LOGINHati Ryan menghangat mendengar pembelaan Shirly. Gadis itu masih sama seperti dulu—selalu berdiri di pihaknya ketika semua orang berbalik menyerangnya.
Setelah empat atau lima tahun, kepribadian Shirly Jirk menjadi semakin dingin, tetapi perasaannya terhadapnya tidak pernah berubah.Meskipun dia tidak tahu mengapa dia selalu membantunya, hal itu tidak lagi penting.Ryan menatap punggung Shirly yang berdiri tegak di hadapannya, melindunginya dari para juri dan tetuaTepat satu jam berlalu. Pusaran energi spiritual di langit itu perlahan menyurut dan menghilang. Sosok yang melayang itu turun, mendarat dengan ringan, dan membungkuk ke arah dua orang yang sudah menjaganya. "Terima kasih atas perlindungannya, Ketua Sekte, Senior Jessica." Eren Carster dan Jessica Neuro saling pandang. Alis keduanya naik hampir bersamaan, tapi bukan karena terobosannya. Aura Ryan mengisi ruang sekitar mereka dengan berat yang tidak seharusnya datang dari seseorang yang masih berada di puncak Ranah Primordial Chaos. Ini aura yang setara dengan kultivator Ranah Creation biasa, bukan dari seseorang yang baru saja melewati satu batas kecil. Jessica Neuro diam selama tiga detik penuh sebelum akhirnya berbicara. "Terobosanmu sudah memicu fenomena sebesar ini," kata Jessica Neuro sambil melirik langit yang kini sudah kembali normal. "Aku ingin tahu fenomena seperti apa yang akan muncul saat kau benar-benar menembus Ranah Dao Integration atau Ranah Creation nanti."
Alaric Whitmore baru melangkah beberapa langkah sebelum berhenti. Tanpa menoleh, dia melanjutkan bicaranya dengan nada yang sama tenangnya. "Kalau kau mau bergabung dengan klan-klan asing, kau tidak hanya akan mendapat dukungan dari Sekte Moon Flower saja." "Kami pun akan berkontribusi dalam pengembanganmu. Termasuk menyediakan banyak esensi darah." Sebuah jeda kecil. "Dan satu lagi, aku punya hadiah untukmu. Jangan lupa datang menemuiku." Ryan menatap punggung jubah putih itu dengan pikiran yang sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Esensi darah. Dalam jumlah besar. Teknik Reinkarnasi Dewa Iblis yang sudah ia kultivasi memerlukan itu lebih dari bahan apa pun yang bisa ia dapatkan sendiri. Dan di seluruh Benua Valorisia, tidak ada sumber yang lebih melimpah dari klan-klan asing. Keputusan itu tidak perlu waktu lama untuk terbentuk. "Mengerti," katanya. "Aku akan datang menemui Senior Alaric dalam tiga tahun." Alaric Whitmore mengangguk tanpa menoleh dan melanjutkan lan
Beberapa saat kemudian, formasi Gunung Roh Abadi bergetar dan mengaktifkan dirinya. Ryan, Serena, dan semua yang tersisa meninggalkan lembah dalam kesenyapan yang berbeda dari sebelum ujian dimulai.Tidak ada yang berbicara. Lembah yang beberapa jam lalu penuh dengan teriakan dan ledakan kini hanya menyisakan langkah-langkah yang tergesa meninggalkannya.Rindy berjalan di samping Yuriel yang sudah tidak berkata apa-apa sejak tadi. Jari-jarinya yang sempat mengepal sudah mengendur, tapi tatapannya kosong, tertuju ke suatu titik di depan yang bukan lagi bagian dari lembah ini."Guru." Suaranya pelan. "Kau berjanji.""Lupakan janji itu." Yuriel tidak memperlambat langkahnya. "Hari ini aku memang kalah. Tapi itu karena liontin itu. Kalau tidak ada benda itu, hasilnya sudah berbeda."Suaranya kembali ke nada dingin yang biasa. "Dan soal kau bertemu dengannya, itu tidak akan terjadi. Fokus pada Kompetisi Rising Dragon. Kau d
