Share

Bab 7

Penulis: Keisha
Elara malam itu menginap di rumah Keluarga Wiratama. Malam itu adalah tidur paling nyenyak dan tenang yang dia rasakan setelah sekian lama.

Pagi hari, Larissa sedang menyiapkan sarapan di dapur, khusus merebuskan sup ayam untuk Elara, lalu menyiapkan makan siang bergizi untuknya, dimasukkan ke termos agar bisa dia bawa ke kantor.

Semalam Elara sudah memberi tahu mereka soal pengunduran dirinya, bahwa dia berencana pergi ke tempat Arizo untuk bekerja sebagai asisten selama satu bulan. Awalnya mereka tidak setuju dan menyuruhnya fokus merawat kehamilan serta memulihkan tubuh. Namun, Elara bersikeras.

Saat ini selain tubuhnya terasa agak berat, tidak ada keluhan lain. Melakukan pekerjaan ringan tidak masalah. Lagi pula, dia perlu berganti lingkungan dan menyibukkan diri. Jika tidak melakukan apa-apa, justru pikirannya akan melayang ke mana-mana. Akhirnya, William tidak mengatakan apa-apa lagi.

Elara sempat ingin membantu di dapur, tetapi Larissa tidak mengizinkannya. Elara pun tidak memaksa. Dia duduk di sofa sambil memegang ponsel dan mencari di internet, kelas pilates yang cocok untuk ibu hamil. Dia memilih satu tempat dan berencana mencari waktu pergi untuk berkonsultasi.

Dia terus menggulir layar ponselnya. Tiba-tiba, ekspresinya berubah.

Dia melihat sebuah unggahan. Orang itu mengunggah sembilan foto makan bersama dengan latar sebuah klub privat kelas atas.

Kontaknya adalah Marshal, teman satu lingkaran Deon, yang dulu dia tambahkan saat masih menjadi asisten Deon. Di sana terdapat sebuah caption.

[ Malam makan bersama. PS: Lagi-lagi jadi nyamuk. Kapan minum anggur pernikahan? ]

Di dalam foto, ada tiga foto Deon dan Doreen bersama. Pada foto tengah, Doreen menutup pipinya dengan malu-malu dan bersandar ke pelukan Deon. Pria tampan itu menopang bahu gadis itu dengan satu tangan, menunduk dengan tatapan penuh kelembutan ke arah gadis di pelukannya.

Aura cinta dan kemesraan seakan-akan meluap keluar dari layar.

Teman-teman Deon tahu bahwa dia sudah mendaftarkan pernikahan, hanya saja di mata mereka, Elara sama sekali tidak pantas. Unggahan Marshal ini sangat mungkin sengaja diperlihatkan kepadanya.

Elara hanya merasa dadanya seperti dicengkeram kuat, begitu sakit sampai dia hampir tidak bisa bernapas. Dia mematikan ponselnya.

Dia bangkit dan pergi ke balkon, menenangkan diri, berusaha keras agar tidak peduli dan tidak memikirkannya lagi. Tanpa sadar, tangannya mengusap perut kecil yang membuncit. Hatinya terasa berat.

Setelah mereka bercerai, Deon pasti akan segera menikahi Doreen. Mereka akan punya anak. Dia begitu mencintai Doreen, tentu dia juga akan sangat mencintai anak mereka. Lalu, bagaimana dengan anaknya nanti? Apakah masih bisa mendapatkan kasih sayang seorang ayah?

"Ela, makanan sudah siap."

Suara Larissa terdengar. Elara pun tersadar kembali dari lamunannya. Dia menarik napas dalam-dalam, mengangkat tangan untuk menyeka sudut matanya, lalu berbalik dan pergi ke kamar mandi dulu. Saat dia keluar lagi, ekspresinya sudah kembali seperti biasa.

Setelah sarapan, Sander mengantar Elara ke kantor.

Di sepanjang jalan, Sander menyadari ada yang tidak beres pada Elara dan bertanya, "Ela, ada apa?"

Elara menggeleng, tidak ingin mengatakan apa pun.

