LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima kasih Kak Eny Rahayu, Kak Sendy Zen, Kak Pengunjung5804, dan Kak Patricia Inge atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga kepada semua pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Mohon maaf hari ini rilis terlambat karena ada beberapa hal yang harus othor lakukan. masih kurang 145 koin lagi untuk bab bonus hadiah. jadi ini bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 3/3 Bab Reguler: 2/2
Senyum Yakou Zedd tidak pernah mencapai matanya.Bahkan setelah Pritha Zest sudah lama meninggalkan paviliun itu, dia masih berdiri diam di depan jendela. Matanya menatap ke arah aula utama sekte dengan tatapan yang tidak ada hubungannya dengan kesetiaan seorang murid.'Semua orang adalah batu loncatan.' Kalimat itu berputar di kepalanya dengan dingin dan teratur. 'Tidak terkecuali siapa pun.'Suatu hari, singgasana Ketua Sekte Moon Flower itu akan menjadi miliknya. Bukan karena bakat, bukan karena nasib. Tapi karena dia sudah menyiapkan setiap langkahnya jauh sebelum orang lain bahkan menyadari ada permainan yang sedang berjalan. Di dunia kultivasi ini, yang paling bertahan bukan yang paling kuat. Yang paling bertahan adalah yang paling sabar menyembunyikan taringnya, yang paling rela terlihat lebih kecil dari yang sebenarnya, sampai momen yang tepat tiba.Dan Ryan? Pemuda dari dunia kultivasi tingkat rendah yang entah bagaimana berhasil kembali hidup-hidup dari situasi yang ba
"Kakak Senior," Ryan mengalihkan pandangannya, "sudah berapa lama aku pergi? Apakah aku gagal Trialnya?"Jessica menghembuskan napas pelan. "Trial itu seharusnya sudah berakhir jauh sebelum ini. Xavier Dragvine bahkan harusnya sudah diangkat menjadi murid sejati.""Tapi?" Ryan menangkap nada menggantung di akhir kalimatnya."Tapi untuk alasan yang tidak jelas, Ketua Sekte mengumumkan ada masalah dengan waktu pelaksanaan. Rapat Warisan ditunda. Hasilnya tidak diumumkan, penentuan murid baru tidak jadi dilaksanakan."Ryan terdiam."Dan..." Jessica menatapnya dengan tatapan yang sedikit tidak percaya, "baru beberapa menit sebelum aku menemukan kau di sini, Ketua Sekte tiba-tiba mengumumkan bahwa Rapat Warisan akan dimulai hari ini."Hening sejenak."Waktumu terlalu kebetulan untuk disebut kebetulan."Ryan memandang langit di atas pepohonan. Entah apa yang ada di benak Eren Carster, menunda seluruh agenda besar sekte tanpa alasan yang jelas lalu mengumumkannya kembali tepat saat Ryan kem
Suara Wendy tidak keras. Tapi di antara pepohonan yang sunyi itu, setiap katanya terdengar jelas."Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menjadi lebih kuat." Dia masih menatap wajah Ryan yang tidak sadarkan diri, matanya tertuju jauh ke depan. "Sekte Moon Flower adalah tempat terbaik untukmu saat ini.""Aku sudah mendapat sebagian ingatan dari leluhur kami. Aku tahu asal-usul Sekte Moon Flower yang sebenarnya, jauh lebih dalam dari apa yang terlihat di permukaan."Jeda panjang. Angin bergerak di antara daun-daun."Tidak ada faksi yang mampu melindungi Tablet Reinkarnasi jika fondasinya lemah. Sekte Moon Flower bukan sekte biasa."Wendy berhenti berbicara.Dia menatap wajah Ryan lebih lama dari yang dia sadari. Perlahan, tubuhnya membungkuk ke depan. Jarak antara wajahnya dan wajah Ryan menyempit. Cadar tipisnya bergerak mengikuti napasnya yang pelan. Bibirnya sudah tinggal satu jengkal dari wajah Ry
