MasukIni bab kedua pagi ini. selamat berkativitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/3. Bab Reguler: 2/2
'Pantas saja Lucian Zeth langsung menurunkan tangannya begitu mengingat nama beliau,' pikir Ryan.Nolan Chester menarik kembali auranya. Tekanan yang tadi membuat pepohonan menunduk langsung lenyap, seolah tidak pernah ada. Setelah itu, ia tersenyum tipis kepada Ryan.“Air di Akademi Heavenly Flame ini sangat dalam. Kau tidak bisa mengukur murid maupun pengajar hanya dari tingkat kultivasi yang terlihat. Kau sendiri contoh terbaiknya.”Ryan tidak membantah.Nolan melanjutkan, “Ingat baik-baik. Di akademi ini masih ada beberapa orang yang sengaja menyembunyikan aura mereka. Orang seperti itu tidak boleh kau remehkan.”Nada suaranya terdengar datar, tetapi maknanya jelas. “Aku tidak mau kau celaka hanya karena salah menilai.”Ryan mengangguk pelan. Ia tahu Nolan tidak sedang menakut-nakutinya. Akademi sebesar ini pasti menyembunyikan banyak sosok yang tidak bisa dinilai dari penampilan luar.Nolan berhe
Di tengah keheningan yang masih menggantung di kantin, pelayan Area Heaven melangkah mendekat kepada Ryan Pendragon. Senyumnya sopan, langkahnya ringan, seolah beberapa meja yang baru saja hancur dan seorang Kultivator Ranah Star Seed yang tergeletak tidak jauh dari sana sama sekali tidak terjadi. “Tuan Muda, hidangannya sudah siap. Silakan masuk ke ruang pribadi.” Ryan mengangguk sambil tersenyum. ‘Orang yang mengelola Area Heaven pasti punya latar belakang tidak biasa.’ Pelayan ini benar-benar terlatih. Keributan barusan hampir meremukkan separuh suasana kantin. Lucian Zeth pingsan dengan napas tinggal segaris tipis, dan para murid di sekitar masih berdiri kaku karena terkejut. Namun wanita itu tetap melayani tamu dengan suara datar, senyum terukur, dan tangan yang tidak bergetar sedikit pun. Orang yang mampu melatih pelayan seperti ini jelas bukan sosok biasa. Ryan melirik Lena Sharpe sekilas, lalu berjalan pergi dengan kedua tangan di belakang punggung. Lena akhirnya ters
Dentuman keras meledak di dalam kantin. Tinju Ryan dan telapak Lucian Zeth akhirnya bertabrakan. Selama sepersekian detik, keduanya tampak berhenti di udara. Telapak Lucian menekan turun dengan seluruh kekuatan Ranah Star Seed miliknya, sementara tinju Ryan yang tampak lebih kecil menahannya dari bawah tanpa bergeser sedikit pun. Lalu Lucian merasakan ada yang tidak benar. Dalam bayangannya, tulang jemari Ryan seharusnya remuk lebih dulu. Setelah itu, lengannya patah, tubuhnya terpental, dan seluruh kesombongannya hancur di depan semua orang. Namun kenyataan yang ia rasakan justru sebaliknya. Dari titik benturan itu, ada tenaga mengerikan yang mendorong balik. Kekuatan tersebut begitu padat, begitu berat, sampai terasa seperti ia menghantam dasar gunung yang tidak mungkin digoyahkan. Sorot mata Lucian berubah. Untuk pertama kalinya sore itu, ketakutan muncul di sana. Sayangnya, sudah terlambat. Boom! Gelombang kejut meledak ke segala arah. Ruang di sekitar benturan pec
Kekuatan sebesar itu dilepaskan hanya untuk menghadapi seorang Kultivator Ranah Creation.Begitu para murid di kantin melihat betapa kejamnya serangan Lucian Zeth, mereka semua terkesiap. Jelas sekali pria itu sudah kehilangan kendali dan lupa menahan tangan. Jika telapak itu benar-benar mendarat, dengan tingkat kultivasi Ryan Pendragon saat ini, sekalipun ia tidak mati, tubuhnya pasti hancur berantakan.Banyak murid diam-diam merasa iba kepada Ryan.Sungguh sial nasib pemuda itu. Baru hari pertama masuk Akademi Heavenly Flame, ia sudah harus berhadapan dengan orang seperti Lucian Zeth. Menyerang murid tahun pertama tanpa menahan tenaga bukanlah perkara kecil.Memang, Lucian masih menyisakan sedikit kendali.Namun kendali itu hanya cukup untuk memastikan Ryan tidak langsung berubah menjadi debu. Tidak lebih dari itu. Dengan kekuatan seperti ini, luka berat Ryan seolah sudah menjadi hasil yang tidak bisa dihindari.Lalu bagaimana dengan Ryan sendiri?Semua kepala menoleh ke arahnya
Lucian menatap Lena Sharpe dengan sorot dingin.“Jadi kau mau melindunginya?”Suaranya berat, dan aura di sekeliling tubuhnya perlahan naik seperti air yang mulai mendidih.Bola mata Lena bergetar.Ia ingin menjawab bahwa ia memang ingin melindungi Ryan. Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Bukan karena ia takut pada nasibnya sendiri. Jika ia menjawab seperti itu, Lucian Zeth pasti akan meledak sepenuhnya, dan kebenciannya kepada Ryan akan berlipat ganda.Keadaan justru akan semakin buruk. Lena tidak mau Ryan celaka karena dirinya. Karena itu, ia memilih diam.Melihat kepala Lena tertunduk, sudut bibir Lucian terangkat puas. Ia lalu tersenyum, tetapi senyum itu begitu menjijikkan sampai beberapa murid di sekitar tanpa sadar memalingkan wajah.“Lena, begini saja,” ucap Lucian. “Kalau sekarang kau ikut denganku makan di Area Earth, aku bersedia memaafkan kelancangan bocah itu. Bagaimana?”Mata Lena langsung berkaca-kaca.Dalam hatinya, ia sama sekali tidak ingin pergi bersa
Begitu kalimat Ryan Pendragon selesai, seluruh kantin menoleh ke arah Lucian Zeth dan dua temannya.Sesaat kemudian, tawa pecah untuk kedua kalinya.Bagaimana mungkin mereka tidak tertawa?Sejak tadi, ketiga orang itu terus mengatakan bahwa Ryan tidak akan mampu membayar hidangan Area Heaven. Kenyataannya, bukan hanya mampu, Ryan bahkan masih sempat menawarkan untuk mentraktir mereka. Perbedaan isi kantong dan luas pandangan di antara kedua pihak tampak begitu jelas, sampai tidak perlu dijelaskan lagi.Sekarang, badut yang sebenarnya justru Lucian Zeth dan kedua temannya.Wajah Blaine Sonn dan Gunnar Fenn memucat di tengah cemooh itu. Keduanya berpikir hal yang sama.Selesai sudah.Setelah kejadian hari ini, mereka mungkin tidak akan bisa lagi mengangkat kepala di akademi. Setiap kali mereka melangkah ke kantin, orang-orang pasti akan mengingat kejadian memalukan ini.Keduanya buru-buru memutar tubuh, ingin segera keluar dari kantin dan menjauh dari tatapan orang-orang.Namun Lucia