Sander berkata dengan nada penuh nasihat, "Ela, sekarang kamu hamil. Kalau ada masalah di hati, jangan dipendam. Itu nggak baik untukmu dan anakmu."

Baru setelah beberapa saat, Elara membuka mulut dan berkata, "Nggak ada apa-apa. Cuma Deon punya wanita lain di luar. Untuk sementara ini aku memang belum bisa sepenuhnya menerima, tapi nggak apa-apa, aku akan menyesuaikan diri. Kak, jangan khawatir."

Nada bicaranya terdengar ringan.

Sander tahu dia sedang terluka, tetapi tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Dia hanya berkata, "Waktu akan memulihkan segalanya. Semuanya akan perlahan membaik."

Elara mengangguk dan mengiakan.

Sesampainya di kantor, Elara membawa termos turun dari mobil, berpamitan pada Sander, lalu berjalan masuk ke gedung perusahaan.

Begitu masuk ke perusahaan, dia kembali bertemu Deon. Karena Deon jarang pulang ke rumah dan meskipun jabatannya diturunkan, alasan Elara tetap bertahan bekerja adalah karena dia ingin bisa bertemu Deon setiap hari.

Namun, selama beberapa bulan ini di perusahaan, dia jarang sekali melihat Deon. Kalaupun bertemu, sikap Deon padanya selalu sangat dingin. Tak disangka, dua hari berturut-turut masuk kerja, dia justru bertemu dengan Deon.

Pria itu turun dari mobil dengan setelan jas rapi. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, sepasang kaki panjangnya sangat mencolok. Wajahnya yang tegas selalu memukau setiap kali dilihat. Tampan luar biasa, penuh wibawa dan aura dominan.

Namun, justru pria sedingin itu juga memiliki sisi yang begitu lembut dan penuh kasih.

Hati Elara tiba-tiba terasa getir. Dia menunduk, memberi jalan, lalu menyapa dengan hormat, "Pak Deon."

Seperti biasa, Deon menganggapnya udara. Menyadari keberadaannya justru membuat ekspresinya semakin dingin. Dia melangkah cepat dan langsung melewati Elara.

Setelah pria itu masuk ke lift khusus presdir, barulah Elara tersadar kembali dan naik lift karyawan ke lantai atas.

Kemarin, dia dan Shireen bertengkar. Hari ini, Shireen juga tidak menunjukkan wajah ramah padanya, hanya mengatur orang untuk melakukan serah terima pekerjaan dengannya.

Elara sama sekali tidak peduli dengan sikap Shireen. Sekarang, dia hanya ingin segera menyelesaikan serah terima dan pergi dari tempat ini.

Setelah pekerjaan pagi selesai, melihat cuaca hari ini cukup bagus dan di belakang gedung perusahaan terdapat taman ekologi, Elara pun membawa termos turun untuk makan di luar, sekalian berjalan-jalan santai.

Dia naik lift untuk turun. Saat berjalan di lobi perusahaan, dia berpapasan dengan dua orang yang baru masuk. Salah satunya adalah Marshal. Pria di sampingnya bertubuh tegap dan berwibawa, tampaknya adalah teman Deon. Hanya saja, Elara belum pernah melihatnya sebelumnya.

Elara tidak berniat menyapa. Dia menunduk dan menjauh, berjalan ke arah pintu keluar. Namun, Marshal langsung melihat Elara begitu masuk. Tubuhnya yang gemuk benar-benar terlalu mencolok.

Melihat Elara menghindar, Marshal mengambil langkah besar dan menghalangi jalannya.

Langkah Elara terhenti. Dia mendongak menatap Marshal, lalu melihat ekspresi jijik yang luar biasa di wajahnya. "Matamu buta ya? Nggak bisa nyapa orang?"

Dulu saat dia masih menjadi asisten Deon, Marshal selalu bersikap sopan padanya. Namun sekarang, di mata mereka, dia hanyalah perempuan licik yang jelek, gemuk, dan tidak tahu diri.

Elara menunduk dan memanggil dengan suara datar, "Pak Marshal."

