LOGINBAB 5 RINDU YANG MENDALAM
William mendatangi tempat yang menjual berbagai jenis bunga sebelum pergi ke makam sang Ibu, dia langsung memesan bunga Lili dengan berbagai warna. bunga yang disukai sang Ibu selama hidupnya, bahkan sang Ibu bercerita jika dia hamil lagi dan melahirkan anak perempuan, dia akan menamainya Lili saking kecintaannya kepada bunga tersebut. Selesai melakukan pembayaran, William melanjutkan perjalanannya menuju makam sang Ibu untuk yang pertama kali setelah tujuh tahun berlalu. William meletakkan bunga yang dia beli di salah satu batu nisan yang bernama Aletha Wijaya. "Bu...Liam datang, maaf baru datang lagi setelah sekian lama." William mengusap nisan sang Ibu perlahan memandang lekat-lekat tanpa berkedip, tanpa disadari kini kedua matanya mulai berembun. Dadanya terasa sesak, Ia menggigit bibir bawah pelan seolah menahan tangis. "Bagaimana kabar Ibu, semoga selalu damai disana. Liam baik-baik saja saat ini jadi Ibu tidak perlu khawatir," ucap Liam suaranya serak nyaris tak terdengar. Setelah selesai mencurahkan isi hatinya kepada sang Ibu, dia melanjutkan perjalanannya pergi ke rumah. dia akan mulai kembali menyelidiki siapa orang yang ada di foto tersebut apa dia ada kaitannya dengan Rian atau tidak. Namun saat di perjalanan, William merasa ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang. dia menyadarinya saat membeli bunga, tadinya William mengira hanya kebetulan saja tapi dia melihat mobil itu kembali mengikutinya setelah dari makam sang Ibu. William berpikir keras seraya berusaha menghindari mobil tersebut tanpa sang pengemudi yang mengikutinya curiga, dia segera menghubungi Hendery setelahnya. "Halo, Hendery, apa saat ini kamu tidak sedang sibuk?" "Tidak terlalu, memangnya ada apa? apa terjadi sesuatu, aku mendengar nada bicaramu berbeda sekali." "Ada mobil yang mengikutiku sejak aku pergi ke toko bunga, kalau tidak sibuk aku akan datang ke perusahaanmu. takutnya jika datang ke rumah atau ke apartemenmu mereka akan mengacak-acak dan menghilangkan barang bukti yang telah kita kumpulkan selama ini," "Iya sudah, datanglah kemari, nanti biar orang suruhanku yang mengambil alih mobil untuk diparkirkan di tempat khusus pasti kamu membawa barang-barang penting. Jadi setelah sampai tinggal langsung pergi ke ruanganku saja." "Baiklah, terima kasih." "Ish kau ini, iya sudah hati-hati dijalan. jika sudah sampai kabari lagi," "Oke, aku putus sambungannya." William memacu mobilnya lebih cepat menuju perusahaan Hendery, dan benar saja saat dilihat dari kaca spion mobil tersebut masih terus mengikutinya. selang satu jam kemudian dia sampai di perusahaan Hendery, dia langsung pergi menuju ruangan sahabatnya itu bekerja. "Kamu yakin akan mengajukan tuntutan kepada Rian sekarang? bukannya kamu bilang saat ini kita masih belum punya banyak bukti untuk menuntut dia." Hendery terkejut saat William bilang akan menuntut Rian sekarang, sebenarnya tidak masalah jika mau sekarang membuat laporan tersebut kepada pihak yang berwajib. Namun sebelumnya William sendiri yang mengatakan untuk menundanya terlebih dahulu dan mencari barang bukti lainnya, dia mengira pasti terjadi sesuatu saat datang ke rumah keluarga William yang membuat sahabatnya kini merubah keputusannya. "Aku yakin, kita bisa mencari barang bukti lain selama pihak berwajib masih memprosesnya." William mengetuk