MasukPagi semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama pagi ini. selamat membaca (◠‿・)—☆
Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah sel bawah tanah. Dinding batu mengurungnya dari segala sisi, sementara niat membunuh yang memenuhi udara membuat kulitnya merinding.Ia hendak berdiri, tetapi kedua tangannya tertarik ke belakang.Trang!Ryan menunduk. Sepasang rantai hitam membelenggu pergelangan tangannya. Ia mencoba mengerahkan tenaga, namun rantai itu bahkan tidak bergeser. Lebih buruk lagi, pusat energinya juga tersegel.'Apa-apaan yang dilakukan Jarvis Halden?''Katanya aku akan memasuki Alam Pedang. Kenapa malah jadi tahanan?'Krieet!Pintu lorong terbuka. Seorang wanita cantik berjubah megah masuk bersama dua murid."Kau murid Divine Sword Palace yang baru memasuki tanah terlarang?" tanyanya."Benar. Tapi boleh aku tahu tempat apa ini?"Wanita itu memperhatikannya. "Aku tidak menyangka Jarvis Halden benar-benar mengizinkan orang masuk lagi.""Jadi, kau me
Kata-kata Ryan membuat Jarvis Halden terdiam cukup lama. Jemarinya yang sejak tadi mengetuk sandaran singgasana akhirnya berhenti, sementara aula itu tenggelam dalam kesunyian. Ryan tidak mendesak. Ia berdiri dan menunggu keputusan Kepala Istana. Akhirnya, Jarvis menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan menyelidiki asal-usulmu lebih jauh." "Selama kau tidak mengkhianati Divine Sword Palace, itu sudah cukup." Ryan diam-diam mengembuskan napas lega. Setidaknya, ujian yang satu ini berhasil dilewatinya. 'Untung semua yang kukatakan tadi memang bukan kebohongan. Orang tua gemuk itu benar-benar membuatku betah di tempat ini.' Jarvis bangkit dari singgasananya. "Waktumu di Tanah Terlarang Pedang tidak banyak. Berangkatlah sekarang." "Hari ini mungkin juga menjadi hari terakhirmu di Divine Sword Palace." Ryan yang baru hendak berbalik langsung berhenti. Alisnya sedikit terangkat mendengar kalimat terakhir itu. 'Hari terakhirku?' Namun setelah dipikir lagi, ucapan itu masuk akal.
Divine God Frost Sword menghampiri murid penjaga gerbang Divine Sword Palace. "Aku Divine God Frost Sword dari Myriad Sword Palace. Aku mencari seseorang bernama Ryan. Apakah dia berada di sini?" "Kalau dia ada, tolong beri tahu aku. Ada urusan penting yang harus kubicarakan dengannya." Kedatangan Divine God Frost Sword bersama Ilya Northpalace dan rombongannya bukan tanpa alasan. Beberapa hari sebelumnya, Ilya membawa seorang pria dan seorang wanita ke Myriad Sword Palace untuk mencari Ryan. Dahulu, setelah kejadian yang melibatkan Klan Aetheren, Ryan pernah memberi tahu Ilya bahwa dirinya berniat pergi ke Myriad Sword Palace. Ilya pun menjadikan tempat itu sebagai tujuan pertama pencariannya. Mencari satu orang di tengah luasnya Benua Valorisia jelas tidak mudah. Menurut Ilya, hanya fakai sebesar Myriad Sword Palace yang memiliki peluang menemukan jejak Ryan. Namun sesampainya di sana, mereka justru mengetahui bahwa Keluarga Celestedragon sedang memburu Ryan di seluruh Benua
Boom! Wajah Ryan tetap tenang ketika pedang Malcolm Tidewell mendekat. Ia mengangkat pedang kayunya dan menyambut serangan itu secara langsung. Begitu kedua bilah beradu, dentuman mengerikan mengguncang arena. Lantai batu di bawah kaki mereka langsung ambles membentuk cekungan, sementara retakan menjalar ke segala arah seperti jaring laba-laba. Para murid yang menonton terpaku. Untungnya, dua belas kepala puncak sudah memasang tabir pelindung. Tanpa perlindungan itu, gelombang kejut dari benturan tadi saja cukup untuk mencelakai banyak orang. "Domain Pembantaian!" Ryan tiba-tiba melepaskan domainnya. Aura pembantaian yang mengerikan seketika menyelimuti arena dan membuat wajah semua orang berubah drastis. Seorang Kultivator Ranah Creation ternyata mampu menguasai kekuatan domain. Bagi mereka, pencapaian seperti itu sama sekali tidak masuk akal. "Sebenarnya siapa kau?" seru Malcolm tak percaya. Untuk pertama kalinya, wajah dingin Malcolm menunjukkan keterkejutan. Ryan ha
Pertarungan sengit di atas arena membuat semangat para penonton semakin membara. Ryan bukan hanya mampu bertahan menghadapi tiga murid inti teratas sekaligus, tetapi gerakannya masih terlihat cukup santai.Sorakan pun semakin keras. Melihat penampilan muridnya, Walton Crane akhirnya bisa tersenyum lega. Sekalipun Ryan kalah, hasil hari ini sudah cukup membanggakan.'Mulai sekarang, siapa lagi yang berani bilang aku tidak bisa mendidik murid?' pikir Walton puas.Ryan sendiri tidak membiarkan rasa bangga mengganggu konsentrasinya. Napasnya tetap teratur dan genggaman pada pedang kayu tidak mengendur sedikit pun, sebab ia tahu pertarungan sebenarnya baru dimulai.Ketiga lawannya belum memperlihatkan seluruh kekuatan mereka yang sesungguhnya.Lyonel Blau tiba-tiba bergerak. Dalam sekejap, ia sudah muncul di samping Ryan dan pedangnya memancarkan cahaya menyilaukan, diikuti semburan energi pedang yang tajam.Ryan m
Ryan berdiri di hadapan tiga murid inti terkuat Divine Sword Palace. Setelah mengamati mereka satu per satu, tatapannya berhenti pada Konrad Ashgrove. Ada sesuatu yang tidak beres dengan aura pemuda itu. 'Jadi, Konrad sudah mencapai Ranah Star Sealed. Dia sengaja menyembunyikan kultivasinya.' Dari luar, Konrad tampak tidak berbeda jauh dari dua rekannya yang masih berada di puncak Ranah Star Seed. Namun Ryan mampu menangkap perbedaan tersebut. Ini bukan lawan yang bisa dinilai hanya dari reputasinya. Konrad juga memancarkan hawa dingin yang berbahaya. Di mata Ryan, ketenangannya justru menyerupai ular yang sedang bersembunyi, menunggu kesempatan untuk menyerang. 'Di seluruh Benua Valorisia, tidak banyak murid inti yang mampu mencapai Ranah Star Sealed. Orang ini bahkan menolak undangan Akademi Divine Wind.' Ryan teringat pula pada Jarvis Halden yang tidak pernah menunjukkan kekuatan sesungguhnya. Semakin lama berada di Divine Sword Palace, semakin jelas bahwa sekte tersebu







