MasukIni Bab kedua siang ini. Selamat Berlibur (◠‿・)—☆
Yorick Windson terpaku begitu mendengar dua kata itu. Darahnya langsung bergolak naik. Wajahnya berganti antara hijau dan putih, seolah amarah dan malu sedang saling bertabrakan di dalam dadanya.Kapan ia pernah merasakan penghinaan seperti ini?Ia adalah genius paling menonjol di Akademi Divine Wind dan selama ini selalu dipuja banyak orang. Di Benua Valorisia, bahkan Kultivator Ranah Star Sealed biasa akan memberinya sedikit rasa hormat karena potensinya, dan tidak akan sembarangan memarahinya di depan umum.Sayangnya, hal semacam itu sama sekali tidak berarti bagi Selene Chase.Selene lahir di Keluarga Chase Kerajaan Nine Nether. Sejak kecil, ia sudah melihat entah berapa banyak genius yang seratus kali lebih menonjol daripada Yorick. Bahkan di hadapan orang-orang seperti itu, Selene tetap bertindak sesuka hatinya.Karena itu, wajar kalau ia tidak merasa perlu menyembunyikan isi hatinya ataupun menjaga nama baik orang lain.Yorick mencuri pandang ke arah Bastian Lux dan Severin
Meski Ryan Pendragon tidak mengucapkan satu kata pun, ia sudah menginjak wajah dan harga diri Yorick Windson di bawah kakinya.Bisa dibayangkan betapa murkanya Yorick saat itu. Namun amarahnya tidak lagi berguna.Yang menjatuhkannya bukan hinaan Ryan, melainkan kalimatnya sendiri yang ia teriakkan dengan penuh keyakinan beberapa saat lalu. Semakin keras ia bicara tadi, semakin dalam pula rasa malu yang harus ia telan sekarang.Bastian Lux dan Severin Lie mengerutkan kening, lalu sama-sama menundukkan kepala.Beberapa tamu di meja sebelah sudah mulai melirik ke arah mereka sambil berbisik pelan. Tatapan itu membuat suasana meja peringkat Earth mereka terasa jauh lebih sempit daripada sebelumnya.Yorick datang bersama mereka. Kalau Yorick dipermalukan, mereka juga ikut menanggung akibatnya.Mereka datang ke Paviliun Divine Spring untuk menikmati arak. Namun gara-gara kejadian ini, suasana mereka hancur sepenuhny
Meski wajah wanita itu tertutup cadar, Yorick Windson yakin sepenuhnya bahwa parasnya pasti luar biasa. Perawakannya anggun, auranya mulia, dan setiap gerakannya membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Namun semakin lama memandang, semakin kuat pula rasa takut di dadanya. Yorick cepat menundukkan kepala. “Jangan dipandangi terus,” bisiknya kepada Bastian Lux. “Aku tidak mengenal wanita itu.” “Tapi aku bisa memastikan satu hal. Kekuatan yang berdiri di belakangnya jelas bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan akademi kita. Cepat minum saja.” Bastian buru-buru menarik pandangannya. Ia sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan kekuatan besar Kerajaan Nine Nether tanpa alasan. Mereka datang ke sini sebagai tamu. Dan tamu yang berani menyenggol tuan rumah biasanya tidak akan pulang dengan tubuh utuh. ** Pada saat itu, Ryan Pendragon melangkah masuk ke Paviliun Divine Spring. Seorang gadis penyambut tamu segera maju menghampirinya. “Tuan Muda, apakah Tuan datang un
Pada saat itu, Yorick Windson, Bastian Lux, dan Severin Lie sudah masuk ke Paviliun Divine Spring. Mereka duduk di meja peringkat Earth. Di sekeliling mereka, sebagian besar meja sudah terisi penuh. Para tamu berbicara dengan suara rendah, sementara aroma arak yang sebelumnya tercium dari luar kini jauh lebih pekat. Hanya dengan menarik napas, kepala terasa hangat. Namun di antara semua meja itu, hanya ada satu yang masih kosong. Meja tersebut sekaligus merupakan meja terbesar di seluruh paviliun. Terbuat dari satu potong batu giok utuh, permukaannya memantulkan cahaya lampu seperti danau tenang. Di sekelilingnya, tidak ada satu pun tamu yang berani duduk terlalu dekat. Severin Lie melirik meja besar itu, lalu bertanya kepada Yorick, “Yorick, kenapa meja itu kosong?” Yorick tersenyum, seolah mendapat kesempatan untuk memperlihatkan pengetahuannya. “Kakak Lie mungkin belum tahu. Itu meja terbesar di Paviliun Divine Spring. Namanya meja peringkat Heaven. Meja itu tidak bisa
Di dalam tanah tersegel, Luna Celestedragon memandangi kedua telapak tangannya dengan wajah pucat. “Teknik Suara Celestedragon ini benar-benar rumit.” Ia mengembuskan napas tanpa daya. Seluruh tubuhnya masih terikat oleh Rantai Penghubung Langit, dan setiap gerakan kecil membuat rantai-rantai itu berdenting pelan. Busur petir surgawi merayap di permukaan logam, seperti ular putih yang menunggu kesempatan untuk menggigit. “Tapi sekarang aku sudah memahami beberapa bagiannya,” gumam Luna. “Kurasa tidak lama lagi aku bisa menguasainya.” Matanya perlahan menjadi lebih tegas. “Setelah itu, aku pasti bisa mengirimkan keterangan yang lebih jelas kepada Kak Ryan.” Namun keyakinan itu tidak bertahan lama. Luna terdiam sejenak, lalu kecemasan kembali memenuhi wajahnya. “Hanya saja, kalau Kak Ryan tahu keadaanku, apa dia benar-benar akan datang?” “Apa kekuatannya sanggup berhadapan dengan Keluarga Celestedragon?” “Jangan-jangan Kak Ryan bahkan tidak bisa masuk ke tanah terlarang ini.
Ryan Pendragon sedikit mengerutkan kening setelah mendengar ucapan Yorick Windson. Ia menoleh kepada gadis penyambut tamu tadi. “Permisi, kalau saya memesan tempat sekarang, berapa lama saya harus menunggu?” “Mohon tunggu sebentar, Tuan Muda.” Gadis itu segera mengeluarkan sebuah gulungan giok. Jemarinya bergerak di atas permukaannya, lalu beberapa baris cahaya muncul dan bergeser cepat. Tidak lama kemudian, ia mengangkat wajah. “Kalau Tuan Muda memesan sekarang, jadwal kosong berikutnya jatuh pada sore hari, satu tahun tiga bulan dari sekarang.” Ryan terdiam. Memang tidak selebih-lebihnya seperti yang dikatakan Yorick tadi, seolah-olah antreannya penuh sampai puluhan tahun. Namun satu tahun tiga bulan tetap terlalu lama. Saat waktu itu tiba, ia mungkin sudah lama meninggalkan Kerajaan Nine Nether. Rupanya Paviliun Divine Spring memang setenar itu. ‘Kalau tempat seperti ini saja punya antrean sepanjang itu, berarti araknya memang bukan arak biasa,’ pikir Ryan. ‘Setidaknya







