Share

Bab 6

Penulis: Keisha
Tok, tok, tok.

"Ela, mereka sudah pulang." Larissa mengetuk pintu sambil berkata.

Elara tidak banyak berpikir lagi. Dia meletakkan album foto, bangkit, lalu keluar dari kamar. Begitu melihat dua orang yang baru masuk, dia berseru dengan gembira, "Ayah, Kakak!"

Sander dan William menatap Elara.

"Ela, aku bawakan hadiah untukmu. Sini, lihat kamu suka nggak," panggil Sander.

Elara melangkah mendekat dengan wajah berseri-seri. "Hadiah apa?"

Sander membawa banyak kantong dan meletakkannya di atas meja kopi. Dia mengeluarkan sebuah kotak perhiasan bermerek dan menyerahkannya kepadanya. "Buka saja."

Elara menerimanya dengan senang hati. Saat dibuka, di dalamnya ada sebuah gelang emas dengan pengerjaan yang sangat halus. "Terima kasih, Kak. Aku suka sekali."

"Syukurlah kalau kamu suka." Sander mengulurkan tangan dan mengusap kepala Elara dengan penuh kasih sayang.

Sander juga membelikan Larissa sebuah gelang emas yang cocok untuknya, lalu membawakan masing-masing satu set produk perawatan kulit untuk mereka berdua. Untuk William, dia membelikan teh dan minuman beralkohol, serta membawa oleh-oleh khas daerah setempat.

Suasana terasa hangat dan harmonis. Hanya saat kembali ke rumah, Elara bisa merasakan ketenangan yang luar biasa.

"Ela, kapan perkiraan lahiran?" tanya Sander dengan perhatian. Dengan perutnya yang besar, memang terlihat seperti kehamilan akhir.

Elara menjawab, "Masih dua bulan lagi."

"Pasti anak perempuan," ujar Larissa sambil tersenyum.

Elara mengangguk. "Memang anak perempuan."

"Sudah cek jenis kelamin?" tanya William.

Larissa seolah-olah menyadari sesuatu dan ikut menegang.

"Sudah, Nenek Nami sangat memperhatikan anak ini," ujar Elara.

William menghela napas lega. "Syukurlah. Selama masih ada anak, ke depannya kamu dan Deon pasti akan perlahan membaik."

Elara menunduk. Hatinya terasa berat. Dia mendadak tidak tahu harus mulai dari mana, karena Deon sudah mengajukan perceraian kepadanya.

Namun, hal ini pasti tidak bisa disembunyikan. Lagi pula, dia sudah memutuskan untuk pindah dari Shallow Bay dan kembali tinggal di rumah. Sudahlah. Lebih baik menunggu setelah makan malam baru membicarakannya.

Larissa menyiapkan makan malam yang sangat mewah.

Kini, Sander bersama teman-temannya mendirikan sebuah perusahaan teknologi. Dua tahun lalu, saat tahap awal pendirian perusahaan, William tanpa ragu memberikan modal awal kepadanya. Saat ini perkembangan perusahaan sangat baik, terutama di bidang teknologi AI. Perjalanan dinas kali ini pun untuk membahas kerja sama dan hasilnya berjalan sangat lancar.

Sementara itu, William sedang mengurus proses penjualan perusahaannya. Meskipun sebelumnya perusahaan sempat beroperasi dengan baik berkat mahar besar dari Keluarga Atmadja, kondisi lingkungan ekonomi yang buruk membuat transformasi menjadi sangat sulit, sehingga perusahaan memang sudah tidak bisa dipertahankan.

Usianya semakin bertambah, tenaganya pun tak seperti dulu. Dia sangat optimis dengan perkembangan perusahaan Sander. Menjelang akhir tahun, perusahaan Sander akan memasuki tahap pendanaan. Dia berencana menjual perusahaan lamanya dan menginvestasikan seluruh dana itu ke perusahaan Sander.

Bersamaan dengan itu, dia juga mengumumkan kabar baik. William berencana mendaftarkan pernikahan dengan Larissa.

