LOGINSiang Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama Siang ini. Selamat Membaca (◠‿・)—☆
"Mau turun sendiri, atau harus kubantu?" Suara Ryan mengalir datar seperti permukaan danau yang tidak terganggu angin, namun mengandung sesuatu di bawahnya yang tidak menyenangkan untuk dijajaki.'Orang ini sudah tidak membawa apa pun yang berharga. Tidak ada alasan untuk membiarkannya tetap di sini menghalangi jalan.'"Aku... aku akan turun sendiri." Kultivator itu tersenyum pahit dengan cara seseorang yang sudah menerima bahwa tidak ada pilihan lain yang layak dipertimbangkan.'Kalau aku menyerang, yang menanggung rasa malunya tetap aku sendiri.'Para kultivator yang sudah lebih dulu menyerahkan harta mereka menggertakkan gigi tanpa suara, kebencian yang terkumpul tidak menemukan jalan keluar yang aman untuk digunakan.'Kami menertawakan yang dirampok duluan. Lalu giliran kami datang lebih cepat dari yang kami perkirakan.''Tapi tidak apa-apa. Begitu harta Demon Saint ada di tangan kami, semua yang telah diambil Ryan akan kami paksa kembali dengan bunga yang berlipat ganda!'Satu pe
Ryan tidak langsung melanjutkan langkahnya.Ia berdiri di anak tangga ke-300, berbalik, dan menyaksikan kumpulan kultivator yang berjuang naik dengan tubuh yang sudah kehabisan separuh dari kekuatannya bahkan sebelum mencapai seperempat tinggi tangga.Senyum dingin terbentuk di sudut bibirnya.'Di tempat ini, tidak ada kultivasi. Tidak ada teknik. Tidak ada senjata spiritual yang bereaksi terhadap energi seseorang.''Semuanya kembali ke satu pertanyaan paling mendasar. Sekuat apa tubuh fisikmu yang sesungguhnya?''Dan di pertanyaan itu, aku tidak takut pada ahli Creation sekalipun.'Beberapa kultivator sudah melihatnya berdiri diam di sana. Sorot mata mereka berbinar dengan campuran amarah dan harapan yang tidak mereka sadari sendiri bertentangan satu sama lain.Napas mereka memburu. Keringat membasahi dahi dan leher mereka. Namun kaki mereka tidak berhenti bergerak.Langkah ke-200. Ke-250. Ke-290.
Saat sosok Ryan lenyap ke balik Pintu Kematian, hembusan napas lega mengisi aula tingkat keenam seperti angin yang baru diizinkan bertiup kembali.'Kalau orang itu tidak pergi, tidak satu pun dari kami yang bisa melangkah lebih jauh.'Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dua pasang mata mulai beralih ke dua pintu yang masih berdiri megah di ujung aula, memancarkan cahaya yang berbeda dari satu sama lainnya.'Apakah keduanya membuka jalan yang berbeda? Apakah hanya satu yang menyimpan harta sesungguhnya?'**Saat Ryan melangkah melewati ambang Pintu Kematian, seluruh realita di sekelilingnya berganti dalam sekejap seperti cermin yang dibalik.Tidak ada lava. Tidak ada panas yang memanggang. Tidak ada dinding batu purba.Yang ada adalah langit biru yang terlalu jernih untuk tempat yang menyebut dirinya milik kematian, gunung-gunung yang menjulang menembus awan dengan tebing-tebing yang terselimuti lumut h
"Teknik Pedang Es!"WUNGGG!Hawa dingin meledak keluar dari tubuh Ryan bagai musim dingin yang memaksakan dirinya turun ke dalam ruang yang tidak pernah mengenalnya. Suhu di dalam aula tingkat keenam berjuang melawan dirinya sendiri. Di satu sisi, api Vermillion Bird yang membakar dari segala sudut. Di sisi lain, hawa beku yang lahir dari teknik warisan yang lebih tua dari ingatan siapa pun.Dua hukum alam beradu dalam satu ruang sempit.Ryan tidak diam menunggu hasilnya.SYUUTT!Kakinya menolak lantai dan tubuhnya meluncur ke udara, Pedang Darah terangkat di atas kepalanya sebelum bergerak turun dalam satu sapuan bersih yang melahirkan garis bulan sabit dari dingin yang mematikan, meluncur bagai cahaya bulan yang jatuh dari langit kedelapan!Dari belakang pria tua itu, Bayangan Vermillion Bird mengembangkan sayapnya dan melesat ke depan menyambut serangan itu dengan auranya yang bisa membakar seluruh istana menjadi abu jika dibiarkan meledak tanpa kendali!WUSHHH!Kedua kekuatan i