Marshal mencibir dan mencela, "Sikap macam ini apa? Kamu pikir dirimu katak busuk yang berubah jadi burung foniks?"

Genggaman tangan Elara pada kotak termos mengencang. Dia merasa sangat terhina. Dia pun memiringkan badan, melewati Marshal, hendak pergi. Namun, tiba-tiba Marshal mengulurkan kaki panjangnya.

Elara sama sekali tidak siap dan langsung tersandung. Kedua lututnya jatuh menghantam lantai yang keras. Wajahnya seketika memucat, giginya gemetar menahan sakit. Termos di tangannya terlempar sampai sup ayam dan makanan di dalamnya tumpah berceceran.

Vidi yang sejak tadi memperhatikan dari dekat, sontak terkejut.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 100

    Pukul 1 siang, pesawat menuju Frabisco lepas landas tepat waktu.Elara duduk di kursi bisnis dekat jendela, menatap kota yang perlahan mengecil di luar sana. Di tangannya, dia menggenggam erat sebuah kalung. Di dalamnya tersimpan foto satu bulan Elise.Kepergiannya kali ini berarti dia dan anaknya akan semakin sulit untuk bertemu.'Sayang, Mama minta maaf padamu,' batin Elara. Dadanya terasa nyeri.Pada saat yang sama, di dalam mobil Bentley yang sedang melaju dari bandara menuju vila, Elise tiba-tiba menangis sangat keras.Deon menggendongnya, menghibur dengan segala cara, tetapi tetap tidak berhasil. Baru setelah dia kelelahan karena menangis dan tertidur, tangisan itu perlahan mereda.Deon memeluk putrinya, mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan hati-hati. Telapak tangannya menepuk-nepuk lembut tubuh kecil itu. Sorot matanya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang seorang ayah.....Lima tahun kemudian, di kantor pusat Sprucera, di dalam ruang kerja presdir yang luas.Di mana

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 99

    Sebelum masuk ke rumah, Yurike sempat mengingatkan Gasper agar nanti tidak asal bicara.Gasper berkata, "Aku ini bukan orang yang suka bocor mulut.""Huh, kurang lebih sama saja!"Sesampainya di rumah Keluarga Wiratama, William dan Larissa segera menyambut mereka masuk. Arizo membawa beberapa bingkisan."Kenapa beli barang sebanyak ini lagi? Bukannya sudah bilang cukup datang untuk makan saja," tanya William."Mana mungkin datang dengan tangan kosong. Om jangan sungkan," jawab Arizo.William menerima barang-barang itu. "Ayo cepat masuk, duduk dulu. Sebentar lagi makan, tinggal dua menu yang masih dimasak."Sander masuk ke dapur untuk membantu. Elara menyapa semua orang satu per satu.Yurike maju, menarik Elara untuk duduk. "Kelihatannya kamu pulih dengan baik, wajahmu segar. Barang yang kuberikan kemarin cocok, 'kan?""Ya, cukup cocok.""Bagus kalau begitu."Beberapa orang mengobrol dengan santai di sofa. Tak lama kemudian, makan malam pun dimulai. Mereka duduk mengelilingi satu meja.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 98

    Elara menerima foto dan video perayaan satu bulan Elise yang dikirim oleh Reynard.[ Elise terus menggenggam liontin gembok keberuntungan yang kamu berikan. Dia senang sekali. Anak kecil itu pasti tahu kalau itu disiapkan oleh mamanya. ]Melihat anak itu tertawa bahagia, sudut bibir Elara tanpa sadar terangkat. Saat ini, dia sudah bisa menerima semuanya dengan lebih lapang.Dia ingin melihat anaknya tumbuh besar, meskipun tak bisa mendampinginya.Menatap bayi kecil di foto itu, jelas terlihat bahwa Elise benar-benar dirawat dengan sangat baik. Keluarga Atmadja sungguh menyayanginya.[ Dia anak yang cerdas. ][ Sudah jelas, anak yang kamu lahirkan pasti pintar. ]Hari itu, tiba-tiba Elara menerima telepon dari Deon. "Aku akan pergi dinas beberapa hari. Datanglah untuk merawat anak."Mendengar ucapan pria itu, Elara langsung tertegun di tempat. Dia sempat mengira Deon mencarinya untuk membicarakan perceraian, tetapi masa tenang masih tersisa tiga hari lagi.Tak disangka, dia justru memin

