MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Malam ini tidak ada bonus bab hadiah karena target Koin belum tercapai. Terima Kasih Kak Mus, Kak Eny Rahayu, Kak Alberth Abraham Parinussa, Kak Pengunjung5804, Kak Patricia Inge, Kak Lola Ayu, Kak Pengunjung4701, Kak Dyan Wae Ah, dan Kak Rifqie Afrian atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga kepada para pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Akumulasi Koin: 625 masih kurang 375 koin lagi untuk bab bonus. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 3/3 Bab Reguler: 2/2
Calder Sanctum melangkah ke tengah arena dengan langkah yang tidak terburu-buru. Pandangannya menyapu peserta yang tersisa, Ryan, Mervin Lux, dan satu peserta dari Keluarga Swiftgale. Matanya berhenti sejenak pada Ryan, lalu bergeser ke Mervin Lux.Keheningan berlangsung tiga detik.Kemudian Calder tersenyum tipis. Bukan senyum yang merendahkan. Senyum seseorang yang sudah mengambil keputusannya dengan tenang. Dia menoleh ke arah Mervin Lux dan memberi anggukan hormat yang singkat, tanpa kesan basa-basi."Kawan Mervin, silakan menyerang lebih dulu."Tribun langsung meledak.Seseorang yang menerima Perlindungan Darah Kuno, puncak dari semua pencapaian dalam kompetisi ini, mempersilakan lawannya menyerang lebih dulu?Itu bukan kerendahan hati. Itu pernyataan yang jauh lebih lantang dari teriakan mana pun. Calder Sanctum sedang berkata dengan caranya sendiri bahwa bahkan tanpa taktik, bahkan dengan memberikan lawan seluruh keuntungan serangan pertama, hasilnya tidak akan berubah.Di
Bayangan itu mendadak berubah seakan hidup.Begitu kata-kata "Hukum Bayangan" jatuh dari mulut Drew Shadowmist, seluruh naungan gelap yang menutupi lantai arena bergerak serentak. Seperti makhluk tak kasat mata yang menerima perintah dari tuannya, bayangan-bayangan itu mengalir ke arah kaki Drew, melilit naik melewati pergelangan, betis, paha, dan seluruh tubuhnya dalam hitungan detik. Lapisan kegelapan padat terbentuk melingkupi Drew dari ujung kaki hingga ke leher, bukan sekadar pelapis biasa. Seluruh substansi kegelapan di arena ini memutuskan untuk berdiri di sisinya.Xavier Dragvine mengepalkan kedua tangannya.'Ini bukan lagi tentang teknik gerak. Dia memanggil hukum alam itu sendiri.'Tidak ada waktu untuk berpikir lebih jauh. Drew Shadowmist melesat ke depan.WUUSSHH!Bukan kecepatan biasa yang bisa diikuti mata. Dia bergerak seperti bayangan yang meluncur di permukaan air, mulus, tanpa gesekan, tanpa hambatan. Barisan bayangan di bawah kakinya menjadi jalan yang ia tempuh
Ryan melihat transformasi itu dan tersenyum tipis.'Xavier berhasil mendorongnya sampai ke sana.'Garis darah naga bukan sekadar kekuatan tambahan. Di Benua Valorisia, Keluarga Dragvine dan Keluarga Celestedragon berdiri di puncak justru karena warisan itu. Naga adalah Dao tersendiri, makhluk yang menyelam ke dasar samudra dan menembus lapisan awan tertinggi, yang menyerap hampir semua elemen alam dan beradaptasi di lingkungan mana pun. Vitalitas mereka tidak tertandingi. Bahkan luka yang sudah menguras sebagian besar energi spiritual Xavier sebelum ini sekarang relevansinya mulai bergeser.Dan kini, sebagian dari esensi itu mengalir penuh dalam tubuh Xavier.Beberapa peserta di sisi arena menahan napas. Mereka yang punya cukup pengetahuan paham apa artinya transformasi semacam itu. Garis darah naga yang benar-benar aktif bukan hanya soal penampilan yang berubah.Seluruh fondasi pertarungan ikut ber