Mata Larissa langsung memerah. Setelah bertahun-tahun menemani, akhirnya membuahkan hasil. Elara tidak keberatan sedikit pun. Dia tahu, alasan ayahnya selama ini enggan mendaftarkan pernikahan adalah karena masih menyimpan bayangan tentang ibunya di lubuk hatinya.

Dia juga tak pernah mengerti, mengapa ibu yang memiliki suami sebaik ayahnya dulu memilih bercerai dan pergi. Namun kini, semua itu sudah tidak penting lagi. Di hari sebaik ini, Elara benar-benar tidak tega merusak suasana.

Namun pada akhirnya, dia tetap membuka mulut. "Ayah, Tante, Kak ... Deon berniat menceraikanku."

Begitu kata-kata itu terucap, suasana ruang makan langsung membeku. Wajah semua orang menegang, terutama William yang menunduk.

Hasil seperti ini seolah-olah sudah dapat diperkirakan, hanya saja tidak disangka akan datang secepat ini.

Meskipun Keluarga Wiratama dan Keluarga Atmadja telah menjadi besan, keduanya tidak pernah menggelar pesta pernikahan, hanya mendaftarkan pernikahan. Selama lebih dari setengah tahun ini, kedua keluarga hampir tidak pernah berhubungan.

Deon juga tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke rumah Keluarga Wiratama. Saat festival, pihak Keluarga Atmadja juga tidak pernah mengirimkan hadiah. Setiap kali Elara pulang sendirian, William dan Larissa menyiapkan hadiah perayaan untuk dibawa Elara ke Keluarga Atmadja.

Saat dia mengantarkannya ke sana, Nami memang menerimanya dengan sopan, tetapi Elara tahu bahwa hadiah-hadiah itu kemudian diberikan kepada para pelayan rumah lama.

Sementara Irma, di depan matanya sendiri, langsung menyuruh pelayan membuang hadiah-hadiah itu ke tempat sampah. Dia bahkan sampai memperingatkan Elara agar jangan membiarkan keluarganya mengirim barang-barang yang tidak pantas seperti ini lagi.

Deon pun mengingatkannya agar tidak melakukan hal yang tidak ada artinya. Dalam pernikahan yang begitu timpang, perpisahan hanyalah masalah waktu.

Elara mengatupkan bibir, lalu melanjutkan, "Tapi harus menunggu sampai anak ini lahir. Aku juga sudah berjanji pada Profesor Arizo. Februari tahun depan aku akan berangkat ke Universitas Stafurd untuk melanjutkan studi."

Sander menjadi orang pertama yang memecah kesunyian. "Pergi lanjut studi itu bagus. Ela, kamu begitu berbakat. Kamu memang nggak seharusnya terjebak dalam pernikahan. Apa pun keputusanmu, Kakak pasti mendukungmu."

Elara tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Kak."

William menghela napas panjang. Dalam helaan napas itu tersimpan keputusasaan dan rasa bersalah yang tak terhingga. "Kalau cerai, ya cerai saja. Ini semua salah Ayah. Orang biasa seperti kita memang nggak pantas berharap tinggi pada keluarga besar seperti Keluarga Atmadja."

Mata Elara memerah. Tiba-tiba, dia merasa bahwa semua penderitaan yang dialaminya belakangan ini sebenarnya tidak seberapa. Dia memiliki dukungan keluarga. Keluarganya akan selalu menjadi sandarannya. Tidak ada rintangan yang tidak bisa dia lewati.

Melihat itu, Larissa segera mengambil tisu dan mengusap mata Elara yang memerah sambil menenangkannya.

Akhirnya, sekeluarga menghabiskan makan malam itu dengan perasaan yang kembali hangat.

Pada saat yang sama, di kawasan vila pinggiran kota selatan, sebuah kompleks vila yang telah ada lebih dari 20 tahun dan termasuk kawasan lama orang-orang kaya, dengan fasilitas yang kini sudah menua ….

Sebuah Bentley perlahan berhenti di depan gerbang vila nomor 12. Vila ini adalah vila yang dulu dijual oleh Keluarga Wiratama.

Kaca jendela mobil turun perlahan, memperlihatkan wajah samping yang tampan dan sempurna. Orang itu memandang ke arah vila yang terang benderang di dalam.

