Share

Bab 5

Author: Keisha
Ekspresi Shireen berubah. Dia menepuk meja dengan keras, lalu berdiri. "Elara!"

Elara malas menanggapinya, jadi berbalik dan pergi.

Setelah kembali ke mejanya, Elara mengeluarkan cermin kecil dan melihat sisi pipinya yang tergores tipis. Lukanya tidak dalam. Dia mengusapnya dengan tisu basah, tidak memerlukan perawatan tambahan. Lagi pula, dengan wajah seperti ini, bertambah satu bekas luka pun tidak masalah.

Pikirannya kembali pada wajah gadis tadi. Entah kenapa, terasa agak familier.

Menjelang jam pulang kerja, Elara menerima telepon dari ayahnya. Sander sudah kembali, jadi meminta Elara pulang untuk makan malam di rumah.

Elara terkejut sekaligus senang. "Kak Sander sudah pulang? Bukannya katanya tanggal 15?"

Ayah Elara menjawab, "Begitu pekerjaannya selesai, dia langsung pulang lebih awal."

"Oke, habis pulang kerja aku langsung ke sana."

Elara pun mengemudi ke rumah Keluarga Wiratama. Rumah Keluarga Wiratama berada di kawasan barat kota, di sebuah kompleks apartemen kelas menengah. Itu adalah unit besar bekas yang baru dibeli tahun ini.

Ayah Elara menjalankan perusahaan properti berskala menengah. Meskipun tidak bisa disebut keluarga terpandang, kehidupan mereka cukup berada, sehingga sejak kecil Elara tumbuh dalam kondisi berkecukupan.

Namun, kini industri properti sedang lesu. Setengah tahun lalu, perusahaan mengalami masalah keuangan serius akibat kegagalan investasi dan hampir bangkrut. Saat ayahnya mengetahui bahwa Elara mengandung anak Deon, dia tidak memaksanya pergi ke Keluarga Atmadja untuk menuntut pertanggungjawaban.

Melihat ayahnya yang semakin menua dan tampak lelah, bahkan sampai harus menjual aset keluarga untuk melunasi utang, Elara akhirnya mengambil keputusan pergi ke Keluarga Atmadja. Saat itu, sebenarnya dia menyimpan niat pribadi. Bukan semata demi ayahnya, tetapi juga demi dirinya sendiri.

Dia memang mendapatkan apa yang diinginkannya. Berkat uang mahar yang besar dari Keluarga Atmadja, utang Keluarga Wiratama berhasil dilunasi.

Namun, dia pun membayar harga yang setimpal. Jadi, semua penderitaan yang dia alami sekarang hanyalah akibat dari pilihannya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Sesampainya di rumah, Larissa keluar dari dapur. "Ela, kamu sudah pulang."

Saat Elara berusia sembilan tahun, ibu dan ayahnya bercerai. Sang ibu membawa kakaknya pergi, meninggalkan Elara bersama ayahnya.

Kemudian, Larissa bertemu dengan ayahnya. Namun, mereka tidak pernah mendaftarkan pernikahan dan hanya hidup bersama sebagai pasangan.

Awalnya Elara tidak bisa menerima Larissa, bahkan sempat membencinya. Namun perlahan, Elara merasakan ketulusan Larissa. Sander juga memperlakukannya dengan sangat baik. Kehilangan kakak kandung, dia pun mendapatkan seorang kakak baru.

"Tante Larissa, Ayah dan yang lain di mana?"

"Sepertinya masih di jalan, sebentar lagi sampai. Kamu istirahat dulu."

"Oke."

Elara kembali ke kamarnya. Meskipun sudah menikah, ayahnya tetap menyisakan satu kamar tidur untuknya dan merenovasinya ulang sesuai dengan seleranya.

Begitu kembali ke rumah yang benar-benar miliknya, semua kelelahan dan kepedihan seolah-olah lenyap seketika.

Dia duduk di tepi ranjang dan melihat album foto di atas nakas. Dia mengulurkan tangan dan membukanya. Foto pertama adalah potret keluarga yang tidak lengkap.

Foto itu sudah sangat lama. Tahun itu, Elara baru berusia delapan tahun.

Ayahnya yang masih muda dan tampan menggendongnya. Di samping ayahnya berdiri sang kakak, saat itu berusia 14 tahun. Di sisi lain adalah ibunya.