Ini bukan lagi pertarungan.Ini eksekusi yang sengaja diperlambat.Xavier Dragvine terlempar ke kiri. Sebelum kakinya sempat menapak, kepalan sudah menyambut dari sisi kanan, menghantam sisa pelindung darah naganya dengan kekuatan yang membelah permukaan arena satu jengkal ke bawah. Darah menyembur dari sudut bibirnya. Dia memaksakan energi spiritual ke telapak kakinya, mengerem laju tubuh, berhenti setengah meter dari tepi arena.Drew sudah menghilang lagi sebelum Xavier sempat menoleh ke arahnya.Tawa itu datang dari atas. Ringan dan ganjil, seperti seseorang yang sedang menikmati permainan yang hanya lucu bagi dirinya sendiri."Bocah Sekte Moon Flower!" Drew muncul sesaat di sisi kiri arena, kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku jubahnya, senyumnya lebar ke satu sisi. "Apa aku ini manusia atau anjing gila, menurutmu sekarang?"Xavier mendengus. Napasnya tersengal tapi matanya tidak lepas da
Suara tribun meledak. Xavier tidak menunggu. Begitu kata "dimulai" jatuh, jarinya bergerak membentuk segel tangan. Dari dalam tubuhnya, raungan naga bergema seperti petir yang meledak di balik dinding batu tebal, dalam dan berguncang, menembus sampai ke tulang. Aura darah naga berwarna kebiruan melingkupi seluruh tubuhnya dalam hitungan detik, memancarkan tekanan yang membuat udara di radius beberapa meter terasa seperti berdiri di dasar kolam yang dalam. 'Drew Shadowmist kuat. Kondisiku tidak ideal. Tidak ada pilihan selain langsung bertarung penuh sejak awal.' Drew menatap transformasi itu dari tempatnya berdiri. Senyumnya tidak goyah. "Menarik." Suaranya ringan, hampir seperti orang yang baru menemukan mainan baru. "Kau ini manusia atau binatang iblis?" Xavier mendengus. "Dan kau? Dengan senyum seperti itu... manusia atau anjing gila?" Drew terdiam satu detik. Lalu tawanya meledak, keras dan tiba-tiba, sampai beberapa penonton di baris depan tribun refleks menoleh. Kemudi
Tribun belum sempat mencerna apa yang baru saja terjadi ketika suara Tetua berbadan besar memecah keheningan. "Ryan Pendragon menang!" Satu dua kepala mulai menoleh. Lalu semua. Tavin Sanctum berlutut di atas bluestone dengan kedua tangan yang bukan lagi berbentuk tangan. Yang tersisa hanyalah kabut darah pekat dan remukan tulang yang hancur dari dalam, tanpa satu luka luar pun yang bisa dijadikan alasan untuk memprotes hasil ini. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara. Beberapa peserta yang belum bertanding menatap ke arah Tavin dengan ekspresi yang sama, bukan simpati, lebih ke perhitungan ulang soal lawan yang baru saja mereka lihat bertarung. Ryan berbalik dan menuruni arena. Langkahnya terukur. Tidak terburu-buru, tidak pula dibuat-buat lambat. Seperti seseorang yang baru selesai melipat kain setelah pekerjaan rumah beres. Tapi begitu tubuhnya melewati batas pandang tribun, rona di wajahnya turun tipis. 'Bahkan dengan menahan diri seperti ini, meridian yang
Setelah menerima telepon dari Christ, Lucy Jeager bergegas menuju gang tersebut. Napasnya terengah-engah saat tiba di lokasi, namun seketika terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Tiga mayat tergeletak dingin di tanah, salah satunya–yang terlihat paling mengenaskan–adalah Jonathan West, tuan m
Telinga Ryan sudah berdenging karena tawaran terus berdatangan. Hanya dalam lima menit, tawaran tertinggi telah mencapai 20 miliar. Suasana di ruangan pelelangan semakin memanas, udara seolah bergetar dengan antusiasme dan ketegangan yang tak terbendung. Ryan mengamati kerumunan dengan seksama, m
Will terpental, tubuhnya menghantam lantai dengan suara berdebum yang menyakitkan. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya, membasahi wajahnya yang kini dipenuhi rasa sakit dan amarah. "Dasar bajingan!" Will berusaha berteriak di tengah rasa sakitnya, namun Ryan tidak memberinya kesempatan untuk m
Wajah Yoland hampir seluruhnya berlumuran darah, dan dunianya berputar. Kesadarannya yang mulai memudar dipenuhi keterkejutan yang nyata. Tubuhnya yang gemetar tergeletak tak berdaya di tanah dingin area konstruksi. Pada saat ini, dia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan—tidak ada penduku







