Mag-log inWilliam membulatkan kedua matanya begitu mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya. “Mia? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya William sedikit berbisik seraya memperhatikan pintu dan orang-orang yang berada diluar ruangannya.Mia tersenyum lalu mendekat kearah William dan berbisik. “Kejutan.”William mengernyitkan sebelah alisnya tidak belum paham dengan apa yang baru saja diucapkan Mia.“Kejutan?” William mengulang apa yang baru saja diucapkan Mia.Mia menganggukan kepalanya.” Betul, aku akan membantumu disini. Sekalian untuk mencari tahu tentang adik tirimu itu.”Mia mengubah posisinya kembali seperti semula berada di depan meja kerja William. “Aku tahu sekarang kamu sangat sibuk mengurus perusahan, jadi biar aku saja yang mencari tahu tentang dia. Apa sekarang orang-orang sedang sangat memperhatikanmu, bergerak sedikit pasti mereka akan curiga.”“Ya aku sangat sibuk beberapa hari ini, sampai melewatkan jam makan siang.”“Kalau begitu makanlah! Aku sudah membuatkannya untuk mu
Pengkhianatan dan penghinaan yang dia terima tujuh tahun yang lalu, begitu dirinya dijebloskan ke dalam jeruji besi wanita tersebut langsung memutuskan hubungan secara sepihak. Dan yang membuatnya kecewa wanita itu menghinanya serendah-rendahnya, saat ingin menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah dan dijebak oleh seseorangIngin menghindar namun kepala sudah kepalang menoleh ke arah wanita tersebut, William hanya bisa menghela nafas menunggu wanita tersebut perlahan berjalan ke arahnya.Wanita tersebut masih terlihat sama seperti tujuh tahun yang lalu, hanya sekarang penampilannya terlihat semakin dewasa.“Ternyata benar, aku kira salah orang.” Sisil tersenyum simpul seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.William hanya diam tidak menanggapi, dia memperhatikan apa yang akan wanita itu ucapkan dan apa yang akan dilakukannya.“Maaf nona siapa? Kami sedang buru-buru.” tanya sekretaris William yang menyadari ada sedikit perubahan sikap dari atasannya itu.“Saya perwa
“Untuk sementara waktu jika ingin beli sesuatu atau ingin pergi ke suatu tempat minta saja aku untuk temani, sepertinya belum aman untuk bepergian sendiri.” ucap William yang kedua matanya fokus membersihkan luka Mia.Meski tiba-tiba suasana terasa canggung, William tetap berusaha untuk fokus memberikan obat pada luka Mia.Tanpa William sadari, Mia tersenyum sedikit memperhatikan William yang sedang mengobatinya.“Oh ho… semenjak jadi bodyguard beda ya, ceritanya mau melamar jadi bodyguard aku nih setelah resign dari perusahaan .Tedi Yan?” tanya Mia dengan nada menggoda.Sempat tersentak, William mencoba mengatur nafasnya karena Mia yang menggodanya dengan tindakan tiba-tiba mendekatkan wajah ke arahnya.Buru-buru William mendaratkan jari telunjuknya di dahi Mia lalu mendorongnya sedikit. “Jangan terlalu percaya diri.”Mia mendengus kesal mengelus dahinya. “Terserah.” William merapikan kembali barang-barang yang telah digunakan ke dalam kotak P3K, dan menaruhnya di bawah meja.“Kapan
“Kita lihat apa yang direncanakan anak itu jika aku benar-benar kembali ke perusahaan, dengan begitu aku juga bisa menggali lebih dalam lagi tentang informasi apa saja yang diperlukan oleh Mia tentang anak itu.” ucap William dalam hati melirik sekilas kearah Rian sebelum dirinya benar-benar meninggalkan tempat tersebut.“Sepertinya aku harus memiliki beberapa rencana yang matang jika sudah kembali bergabung diperusahaan, kali ini aku benar-benar tidak tahu karyawan mana saja yang berada di pihak ayah atau bukan yang merupakan dalang dari menurunnya pendapatan perusahaan.” gumam William saat tiba di mobilnya.William membuka pintu mobil dan mulai duduk bersiap untuk pergi. “Baiklah malam ini aku harus memikirkannya baik-baik.”****“Apa kamu sudah memikirkan semuanya dengan baik-baik? Aku rasa karir kamu disini nanti bisa lebih berkembang lagi beberapa waktu kemudian. Sangat disayangkan kalau harus berhenti sekarang,” tanya kepala pengawal memastikan kembali saat melihat surat pengundu
William terkekeh begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan sang ayah. “Kenapa aku harus kembali, bukannya ada dia?” sorot mata William mengarah ke arah Rian.Rian yang melihat tatapan tajam yang dilayangkan William mencoba tetap biasa saja, terkesan tersenyum sangat tipis sekali untuk mengejeknya.Namun kali ini sungguh William datang kesana tidak ingin mencari keributan, dirinya hanya ingin mendengarkan apa tujuan sang ayah memanggilnya ke rumah itu.Setelah itu mungkin dirinya tidak akan pernah mendatangi rumah yang dulunya mendeskripsikan benar-benar “Rumah untuk pulang.”“Ahh…aku tahu sepertinya aku akan dijadikan kambing hitam, atau jangan-jangan akan dijadikan kelinci percobaan untuk yang kesekian kalinya?”William belum begitu yakin dengan apa tujuan sang ayah sebenarnya, apakah benar ayahnya memang meminta untuk membantu perusahaannya atau hanya akal-akalan Rian untuk melancarkan rencananya. Maka dari itu dirinya berusaha untuk tetap fokus dan tidak mudah untuk terprovoka
William nampak berpikir sejenak. “Ndry ada yang ingin aku tanyakan?”“Dasar bodoh, apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin aku menanyakan secarang langsung kepada orang yang sedang aku curigai.” ucap William dalam hati.“Tanya apa? kenapa mendadak ekspresinya berubah begitu?” Hendary mengernyitkan sebelah alisnya keheranan.“Bagaimana dengan pekerjaan dan perusahaan, semua amankan?”“Aman dan cukup sibuk beberapa bulan terakhir, memangnya ada apa?”“Apa kamu ingin bergabung dengan perusahaan? aku akan memberikan satu posisi nanti kalau kamu mau.” tawar Hendery.
Mata William membulat saat membaca pesannya, bahkan dia membacanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak salah membaca.“Tedi Yan bukan orang yang membuat kamu masuk penjara.”“Kalau bukan Tedi Yan pelakunya, lalu siapa orang yang membantu anak itu yang membuatku masuk penjara.”gumam Willia
“Huft…sangat melelahkan sekali, ayo kita lanjutkan perjalanan, sepertinya kita yang datang terlambat nanti disana.” ajak Bian yang melihat para musuh sudah terkapar kehabisan tenaga tidak ada lagi perlawanan dari mereka.“Ayo, itu sudah pasti dan kita harus menceritakan kronologinya kepada kepala p
Sudah dari satu jam yang lalu mereka telah tiba dan menunggu kapal kargo yang akan berlabuh di dermaga, namun masih belum terlihat kapal yang membawa barang milik Tedy Yan bersandar di pelabuhan.“Ini sudah tengah malam, tapi kenapa kapalnya belum juga sampai di pelabuhan?” tanya salah satu pengawa
“Heh dimana sekarang? jam segini keluyuran, baru nyampe dirumah tapi tidak terdeteksi tanda-tanda kehidupan.”-Hendery.“Liam sampai kesini jam berapa? kita disuruh kumpul jam setengah sebelas.”-Bian.William membalas satu per satu pesan yang masuk dari keduanya.”Aku harus pergi sekarang Bian member







