تسجيل الدخولIni Bab Bonus Hadiah sekaligus bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Mendengar perkataan Demon Emperor, Ryan langsung bersemangat. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan cincin penyimpanan yang selama ini disimpannya.Ryan masih ingat cerita Lana Clark ketika menyerahkan cincin tersebut. Gadis kecil itu mengatakan bahwa cincin itu pemberian seorang kakek misterius. Cincin itu konon mampu mengendalikan asal-usul sesuatu, tetapi Lana sendiri tidak mengetahui dengan jelas apa maksudnya.Ryan sejak awal menduga bahwa kegunaan cincin ini tidak sesederhana tempat menyimpan barang.Namun sebelum ia sempat memeriksanya lebih jauh, cincin itu mendadak terangkat dari tangannya dan melayang sendiri di udara, tanpa disentuh siapa pun.Detik berikutnya, rasa nyeri tajam menusuk dahi Ryan hingga ia tersentak. Sesosok bayangan yang terbentuk dari energi iblis kemudian muncul di hadapannya.“Ryan, hanya sedikit hal di dunia ini yang mampu membuatku bersemangat.” “Cincin ini salah satunya,” kata Demon Emperor sambil menatap benda yang melayang tersebut.“Kadang aku h
Kesembilan belas murid yang mengepung Ryan mulai gelisah. Serangan mereka sebelumnya sama sekali tidak berhasil melukainya."Kita tidak bisa menyerangnya sendiri-sendiri!" seru salah seorang peserta."Benar! Serang bersamaan! Jangan beri dia kesempatan menghindar!"Mereka segera berpencar membentuk kepungan. Cahaya pedang bermunculan dari berbagai arah, lalu melesat menuju Ryan hingga hampir seluruh jalan keluarnya tertutup.Di tribun kehormatan, Walton Crane mulai gelisah."Anak itu kenapa masih diam?"Lucan Jory meliriknya. "Paman Guru, kau khawatir?""Omong kosong! Aku hanya tidak ingin muridku terluka!"Walton sudah bersiap turun tangan jika keadaan memburuk. Mendapatkan murid berbakat seperti Ryan bukan perkara mudah. Ia tidak akan membiarkan pemuda itu kehilangan nyawa hanya karena sebuah pertandingan.Namun ketika hujan pedang hampir mengenainya, Ryan justru tersenyum.Esensi Pedang Abadi meledak dari tubuhnya. Pedang kayu dalam genggamannya bergetar, seolah memperoleh kehidup
“Paman Guru Walton, muridmu ternyata pandai menyembunyikan kekuatannya.”Lucan Jory menatap Ryan yang masih berdiri di arena dengan senyum getir.Walton Crane langsung tertawa puas. “Hahaha! Sudah kubilang muridku genius tiada tanding!”Lucan meliriknya. “Paman Guru benar-benar sudah tahu sebelumnya?”Tawa Walton sempat tersendat. “Tentu saja!”Beberapa kepala puncak langsung memalingkan wajah. Tidak seorang pun percaya.Walton sendiri baru mengetahui kekuatan Ryan setelah melihat pertandingan tadi, tetapi mana mungkin ia mengakuinya sekarang?Ia menepuk pahanya. “Sudahlah. Yang penting kalian jangan lupa taruhan kita. Kitab rahasianya siapkan sekarang!”Senyum Lucan langsung kaku. “Paman Guru, bukankah tadi kita hanya bercanda?”“Bercanda?” Walton berdiri. “Ketika yakin muridku akan kalah, kalian semua bersemangat sekali. Sekarang tiba-tiba jadi bercanda?”Salah seorang kepala puncak berdeham. “Saudara Walton, kitab yang kami pertaruhkan bukan barang biasa.”“Justru karena bukan bara
Ina menyaksikan kemenangan Ryan dari tribun dengan tenang. Senyum kecil bahkan terbit di bibirnya. Ia sudah tahu Ryan bukan Kultivator Ranah Creation biasa. Sebelum mereka tiba di Divine Sword Palace, Ryan pernah menghabisi kultivator pada ranah itu hanya dalam sekejap.Pertandingan berikutnya pun tidak jauh berbeda. Ryan selalu mengakhirinya dengan satu serangan pedang kayu, tanpa gerakan berlebihan. Ada lawan yang terpental dari panggung, ada yang pedangnya terlepas, dan ada pula yang memilih menyerah ketika ujung pedang kayu berhenti sejengkal dari wajahnya.Bagi Ryan, menghadapi murid-murid itu terasa seperti menyaksikan anak kecil bermain. Ia mulai bosan, tetapi tetap menyelesaikan setiap pertandingan sesuai aturan. Bahkan teknik yang digunakan lawan-lawannya belum cukup membuatnya mengeluarkan kekuatan sebenarnya.Di tribun kehormatan, Walton Crane justru semakin bersemangat. Murid barunya sudah memasuki lima puluh besar. Tinggal melewati tiga puluh peringkat lagi sebelum
Tatapan Harlow Linden langsung berubah mengejek ketika melihat Ryan berdiri di seberangnya.“Ryan, aku sudah mendengar tentangmu. Tapi apa gunanya disebut genius kalau hari ini kau tetap kalah di tanganku?”Harlow tersenyum penuh semangat. Bayangan tentang dirinya mengalahkan seorang genius yang baru saja mengguncang Divine Sword Palace membuatnya semakin bernafsu bertarung. Genggamannya pada gagang pedang pun mengencang.Ryan tidak menanggapi ejekan itu. Ia hanya mengeluarkan sebilah pedang kayu.Bagi Ryan, menghadapi Kultivator Ranah Creation seperti Harlow tidak jauh berbeda dengan orang dewasa yang harus melawan anak kecil. Ia sama sekali tidak membutuhkan senjata sungguhan.'Kalau aku menggunakan pedang tajam, mereka mungkin harus membersihkan darah di arena sebelum pertandingan berikutnya.'Namun Harlow justru menganggap pedang kayu itu sebagai penghinaan.“Teknik Pedang Hujan Seribu!”
Sebagian murid Divine Sword Palace memandang Ryan dengan iri, tetapi jauh lebih banyak yang diam-diam merasa senang melihat nasibnya.Siapa di antara mereka yang tidak mengenal reputasi Walton Crane?Selama bertahun-tahun, hampir semua murid berbakat yang mengakuinya sebagai guru justru mengalami kemajuan lambat. Di mata banyak orang, Ryan hanya akan menjadi korban berikutnya.Seorang genius yang awalnya bersinar kemungkinan besar akan berubah menjadi orang biasa.Pikiran itu memberi mereka sedikit hiburan.Walton Crane tentu menyadari tatapan para murid. Ia hanya mendengus dingin.Seketika, orang-orang yang tadi berbisik langsung menundukkan kepala.Mereka boleh membicarakannya diam-diam, tetapi tidak seorang pun cukup bodoh untuk mengejek Walton terang-terangan.“Paman Guru Walton, kenapa kau datang sepagi ini?”Sera Winterhall berjalan mendekat bersama Ina.Ia memang sengaja membaw







