk pintu, dia lantas membukanya secara perlahan setelah mendengar sahutan dari dalam. "Boleh masuk, Mas?"

Arya tersenyum lembut. Amarah yang tadi menguasai akibat perdebatan dengan sang mama, langsung disingkirkannya. "Masuk saja, sayang."

Berdiri dari kursi kebesarannya, Arya pindah ke sofa untuk memudahkannya bercengkrama dengan sang istri.

"Aku buatkan teh dan roti."

"Terima kasih sayang." Arya mencium kepala Zalina. Berlama-lama disana hanya untuk menghirup aroma sampo favoritnya.

"Tadinya yang satu buat mama. Tapi karena mama sudah pulang, jadi biar aku yang meminumnya sambil menemai Mas bekerja. Boleh, kan?"

"Tentu saja."

Dengan perasaan bahagia, Zalina mengambil cangkir yang baru saja dia letakkan di atas meja lalu menyerahkannya pada sang suami. Pandangannya tak lepas dari laki-laki yang dicintainya itu.

"Kamu ganti tehnya?!" Arya mengeram, marah. Tangannya mencengkeram erat cangkir di tangannya. Tidak peduli rasa panas yang menjalar di kulitnya.

Zalina yang sedang mengamati wajah tampak suaminya seketika tersentak mendengar bentakan tersebut. "Ma–maaf, Mas."

"Kenapa?" Arya meletakkan cangkir di atas meja dengan cukup keras, menyebabkan sebagian isinya jatuh dan membasahi meja. Rasa kesal kembali menguasai akibat kelakuan istrinya.

"Kemarin aku sempat lihat review mengenai merk yang sedang booming, jadi aku ingin mencobanya," jawab Zalina dengan suara bergetar. Sangat ketakutan mendengar nada tinggi Arya.

"Sudah aku bilang berulang kali, jangan suka mengganti-ganti aturan yang sudah aku buat!"

"Maaf." Zalina menunduk semakin dalam.

Arya menarik nafas panjang, untuk mencari lagi ketenangannya. Sungguh, dia benci situasi seperti itu. Apa yang selama ini telah tertata, tidak boleh dirubah sedikitpun!

"Jangan diulangi lagi. Kamu tahu, kan Mas nggak suka hal seperti itu?" Arya mengusap pipi sang istri, sedikit menariknya agar wajah tersebut mendongan dan bisa menatapnya.

"Baik, Mas."

"Istri pintar." Arya mendekatkan wajahnya pada sang istri. Tatapan polos di depannya berhasil membuat dia hilang kendali.

"Mas!" Zalina menahan bahu Arya, ketika jarak mereka semakin tipis. "Katanya banyak pekerjaan?"

"Bisa aku lanjutkan nanti," jawab Arya yang langsung memupus jarak. Menggerakkan bibir, menguasai permainan hingga membuat istrinya kewalahan.

Tidak cukup sampai di sana, Arya mendorong tubuh Zalina hingga rebah di atas sofa. Tanpa melepas baju mereka, Arya memimpin permainan dengan panas. Menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri yang bergerak resah.

"Mas." Zalina memeluk erat laki-laki yang berada di atasnya ketika tubuh mereka bergerak semakin cepat untuk meraih kepuasan masing-masing.

"Panggil namaku!" Arya menyembunyikan wajah di leher sang istri. Membuat tanda sebanyak mungkin di sana.

"Mas Arya!"

"Sial!" Arya mencari bibir istrinya. Membungkam bibir itu dengan rakus seiring gerakannya yang semakin meningkat. "Astaga," erangnya.

Leguhan panjang keduanya terdengar ketika permainan panas itu selesai. Dengan nafas yang sama-sama masih memburu, mereka berpelukan erat.

"Terima kasih. Aku mencintaimu Alana."

Mata Zalina yang terpejam sontak terbuka lebar. "Siapa Alana?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri Bayangan   12. Sakit

    "Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama

  • Pembalasan Istri Bayangan   11. Tarik Menarik

    "Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s

  • Pembalasan Istri Bayangan   10. Permainan Dimulai

    "Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc

  • Pembalasan Istri Bayangan   9. Jawaban dari Aji

    "Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status