LOGINSiang semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama siang ini. bab ini lebih cepat rilis karena mumpung berhenti di stasiun. setelah ini othor bakal perjalan panjang dari kertosono ke nganjuk. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Kini hanya tersisa tiga kultivator di angkasa.Dua orang berada di Ranah Star Seed tingkat delapan, sementara satu orang lagi berada di Ranah Star Seed tingkat sembilan.Para kultivator dari berbagai faksi besar mulai menatap Ryan dengan mata penuh harapan jahat. Mereka bisa merasakan aura Ryan mulai melemah. Setelah bertarung begitu lama, bahkan pemuda sekuat Ryan pun akhirnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan.Bagi mereka, kematian Ryan sudah mulai terlihat.Di sisi lain, wajah Bram Herstone tampak sangat serius. Kepalan tangannya mengerat tanpa sadar.Inilah saat yang menentukan.Jika Ryan mampu mengalahkan tiga orang terakhir itu, bukan hanya nyawanya yang akan selamat, ia juga akan memperoleh Zirah Ilahi Kosmik. Namun jika ia gagal, semua perjuangannya akan berakhir di arena ini.Tidak ada seorang pun yang menduga Ryan bisa bertahan sampai sejauh ini.Bahkan dengan Ledakan Seribu Artefak, bertahan melewati pertarungan beruntun seperti ini tetap hampir mustahil.Bram hanya bisa
Para kultivator dari berbagai faksi besar yang berdiri di atas formasi persegi menatap Ryan dengan wajah muram.Tingkat kultivasi Ryan memang belum terlalu tinggi. Ia masih belum memasuki Ranah Creation. Namun kekuatan tempurnya meningkat terlalu cepat, bahkan terlalu tidak masuk akal untuk ukuran mereka.Jika pemuda seperti ini diberi waktu sepuluh tahun lagi, siapa yang bisa menghentikannya?Mungkin saat itu, seluruh Benua Valorisia pun akan kesulitan menekan Ryan.Karena itulah, semakin mereka melihat Ryan bertarung, semakin kuat pula keinginan mereka untuk membunuhnya. Selama Ryan masih belum benar-benar tumbuh menjadi monster tak terbendung, ia harus disingkirkan secepat mungkin.Setelah menuntaskan tiga lawan, lawan berikutnya muncul di hadapan Ryan.Orang itu adalah Kultivator Ranah Star Seed tingkat enam.Ryan tidak gentar, tetapi ia tetap tidak boleh ceroboh. Ini bukan duel biasa. Ini adalah
Wusss! Wusss! Dua sosok tiba-tiba terlempar ke atas arena tanpa mampu melawan. Keduanya adalah Kultivator Ranah Creation tingkat puncak. Begitu kaki mereka menyentuh arena, wajah mereka langsung pucat. Mereka sama-sama paham arti tempat ini. Tidak ada jalan mundur. Begitu naik, salah satu dari mereka harus mati. "Tidak... tidak... aku ingin jadi yang terakhir maju," gumam salah satu dari mereka dengan suara gemetar. Ketakutannya bukan tanpa alasan. Sekalipun ia berhasil memenangkan pertarungan ini, ia masih harus menghadapi tantangan dari empat puluh enam kultivator lainnya. Dengan kondisinya saat ini, menang sekali saja sudah sulit. Bertahan sampai akhir nyaris mustahil. Ryan menatap kedua orang itu dengan sorot tenang, tetapi ada sedikit rasa iba di matanya. Di dunia ini, tidak ada kesempatan yang benar-benar gratis. Karena mereka sudah menerima Anugerah Dunia dan ikut masuk ke tahap ini, mereka juga harus menanggung risiko yang datang bersamanya. 'Jika ingin mengenakan
Menyatunya Naga Emas Sembilan Cakar ke dalam tubuh tidak membuat kultivasi seseorang naik secara langsung. Restu itu lebih mirip peluang, keberuntungan, dan fondasi tersembunyi untuk masa depan. Bahkan ada kabar bahwa kultivator yang berhasil melebur dengan Naga Emas Sembilan Cakar memiliki kemungkinan memahami jurus ilahi milik bangsa naga. Karena itulah semua orang menganggap restu tersebut sebagai kesempatan besar. Setelah seluruh Naga Emas Sembilan Cakar memilih tuan masing-masing, sungai cahaya itu tiba-tiba bergetar. Sebuah retakan muncul tepat di tengah alirannya. Retakan itu melebar perlahan. Cahaya keemasan berkilau tajam dari dalamnya, membuat banyak kultivator menyipitkan mata. Aura yang menyebar keluar semakin pekat, jauh lebih menekan daripada sebelumnya. Semua orang menatap dengan tegang. Tak lama kemudian, sepasang zirah muncul di hadapan mereka. Zirah itu putih seperti salju. Bentuknya menyerupai jubah tempur, dikelilingi lingkaran cahaya lembut. Meski bel
Di sisi Ryan, Bram Herstone tampak cemas. Ia tidak percaya Ryan akan gagal. Baginya, Ryan mungkin saja tidak terlalu menginginkan Naga Emas Sembilan Cakar, tetapi bukan berarti Bram rela melihat tuannya melewatkan kesempatan sebesar ini. Selama Ryan semakin kuat, Sekte Slaughter juga akan ikut bangkit bersamanya. Saat itu, tiga Naga Emas Sembilan Cakar sudah memilih tuan masing-masing. Cahaya keemasan masih berputar di sekitar para kultivator yang berhasil memperoleh restu. Adapun naga-naga yang tersisa masih melayang di udara, bergerak di antara para kultivator lain seolah sedang menimbang pilihan. Beberapa kultivator tampak nyaris berhasil menarik perhatian salah satu naga. Namun sebelum semuanya selesai, Ryan melangkah maju satu tapak. Ia menatap lurus ke arah para Naga Emas Sembilan Cakar, lalu berkata dengan suara datar, "Siapa di antara kalian yang bersedia ikut denganku?" Hanya satu kalimat. Tidak ada garis darah yang dilepaskan. Tidak ada aura besar yang dipamerkan
Suara sosok misterius itu menggema ke seluruh penjuru ruang. Nada suaranya tetap dingin seperti mesin, tetapi membawa wibawa yang membuat semua orang menahan napas. "Naga Emas Sembilan Cakar, kalian boleh memilih tuan kalian sendiri. Lepaskanlah garis darah kalian." Begitu kalimat itu berakhir, para kultivator yang berdiri di atas formasi persegi langsung bergerak. Satu demi satu, mereka melepaskan kekuatan garis darah masing-masing. Ada yang garis darahnya hanya membentang sejauh tiga puluh meter. Ada pula yang mampu mencapai tiga ratus meter. Beberapa kultivator yang lebih menonjol bahkan memancarkan garis darah sampai tiga ribu meter. Cahaya dan aura berbagai macam garis darah memenuhi sungai panjang itu. Naga-naga emas yang sebelumnya melingkar di dalam lautan cahaya mulai bergerak. Mereka terbang di antara para kultivator, seolah sedang memilih siapa yang pantas menerima restu mereka. Di tempat itu, jumlah kultivator tidak kurang dari seribu orang. Namun Naga Emas Sem