Mata kultivator Mad Demon Palace itu berubah. Bukan sekadar terkejut. Melainkan sesuatu yang lebih dalam dari itu, sesuatu yang lebih dekat dengan ngeri.Pedang Darah belum menyentuhnya. Namun aura yang memancar dari tebasan Teknik Pedang Ruang-Waktu itu sudah menghunjam kulitnya seperti ribuan jarum tak kasat mata yang menembus dari luar ke dalam sekaligus. Darah merembes keluar perlahan di beberapa titik di permukaannya tanpa ada luka yang terlihat jelas.'Serangan ini... cukup untuk membunuhku.''Bagaimana ini bisa terjadi?''Ia hanya Primordial Chaos tingkat pertama!'Pikiran-pikiran itu melintas dan lenyap dalam waktu yang lebih singkat dari kedipan mata, karena setelahnya tidak ada waktu lagi untuk berpikir.BOOM!Ledakan bergema di seluruh aula tingkat keenam, disusul jeritan yang tidak sempat membentuk kata-kata."ARGH!"Kultivator Mad Demon Palace itu terbanting ke dinding dengan cara seseorang yang tidak pernah membayangkan dirinya akan berakhir seperti ini. Tangannya men
BOOM! BOOM! BOOM!Ledakan demi ledakan mengguncang seluruh area di luar Crimson Flame Palace, setiap benturan melahirkan gelombang yang memaksa para kultivator yang menonton mundur lebih jauh dari yang mereka rencanakan.Ketika debu akhirnya mengendap, tidak ada pihak yang berdiri tanpa menanggung luka.Kedua Kultivator Ranah Creation itu terhuyung dengan tubuh yang penuh bekas serangan yang tidak bisa disembunyikan. Aura mereka, yang tadi meledak melampaui batas normal dengan teknik rahasia, kini mengendur dengan cara seseorang yang sudah membayar harga dari keputusan tergesa-gesa yang tidak bisa ditarik kembali.Namun Unicorn Api Berkaki Naga juga tidak berdiri utuh. Auranya yang tadi memenuhi langit seperti matahari yang turun ke bumi kini memancar dengan intensitas yang semakin berkurang, setiap napasnya mengandung getaran yang tidak ada sebelum pertempuran itu dimulai.'Bahkan penguasa alam rahasia pun memiliki batasnya. Dan dua lawan sekaligus adalah beban yang berbeda dari sa
Sebelum tahun 2001, gunung ini hanyalah gunung biasa di sebelah barat Kota Silverbrook. Namun setelah itu, berbagai peristiwa aneh mulai terjadi di Gunung Agios Oros. Seratus orang menghilang tanpa jejak. Di malam hari, puncak gunung sering diselimuti api misterius, sementara badai petir terus-mene
Tawa dingin menggema dari mulut Ryan. Bayangan pepohonan membuat wajahnya tak terbaca. "Hanya ada tiga hal yang ingin kukatakan," ujar Ryan tenang. "Pertama, aku tidak peduli menjadi bagian dari Keluarga Jorge!" "Kedua, jika kau ingin melanjutkan masalah ini, aku siap menunggu kapanpun." "Ketiga,
"Apakah Ryan tahu bahwa Lucas Ravenclaw membawa William Pendragon pergi?" tanya Jackson Jorge dengan hati-hati Eleanor Jorge menggeleng, matanya yang dingin melembut sedikit saat membicarakan putranya. "Dia tidak tahu. Meski sekarang dia sangat kuat, tapi dia sudah membayar harga yang terlalu mah
Juliana bangkit dengan wajah merah padam. "Teruslah bermimpi! Bahkan jika kamu memiliki latar belakang yang kuat, kamu sama sekali tidak memahami Tuan Ryan." "Jika kamu membuatnya marah, dia tidak akan peduli dengan identitasmu atau siapa pun yang mendukungmu! Hanya ini yang bisa kukatakan padamu!"