"Semuanya bisa dibicarakan," kata Kian Theron dengan nada yang berusaha terdengar ramah tapi gagal menjangkau telinganya sendiri."Klan Unicorn Naga pasti punya banyak simpanan esensi darah Unicorn Naga." Ryan menatapnya datar. "Cade Aurin berhutang sebagian dari itu kepadaku."Kening Kian Theron berkerut.Memang benar. Klannya menyimpan banyak esensi darah, tapi semuanya dikelola ketat dan tidak bisa diambil tanpa persetujuan dewan tetua. Dan untuk menyelamatkan Cade Aurin yang sudah kehilangan seluruh garis darahnya dan tidak lagi berguna bagi klan, tidak akan ada satu tetua pun yang mau menyetujuinya. Dewan tetua tidak pernah menyetujui hal seperti ini. Terutama untuk seseorang yang sudah tidak punya nilai bagi klan."Tidak bisa?"Kian Theron mengatupkan bibirnya.Hening selama beberapa detik. Matanya bergerak sebentar ke arah Ryan, lalu ke Ketua Aliansi di sampingnya, dan sesuatu yang sempat berk
Raungan itu mengoyak seluruh lembah. Dari celah debu yang terbelah, kepala raksasa dengan rahang terbuka lebar muncul lebih dulu, diikuti badan yang terus mengembang semakin besar, semakin panjang, memenuhi arena yang sudah porak-poranda. Naga Darah. Panjangnya tidak bisa langsung dihitung dengan mata. Seluruh tubuhnya memancar merah darah yang berdenyut seperti jantung yang berdetak terlalu cepat. Dari sekitar tubuhnya, sisa energi iblis dari bilah raksasa tadi masih mengepul pekat. Naga itu telah menelan bilah iblis raksasa itu. Bulat. "I... ini..." Yuriel mundur setengah langkah. Untuk kedua kalinya hari ini, kakinya bergerak ke belakang tanpa menunggu perintah dari pikirannya. BOOOMMM! Naga Darah menukik lurus ke arah Patung Seratus Binatang yang masih berdiri di tengah lembah. Benturannya mengirimkan getaran ke seluruh permukaan tanah sekaligus, dan semua orang yang berdiri di sana terpaksa mencengkeram apa pun yang bisa dijangkau agar tidak terpelanting. Debu menge
Liontin giok itu melesat keluar dari balik baju Ryan. Dalam hitungan detik, benda kecil itu meledak menjadi perisai raksasa yang mengembang di antara Ryan dan senjata maut yang meluncur dari langit. Bilah iblis menghantam permukaan perisai dengan tenaga penuh. KRAAAK! Perisai bertahan. Bilah berhenti. Jarak antara ujungnya dan tubuh Ryan hanya selebar satu jari. Di atas tebing, darah menyembur dari bibir Yuriel Leviathan sebelum ia sempat menahan diri. Pfft! Serangan balik. Sambungan antara dirinya dan teknik yang ia kendalikan putus paksa, dan harganya ditagih langsung dari dalam tubuhnya sendiri. Tulang-tulangnya seperti ditekan dari dalam. Napasnya tersengal. Matanya melebar menatap perisai itu. Dia kenal benda ini. 'Itu... liontin yang pernah kuberikan kepada Shirly.' Tangannya mengepal. Shirly dan Rindy sudah ia awasi ketat dari jarak dekat. Tidak ada celah bagi mereka untuk mendekati Ryan. Lalu bagaimana liontin itu bisa berakhir di tangan bocah itu? Yuriel me
Master Samadhi menelan keterkejutannya dan tersenyum tipis. "Sepertinya aku meremehkanmu. Kau pasti punya banyak rahasia untuk bisa pulih secepat itu." Ryan menangkupkan tangan dan membungkuk hormat. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Master Samadhi. Jika bukan karena Anda kemarin, saya pasti sud
Ekspresi Wendy berubah marah. Dia meraih tangan Ryan, melotot ke arah rekan-rekannya sebelum berpaling pada Ryan. "Profesor Ryan, saya belum mengucapkan terima kasih karena telah membantu saya di lift hari ini. Kalau begitu, biarkan saya mentraktir Anda makan malam di restoran terdekat." Ryan mel
Di sebuah sel kecil jauh di dalam penjara, Eleanor Jorge mondar-mandir dengan gelisah. Getaran tanah yang terus berlangsung membuat jantungnya berdebar kencang. Semua perabot di sel telah jatuh berantakan.William Pendragon segera menghampiri dan memeluk istrinya. "Sayang, tena
Nada suara Ryan lebih terdengar seperti perintah daripada pertanyaan, membuat wanita di hadapannya semakin waspada. Wanita dengan rambut kuncir dua itu mengerutkan kening, ekspresinya campuran antara bingung dan kesal. "Jika kau bertanya padaku, siapa yang harus kutanyai?" balasnya sengit. "Kau ada







