เข้าสู่ระบบ
"Sampai kapan kamu bersikap seperti itu? Alana sudah meninggal! Yang jadi istri kamu sekarang itu Zalina!"
"Ibu tidak tahu apa-apa!" Arya menggenggam bolpoin di tangannya lebih erat. Niat hati ingin memeriksa laporan yang dibawanya pulang, karena tadi tiba-tiba merasa pusing saat di kantor fokusnya justru hilang karena kedatangan ibunya. "Ibu tahu semuanya! Ibu tahu kamu menikahi Zalina karena mirip dengan Alana! Bahkan kamu menyuruh dia mengubah penampilan agar mirip dengan Alana. Apa kamu mau mama menyebutkan semuanya?" "Ma, tolonglah. Jangan ikut campur urusanku. Seperti yang selama ini mama lakukan." Sinta mengela nafas panjang. Apa yang dikatakan putranya memang benar. Selama ini dia tak peduli dengan pernikahan Arya. Karena sama seperti sang putra, dia pun masih sulit menerima kepergian calon menantu kesayangannya. Perempuan yang begitu berharga bagi keluarga mereka. Namun, semakin lama dia semakin kasihan pada Zalina, perempuan yang selalu menyapanya dengan ramah. Perempuan yang tak lain adalah menantunya saat ini. Namun, hanya dijadikan bayangan oleh Arya. "Kamu pikir mama bisa diam saja ketika Zalina tambah kehilangan jati dirinya gara-gara kamu mau dia seperti Alana?" "Dia selama ini tidak pernah protes," bela Arya mulai jengah. Pekerjaannya masih banyak, tapi mamanya tiba-tiba datang merecoki. "Tentu saja dia tidak protes. Karena dia memang tidak tahu. Coba kalau tahu, kamu sudah ditinggalkan sejak dulu." "Mama jangan bicara sembarangan!" seru Arya dengan suara tertahan. Sadar diri untuk tidak membentak perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. "Lebih baik mama keluar sekarang," pintanya dengan suara yang sangat rendah. Arya tak mau bertengkar dengan mamanya. Namun, jika terus berada di ruangan yang sama dengan kondisi amarah yang menguasai, kemungkinan besar pertengkaran tak bisa dihindari. "Pikirkan baik-baik omongan mama." Sinta mengesah. Memilih mengalah untuk saat ini, tapi kedepannya akan kembali berusaha mengingatkan sang putra sebelum hal buruk terjadi. "Mama pulang, jaga kesehatan." Melangkah keluar tanpa menunggu balasan putranya, Sinta dikejutkan oleh keberadaan menantunya yang berdiri di depan pintu. Membawa nampan berisi dua cangkir teh dan satu piring bolu. "Mau kemana, Ma? Ini saya bawakan minuman dan camilan untuk teman ngobrol dengan Mas Arya." Sinta mengesah. Ada rasa kasihan melihat perempuan di depannya. Namun, sama seperti sang putra dia pun belum bisa move on dari Alana. Perempuan baik hati yang merupakan idaman banyak orang untuk dijadikan menantu. "Kamu makan sendiri saja. Saya mau pulang." "Ta–tapi .... " Zalina urung menyelesaikan kalimatnya, sebab sang mertua lebih dulu melewati tubuhnya. Pergi tanpa mengatakan apapun setelah menolak kebaikannya. Menarik nafas panjang, Zalina mencoba berpikir positif jika perempuan paruh baya itu banyak kesibukan hingga tak bisa berlama-lama di rumahnya. Toh, hal tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Bagi Zalina selama sang suami masih berada di pihaknya, tak masalah jika semua orang membencinya. Dan untungnya hal itulah yang terjadi, Arya memperlakukannya dengan sangat baik selama ini. Mengetuk pintu, dia lantas membukanya secara perlahan setelah mendengar sahutan dari dalam. "Boleh masuk, Mas?" Arya tersenyum lembut. Amarah yang tadi menguasai akibat perdebatan dengan sang mama, langsung disingkirkannya. "Masuk saja, sayang." Berdiri dari kursi kebesarannya, Arya pindah ke sofa untuk memudahkannya bercengkrama dengan sang istri. "Aku buatkan teh dan roti." "Terima kasih sayang." Arya mencium kepala Zalina. Berlama-lama disana hanya untuk menghirup aroma sampo favoritnya. "Tadinya yang satu buat mama. Tapi karena mama sudah pulang, jadi biar aku yang meminumnya sambil menemai Mas bekerja. Boleh, kan?" "Tentu saja." Dengan perasaan bahagia, Zalina mengambil cangkir yang baru saja dia letakkan di atas meja lalu menyerahkannya pada sang suami. Pandangannya tak lepas dari laki-laki yang dicintainya itu. "Kamu ganti tehnya?!" Arya mengeram, marah. Tangannya mencengkeram erat cangkir di tangannya. Tidak peduli rasa panas yang menjalar di kulitnya. Zalina yang sedang mengamati wajah tampak suaminya seketika tersentak mendengar bentakan tersebut. "Ma–maaf, Mas." "Kenapa?" Arya meletakkan cangkir di atas meja dengan cukup keras, menyebabkan sebagian isinya jatuh dan membasahi meja. Rasa kesal kembali menguasai akibat kelakuan istrinya. "Kemarin aku sempat lihat review mengenai merk yang sedang booming, jadi aku ingin mencobanya," jawab Zalina dengan suara bergetar. Sangat ketakutan mendengar nada tinggi Arya. "Sudah aku bilang berulang kali, jangan suka mengganti-ganti aturan yang sudah aku buat!" "Maaf." Zalina menunduk semakin dalam. Arya menarik nafas panjang, untuk mencari lagi ketenangannya. Sungguh, dia benci situasi seperti itu. Apa yang selama ini telah tertata, tidak boleh dirubah sedikitpun! "Jangan diulangi lagi. Kamu tahu, kan Mas nggak suka hal seperti itu?" Arya mengusap pipi sang istri, sedikit menariknya agar wajah tersebut mendongan dan bisa menatapnya. "Baik, Mas." "Istri pintar." Arya mendekatkan wajahnya pada sang istri. Tatapan polos di depannya berhasil membuat dia hilang kendali. "Mas!" Zalina menahan bahu Arya, ketika jarak mereka semakin tipis. "Katanya banyak pekerjaan?" "Bisa aku lanjutkan nanti," jawab Arya yang langsung memupus jarak. Menggerakkan bibir, menguasai permainan hingga membuat istrinya kewalahan. Tidak cukup sampai di sana, Arya mendorong tubuh Zalina hingga rebah di atas sofa. Tanpa melepas baju mereka, Arya memimpin permainan dengan panas. Menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri yang bergerak resah. "Mas." Zalina memeluk erat laki-laki yang berada di atasnya ketika tubuh mereka bergerak semakin cepat untuk meraih kepuasan masing-masing. "Panggil namaku!" Arya menyembunyikan wajah di leher sang istri. Membuat tanda sebanyak mungkin di sana. "Mas Arya!" "Sial!" Arya mencari bibir istrinya. Membungkam bibir itu dengan rakus seiring gerakannya yang semakin meningkat. "Astaga," erangnya. Leguhan panjang keduanya terdengar ketika permainan panas itu selesai. Dengan nafas yang sama-sama masih memburu, mereka berpelukan erat. "Terima kasih. Aku mencintaimu Alana." Mata Zalina yang terpejam sontak terbuka lebar. "Siapa Alana?"Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S
"Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende
Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu
"Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin
"Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto
"Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n