jari tangannya pada meja tanpa sadar. "Baiklah jika itu keputusanmu, kalau begitu aku akan menghubungi pengacara untuk membantu mengurus laporannya, kamu tenang saja biar aku yang urus," ucap Hendery mencoret-coret meja dengan kuku. Hendery menghubungi pengacara andalannya yang biasa menangani kasus perusahaannya jika terjadi sesuatu. mereka berdiskusi lebih dalam mengenai laporan seperti pasal apa yang akan ada dalam tuntutan serta barang bukti mana saja yang nantinya akan diserahkan kepada pihak yang berwajib. Setelah berdiskusi dan mempersiapkan semua berkas, ketiganya pun pergi menuju polsek terdekat. Beberapa jam kemudian setelah membuat laporan, berita tentang William yang membuat laporan menuntut Rian atas beberapa pasal seperti pasal pencemaran nama baik, pasal membuat laporan palsu serta menuntutnya atas investasi palsu yang dijalankan mengatasnamakan dirinya. Berita tersebut sudah semakin tersebar luas karena beberapa wartawan yang biasa selalu ada di sekitar polsek untuk mencari info terbaru untuk dipublikasikan, dan berita tersebut sudah terdengar sampai ke telinga Chandra Pramudya ayah William. Chandra langsung menghubungi William untuk datang ke rumah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, meski sebenarnya enggan untuk datang lagi ke rumah tersebut William terpaksa harus datang lagi. Dan disinilah dia sekarang dirumah yang dulu penuh kenangan kini berubah drastis ingin segera cepat-cepat untuk keluar. William baru saja duduk di kursi di samping sang Ayah, namun beberapa detik kemudian pipinya terasa sangat sakit dan panas akibat tamparan keras Chandra yang penuh amarah. "Apa yang ingin kamu lakukan lagi kali ini? apa tidak cukup selama tujuh tahun dipenjara," bentak Chandra yang masih tersulut emosi. "Apa yang aku lakukan tujuh tahun yang lalu? aku tidak melakukan hal apapun saat itu. Sudah berulang kali aku bilang tapi apa? Ayah tidak percaya sama sekali sampai sekarang." William mengedip cepat menahan air matanya, rasa sakit di pipinya semakin menjalar, Dia sudah menduga hal ini akan terjadi lagi, namun dirinya merasa belum siap menerima ucapan dan makian yang diucapkan oleh Ayah kandungnya sendiri. Mampukah kali ini William bisa membalas rasa sakit yang dirasakannya atau akan sama seperti dulu menerima tanpa bisa membela dirinya lagi.Candra diam. Diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan.“Lalu, kenapa aku dijebak?” Suara William terdengar bergetar.Rian menunduk.“Karena kau adalah ahli waris sah dari harta peninggalan Arman. Selama kau masih bebas, Candra tidak bisa menguasai seluruh aset itu. Jadi, ia menciptakan kasus agar kau terlihat sebagai pelaku kejahatan.”“Dan kau menjadi saksi?”“Aku dipaksa.”William menatap Rian dengan mata memerah. “Kau bisa memberitahuku setelah aku keluar.”“Aku mencoba
Mia menggenggam tangan William. “Berarti sudah jelas,” bisiknya.“Belum,” jawab William pelan. “Mereka masih bisa menyangkal bahwa Candra sendiri yang melakukan.”Seolah mendengar ucapan William, pengacara Candra segera berdiri.“Yang Mulia, jaringan perusahaan dapat digunakan oleh banyak orang. Bukti tersebut sama sekali tidak membuktikan bahwa klien kami ikut terlibat terlibat.”Hakim mengangguk, terlihat setuju dengan apa yang baru saja diucapkan pengacara Candra.“Pihak pembela harus menunjukkan hubungan langsung antara perangkat tersebut dan terdakwa.”