Cahaya lampu jalan berwarna kuning hangat jatuh ke dalam matanya, tak mampu menyembunyikan kerumitan dan kesepian yang tersimpan di sana. Dia menarik kembali pandangannya dan menyalakan sebatang rokok.

Saat itu, ponselnya bergetar. Dia mengangkatnya dan menjawab dengan suara lembut, "Ada apa, Doreen?"

Suara Doreen terdengar manja dari seberang sana. "Kak, kapan sampai? Aku sudah lapar sekali. Kak Deon malah nggak mengizinkanku makan dulu."

Tak lama kemudian, dari ujung telepon terdengar suara rendah yang penuh kasih sayang. "Siapa yang bilang aku harus mengingatkannya supaya menjaga mulut? Sekarang malah menyalahkanku."

Doreen mendengus pelan.

"Kalau lapar, makan saja dulu. Aku segera sampai."

Telepon ditutup.

Vidi mematikan puntung rokoknya, melirik sekali lagi ke luar jendela, lalu menaikkan kaca mobil dan mengemudi meninggalkan vila itu.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 100

    Pukul 1 siang, pesawat menuju Frabisco lepas landas tepat waktu.Elara duduk di kursi bisnis dekat jendela, menatap kota yang perlahan mengecil di luar sana. Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah kalung. Di dalamnya tersimpan foto satu bulan Elise.Kepergiannya kali ini berarti dia dan anaknya akan semakin sulit untuk bertemu.'Sayang, Mama minta maaf padamu,' batin Elara. Dadanya terasa nyeri.Pada saat yang sama, di dalam mobil Bentley yang sedang melaju dari bandara menuju vila, Elise tiba-tiba menangis sangat keras.Deon menggendongnya, menghibur dengan segala cara, tetapi tetap tidak berhasil. Baru setelah dia kelelahan karena menangis dan tertidur, tangisan itu perlahan mereda.Deon memeluk putrinya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan hati-hati. Telapak tangannya menepuk-nepuk lembut tubuh kecil itu. Sorot matanya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang seorang ayah.....Lima tahun kemudian, di kantor pusat Sprucera, di dalam ruang kerja presdir yang luas.Di mana

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 99

    Sebelum masuk ke rumah, Yurike sempat mengingatkan Gasper agar nanti tidak asal bicara.Gasper berkata, "Aku ini bukan orang yang suka bocor mulut.""Huh, kurang lebih sama saja!"Sesampainya di rumah Keluarga Wiratama, William dan Larissa segera menyambut mereka masuk. Arizo membawa beberapa bingkisan."Kenapa beli barang sebanyak ini lagi? Bukannya sudah bilang cukup datang untuk makan saja," tanya William."Mana mungkin datang dengan tangan kosong. Om jangan sungkan," jawab Arizo.William menerima barang-barang itu. "Ayo cepat masuk, duduk dulu. Sebentar lagi makan, tinggal dua menu yang masih dimasak."Sander masuk ke dapur untuk membantu. Elara menyapa semua orang satu per satu.Yurike maju, menarik Elara untuk duduk. "Kelihatannya kamu pulih dengan baik, wajahmu segar. Barang yang kuberikan kemarin cocok, 'kan?""Ya, cukup cocok.""Bagus kalau begitu."Beberapa orang mengobrol dengan santai di sofa. Tak lama kemudian, makan malam pun dimulai. Mereka duduk mengelilingi satu meja.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 98

    Elara menerima foto dan video perayaan satu bulan Elise yang dikirim oleh Reynard.[ Elise terus menggenggam liontin gembok keberuntungan yang kamu berikan. Dia senang sekali. Anak kecil itu pasti tahu kalau itu disiapkan oleh mamanya. ]Melihat anak itu tertawa bahagia, sudut bibir Elara tanpa sadar terangkat. Saat ini, dia sudah bisa menerima semuanya dengan lebih lapang.Dia ingin melihat anaknya tumbuh besar, meskipun tak bisa mendampinginya.Menatap bayi kecil di foto itu, jelas terlihat bahwa Elise benar-benar dirawat dengan sangat baik. Keluarga Atmadja sungguh menyayanginya.[ Dia anak yang cerdas. ][ Sudah jelas, anak yang kamu lahirkan pasti pintar. ]Hari itu, tiba-tiba Elara menerima telepon dari Deon. "Aku akan pergi dinas beberapa hari. Datanglah untuk merawat anak."Mendengar ucapan pria itu, Elara langsung tertegun di tempat. Dia sempat mengira Deon mencarinya untuk membicarakan perceraian, tetapi masa tenang masih tersisa tiga hari lagi.Tak disangka, dia justru memin

