LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, Kak Sendy Zen, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Patricia Inge, dan Kak Cak Bud atas hadiah koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih juga kepada semua pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Ini bab terakhir hari ini. Perjalanan menuju bab bonus hadiah masih jauh, masih kurang 720 Koin lagi, jadi mungkin baru terpenuhi selasa atau rabu atu bahkan kamis. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 6/6 Bab Reguler: 1/1
Ryan sama sekali tidak melirik naga energi yang sedang menerjang ke arahnya. Bahkan raungan makhluk itu tidak mengalihkan perhatiannya sedikit pun. Perhatiannya tetap tertuju kepada Kai Warrick yang berusaha melarikan diri. Saat pemuda itu baru mengambil beberapa langkah, tangan Ryan sudah bergerak.Gerakannya sekilas tampak biasa, tetapi kecepatannya jauh melampaui kemampuan Kai untuk bereaksi. Sebelum naga bentukan Mordecai Hargrove mencapai sasaran, telapak Ryan lebih dahulu menyambar wajah Kai.Plak!Jeritan memilukan menggema begitu keras hingga terdengar ke penjuru Kota Heavenly Capital. Tubuh Kai terangkat dari lantai, lalu dibanting keras hingga terdengar dentuman yang membuat para pelanggan tersentak.Wajahnya berlumuran darah. Hidung Kai patah dan miring ke samping, sementara tulang pipinya amblas akibat hantaman tersebut. Beberapa giginya yang masih tersisa ikut terlepas. Ia tergeletak di lantai, hanya mampu mengeluarkan erangan lemah dari mulut yang dipenuhi darah.M
Mordecai Hargrove bukan orang yang gemar mencampuri urusan kekuasaan. Meskipun sudah lama tinggal bersama Keluarga Warrick, ia tidak pernah membantu mereka memperluas wilayah atau menyingkirkan keluarga pesaing. Janjinya kepada kepala keluarga itu hanya satu: melindungi keturunan langsung Keluarga Warrick selama seratus tahun.Karena itulah Mordecai jarang terlihat turun tangan. Selama anggota keluarga tersebut tidak menghadapi bahaya yang mengancam nyawa, ia lebih memilih berdiam diri. Namun keberadaannya saja sudah cukup membuat kekuatan lain berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengan Keluarga Warrick.Selama beberapa dekade, keluarga tersebut mampu mempertahankan kedudukannya sebagai salah satu kekuatan yang disegani di Kota Heavenly Capital. Tidak banyak orang berani mengusik keluarga yang memiliki pelindung seorang ahli Ranah Star Sealed.Mordecai sebenarnya tidak menyukai perangai Kai Warrick. Pemuda itu terlalu sombong, gemar bertindak sewenang-wenang, dan sering meng
"Siapa namamu?" tanya Kai Warrick tiba-tiba.Ryan tidak langsung menjawab. Setelah pelayan yang tadi membantunya pergi melalui pintu belakang, ia kembali duduk dan menunggu hidangannya datang. Seorang pelayan lain menghampiri meja dengan beberapa piring di atas nampan. Kedua tangannya gemetar, membuat piring-piring itu berdenting pelan ketika diletakkan.Ryan mengambil sendok, mencicipi salah satu hidangan, lalu mengangguk puas."Enak."Sikapnya yang santai membuat wajah Kai semakin gelap. Pemuda itu berdiri dengan tangan mengepal, menunggu jawaban, tetapi Ryan justru menyantap makanan seolah tidak ada orang yang sedang menatapnya dengan marah.Barulah setelah beberapa saat, Ryan menoleh dan tersenyum tipis. "Ryan Pendragon."Mendengar nama tersebut, Kai menyipitkan mata. Amarahnya belum reda, tetapi ia tampak teringat sesuatu. Setelah menarik napas panjang, ia bertanya, "Ryan, kalau aku t
Pelayan Rumah Makan Heavenly Wind menundukkan kepala dan mendekat ke sisi Ryan. Setelah memastikan suaranya cukup pelan, ia berbisik, "Tuan Muda, orang itu Kai Warrick, tuan muda dari Keluarga Warrick di Kota Heavenly Capital." "Dialah yang dulu bertengkar dengan kultivator yang sedang kau cari." Ryan baru hendak menanyakan kelanjutan cerita ketika suara bentakan menggema dari arah aula. "Siapa yang mengizinkanmu bicara?" Wajah Kai Warrick menggelap. "Bukankah sudah kuperingatkan agar kau menutup mulut? Kau tuli?" Tanpa menunggu jawaban, Kai mengerahkan auranya. Sebilah pedang muncul dalam genggamannya, lalu ia mengayunkannya ke arah pelayan itu. Cahaya pedang merah darah melesat melintasi aula. Aura darah yang menyertainya begitu pekat hingga meja-meja di sekitarnya bergetar. Mangkuk beradu dengan piring, sementara api lilin pada dinding bergoyang liar akibat tekanan yang mendadak memenuhi ruangan. Pelayan tersebut membeku ketakutan. Wajahnya kehilangan warna, dan kedua kakin
Mendengar jawaban pelayan itu, Ryan langsung tertarik. Pertengkaran yang sedang dicarinya ternyata terjadi di Rumah Makan Heavenly Wind, tempat ia duduk sekarang. Namun sebelum bertanya lebih jauh, ia memperhatikan raut wajah lawan bicaranya. Pelayan tersebut tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu. Matanya sesekali melirik ke arah aula, seolah takut ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. Ryan tersenyum dan tidak mendesaknya. "Kalau kau merasa keberatan, aku tidak akan memaksa. Tapi selama informasi yang kau berikan berguna, aku pasti akan membalasnya dengan pantas." Pelayan itu menarik napas. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri. "Sejauh yang kutahu, kultivator yang Tuan Muda tanyakan bukan berasal dari Wilayah Selatan." Mata Ryan sedikit berbinar. Petunjuk pertama itu sesuai dengan orang yang sedang dicarinya. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan kantong kecil lainnya dan melemparkannya kepada pelayan tersebut. "Bagus. Lan
Kota Heavenly Capital berdiri megah di tengah dataran luas. Tembok kelabu setinggi puluhan meter mengelilinginya, dengan rune pelindung berwarna keemasan yang terukir di sepanjang permukaan batu. Dari kejauhan saja, Ryan sudah dapat melihat betapa ramainya kota tersebut. Kereta pedagang keluar masuk melalui gerbang, beberapa membawa barang hingga bertumpuk tinggi. Di antara kerumunan tampak pula para kultivator berjubah sekte. Mereka melangkah dengan percaya diri, seakan lalu lintas yang padat bukan urusan mereka. Ryan mengikuti antrean menuju pintu masuk. Ketika tiba gilirannya, ia menyerahkan data yang diminta penjaga kota. P emeriksaannya berlangsung singkat. Setelah memastikan tidak ada masalah, penjaga itu mempersilakannya masuk tanpa mengajukan pertanyaan tambahan. Ryan mengembuskan napas lega. 'Ternyata Barlow Steen tidak mencoba bermain curang lagi.' Ia sempat khawatir jenderal penjaga perbatasan itu diam-diam mempersulit perjalanannya. Namun izin masuk yang dip