“Semua orang yang tahu tentang masa lalu… disingkirkan.”Dada William tiba-tiba terasa sesak, begitu mendengar apa yang baru saja didengarnya “Apakah maksud Bapak, Candra juga terlibat dalam kasus yang membuat saya dipenjara?”Ayah Mia memejamkan mata. Ruangan itu mendadak terasa sunyi, kecuali suara alat pemantau yang terus berbunyi. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata kembali.“Bukan dia… yang menyusun semuanya.”William menahan napas.“Siapa?”Bibir ayah Mia bergerak pelan.“Adiknya…”Mia mengerutkan kening.“Adik siapa, Ayah?”Namun, sebelum pria itu dapat melanjutkan, suara alat pemantau berubah cepat. Dokter dan beberapa perawat segera masuk ke dalam ruangan. Mereka meminta William dan Mia keluar agar dapat memeriksa kondisi pasien.Mia berdiri di lorong dengan wajah penuh tanda tanya.“Adik siapa yang dimaksud ayahku?”William tidak menjawab. Hanya ada satu nama yang terus terlintas dalam pikirannya.Rian.Adik tirinya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu baik. Adik yang
“Kita harus memeriksa isinya.” William menyimpan kartu memori itu di dalam wadah kecil yang dibawa Dimas.Mereka tidak langsung membukanya menggunakan komputer biasa. Setelah menerima ancaman, William tidak ingin mengambil risiko.“Jangan gunakan perangkat yang terhubung ke jaringan umum,” ucap William. “Kalau ada program pelacak di dalamnya, mereka bisa mengetahui lokasi kita.”Dimas mengangguk paham langsung membawa mereka ke ruang kerjanya yang berada di bagian belakang sebuah kantor lama. Ruangan itu tidak memiliki kamera pengawas, dan seluruh perangkat di dalamnya bekerja menggunakan sistem tertutup.Selama beberapa jam, Dimas memeriksa isi kartu memori tersebut. Mia terus berjalan mondar-mandir di belakangnya, sementara William berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada.“Sudah ada hasil?” tanya William.Dimas tidak segera menjawab. Ia memperbesar salah satu folder yang baru berhasil dibuka.“Bukan hanya satu atau dua dokumen,” sahutnya. “Di dalamnya ad
William dan Mia tidak menunggu lebih lama. Keesokan paginya, keduanya bergegas untuk pergi ke rumah ayah Mia untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan Candra dengan kasus yang menimpa pria itu.Dugaan saat ini saja tidak cukup. Mereka membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat, sesuatu yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Sejak ayahnya terbaring di rumah sakit, rumah itu terasa berbeda bagi Mia begitu memasukinya. “Semua dokumen penting Ayah ada di ruang kerja,” kata Mia sambil membuka pintu. “Tapi aku sudah mencarinya sebelum kau datang. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.” sambungnya.William tidak langsung menjawab. Ia masuk perlahan, lalu mengamati seluruh ruangan. Pandangan matanya bergerak dari rak buku, meja kerja, lemari arsip, hingga kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan. Ia tidak menyentuh apa pun. Hanya memperhatikan.“Kalau seseorang sengaja menjebak ayahmu,” ujar William akhirnya, “dia tidak akan meninggalkan bukti di tempat yang mudah ditemukan.” Mia menat
Setelah sambungan terputus, William kembali menatap foto Raka. Namun, kali ini ia tidak hanya melihat seorang pria yang berdiri di samping Candra.William menyimpan semua dokumen tersebut ke dalam laptop, lalu mematikan layar. Saat ia hendak meninggalkan kafe, ponselnya bergetar sekali lagi.Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, William mulai membukanya.“Berhenti mencari tahu tentang Candra jika kau masih ingin Mia tetap hidup.”Untuk beberapa detik, William hanya menatap pesan itu tanpa berkedip. Lalu, sebuah foto dikirimkan.Foto Mia sedang berdiri di depan perusahaan ayahnya. Diambil dari jarak jauh. Wajahnya terlihat jelas.William merasakan amarah yang selama ini ia tahan mulai mendidih di dalam dada. Di bawah foto itu, terdapat satu kalimat tambahan.“Pertemuan berikutnya akan menentukan siapa yang kehilangan segalanya.”William mengangkat kepalanya dan menatap pantulan dirinya di kaca cafe. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya berubah menjadi dingin dan mematikan.
William menghentikan langkahnya sejenak saat membaca pesan baru dari Mia.[Jangan dulu datang kesini, ada beberapa orang yang mencurigakan berlalu-lalang dari tadi di dekat rumahku]“Kenapa aku diminta untuk tidak pergi kesana, bukannya bahaya jika dia berada disana seorang diri?” gumam William tid
Sudah dari satu jam yang lalu mereka telah tiba dan menunggu kapal kargo yang akan berlabuh di dermaga, namun masih belum terlihat kapal yang membawa barang milik Tedy Yan bersandar di pelabuhan.“Ini sudah tengah malam, tapi kenapa kapalnya belum juga sampai di pelabuhan?” tanya salah satu pengawa
“Heh dimana sekarang? jam segini keluyuran, baru nyampe dirumah tapi tidak terdeteksi tanda-tanda kehidupan.”-Hendery.“Liam sampai kesini jam berapa? kita disuruh kumpul jam setengah sebelas.”-Bian.William membalas satu per satu pesan yang masuk dari keduanya.”Aku harus pergi sekarang Bian member
“Mau bagaimana lagi kita harus masuk ke ruang kerja Ayahku sekarang, tidak mungkin kita menunggu mereka sampai selesai bekerja. waktu kita tidak banyak lagi pula aku lihat yang lembur orang-orang yang sudah aku kenal juga,” sahut Mia melihat masih ada beberapa karyawan yang masih bekerja.Karena ti