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 97

    Namun, kenapa hari ini tidak terlihat istri Deon? Semua orang merasa heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.Deon menggendong anak itu, lalu meletakkannya ke dalam kereta bayi. Nami dan Malik segera mendekat, menatap cucu perempuan kesayangan mereka. Wajah yang dipenuhi keriput itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagia.Nami menyerahkan hadiah satu bulan yang telah dia siapkan untuk cucunya. Perhiasan bernilai ratusan juta yang disimpannya dengan sangat hati-hati. Dia lalu bertanya, "Sayang, suka nggak?"Elise membuka mata besarnya, menatap lurus ke depan. Wajah kecilnya yang imut tidak menunjukkan reaksi khusus."Elise, lihat hadiah dari Kakek Buyut." Malik memperlihatkan sebuah gendang mainan yang dibuat khusus. Bahannya dari kayu berkualitas tinggi dan lukisan di permukaan gendang itu digambar sendiri olehnya.Irma dan Zayden juga telah menyiapkan hadiah dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin melihat cucu perempuan mereka tersenyum.Namun, Elise hanya berkedip pelan,

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 96

    Reynard mengirimkan foto kembang api dan bertanya.[ Ingin lihat anakmu? ]Elara tidak pernah menyinggung soal anak kepada Reynard. Dia tahu Elara takut akan semakin terluka dan sedih jika melihatnya. Namun di dalam hatinya, Elara pasti sangat ingin melihat anak itu.Elara menatap pesan dari Reynard, terdiam cukup lama. Dia kembali ke kamarnya, barulah membalas.[ Mau. ]Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menahan diri.Reynard mengirimkan beberapa foto anak itu secara terpisah. Saat tidur, saat tersenyum .... Elise tumbuh dengan sangat cantik. Sepasang matanya yang besar dan cerah melengkung seperti bulan sabit saat tersenyum, hidungnya mungil dan rapi, bibir kecilnya merah muda, wajah mungilnya putih dan bersih.Elara menatap foto-foto itu. Matanya tanpa sadar memerah. Dia meletakkan ponselnya, lalu menengadah menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan emosinya. Kemudian, dia baru mengirim pesan kepada Reynard.[ Apa Deon memperlakukannya dengan baik? ]Itulah yang paling dia

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 95

    Ekspresi Deon tetap tidak berubah saat mendengarkan ucapan Reynard. Dengan suara berat, dia berkata, "Jadi hanya karena dia, kamu bisa memberi penilaian seperti itu pada keluarga sendiri, pada kakek, nenek, dan orang tua di rumah ini."Reynard membuka mata dan menatapnya.Deon melanjutkan, "Kamu boleh membelanya dan memperjuangkan keadilannya, tapi Keluarga Atmadja bukan tempat untuk melampiaskan emosimu. Kamu juga bagian dari Keluarga Atmadja.""Kamu juga sudah nggak kecil lagi. Sekarang kamu sudah membuka perusahaan sendiri dan menjadi bos. Dalam berbicara dan bertindak, jangan terlalu dikuasai emosi."Jari-jari Reynard mengerat. Dia perlahan menunduk. Wajahnya tegang. Dia tidak berkata apa-apa lagi.Suasana pun tenggelam dalam keheningan.Saat itu, seorang pelayan naik ke lantai atas dan berkata, "Tuan, makan malam sudah siap."Deon menurunkan kakinya, lalu menyerahkan kantong itu kepada pelayan. "Bawa ke kamarku."Pelayan menerima dengan kedua tangan dan menjawab, "Baik."Pelayan p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status