Foto itu dirobek sendiri oleh Elara. Karena dia membenci ibunya. Membenci mengapa ibunya membawa kakaknya pergi dan meninggalkan dirinya serta ayahnya. Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang mencabik itu kini tak lagi terasa.

Dia membalik halaman berikutnya. Dalam foto itu, seorang gadis remaja belasan tahun tampak muda dan cantik, mengenakan gaun panjang putih dan topi anyaman kecil berwarna cokelat muda, berdiri di bawah pohon ginkgo berdaun keemasan. Sinar matahari jatuh tepat pada senyuman cerah gadis itu.

Rambut panjang hitam legam, wajah oval kecil, raut wajah cerah dan menawan. Terutama sepasang matanya, berkilau seperti bintang di langit.

Namun kemudian, dia sakit parah dan harus mengonsumsi obat hormon. Tubuhnya perlahan menjadi gemuk. Tidak peduli seberapa keras dia mencoba menurunkan berat badan, hasilnya tetap nihil. Dia hanya bisa menahan diri dengan kelaparan dan olahraga agar tidak semakin bertambah gemuk.

Tanpa sadar, Elara teringat pada gadis yang ditemuinya hari ini. Fitur wajahnya memiliki kemiripan dengan dirinya di foto itu, terutama sepasang mata itu.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 100

    Pukul 1 siang, pesawat menuju Frabisco lepas landas tepat waktu.Elara duduk di kursi bisnis dekat jendela, menatap kota yang perlahan mengecil di luar sana. Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah kalung. Di dalamnya tersimpan foto satu bulan Elise.Kepergiannya kali ini berarti dia dan anaknya akan semakin sulit untuk bertemu.'Sayang, Mama minta maaf padamu,' batin Elara. Dadanya terasa nyeri.Pada saat yang sama, di dalam mobil Bentley yang sedang melaju dari bandara menuju vila, Elise tiba-tiba menangis sangat keras.Deon menggendongnya, menghibur dengan segala cara, tetapi tetap tidak berhasil. Baru setelah dia kelelahan karena menangis dan tertidur, tangisan itu perlahan mereda.Deon memeluk putrinya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan hati-hati. Telapak tangannya menepuk-nepuk lembut tubuh kecil itu. Sorot matanya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang seorang ayah.....Lima tahun kemudian, di kantor pusat Sprucera, di dalam ruang kerja presdir yang luas.Di mana

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 99

    Sebelum masuk ke rumah, Yurike sempat mengingatkan Gasper agar nanti tidak asal bicara.Gasper berkata, "Aku ini bukan orang yang suka bocor mulut.""Huh, kurang lebih sama saja!"Sesampainya di rumah Keluarga Wiratama, William dan Larissa segera menyambut mereka masuk. Arizo membawa beberapa bingkisan."Kenapa beli barang sebanyak ini lagi? Bukannya sudah bilang cukup datang untuk makan saja," tanya William."Mana mungkin datang dengan tangan kosong. Om jangan sungkan," jawab Arizo.William menerima barang-barang itu. "Ayo cepat masuk, duduk dulu. Sebentar lagi makan, tinggal dua menu yang masih dimasak."Sander masuk ke dapur untuk membantu. Elara menyapa semua orang satu per satu.Yurike maju, menarik Elara untuk duduk. "Kelihatannya kamu pulih dengan baik, wajahmu segar. Barang yang kuberikan kemarin cocok, 'kan?""Ya, cukup cocok.""Bagus kalau begitu."Beberapa orang mengobrol dengan santai di sofa. Tak lama kemudian, makan malam pun dimulai. Mereka duduk mengelilingi satu meja.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 98