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 97

    Namun, kenapa hari ini tidak terlihat istri Deon? Semua orang merasa heran, tetapi tidak ada yang berani bertanya lebih jauh.Deon menggendong anak itu, lalu meletakkannya ke dalam kereta bayi. Nami dan Malik segera mendekat, menatap cucu perempuan kesayangan mereka. Wajah yang dipenuhi keriput itu tak mampu menyembunyikan rasa bahagia.Nami menyerahkan hadiah satu bulan yang telah dia siapkan untuk cucunya. Perhiasan bernilai ratusan juta yang disimpannya dengan sangat hati-hati. Dia lalu bertanya, "Sayang, suka nggak?"Elise membuka mata besarnya, menatap lurus ke depan. Wajah kecilnya yang imut tidak menunjukkan reaksi khusus."Elise, lihat hadiah dari Kakek Buyut." Malik memperlihatkan sebuah gendang mainan yang dibuat khusus. Bahannya dari kayu berkualitas tinggi dan lukisan di permukaan gendang itu digambar sendiri olehnya.Irma dan Zayden juga telah menyiapkan hadiah dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin melihat cucu perempuan mereka tersenyum.Namun, Elise hanya berkedip pelan,

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 96

    Reynard mengirimkan foto kembang api dan bertanya.[ Ingin lihat anakmu? ]Elara tidak pernah menyinggung soal anak kepada Reynard. Dia tahu Elara takut akan semakin terluka dan sedih jika melihatnya. Namun di dalam hatinya, Elara pasti sangat ingin melihat anak itu.Elara menatap pesan dari Reynard, terdiam cukup lama. Dia kembali ke kamarnya, barulah membalas.[ Mau. ]Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menahan diri.Reynard mengirimkan beberapa foto anak itu secara terpisah. Saat tidur, saat tersenyum .... Elise tumbuh dengan sangat cantik. Sepasang matanya yang besar dan cerah melengkung seperti bulan sabit saat tersenyum, hidungnya mungil dan rapi, bibir kecilnya merah muda, wajah mungilnya putih dan bersih.Elara menatap foto-foto itu. Matanya tanpa sadar memerah. Dia meletakkan ponselnya, lalu menengadah menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan emosinya. Kemudian, dia baru mengirim pesan kepada Reynard.[ Apa Deon memperlakukannya dengan baik? ]Itulah yang paling dia

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 95

    Ekspresi Deon tetap tidak berubah saat mendengarkan ucapan Reynard. Dengan suara berat, dia berkata, "Jadi hanya karena dia, kamu bisa memberi penilaian seperti itu pada keluarga sendiri, pada kakek, nenek, dan orang tua di rumah ini."Reynard membuka mata dan menatapnya.Deon melanjutkan, "Kamu boleh membelanya dan memperjuangkan keadilannya, tapi Keluarga Atmadja bukan tempat untuk melampiaskan emosimu. Kamu juga bagian dari Keluarga Atmadja.""Kamu juga sudah nggak kecil lagi. Sekarang kamu sudah membuka perusahaan sendiri dan menjadi bos. Dalam berbicara dan bertindak, jangan terlalu dikuasai emosi."Jari-jari Reynard mengerat. Dia perlahan menunduk. Wajahnya tegang. Dia tidak berkata apa-apa lagi.Suasana pun tenggelam dalam keheningan.Saat itu, seorang pelayan naik ke lantai atas dan berkata, "Tuan, makan malam sudah siap."Deon menurunkan kakinya, lalu menyerahkan kantong itu kepada pelayan. "Bawa ke kamarku."Pelayan menerima dengan kedua tangan dan menjawab, "Baik."Pelayan p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status