Divine God Raging Flame tidak langsung menjawab. Dia menatap Batu Asal di tangannya, merasakan energi yang mengalir darinya, lalu mengangkat kepalanya dengan sorot yang sudah lebih tenang."Dengan ini, ditambah kondisi kami yang pulih sepenuhnya, kami sanggup bertahan." Suaranya berat tapi mantap. "Itu bisa aku janjikan.""Bagus."Wendy tidak berkata lebih banyak. Sebuah botol giok kecil meluncur dari tangannya dan melayang ke arah Divine God Raging Flame."Cairan Giok Nine Mystic. Kalian pasti pernah mendengar namanya." Sudut bibirnya hampir tidak bergerak saat berkata, "Lebih dari cukup untuk memulihkan kondisi semua orang di sini."Divine God Raging Flame menangkap botol itu dan membukanya sedikit. Aroma yang keluar membuat matanya melebar. Bukan karena harum. Melainkan karena dalam puluhan tahun berkultivasi, dia hanya pernah mendengar nama obat ini dari cerita orang lain, tidak pernah sekali pu
Serangan itu memakan harganya sendiri. Wendy berdiri diam di tengah gelombang energi yang perlahan mereda. Siapa pun yang cukup teliti memperhatikan akan melihat bahwa warna di balik cadarnya sedikit lebih pucat dari sebelumnya. Membekukan api dan menghancurkan setetes darah esensi dari leluhur faksi besar adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan tanpa membayar sebagian dari dirinya sendiri. Tapi tubuhnya tidak bergerak. Punggungnya tetap tegak. Di langit, sisa-sisa bayangan darah itu benar-benar menghilang. Tidak ada lagi bekas, tidak ada lagi tekanan yang menghimpit, bahkan bau besi yang tadi menyeruak di udara pun tersapu bersih oleh angin dingin yang masih berhembus dari tubuh Wendy. Kepingan salju yang melayang turun sejak tadi semakin deras sejenak, lalu perlahan berhenti. Jembatan es di langit retak dari ujung ke ujung, lalu pecah menjadi partikel cahaya biru yang berhamburan sebelum lenyap. Para murid dan tetua Myriad Sword Palace berdiri terpaku. Tidak ada yan
Dari jarak aman, Divine God Raging Flame berdiri mematung. Di sebelahnya, Hao Ken mengerutkan kening dalam. "Ada yang aneh dari perempuan itu." "Aku merasakannya juga." "Aura kultivasinya..." Hao Ken memejamkan mata sejenak, mencoba menganalisis. "Bukan miliknya sendiri sepenuhnya. Seperti ada seseorang lain di baliknya." "Dan kekuatan orang itu..." Dia membuka mata. "Ini menyentuh sesuatu yang sangat tua. Bukan kultivasi zaman ini." "Salah satu leluhur kuno Benua Valorisia?" Divine God Raging Flame memiringkan kepalanya sedikit. "Tapi yang jelas dia mengenal Ryan. Dan dia yang menyelamatkannya barusan." "Kita tunggu." Hao Ken melangkah mundur setengah langkah. "Lihat dulu sejauh mana ini akan berjalan." Tepat saat itu, suara menggelegar keluar dari gumpalan es yang membungkus setetes darah tadi. "Siapa kau?!" Getaran kemarahan dalam suara itu terasa seperti tekanan fisik yang mendorong semua orang mundur satu langkah. "Apakah kau tahu harga yang harus kau bayar karena beran
"Tidak, Nona. Penguasa Kota telah memberikan hadiah besar untuk kepalanya," jawab Paman Simon dengan serius. "Siapa pun yang menangkapnya hidup-hidup, mereka akan mendapatkan artefak tingkat God King tingkat tiga yang sangat berharga. Jika mereka membunuhnya, mereka akan mendapatkan artefak tingka
Ryan mengabaikan sikap dinginnya dan turun dari kapal terbang dengan tenang untuk memeriksa situasi di sekitarnya. Ia menyadari bahwa tempat tinggal Klan Aetheren benar-benar berbeda dari pemukiman manusia biasa—arsitekturnya unik dan dipenuhi rune kuno yang berkilauan.Ilya Northpalace dengan cek
Tubuh Ryan bergerak bagai kilat yang tidak terlihat, menghindari sisa cahaya hijau berbahaya dalam sekejap. Sosoknya tiba di depan Fred Baxter yang terluka dalam sepersekian detik dan dia langsung menyerang dengan Tinju Vajra yang mematikan!Rune Buddha emas yang tak terhitung
Semua orang di sekitar langsung tertawa terbahak-bahak dengan keras. Jelas sekali mereka semua siap menonton pertunjukan yang bagus dan memalukan. Mata Ryan berkilat dengan niat membunuh yang sangat pekat. Ryan tidak menyangka sama sekali bahwa fakta sederhana bahwa dia berasal dari Gunung Langit