    Elara menerima foto dan video perayaan satu bulan Elise yang dikirim oleh Reynard.[ Elise terus menggenggam liontin gembok keberuntungan yang kamu berikan. Dia senang sekali. Anak kecil itu pasti tahu kalau itu disiapkan oleh mamanya. ]Melihat anak itu tertawa bahagia, sudut bibir Elara tanpa sadar terangkat. Saat ini, dia sudah bisa menerima semuanya dengan lebih lapang.Dia ingin melihat anaknya tumbuh besar, meskipun tak bisa mendampinginya.Menatap bayi kecil di foto itu, jelas terlihat bahwa Elise benar-benar dirawat dengan sangat baik. Keluarga Atmadja sungguh menyayanginya.[ Dia anak yang cerdas. ][ Sudah jelas, anak yang kamu lahirkan pasti pintar. ]Hari itu, tiba-tiba Elara menerima telepon dari Deon. "Aku akan pergi dinas beberapa hari. Datanglah untuk merawat anak."Mendengar ucapan pria itu, Elara langsung tertegun di tempat. Dia sempat mengira Deon mencarinya untuk membicarakan perceraian, tetapi masa tenang masih tersisa tiga hari lagi.Tak disangka, dia justru memin

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 97

    Namun, kenapa hari ini tidak terlihat istri Deon? Semua orang merasa heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.Deon menggendong anak itu, lalu meletakkannya ke dalam kereta bayi. Nami dan Malik segera mendekat, menatap cucu perempuan kesayangan mereka. Wajah yang dipenuhi keriput itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagia.Nami menyerahkan hadiah satu bulan yang telah dia siapkan untuk cucunya. Perhiasan bernilai ratusan juta yang disimpannya dengan sangat hati-hati. Dia lalu bertanya, "Sayang, suka nggak?"Elise membuka mata besarnya, menatap lurus ke depan. Wajah kecilnya yang imut tidak menunjukkan reaksi khusus."Elise, lihat hadiah dari Kakek Buyut." Malik memperlihatkan sebuah gendang mainan yang dibuat khusus. Bahannya dari kayu berkualitas tinggi dan lukisan di permukaan gendang itu digambar sendiri olehnya.Irma dan Zayden juga telah menyiapkan hadiah dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin melihat cucu perempuan mereka tersenyum.Namun, Elise hanya berkedip pelan,

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 96

    Reynard mengirimkan foto kembang api dan bertanya.[ Ingin lihat anakmu? ]Elara tidak pernah menyinggung soal anak kepada Reynard. Dia tahu Elara takut akan semakin terluka dan sedih jika melihatnya. Namun di dalam hatinya, Elara pasti sangat ingin melihat anak itu.Elara menatap pesan dari Reynard, terdiam cukup lama. Dia kembali ke kamarnya, barulah membalas.[ Mau. ]Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menahan diri.Reynard mengirimkan beberapa foto anak itu secara terpisah. Saat tidur, saat tersenyum .... Elise tumbuh dengan sangat cantik. Sepasang matanya yang besar dan cerah melengkung seperti bulan sabit saat tersenyum, hidungnya mungil dan rapi, bibir kecilnya merah muda, wajah mungilnya putih dan bersih.Elara menatap foto-foto itu. Matanya tanpa sadar memerah. Dia meletakkan ponselnya, lalu menengadah menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan emosinya. Kemudian, dia baru mengirim pesan kepada Reynard.[ Apa Deon memperlakukannya dengan baik? ]Itulah yang paling dia

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 95

    Ekspresi Deon tetap tidak berubah saat mendengarkan ucapan Reynard. Dengan suara berat, dia berkata, "Jadi hanya karena dia, kamu bisa memberi penilaian seperti itu pada keluarga sendiri, pada kakek, nenek, dan orang tua di rumah ini."Reynard membuka mata dan menatapnya.Deon melanjutkan, "Kamu boleh membelanya dan memperjuangkan keadilannya, tapi Keluarga Atmadja bukan tempat untuk melampiaskan emosimu. Kamu juga bagian dari Keluarga Atmadja.""Kamu juga sudah nggak kecil lagi. Sekarang kamu sudah membuka perusahaan sendiri dan menjadi bos. Dalam berbicara dan bertindak, jangan terlalu dikuasai emosi."Jari-jari Reynard mengerat. Dia perlahan menunduk. Wajahnya tegang. Dia tidak berkata apa-apa lagi.Suasana pun tenggelam dalam keheningan.Saat itu, seorang pelayan naik ke lantai atas dan berkata, "Tuan, makan malam sudah siap."Deon menurunkan kakinya, lalu menyerahkan kantong itu kepada pelayan. "Bawa ke kamarku."Pelayan menerima dengan kedua tangan dan menjawab, "Baik."Pelayan p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status